Upaya Mewujudkan Citra Agama yang Harmonis dalam Masyarakat Patriarki

Bagikan konten:

Prolog

Dalam bahasa Sanskrit, kata agama tersusun dari “a” yang artinya tidak dan “gama” yang artinya pergi. Secara leterlek, bisa dipahami sebagai suatu yang menetap, tidak pergi dan diwarisi secara turun temurun. Hadis yang menjelaskan bahwa “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitri” bisa diartikan bahwa kata “fitrah” adalah suatu sifat dasar atau watak yang dimiliki oleh setiap individu. Sehingga menurut penciptaannya, manusia memiliki sifat dasar untuk meyakini akan adanya Tuhan, dan fitrah untuk menerima ajaran Tauhid sebagai agama yang lurus dan benar. Jika dirunut secara asal muasalnya, agama dan manusia itu sendiri lahir secara bersamaan, sejarah tumbuhnya agama beriring dengan terlahirnya sejarah manusia. Dan dari doktrin-doktrin agama inilah terbentuk berbagai jenis kepribadian umat manusia sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Edward Burnett Tylor mendefnisikan agama sebagai suatu kepercayaan kepada wujud spiritual (the believe in spiritual beings). Sehingga dapat  ditarik kesimpulan bahwa agama pada dasarnya merupakan suatu peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang memiliki akal untuk memegang peraturan Tuhan itu dengan kehendaknya sendiri, demi mencapai kebaikan hidup baik di dunia maupun di akhirat.

Penulis buku The History of God, Karen Armstrong, menyebutkan bahwa fenomena keberagamaan yang saat ini terjadi berasal dari dua sisi yang tengah mengalami perjalanan konflik yang cukup panjang. Yang pertama berasal dari kelompok fundamentalis agama, dan yang kedua dari kelompok militan ateis. Akan tetapi, sebenarnya dua kelompok ini memiliki kesamaan dalam pola pikir, di mana satu sisi lebih menitik-beratkan pada pemahaman logika, dan di titik lainnya secara literal. Sebagai contoh, kaum fundamentalis kerap kali mengawinkan konsep-konsep keagamaan dengan klaim-klaim saintifik, dan merasa bahwa agama harus bisa dinalar oleh logika, sedangkan di sisi lainnya kelompok spiritual cenderung lebih inklusif dengan tidak menitik-beratkan pada benar atau salahnya, namun mereka justru mengedepankan universalitas agama Tuhan itu sendiri. Lalu, bagaimana seharusnya kita memandang agama sebagai pemeran penting yang mengatur proses kehidupan manusia?

Prof. H.A Mukti Ali memandang agama dari berbagai teori, yaitu:

  1. Teori Evolusi, di mana agama diartikan sebagai kekuatan yang telah mengkristal dalam diri manusia, dan menjadikannya dominan sebagai suatu yang bergantung secara spiritual dan berkaitan secara berkala dan menjadi komponen yang berlangsung secara kontinyu serta bersifat intensif.
  2. Teori Oer-Monotheisme, yang berangkat dari fakta bahwa suku primitif pada awalnya adalah penyembah Tuhan yang satu. Teori ini berpandangan bahwa Monotheisme menjadi agama dasar yang telah dipeluk oleh manusia, hingga kemudian berubah dan dipengaruhi oleh kondisi geografis, antropologis, dan sosiologisnya.
  3. Teori Relevasi, yang diartikan bahwa semua agama diwahyukan dari sumbernya yaitu Tuhan. Tokoh dalam teori ini ialah William Schmid, seorang Katolik yang telah melakukan penelitian di berbagai suku yang ada di kawasan Asia.

Peran Agama dalam Menyikapi Pluralitas

Dalam hal ini, bisa kita tengarai bahwa agama terbentuk dari berbagai subjek, menyesuaikan waktu dan zaman. Adapun di era modernisasi seperti sekarang ini, agama telah menjadi komoditi di berbagai sektor kehidupan. Lantas, bagaimana agama memainkan perannya dalam mewujudkan kehidupan yang harmonis di antara pluralitas yang ada? Masalah agama yang menjamur saat ini kerap kali menjadi penyebab konflik perbedaan, sehingga mempengaruhi keyakinan agama secara radikal, yang melahirkan adanya kecenderungan ke arah fundamentalisme. Sikap fundamentalistik cenderung menganggap orang lain berbeda bahkan bertentangan. Sehingga para pemeluk agama akan menerima agama sebagai bentuk keyakinan, bukan berdasarkan pada pemahaman. Artinya, agama dijadikan sebagai kredo yang eksklusif dan tidak affair. Umat beragama yang cenderung eksklusif tersebut memberikan dampak terisolirnya komunitas tersebut dari khalayak dan pada akhirnya menjadi statis.

Beragama dengan statis mengantarkan pada sikap tidak toleran, bahkan berdampak semakin menajamnya konflik dan pertentangan di kalangan umat beragama. Kurangnya rasa toleransi antar umat beragama ini berawal dari lemahnya studi deskriptif bagi umat beragama, sehingga komunitas masing-masing pemeluk berjalan secara parsial dan terpisah. Maka dari itu, pemahaman dan pengakuan adanya persamaan merupakan modal dasar dalam terwujudnya sifat toleransi antar agama secara komprehensif. Hal itu dikembalikan pada pemahaman ajaran agama oleh pemeluknya masing-masing. Jika pemahamannya rasional, tentu saja mudah mewujudkan kerukunan, dan sebaliknya jika dipahami secara emosional, maka akan muncul konflik yang berkepanjangan.

Permasalahan Terkait Gender di Masyarakat

Realitasnya dalam pengimplementasian norma-norma agama tersebut, banyak faktor ketidak-berpihakan yang tinggi pada nilai-nilai yang menyinggung kesetaraan. Sehingga adanya otoritas laki-laki yang menjadi penafsir tunggal memahami doktrin agama cenderung merugikan pihak perempuan, dan menimbulkan adanya dugaan bahwa institusi agama memegang peranan penting dalam melahirkan budaya patriarki. Kemudian lahirlah berbagai macam gerakan feminis di berbagai belahan dunia. Secara tipologis gerakan ini memiliki banyak macam seperti feminisme radikal, sosialisme, dan liberalisme. Hanya gerakan feminis yang berangkat dari kritik terhadap agama-lah yang memulai gerakan koreksi pada wilayah teologis yang dijadikan sebagai wahana untuk mencapai tujuannya.

Dalam konteks sejarah, lahirnya gerakan feminis di Amerika Latin tahun 1966 juga terilhami oleh adanya gerakan keagamaan yang mengusung teologi pembebasan. Gerakan yang diakomodir oleh argumentasi Marxis ini, berhasil melakukan perubahan mendasar dalam doktrin gereja yang kala itu bercirikan strukturalis. Gerakan feminis berbasis teologis ini tampak berhasil dalam mereformasi pemahaman keagamaan yang sangat bias kelelakian. Misalnya, wacana utama tentang ketidakadilan gender yang terus menerus menjadi polemik adalah terkait dengan asal-usul manusia dan problem kepemimpinan perempuan. Konsep kepemimpinan perempuan menjadi sangat polemis, karena dianggap tidak layak dan lemah, juga karena didukung oleh teks-teks suci. Dalam Islam misalnya, sumber pegangan hidup yang paling utama adalah al-Quran dan Sunnah, maka reinterpretasi harus dimulai dari kedua sumber ini. Para feminis tak harus mengambil alih interpretasi yang telah lama didominasi laki-laki, mereka cukup berjuang dalam melakukan pembaharuan dan memikirkan kembali hal-hal yang sudah seharusnya diubah sesuai dengan tuntutan zaman.

Contoh yang terbaru beberapa waktu lalu, media ramai membahas tentang Jamida, perempuan asal India yang menjadi imam shalat Jum’at di sebuah kantor di Mallapuram, Kerala, India. Tindakan ini dituduh oleh netizen sebagai bentuk kecaman terhadap Islam. Namun, pada dasarnya ia beranggapan hal ini tidak ada larangan dalam al-Quran, ia terinspirasi dari Amina Wadud yang notabene menjadi muslimah pertama di dunia yang memimpin sholat.

K.H. Husen Muhammad dalam Fiqih Perempuan mengurai polemik imam perempuan dalam shalat dengan sangat jernih. Bahwasanya, inti dari persoalan ibadah maupun sosial yang di dalamnya ada pertemuan antara perempuan dan laki-laki, para ulama selalu mengaitkannya dengan alasan khauf al-fitnah, yakni menjaga agar tidak sampai terjadi fitnah. Dalam menghadapi berbagai konflik semacam ini, umat Islam seharusnya tidak kagetan dan menelan secara mentah-mentah berbagai hal baru yang muncul terjadi. Polemik seharusnya menjadikan individu lebih berpikir, menggali sumber keilmuan yang terpercaya dan mau belajar juga mendalaminya, bukan sekedar mengkritisi tanpa dasar. Hal-hal lain yang menyudutkan perempuan, dalam hal ini di lingkungan masyarakat yang beragama ialah masalah yang berkaitan dengan korban pelecehan seksual. Perempuan yang menjadi korban justru disalahkan, dengan berbagai dalih. Misalkan karena berpakaian yang minim atau keluar rumah terlalu larut malam. Yang perlu diluruskan justru ialah pola pikir kita dalam menilai suatu keadaan, maka kita akan berpikir bahwa yang salah ialah pikiran kita, bukan perempuannya.

Kisah-kisah kelam perempuan yang terjadi belakangan ini, cukup mengkhawatirkan. Setelah kasus Baiq Nuril, guru honorer yang divonis 6 bulan penjara atas dasar UU ITE, menyusul kemudian kasus Aghni seorang Mahasiswi FISIPOL UGM yang diperkosa oleh temannya ketika KKN. Terakhir dalam laporan tirto.id tentang Frisca, seorang anak perempuan berumur 19 tahun yang dihamili oleh pamannya yang merupakan seorang anggota DPRD. Terdapat sekitar 340.000 kasus kekerasan seksual yang menimpa perempuan pada tahun 2017. Untuk itu, Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan kekerasan terhadap perempuan harus segera disahkan untuk menekan angka kekerasan tersebut. Dari beberapa kasus yang terungkap, ada beberapa hal yang sebenarnya bisa kita acungi jempol, yaitu para perempuan yang berani menceritakan hal-hal yang dialaminya pada khalayak, padahal ia sendiri dalam keadaan trauma, dan juga mulai merebaknya konsolidasi atas nama dukungan terhadap perempuan dan korban.

Epilog

Sudah seharusnya masyarakat kita diberikan pemahaman terkait Mubaadalah (Kesalingan), seperti yang dijelaskan dalam bukunya Kang Faqih, Mubaadalah Tafsir Gender; konsep di mana antara perempuan dan laki-laki memiliki kekurangan dan dapat saling mengisi serta tidak ada yang paling kuat. Menurut hemat saya, agama mana pun sudah pasti menanamkan nilai-nilai universal dalam ajarannya, yang memberikan rasa perlindungan dan ketenangan dalam menjalani prosesi keagamaannya dan nilai-nilai moral bagi pemeluk-pemeluknya. Tidak ada satu pun agama yang menghendaki adanya penindasan dan penganiayaan. Untuk itu, RUU P-KS diharapkan menjadi solusi dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera, harmonis, dan dinamis. Karena Undang-Undang tersebut dinilai memiliki prinsip-prinsip yang sesuai dengan semangat ajaran Islam, menolak kemafsadatan, menarik kemaslahatan, melindungi martabat dan keturunan.

Daftar Bacaan:

Konsep Agama dan Islam, R. Abuy Sadikin

Masa Depan Tuhan, Karen Armstrong

Mubadalah Tafsir Gender, Kang Faqihuddin Abdul Qodir

Sabda Islam Progresssif: Reaktualisasi Khazanah Islam yang Mencerahkan, Lakpesdam PCINU Mesir

Facebook Comments
Bagikan konten: