Usaha Melegalkan Puisi Prosais

Bagikan konten:

 

Dalam an-Nash Musykil, Muhammad Abdul Mathlab berusaha untuk melegalkan kemunculan bentuk puisi arab baru yang disebut dengan puisi prosasis (qashîdatu an-natsr). Bisa dikatakan bahwa puisi prosais adalah bentuk pemberontakan terhadap bangunan epistemologi puisi yang paling radikal. Dalam konteks literatur Arab, puisi mendapatkan kategori jelas sebagai salah satu jenis sastra yang memiliki empat komponen pembangun: kata, makna, not dan rima. Dua komponen terakhir –not dan rima- mempunyai kedudukan tersendiri, tidak hanya sebagai komponen pembangun tapi juga penentu estetis dalam tubuh puisi secara keseluruhan. Ilmu arudh yang dibangun oleh Khalil bin Ahmad dianggap sebagai bentuk pembakuan kaidah not dan rima Arab yang telah final. Karenanya, setiap usaha untuk keluar dari kaidah ini dianggap sebagai tindak illegal yang tidak bisa dibenarkan.

Tapi sebenarnya, berbagai bentuk pemberontakan terhadap kaidah rima Khalil sudah terjadi sejak masa Abbasiyah dipelopori oleh dua sosok penyair besar, Abul Atahiyah dan Abu Nuwas. Dikuti setelah itu dengan munculnya muwasyahat di Andalusia, zajal di Magrib dan berbagai bentuk puisi rakyat lainnya seperti kan wa kan, mawaliya, dabit dan lain sebagainya. Dan dalam konteks modern, kita bisa menjumpai syi’ru mursal (puisi yang tidak menerapkan kaidah rima), syi’ru taf’îlah (puisi yang tidak memperhitungkan jumlah not dalam baris puisi) dan qashîdatu an-natsr (puisi yang sama sekali meninggalkan not dan rima). Dengan kata lain, arudh yang dibangun Khalil bukanlah bangunan sakral yang haram ditembus karena adanya perubahan selera musik dalam menghayati keindahan puisi di setiap masa. Namun dalam kasus puisi prosais (qashîdatu an-natsr), bentuk baru ini tidak hanya diperdebatkan dari segi pemberontakannya terhadap not dan rima, tapi juga karena telah mencampurkan dua jenis bertentangan yang memiliki kategorinya masing-masing: puisi dan prosa.

Langkah yang diambil oleh Muhammad Abdul Mathlab untuk melegalkan qashîdatu an-natsr adalah dengan mempertanyakan kembali definisi puisi itu sendiri. Tidak dapat disangkal, bahwa kondisi politik, sosial, ekonomi dan geliat pemikiran memberikan pengaruh dalam membentuk cara pandang suatu masyarakat. Dalam konteks masyarakat modern, spirit modernitas yang menunjung tinggi nilai kebebasan menyusup dalam setiap lini kehidupan masyarakat modern dengan ditandai hasrat membebaskan diri dan memberontak. Seperti yang dikatakan oleh Adonis dalam Zamân asy-Syi’r, puisi harus dipahami sebagai usaha untuk memberontak dari masa lalu dan masa kini. Artinya, puisi harus dipandang sebagai visi di mana puisi tidak hanya menyampaikan makna yang telah usang ataupun sekedar mendeskripsikan realita kekinian. Puisi adalah pencarian terus menerus untuk mengenal hakikat dengan berbekal kehalusan jiwa dan ketajaman khayal.

Dari segi makna, puisi berada di dunia tengah-tengah antara dunia fisik dan metafisik. Dan di antara keduanya, penyair memproduksi makna puisi dengan membangun realita baru sesuai dengan cara pandangnya. Karenanya, biasanya makna yang kita temui dalam puisi prosais berupa kegelisahan eksistensialis dan perenungan filosofis. Definisi puisi baru ini mendapatkan pembenarannya jika kita melakukan penelusuran etimologis terhadap kata puisi dalam bahasa Arab.

Puisi dalam bahasa Arab yang diwakilkan dengan kata syi’ri (شعر) memiliki makna dasar merasakan atau mengetahui. Dan penyair (الشاعر) diartikan sebagai seseorang yang bisa merasakan suatu hal yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain, dan sering kali kata syâ’ir disandingkan dengan kata ‘âlim (orang yang memiliki pengetahuan). Berangkat dari pemahaman ini, seorang yang membicarakan hal remeh temeh walaupun dibalut dengan kata-kata indah tidak bisa dikatakan penyair, dan karyanya tidak bisa disebut puisi. Walaupun demikian, penyair tidak bisa dimasukkan dalam kelompok filsuf. Penyair tak hanya berhenti pada tataran makna, karena penyair dituntut untuk mengungkapkan makna dengan gaya bahasa yang tak kalah indah dengan makna puisi itu sendiri.

Adapun dari segi kebahasaan, puisi tidak lagi dipandang sebatas pengguna bahasa yang tunduk pada kaidah sintaksis (خادم اللغة). Puisi adalah pencipta bahasa yang menundukkan bahasa, bukan tunduk pada bahasa (خالق اللغة). Menciptakan bahasa bukan hanya berarti memunculkan kosa kata yang belum pernah ada dalam kamus bahasa, tapi bagaimana penyair mampu bermain-main dengan bahasa, menempatkan kata tidak sesuai dengan makna dhahir-nya dan memandang kata sebagai simbol guna menyembunyikan makna di balik makna. Berangkat dari pemahaman ini, puisi prosais menyediakan sejumlah kemungkinan makna. Pembaca bisa memaknai puisi tersebut dengan berbagai macam penafsiran sesuai dengan pengalaman emosional dan wawasan masing-masing. Ada baiknya jika kita mendengarkan beberapa baris puisi dari penyair berkebangsaan Suriah, Muhammad Al-Maghuth, yang berjudul Sebuah Blokade:

Air mataku berwarna biru

Terlalu sering aku melihat langit lantas menangis

Air mataku berwarna kuning

Terlalu banyak aku memimpikan sejumlah tangkai emas

 

Dalam puisi di atas, kita tidak bisa memastikan makna yang sebenarnya diinginkan oleh si penyair; apa yang dinginkan penyair dengan mengubah-ubah warna air mata sesuai dengan objek yang dilihat kedua matanya? Bahkan kita tidak bisa memastikan apa relasi antara air mata dan warna? Artinya, kita di hadapkan dengan teks multitafsir, dan tugas kita sebagai pembaca bukanlah menuntut penyair mengatakan sesuatu yang pasti, tapi menghayati dan meresapi gambaran imaji yang dibangun penyair.

Dengan perangkat definisi yang lebih menekankan pada kandungan makna dan kebebasan berbahasa, puisi prosais bisa dimasukkan dalam kategori puisi tanpa harus mencederai identitas kepuitikannya. Karena pada prakteknya, puisi prosa yang merupakan pencampuran antara makna puitis yang disampaikan dalam bingkai prosais, tidak benar-benar meninggalkan unsur not dan rima. Puisi prosais memiliki cara tersendiri dalam memfungsikan unsur musik, misalnya saja dengan mengulang kata, memilih kosa kata yang memiliki huruf-huruf senada, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, unsur musik yang dimainkan dalam puisi prosais adalah musik alamiah (الموسيقي الداخلية) yang muncul dari kesesuaian huruf dan bentuk kata, bukan dari susunan not dan rima (wazn dan qâfiyah) ala arudh Khalil.

Selain itu, percampuran antara puisi dan prosa bukanlah fenomena baru dalam sejarah literatur Arab. Terdapat beberapa teks yang berbentuk prosa namun bernyawa puisi sehingga layak menyandang nama puisi. Salah satu contohnya adalah al-Mawaqif wa al-Mukhâthabât, karangan seorang sufi masa Abbaisyah, An-Nafari.  Dalam mauqif 37, ia berkata:

Jika kau mengetahuiku dengan makrifah, kau sejatinya telah mengingkariku dengan pengetahuanmu terhadapku_ siapapun yang bertanya kepadamu tentangku, tanyailah ia tentang dirinya, jika ia tahu maka kenalkanlah aku padanya_ makrifah adalah api yang melahap cinta karena makrifah membuatmu melihat kebenaran tentang ketidakperluan terhadapmu

Contoh di atas mengandung unsur-unsur kepuitikan baik dari segi kedalaman dan kepadatan makna, permainan segi bahasa hingga melahirkan alunan rima tersendiri, maupun imajinasi yang subur. Dan unsur-unsur ini sudah cukup menjadikan contoh di atas sebagai cikal bakal dari kemunculan puisi prosais.

Dan hal yang tidak dapat dielakkan selain pembenaran historis, kemunculan puisi prosais merupakan hasil pengaruh modernitas dalam tubuh sastra. Jikalau pemahaman klasik menuntut harus adanya pengkategorian yang ketat dalam jenis-jenis sastra, maka spirit modernitas berusaha mengaburkan batas-batas. Permasalahan hidup yang semakin kompleks di era modern menuntut puisi untuk memiliki ruang yang lebih luas sehingga mampu meng-cover seluruh makna dari problematika masyarakat modern yang ada. Dan memasukkan unsur prosa dalam puisi hanyalah salah satu usaha untuk mengadaptasikan puisi sesuai dengan konteks zamannya.

Facebook Comments
Bagikan konten: