Tentang Agama dan Akal dan Pertentangan Antara Keduanya

agama akal
Bagikan konten:

Pada Mulanya

Sejauh akal sebagai potensi, ia adalah anugerah terberi yang diciptakan Tuhan untuk hewan bernama manusia. Anugerah terberi ini sebagai bekal untuk menjalani hidup. Hewan tak ada bedanya dengan manusia kecuali pada satu hal: akal. Oleh karenanya, ilmu mantik mendefinisikan manusia sebagai: hewan yang berpikir. Sebab, hewan yang tidak berpikir, meskipun bisa berbuat banyak seperti lebah dan semut, tetapi mereka tidak bisa membangun peradaban dan mengembangkan potensi diri. Hewan tak lain hanya mengulangi perbuatan mereka sebagai insting. Tidak lebih.

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki potensi terberi ini. Tugas kekhalifahan yang dibebankan oleh Tuhan kepada mereka menjadi salah satu alasan kenapa mereka diberi potensi ini. Nabi pertama sekaligus manusia pertama, Adam, belum menerima kitab suci atau wahyu. Ketika diturunkan ke bumi, Adam dibekali akal yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Tetapi lambat laun, semakin bertambahnya jumlah anak-cucu Adam, banyak dari mereka yang menyimpang dari jalan Tuhan. Maka diutuslah Rasul. Rasul pertama, Nuh, menyeru kaumnya agar iman kepada Tuhan. Meskipun Nuh tidak diberi wahyu dalam bentuk kitab suci, namun ajaran yang dibawanya adalah ajaran Tauhid yang sesuai dengan potensi terberi akal manusia.

Hingga diutuslah rasul-rasul dari tiap generasi, tak lain untuk mengarahkan manusia pada jalan semestinya. (1) Selain memiliki akal, manusia juga diberi hawa nafsu. Akal yang jernih yang tidak tercampuri hawa nafsu, jika dimanfaatkan potensinya, akan mengantarkan manusia pada Tuhan. Tetapi jika akal kalah dengan nafsu, saat itulah manusia menyimpang dari iman kepada Tuhan. Problemnya: agama Abrahamik (Yahudi, Nasrani dan Islam), sebagai agama wahyu yang memiliki kitab suci, bukan hanya memuat ajaran tentang iman kepada Tuhan saja. Tetapi juga mengajarkan tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Sehingga nantinya, dalam Islam, timbul polemik berkepanjangan apakah akal atau wahyu yang bisa menilai mana baik mana buruk.

Ajaran Islam, misalnya, pada awal risalah kenabian Muhammad, yang diserukan pertama kali adalah tentang tauhid—seperti juga yang diserukan semua agama Abrahamik. Manusia pada zaman Muhammad sudah melenceng jauh dari fitrahnya dengan menyembah yang bukan semestinya. Seolah-olah akal mereka tertutup pekatnya hawa nafsu sehingga mereka tak mampu berpikir jernih: bagaimana mungkin sembahan mereka yang berupa benda bisa disebut Tuhan yang maha segala maha? Dakwah Nabi sukses tak terkira. Masyarakat Arab yang semula menyembah berhala beralih menyembah Tuhan yang Maha Esa. Namun problem tetap muncul: yakni, setelah mereka beriman kepada Tuhan dan mengesakannya, fitrah terberi mereka yang sudah tercerahkah oleh wahyu (dalam hal ini Al-Qur’an dan Sunnah Nabi), akan berhadapan dengan beberapa kewahyuan yang secara tekstual bertentangan dengan akal.

Dari sinilah muncul mazhab-mazhab dalam ilmu kalam. Masalah-masalah primordial yang menyangkut apakah manusia bertanggung jawab atas perbuatannya atau tidak memunculkan dua kutub: Qadariyyah dan Jabariyyah. Di satu sisi ada ayat yang mendukung kutub pertama, di sisi lain ada ayat yang membenarkan kutub kedua. Selisih paham ini ditumpuk lagi oleh perdebatan yang melebar mengenai keadilan Tuhan. Mazhab-mazhab ini lahir, menurut Muhammad Abu Zahrah, tidak lain dipicu oleh perpolitikan pada masa itu; pasca terbunuhnya Usman di tangan pembela Tahkim (Arbitrasi). (2)

Seabad kemudian, filsafat Islam mulai masuk ke dunia Islam. Sejauh yang dicatat sejarah, mazhab yang pertama kali mempelajari filsafat adalah Mu’tazilah. Mazhab ini sangat populer pada masa awal kekhalifahan Abbasiyyah. Sampai-sampai mazhab ini menjadi mazhab resmi khilafah dalam beberapa periode hingga berakhir di tangan Mutawakkil Ala Allah. Sejarah telah menyaksikan bagaimana khalifah-khalifah yang beraliran Mu’tazilah memperlakukan dengan tidak adil beberapa Ulama, salah satunya Ahmad Ibn Hambal yang pernah masuk bui akibat tidak mau mengakui bahwa Al-Quran adalah makhluk.

Penjabaran masalah ini akan sangat panjang dan kiranya itu tidak perlu dibahas dalam tulisan ini. Yang menjadi titik krusial adalah bahwa akal manusia telah melakukan tugasnya selama masa fatrah (masa di mana tak ada nabi yang diturunkan) dan atas orang-orang yang kepadanya wahyu tidak tersampaikan. Tapi bagaimanapun, akal ada batas pengetahuannya. Selama untuk membuktikan adanya Tuhan, baik melalui dalil ‘Inayah dan Ikhtira’ seperti yang ditunjukkan oleh Ibn Rusyd atau beberapa dalil lainnya seperti dalil kosmologi, ontologi dan teleologi seperti yang ditawarkan oleh para teolog, akal masih bisa menjangkaunya. Akal akan sama sekali bungkam ketika berhadapan dengan Sam’iyyat, yakni pengetahuan yang tidak bisa dinalar dan hanya diterima secara wajar sebagai keyakinan seperti adanya malaikat, setan, surga, neraka, hari kiamat, dan lain sebagainya.

Dua Jenis Akal

Ada dua masalah penting yang perlu dijelaskan berkenaan dengan akal atau rasio:

  1. Akal Sebagai Alat Berpikir

Akal sebagai yang pertama ini adalah murni akal sebagai pemberian seperti yang dibahas di atas. Semua orang memilikinya tapi tidak semua orang mampu memaksimalkan fungsinya. Akal ini, pada tingkatan terendah, berguna untuk menunjang aktivitas fisik manusia. Manusia sejatinya, jika mengutip Freud, selalu bersifat hedonis, mengejar kenikmatan. Maka mereka menciptakan alat-alat yang mampu membuat mereka hidup dengan enak dan mudah. Seperti menciptakan pisau, gergaji, gerobak kuda, sepeda, motor, mobil, pesawat, kapal, dan segala alat penunjang aktivitas manusia. Pada tataran ini, akal berfungsi sebagai akal praktis (bukan dalam terminologi Emmanuel Kant).

Akal dalam arti yang pertama bukan berbentuk doktrin dan ajaran. Ia bebas dari intervensi pihak luar. Akal sebagai alat, semua manusia memilikinya dan mereka pun bebas menggunakannya untuk apa tanpa ada paksaan dari pihak di luar dirinya. Akal ini dalam ilmu kedokteran bertempat di otak atau biasa disebut intelegensia. Menurut teolog Islam: Akal adalah potensi, insting, cahaya, pemahaman dan mata hati yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia. Dan semua manusia memiliki otak. Atau lebih tepatnya, ber-otak, meskipun ada sebagian yang tak berakal. Kata kuncinya: akal ini menurut siapa yang menggunakannya, belum merupakan akal sebagai sesuatu yang masuk akal, atau kita kenal dengan logika.

  1. Akal Sebagai Metode Berpikir

Akal yang kedua disebut logika. Ia sudah berupa metode atau cara bagaimana manusia berpikir. Orang yang pertama kali menggagas logika adalah Aristoteles. Bagaimana pun, logika sangat bergantung atau bahkan tak bisa berlaku tanpa akal yang pertama. Logika Aristoteles, memuat bagaimana cara berpikir yang benar. Dikatakan bahwa logika sebagai dasar semua ilmu. Karena darinya manusia mampu memaksimalkan fungsi akalnya (akal sebagai alat berpikir). Logika berisi kaidah yang sering kita sebut dengan silogisme. Atau dalam pengertian ahli logika sebagai cara berpikir deduktif, yakni penarikan kesimpulan dari yang umum ke khusus. Contohnya:

(Premis mayor)

Semua manusia mati

(Premis minor)

Plato adalah manusia

(Kesimpulan)

Maka Plato akan mati

Karena berbentuk kaidah, ia bersifat mengikat, doktrinal, dan rigid. Contohnya, salah satu kaidah dalam ilmu logika menghendaki kemustahilan berkumpulkan dua hal yang bertentangan (al-jam’u baina naqidhaini). Maka kaidah ini mengikat mereka yang setuju dengannya, karena menurut mereka hakikatnya memang demikian; timur dan barat tak akan pernah berjumpa. Sampai ada tawaran lain yang membatalkan (atau setidaknya meragukan) kebenaran kaidah ini, seperti tawaran dari Suhrawardi dan Ibn Taymiyyah yang dalam pandangan Ali Syami Al-Nasyar disebut sebagai pemikiran Islam yang otentik.

Bentuk Pertentangan Akal-Agama

Lalu dari sini, muncul pertanyaan, adakah domain-domain agama (Islam) yang bertentangan dengan akal? Dan akal yang mana? Apakah akal sebagai alat berpikir atau akal sebagai kaidah berpikir (logika)? Tulisan ini akan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan penting ini. Tetapi sebelum jauh masuk ke arah sana, kiranya perlu kilas balik sejarah singkat masuknya logika Aristoteles ke dunia Islam sebagai titik tolak munculnya klaim pertentangan agama (syari’at) dan akal (filsafat).

Masuknya filsafat Yunani ke dalam dunia Islam boleh dikatakan tindak lanjut dari kecintaan seorang khalifah kepada kemajuan keilmuan. Sejauh yang tercatat sejarah, penerjemahan sudah dimulai pada masa Khalifah Khalid Ibn Yazid Ibn Muawiyyah, meskipun baru sebatas beberapa literatur. Kemudian berlanjut sampai masa khilafah Abbasiyyah, penerjemahan literatur Yunani berbentuk sebuah gerakan: memindahkan turats Alexandria ke Baghdad. Dan mencapai puncaknya di tangan Khalifah Al-Makmun yang mendirikan sebuah institusi yang dinamakan Bait Al-Hikmah.

Literatur Yunani sebagaimana yang tersampaikan ke dunia Islam, dalam bidang filsafat, tidak jauh dari tiga tokoh besar: Plato, Aristoteles, dan Plotinus. Dan sepanjang pemikiran filsafat Islam, filsuf baik dari timur maupun barat, tidak lepas dari pengaruh tiga tokoh tersebut. Tetapi literatur yang berpengaruh hebat kepada kemajuan keilmuan Islam adalah logika Aristoteles. Tidak hanya kepada para filsuf, logika Aristoteles juga berpengaruh kepada teolog. Terutama para teolog Mu’tazilah. Mereka mempelajari logika dari terjemahan Abdullah Ibn Muqfi’ pada masa Khalifah Al-Manshur. Al-‘Allaf adalah salah satunya. Tokoh Mu’tazilah ini secara mencolok terpengaruh oleh Aristoteles dan menerapkan beberapa prinsip logika dalam teologi.

Meskipun literatur Yunani berpengaruh besar kepada pemikiran Islam, tapi bukan berarti umat Islam menerimanya begitu saja dengan mengesampingkan wahyu agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Justru yang terjadi di antara para pemikir itu adalah diskursus bagaimana menyatukan antara wahyu agama dengan filsafat Yunani, atau lebih spesifik, logika Aristoteles. Penyatuan atau pendamaian ini yang tak jarang menimbulkan perdebatan sengit.

Filsuf Arab pertama, Alkindi, yang juga intelektual Mu’tazilah, berhak menjadi orang pertama yang memadukan antara agama dan filsafat. Bahwa akal dan syara’ tak bertentangan, justru malah saling mendukung. Dan sepanjang gerak filsafat Islam, para filosof berusaha terus menerus untuk memadukan antara keduanya. Baik di tangan Al-Farabi, Ibn Sina, sampai ke tangan Ibn Rusyd sebagai pengkaji Aristoteles. Ibn Rusyd misalnya, mengarang kitab berjudul Fashlu Al-Maqol wa Taqriru ma Baina Al-Syari’ati wa Al-Hikmti min Al-Ittishal. Dalam kitab ini, Ibn Rusyd berusaha menunjukkan bahwa filsafat (Aristoteles) sama sekali tidak bertentangan dengan Agama. Pada permulaan kitab, Ibn Rusyd menunjukkan salah satu anjuran al-Quran untuk berpikir dalam beberapa ayat. Ia berkata:

“Jikalau syara’ mewajibkan berpikir menggunakan akal atas apa yang ada dan mentadabburinya, itu tidak lain dari sebentuk usaha mengetahui apa yang tidak diketahui (majhul) dari apa yang diketahui (ma’lum). Dan itu dinamakan Qiyas (silogisme).”

Usaha selanjutnya, Ibn Rusyd menunjukkan bagaimana al-Quran mengandung ayat-ayat yang gamblang dan ayat-ayat yang samar atau mutasyabih. Ulama sepakat bahwa tidak boleh menakwilkan semua ayat al-Quran atau membawa semua ayat itu kepada zahirnya saja. Sebagian ayat boleh ditakwilkan dan sebagian yang lainnya tak perlu. Dan takwil, bagaimana pun, tergantung kapasitas orang yang menakwilkannya. Asy’ari berpendapat bawa takwil tangan dalam ayat Yadullah Fauqa Aidihim bermakna kekuasaan. Oleh karenanya sah-sah saja jika ulama berbeda dalam menakwilkan. Dan tidak selayaknya mengkafirkan takwil orang lain.

Ibn Rusyd menyindir keras pengkafiran yang dilakukan oleh Al-Ghazali dalam Tahafut-nya. Menurut Ibn Rusyd, tiga masalah yang dikafirkan Al-Ghazali, yakni azalinya alam, Allah tidak mengetahui yang juz’i (partikular), dan kebangkitan Ruh, masih dalam koridor ayat-ayat yang bisa menerima Takwil. Para filsuf Islam sebelum Al-Ghazali ingin memadukan filsafat (beserta kaidah logikanya) dengan wahyu meskipun konsekuensinya takwil itu seolah terlalu memaksakan. Ibn Rusyd sendiri banyak mengkritik filsuf sebelum dirinya dan melemahkan pendapat mereka. Melihat perbedaan pendapat antara teolog dengan filsuf, kita bisa menerka-nerka bahwa teolog menundukkan akal kepada wahyu sedangkan filsuf menundukkan wahyu kepada akal. Tak ayal mereka selalu berbeda meskipun mereka sama-sama menggunakan akal.

Dari sini bisa mulai kita simpulkan kiranya apa yang dimaksud dengan akal yang bertentangan dengan wahyu menurut filsuf. Itu bisa berarti dua hal: Pertama, akal sebagai cara berpikir seperti yang sudah mereka terima dari para filsuf Yunani. Baik itu terpengaruh oleh Filsuf paripatetik seperti Aristoteles (dalam hal ini Ibn Rusyd) atau filsuf helenisme seperti Neo-platonis, Plotinus (dalam hal ini Al-Farabi). Kedua, akal sebagai alat dengan konsekuensi ideologis bahwa apa yang menurut logika benar, maka menurut akal juga ikut benar. Mereka mengklaim tak ada dualitas antara akal dan logika. Akal adalah logika dan logika adalah akal.

Pertanyaannya: apakah sesuatu yang menurut logika benar, otomatis benar menurut akal? Itu pertanyaan sulit. Pertama-tama perlu pembedaan antara logika dengan akal. Dakwaan bahwa logika adalah akal dan akal adalah logika seolah-olah memaksakan kebenaran tunggal. Bahwa sesungguhnya, hanya logikalah yang masuk akal. Sementara kita menghadapi kenyataan bahwa jikalau sama-sama menggunakan epistemologi akal, kenapa pada banyak hal filsuf berbeda pendapat dengan teolog? Bisa dikatakan bahwa logika adalah produk akal, dan yang namanya produk, setiap orang berkemampuan untuk membuatnya. Seperti kekhasan Qiyas para teolog: Qiyas Al-Syahid ala Al-Ghaib (menganalogikan apa yang tampak kepada sesuatu yang tak tampak) yang menemui jalan terjalnya sendiri di antara hiruk-pikuk ilmu kalam.

Pada Akhirnya

Bisa disimpulkan sementara bahwa akal lebih luas dari logika. Orang yang menggunakan akal bisa menciptakan logikanya sendiri, dan tidak semua yang masuk akal adalah logis dan semua yang logis sudah barang tentu masuk akal. Berpikir adalah fitrah dan berpikir logis adalah pilihan. Mulai dari beberapa kesimpulan ini, kabut pertanyaan: pada akal atau logika kah beberapa domain Islam bernegasi?

Kita bisa ambil satu contoh:

Menurut kesepakatan hampir semua teolog (Mu’tazilah, Asy’ariyyah, Maturidiyyah, bahkan juga filsuf Al-Kindi), alam dan jagat raya ini diciptakan oleh Allah. Bila alam diciptakan, artinya ia adalah baru (hadits). Para teolog membeberkan dalil kenapa alam ini baru. Dalil ini praktis juga menggunakan logika Aristoteles:

(Premis Mayor)

Alam itu kalau tidak baru berarti azali

(Premis Minor)

Mustahil jika alam itu azali

(Kesimpulan)

Maka alam wajib baru

Penarikan kesimpulan dengan menggunakan metode deduktif atau silogisme ini dipandang juga sangat masuk akal. Para teolog ingin menunjukkan bahwa teks wahyu (yang mengatakan bahwa alam itu hadits) sama sekali tidak bertentangan dengan akal. Bahkan akal sangat membenarkan wahyu dalam hal ini. Kita lihat penjelasan dari Premis Minor. Kemustahilan azalinya alam dibuktikan dengan logika juga. Pertama, jika alam itu azali, berarti selain Tuhan ada lagi yang qadim. Sementara itu, jika ada selain Tuhan yang qadim, berarti Allah tidak kuasa karena tidak mampu menciptakan alam. Dan mustahil jika Tuhan tidak bersifat kuasa. Kedua, perlu dibedakan antara sifat dan benda. Kita menyaksikan bahwa adakalanya benda itu diam dan adakalanya benda itu bergerak. Gerak dan diam adalah sifat. Jika sifat itu baru, maka benda juga harus baru [karena ia bersifat adakalanya diam atau bergerak]. Maka, alam itu baru.

Sementara itu, filsuf Islam selain Al-Kindi berpandangan lain. Mereka juga menggunakan pendekatan logika. Mereka berpandangan bahwa alam itu azali, qadim. Hal itu didasari oleh kaidah: Pertama, sesuatu yang baru tidak mungkin keluar dari sesuatu yang qadim, azali. Kedua, sesuatu yang banyak tidak mungkin muncul dari sesuatu yang satu. Dari kedua kaidah ini, filsuf seperti Al-Farabi dan Ibn Sina berpandangan bahwa harus ada perantara di antara keduanya. Maka muncullah pandangan Akal kesepuluh yang terpengaruh oleh Plotinus. Belakangan, pandangan ini nantinya dikritik dan bahkan dikafirkan oleh Al-Ghazali.

Melihat perdebatan di atas, ketika semua pihak mengklaim menggunakan akal, kenapa kedua-duanya menghasilkan konklusi yang berlainan? Teolog mengklaim membela teks dan memadukannya dengan akal. Dan para filsuf juga menghendaki tidak bertentangannya akal dengan wahyu. Barangkali perlu juga dibeberkan kritik Ibn Rusyd atas Al-Ghazali dan filsuf sebelumnya. Pandangan Ibn Rusyd mengenai qidam al-alam adalah pandangan yang berimbang. Ia tidak membela teolog dan juga tidak sepenuhnya setuju dengan pandangan filsuf. Ibn Sina mengatakan bahwa yang dimaksud dengan qidam adalah qidam zamani bukan materi. Ibn Rusyd mengkritiknya. Tidak ada yang namanya dualitas qidam. Ibn Rusyd menakwili lain ayat-ayat Al-Quran yang mendukung qidam, salah satunya QS. Hud: 7.

Bisa diambil kesimpulan bahwa semuanya adalah soal interpretasi. Akal yang manapun, baik akal sebagai potensi maupun akal sebagai logika, para intelektual Islam terbukti bisa mendamaikannya dengan wahyu. Meskipun perdebatan sengit tidak mampu terelakkan sampai kepada tragedi mengkafiran satu sama lain.

Catatan Akhir:

(*) Kata “agama” pada judul tulisan ini bukan ingin mengatakan bahwa semua pemahaman agama Islam bertentangan dengan akal. Tetapi bermaksud ithlaq al-‘am ala al-akhash (mengatakan umum dan memaksudkan khusus), yakni sebagian pemahaman agama yang zahirnya bertentangan dengan akal seperti yang akan kita lihat dalam masalah ayat musytabihat beserta pembahasan takwil (interpretation).

(**) Tulisan ini adalah bagian pertama dari “Tetralogi Akal”.

(1) Kisah pencarian Tuhan yang ditempuh oleh nabi Ibrahim seperti yang dikisahkan oleh al-Qur’an relevan dengan konteks ini. Diceritakan oleh QS. al-An’am: 75-79 bahwa tatkala melihat bintang ia menganggap itu Tuhan. Tetapi ketika tenggelam, ia menyangkal dengan mengatakan: “Aku tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian ketika ia melihat bulan, ia menganggapnya Tuhan. Tetapi yang terjadi adalah bulan juga tenggelam. Dan ketika melihat matahari terbit, Ibrahim berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Dan lagi-lagi yang terjadi kepada matahari sama dengan bintang dan bulan. Dan di akhir kisah itu, Ibrahim berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku terlepas dari apa yang kalian persekutukan.” Dari kisah ini terlihat jelas, sebelum Nabi Ibrahim diberi petunjuk oleh Allah tentang siapa Tuhannya, ia, dengan akal budinya, mencari tuhan secara radikal. Yaitu dengan menemukan dan menyangkal. Menemukan bintang, bulan dan matahari dan menyangkal bahwa mereka adalah Tuhan. Inilah salah satu tanda bahwa akal budi bisa menemukan Tuhan.

(2) Sebuah jargon yang menyerukan la hukma illa Allah (tidak ada hukum kecuali dari Allah).

Daftar Bacaan:

Al-Ghazali, Al-Iqtishad fi Al-I’tiqad, Dar Al-Qutaibah, cet. I, 2003.

Al-Zarkan, Muhammad Saleh, Fakhruddin Al-Razi wa Arauhu Al-Kalamiyyah wa Al-Falsafiyyah, Dar El-Fikr, tt.

Ibn Rusyd, Fashlu Al-Maqol wa Taqriru ma Baina AL-Syari’ati wa Al-Hikamti min Al-Ittishal, Al-Hai’ah Al-Amah li Qushur Al-Tsaqafah.

Imarah, Muhammad, Maqam Al-Aqli fi Al-Islam, Dar Nahdeet Mishr, cet. IV, 2012.

Mahmoud, Syarif Mishbah, Al-Ma’rifah wa Al-Uluhiyyah inda Aflatun wa Aristo wa Atsaruha ala Al-Allaf wa Al-Frabi, Al-Hai’ah Al-Mishriyyah Al-‘Amah.

Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan.

 

Facebook Comments
Bagikan konten: