Tasawuf Rasional al-Farabi

tasawuf rasional
Bagikan konten:

Prolog

Al-Farabi (1) menjadi penanda penting bagi filsafat Islam. Filsuf yang oleh sejarawan Arab dijuluki al-Mu’allim al-Tsani (second teacher)—setelah Aristoteles, membawa tongkat estafet bagi perkembangan filsafat di dunia Islam. Sebelumnya sudah ada seorang filsuf bernama al-Kindi yang oleh hampir semua buku sejarah filsafat Islam dikatakan sebagai filsuf Arab pertama. Namun begitu al-Kindi, dengan tidak mengurangi rasa takjub dan hormat terhadapnya, belum memiliki pemikiran filsafat yang integral dan bisa dianut. Pemikirannya masih terpecah-pecah dan kadang antara satu pembahasan dengan pembahasan lain tidak saling berhubungan. Baru di tangan al-Farabi lah filsafat Islam menemui bentuknya yang utuh, demikian menurut Ibrahim Madkur. (2)

Tak hanya itu. Selain menjadi estafet Filsafat Islam, Al-Farabi juga berpengaruh terhadap perkembangan tasawuf di dunia Islam, terutama tasawuf falsafi. Barangkali terdengar rada aneh di telinga kita ketika filsafat dihubungkan dengan tasawuf. Yang pertama kali terlintas di benak kita tentang filsafat adalah sebuah ilmu yang dibangun dari nalar, sedangkan Tasawuf adalah ilmu yang didasarkan pada intuisi. Sebelumnya perlu dijelaskan bahwa tasawuf dalam dunia Islam tidak tumbuh di ruang hampa. Ia bergesekan dengan disiplin ilmu lain: terpengaruh, saling mengintrik dan mengkritik, dan kadang saling menjatuhkan. Dari sinilah tasawuf berkembang dan merintis jalan lain.

Al-Farabi hidup saat tasawuf sudah berkembang pesat. Dari masa primordialnya sampai dengan masa perkembangannya di tangan al-Hasan al-Bashri, Rabiat al-Adawiyyah, al-Junaid al-Baghdadi, Abu Yazid al-Busthami, al-Haris al-Muhasabi, Dzunnun al-Mishri, dan terutama al-Hallaj yang satu kurun waktu dengan al-Farabi. Tetapi tasawuf Al-Farabi berbeda dengan tasawuf pada umumnya. Kita menyebutnya: Tasawuf Rasional. Dan salah satu tujuan tulisan ini adalah untuk mendeteksi apa yang berhasil dicapai oleh al-Farabi dalam tasawuf rasionalnya dan sejauh mana ia berpengaruh terhadap perkembangan tasawuf Islam.

Tulisan ini bukan perintis awal dalam tema ini. Sebelumnya Ibrahim Madkour sudah membahas perihal tasawuf al-Farabi ini dalam bukunya Fi al-Falsafah al-Islamiyyah tetapi tidak terlalu mendetil. Kemudian tema ini diteruskan oleh Sami as-Sahm dalam bukunya al-Tasawwuf al-‘Aqli fi Al-Yahudiyyah wa al-Masihiyyah wa al-Islam. Buku ini cukup detil, tetapi sayangnya, dalam membahas tasawuf rasional Al-Farabi, sang penulis mengabaikan pengaruh signifikan tasawuf rasional Al-Farabi itu terhadap perkembangan tasawuf sesudahnya, terutama tasawuf falsafi. Tulisan ini berusaha mewarnai apa yang sudah ada dan berusaha membidik sekena mungkin atas tema yang dibahas.

Tasawuf Rasional Al-Farabi

Sebelum melangkah jauh ke dalam pembahasan tasawuf rasional, untuk mengantarkan pemahaman yang lebih komprehensif, kiranya perlu dijelaskan apa itu tasawuf (3). Ada tiga pendapat mengenai asal kata tasawuf: Pertama, tasawuf dari kata ash-Shafa (bersih/suci), yang artinya seorang sufi harus membersihkan hatinya dari kotoran-kotoran duniawi. Kedua, dari kata ash-Shaf (barisan), yang artinya seorang sufi selalu berada di barisan terdepan dari mereka yang sampai kepada Tuhan. Ketiga, ash-Shuf (baju yang terbuat dari kain Shuf), yang artinya sufi adalah mereka yang hidup zuhud dan sederhana yang biasanya disimbolkan dengan mengenakan jubah berbahan kain Shuf.

Dari ketiga pengertian di atas, kita bisa menerka bahwa tasawuf menekankan setidaknya tiga hal: kebersihan hati, laku asketis, dan hidup sederhana (zuhud). Dengan demikian, tasawuf, pada mulanya, menekankan pentingnya hal ihwal amaliah yang tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Amaliah ini, yang bisa berbentuk banyak hal, misalnya puasa, memperbanyak shalat sunah, uzlah, dll. sama sekali terlepas dari peran akal atau rasio dalam praktiknya. Jadi, untuk sampai kepada tingkatan makrifat, tidak lain dan tidak bukan harus mengamalkan apa-apa yang menjadi tradisi kaum sufi. Diperkuat lagi dengan adanya ayat al-Quran yang oleh al-Ghazali dijadikan legitimasi akan ilmu laduni, yakni QS. al-Baqarah: 282:

Bertakwalah kepada Allah maka Dia akan mengajarimu.

Takwa kepada Allah berarti dua hal yang sama-sama berbentuk laku: menjalani perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Perlu dipahami juga, bahwa yang dinamakan amal atau laku tidak selalu laku badan. Adakalanya laku itu berbentuk lain, misalnya pengakuan atas ketidak-berdayaan di hadapan kuasa Allah. Pernah diceritakan bahwa ada orang yang berpuasa selama tujuh puluh tahun tetapi doanya tidak terkabul. Kemudian ia introspeksi diri dan mendapati satu hal: al-i’tiraf afdhalu min al-shaum (pengakuan lebih baik daripada berpuasa). Demikian itu tidak berarti puasa sama sekali tidak penting. Puasa yang mengantarkan pada kesombongan dan kepongahan tak lebih baik dari mengakui ketidak-berdayaan di hadapan Allah. Di sini, tepatnya, tasawuf berkait erat dengan akhlak: baik akhlak kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia.

Dalam pada itu, tasawuf rasional berciri lain dari tasawuf konvensional. Tasawuf rasional melanggengkan jalannya ke arah nalar dan permenungan. Laku asketis tidak cukup untuk menjangkau apa yang bisa dijangkau oleh rasio. Rasionalitas tasawuf  terletak pada ciri khasnya yang memperbaiki celah dalam ‘praktik’. Yang sanggup dijangkau oleh laku asketis adalah hubungannya dengan kehidupan zahir, yang tampak oleh mata, yang dapat diinderai oleh seluruh indera, dan yang berguna bagi kehidupan sosial bermasyarakat. Tasawuf sebagai jalan menuju Tuhan dirasa tidak cukup hanya dengan praktis. Tetapi ada juga ranah yang mesti dijangkau dengan akal aktif, yaitu ranah ketuhanan.

Kita bisa mengatakan bahwa seluruh tujuan tasawuf tidak lain adalah Tuhan itu sendiri. Atau lebih tepatnya, mengetahui Tuhan.

Kaum sufi mewartakan ketidak-mungkinan membicarakan Tuhan. Atau biasa dikenal dengan apofatik. Tuhan adalah tuhan itu sendiri. Menjangkau Tuhan sebagai tuhan tidak mungkin bisa dengan akal yang amat terbatas kemampuannya. Jika pun kita membicarakan Tuhan, tidak lain sesungguhnya kita telah membicarakan Tuhan konsep. Oleh karenanya, mereka menawarkan alternatif lain, yang dicarikan kebenarannya lewat kitab suci, bahwa Allah akan mengajari hamba-Nya secara langsung jika hamba-Nya bersedia untuk bertakwa. Di sini, akal diragukan kemampuannya dan dibatasi daya jangkaunya.

Al-Farabi menegaskan bahwa tasawuf rasional murni diperoleh dari pembelajaran dan usaha untuk memahami. Artinya, ini bermaksud dua hal: Pertama, kebersihan hati dan jiwa tidaklah cukup untuk sampai pada Tuhan. Kedua, amal badaniah juga tidak cukup memadai dalam perkara ketuhanan. Di sini dipakai kata “tidak-cukup”, yang berarti ada faktor lain yang menjadikan dirinya cukup, yaitu akal itu sendiri. Ada hal-hal yang cukup dengan amal luar, ada yang cukup dengan amal batin, juga ada hal-hal yang hanya bisa dijangkau dengan rasio.

Pandangan Al-Farabi ini muncul dari pendapatnya: akal manusia pada mulanya adalah sebagai potensi terberi, kemudian jika akal ini bisa menemukan Dzat yang tidak terjangkau indera, maka ia akan terhubung ke dimensi lain dan menjadi akal aktif (al-aqlu al-fa’al). Sang Filsuf sendiri erat kaitannya dengan konsep emanasi (nadzariat al-faidh), satu pandangan yang menerangkan bahwa alam semesta ini tercurah dari Dzat yang Dia adalah akal pertama; yang dari akal pertama ini muncul akal-akal yang lain, yang berjumlah sepuluh.

Tasawuf rasional memiliki gestur yang unik dalam menyikapi sesuatu. Ia berdinamika dengan kehidupan yang kadang terkonsep rapi, tetapi di saat yang sama, karena hubungannya dengan metafisika, ia menjadi non-mortal, berdimensi lain, akal aktif, yang menghuni alam entah. Diceritakan oleh sebagian sejarawan, al-Farabi melakoni hidup sebagai seorang zahid. Bahkan meskipun ia telah tinggal bersama Saif Daulah, ia tetap hidup seadanya. Tasawuf amali yang dipraktikkan Al-Farabi berhubungan dengan kepatuhan terhadap perintah nabi. Al-Farabi Muslim yang taat. Tetapi ia sadar: ada potensi khas yang bisa dipakai untuk menghubungkan seorang hamba dengan Tuhannya, ialah akal. Al-Farabi seolah ingin menegaskan bahwa tasawuf rasional bersifat lentur, semua orang yang memiliki akal yang sehat bisa menempuh jalan tasawuf ini.

Di atas sudah disinggung pengertian tasawuf secara etimologis. Kiranya perlu juga memaparkan pengertian tasawuf secara terminologi, sehubungan dengan bagaimana jika ia dihadapkan dengan tasawuf rasional. Ada dua definisi tasawuf: Pertama, jalan yang ditempuh oleh sekelompok manusia yang memandang bahwa cinta yang ilahiah adalah puncak dari tujuan manusia yang sempurna (al-insan al-kamil). Kedua, jalan yang ditempuh oleh tiap individu yang memandang bahwa segala sesuatu di dunia ini mencerminkan cinta Tuhan, tanpa membedakan satu hal dengan hal yang lainnya.

Definisi yang pertama lumrah adanya, sebab itulah tasawuf yang dari zaman ke zaman terus ada dan berkembang dengan bentuk yang hampir stagnan. Jalan untuk ke sana belakangan dituju menggunakan laku tarikat. Definisi yang kedua menemukan titik temunya dari para penyair sufi seperti Jalaluddin Rumi, filsuf seperti Ibn Sina, pemikir, dan seniman.

Kedua definisi di atas menempuh jalan yang berbeda meskipun tujuannya sama, Tuhan. Lalu timbul pertanyaan, di mana letak tasawuf rasional di antara keduanya? Tasawuf rasional lebih mirip definisi ke dua, tapi tentu dengan karakteristik yang tidak saklek. Definisi kedua muncul belakangan, setelah tasawuf bertempur hebat-hebatan dengan filsafat Paripatetik. Adalah pembesar seperti Ibn Arabi, Suhrowardi, Fariduddin al-Athar, dan Jalaluddin Rumi, yang oleh banyak peneliti disebut beraliran teosofi: tasawuf yang dipadukan dengan filsafat.

Sesungguhnya tasawuf rasional umurnya lebih tua dari tasawuf falsafi. Genealogi tasawuf rasional, jika dirunut dengan teliti, bahkan sudah muncul sejak Yunani kuno, di tangan Phytagoras. Tasawuf rasional berjalan berjejeran dengan tasawuf falsafi, tetapi tetap mengambil jarak. Tasawuf falsafi memiliki dua substitusi penting: Pertama, Allah adalah cahaya langit dan bumi. Kedua, Manusia sempurna (al-insan al-kamil) adalah yang mampu menangkap cahaya ilahi itu. Substitusi pertama banyak dibicarakan oleh Suhrawardi dalam magnum opusnya: Hikmat Al-Isyraq. Sedangkan substitusi kedua, dibahas mendetil oleh Ibn Arabi dan muridnya Abdul Halim Al-Jili dalam kitab yang berjudul Al-Insan Al-Kamil fi Ma’rifat Al-Awakhir wa Al-Awail.

Ada baiknya jika kita merinci perbedaan antara tasawuf rasional dengan tasawuf falsafi. Saya hadirkan dengan tabel untuk memudahkan pemahaman. Berikut adalah tabel itu:

 

 

Jenis Tasawuf

 

Ontologi (Objek)

 

Epistemologi (Cara)

 

Aksiologi (Tujuan)

 

Falsafi

 

Tuhan, Manusia, dan Alam

 

Akal, Teks, dan Irfani (Gnostik)

 

Makrifat Tuhan, Insan Kamil, Akhlak

 

Rasional

 

Tuhan

 

Akal Murni

 

Makrifat Tuhan

 

Tasawuf rasional adalah perintis jalan untuk tasawuf falsafi. Para sufi seperti as-Suhrawardi dan al-Hallaj, berhadapan dengan teks-teks filsafat. Maka ada kalanya dua hal: merekomendasikannya untuk dipadukan dengan filsafat, atau, menolaknya. Kemungkinan yang pertama jelas menerima filsafat dan memadukannya dengan tasawuf yang sudah mentradisi di tubuh umat Islam. Bagaimana dengan yang kedua?

Al-Kindi menyangsikan orang yang menolak filsafat. Dalam menghadapi filsafat, orang terbagi ke dalam dua golongan: menerima atau menolak. Orang yang menolak filsafat harus menghadirkan dalil dan bukti kenapa ia menolak filsafat. Sedangkan, menghadirkan dalil dan bukti termasuk dalam ranah filosofi. Jadi, menolak filsafat sama dengan menolak untuk membuktikan kebatilan filsafat. Ini tidak jauh beda dengan tasawuf yang menolak filsafat (Paripatetik). Tasawuf yang menolak filsafat akan selalu berciri filosofis sebab yang dinegasi a priori bersifat filosofis.

Penjabaran perbedaan ini bukan berarti bahwa antara tasawuf rasional dengan tasawuf falsafi tidak ada persamaan. Tasawuf rasional, menurut Ibrahim Madkour, sangat berpengaruh pada tasawuf falsafi. Bahkan, Madkour menegaskan istilah-istilah yang dipakai oleh Al-Farabi hanya diubah oleh tasawuf falsafi untuk menunjukkan perbedaan antara rasionalitas dengan intuisi, seperti filsafat illuminasinya Suhrowardi dengan teori emanasinya al-Farabi.

Epilog

Al-Farabi, dengan tasawuf rasional yang ia usung, ingin menurunkan tahta tasawuf yang oleh mayoritas orang dipandang terlalu mengawang-awang, eksklusif, dan privatif. Mengamini tasawuf rasional berarti merintis, membuka, dan melempengkan jalan bagi setiap individu yang memiliki akal sehat untuk mencapai apa yang ingin juga dicapai oleh tasawuf konvensional: Tuhan. Dengan demikian, hasrat bertuhan yang dimiliki manusia sejak semula, atau biasa disebut homo religious, benar-benar bukan kaplingan satu golongan saja. Mencapai tuhan bisa dengan berbagai cara. Bahkan sering kita mendengar adagium masyhur yang mengatakan bahwa sebanyak jumlah manusia di bumi, sebanyak itulah jalan menuju Tuhan.

Tasawuf rasional Al-Farabi juga seolah ingin kembali pada definisi manusia secara primordial, yakni hewan yang berpikir. Yang membedakan antara manusia dengan hewan adalah yang pertama berpikir dan yang kedua tidak. Manusia dan hewan sama dalam hal ini: bertindak. Tindakan yang dilakukan oleh manusia dan hewan tak ada bedanya, kecuali yang pertama bertindak berdasarkan akal dan kehendak dan yang kedua bertindak berdasarkan insting. Tasawuf rasional menjadikan manusia sebagai manusia. Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa tasawuf rasional menyimpan misi terselubung yang maha dahsyat: ia bisa menjadi senjata revolusi yang berbasis pada materi, seperti yang sering ditegaskan oleh pemikir Lebanon Ali Harb bahwa al-Farabi adalah seorang materialis Islam klasik terbesar. Tentu akan indah jika pembahasan yang satu ini diteruskan di tempat lain yang lebih luas.

Catatan Akhir:

(1) Abu Nashr Muhammad Ibn Muhammad Al-Farabi. Lahir pada tahun 260 H/847 M di kota Farab, Uzbekistan (dulu tanah Khurasan). Tak banyak riwayat tentang masa kecil dan mudanya. Ia dikabarkan pernah belajar dari seorang penerjemah karya-karya Aristoteles pada masanya bernama Abu Basyar Matta. Ia hidup berpinda-pindah. Ia dikabarkan pernah ke Mesir, tapi oleh Muhammad Luthfi Jum’ah kabar ini dibantah. Dan akhirnya ia menetap di Damaskus bersama kepala distrik (Saif Al-Daulah) Ali Ibn Al-Hamdani dan meninggal di kota tersebut pada tahun 339 H/950 M dalam usia senja, yakni 80 tahun.

(2) Yang dimaksud dengan “tidak-utuh” adalah filsafatnya belum bisa menjadi sebuah mazhab tersendiri. Bahkan dalam perkara pembuktian Tuhan, ia lebih condong pada pendapat kaum teolog terutama kaum Muktazilah. Oleh sebab itu, dalam masalah ketuhanan, pendapat Al-Kindi tidak banyak dibantah oleh teolog (dan kita tahu, teolog dan filsuf dalam sejarahnya selalu bersilang pendapat yang akhirnya memuncak pada Al-Ghazali) seperti yang terjadi pada Al-Farabi dan Ibn Sina.

(3) Mengenai genealogi tasawuf Islam, para pakar dan sejarawan berselisih pendapat. Singkatnya bisa menjadi dua kubu: Pertama, mereka yang menganggap bahwa tasawuf Islam diambil (atau terinspirasi) dari tasawuf yang sudah berkembang di agama dan di belahan negeri lain. Misalnya, tasawuf bangsa Suryani, tasawuf agama Zoroaster, tasawuf India atau yang lebih dikenal dengan Vedanta. Kedua, mereka yang menganggap bahwa tasawuf Islam dari rahim Islam itu sendiri. Ayat-ayat al-Quran menjadi inspirasinya. Di antara ayat-ayat itu adalah: QS Al-Taubah: 109; QS Al-Haj: 37; QS Al-Baqarah: 263; dan banyak lagi. Menengahi dua pendapat ini, bisa dikatakan bahwa tasawuf Islam dari satu kurun ke kurun selanjutnya selelu berkembang. Kita tahu, tasawuf paling awal dalam Islam belumlah berbentuk pemikiran yang rumit, yang sampai ada klaim menyatunya Tuhan dengan manusia seperti dalam paham Hulul dan Ittihat. Tetapi Sufi generasi awal murni melakoni hidup dengan praktek yang mereka terima dari para sahabat yang mana para sahabat ini belajar langsung dari Nabi. Jadi, perkembangan tasawuflah yang sangat dekat bila dikatakan ada keterpengaruhan dari negeri seberang atau pemikiran peradaban lain.

Daftar Bacaan:

Madkour, Ibrahim, Fi al-Falsafah al-Islamiyyah: Manhaj wa Tathbiqihi, Dar El-Maarif, Cairo, cet 2, vol 1.

Al-Hufni, Abbul Munim, al-Mausu’ah al-Falsafiyyah, Maktabah Madbuli, Cairo, cet. 1, tt.

Al-Ghazali, Rasail al-Imam al-Ghazali: ar-Risalah al-Laduniyyah, al-Maktabah Al-Taufiqiyyah, Caio, cet. 2, 2015.

Mubarak ,Zaki, al-Tasawwuf al-Islami fi al-Adab wa al-Akhlaq, Dar al-Jiel, Beirut, tt, vol. 1.

Al-Malaikat , Ihsan, Jalaluddin arl-Rumi, Shoigh an-Nufus, Al-Markaz Al-Tsaqafi Al-Arabi, cet 1, 2015.

As-Sahm, Sami, al-Tasawwuf al-‘Aqli fi al-Yahudiyyah wa al-Masihiyyah wa Al-Islam, Dar al-Kitab al-Mishri, Cairo, cet 1, 2016.

Facebook Comments
Bagikan konten: