Suatu Siang di dalam Minibus Kairo

kintaka zulfa
Bagikan konten:

Rita mengawasi laki-laki berbadan cungkring yang berdiri di sampingnya. Gerak-gerik laki-laki itu mencurigakan, tidak hanya sekali ia menempelkan betisnya ke betis Rita. Ia tahu laki-laki itu sengaja melakukannya. Dari kedua matanya terlihat laki-laki itu menginginkan sesuatu. Dalam hati, Rita sudah memutuskan untuk meneriakinya jika ia sampai menempelkan betisnya lagi.

Tapi hal itu tidak terjadi. Tiga penumpang turun dari minibus yang dinaiki Rita sehingga ia bisa segera bergeser. Tak lama kemudian Rita bisa duduk setelah ditawari seorang ibu-ibu gendut yang duduk di hadapannya dan menunggu ia tertatih-tatih berdiri lalu turun dari bis.

Rita bernafas lega, ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan perasaan tenang. Penumpang di sampingnya adalah seorang wanita Afrika yang tengah khusyuk membaca al-Quran. Karena berkulit gelap, mungkin wanita itu berasal dari Sudan, bisa jadi Ethiopia, atau mungkin Djibouti. Rita mencoba menebak-nebak tapi ia tidak bisa memastikan asal wanita itu dan tidak pula memusingkannya. Yang terpenting ia sudah berada cukup jauh dari laki-laki tadi. Rita menoleh ke belakang dan mendapati laki-laki itu tengah berusaha menempelkan betisnya ke perempuan berambut keriting yang berdiri di sampingnya.

Beberapa saat kemudian handphone Rita berdering. Ia tidak mengangkat telepon setelah melihat nama yang tertera di layar hanphonenya. Ia sedang malas berbicara dengan Hassan. Seminggu lalu mereka bertemu dan Hassan bercerita tentang Anwar al-Awlaki, jihadis al-Qaeda, yang baru dibacanya di sebuah majalah politik Mesir. Sebelumnya lagi ia mengatakan tertarik untuk berangkat ke Siria agar bisa tahu hubungan ISIS dengan Amerika. Rita merasa Hassan hanya sok-sokan dengan ucapannya itu. Ia hanya mencari perhatian. Hassan tahu Rita tertarik dengan isu politik Timur Tengah.

Handphonenya kembali berdering. Masih Hassan. Handphonenya itu masih terus berdering hingga wanita Afrika di samping Rita tiba-tiba bertanya mengapa ia tidak mengangkat teleponnya. Wanita itu tersenyum, terlihat begitu ramah. Rita balas tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa.

“Kau dari Indonesia?” tanya wanita itu.

“Benar.”

“Belajar di al-Azhar?”

“Benar.”

Handphone Rita kembali berdering. Tapi kali ini bukan Hassan. Rita memberi isyarat kepada wanita itu bahwa ia ingin mengangkat telepon. Wanita itu mempersilahkan dengan ramah.

“Aku sebentar lagi sampai di kawasan Abbasiyah. Kamu sudah sampai di Ramses?”

Rita mengangguk-angguk mendengarkan seseorang di seberang telepon, lalu ia berucap, “Baiklah, sampai ketemu nanti.”

Rita memasukkan handphone ke dalam ransel hitamnya. Wanita Afrika di sampingnya terlihat kembali khusyuk membaca al-Quran. Rita memutuskan untuk membaca buku tipis yang baru dibelinya tadi di pinggir jalan. Buku itu adalah kumpulan cerpen karya Maher al-Duwairi. Rita belum sampai menyelesaikan satu cerita ketika ia menutup buku itu dan memasukkannya kembali ke dalam ransel. Ternyata ia sedang tidak tertarik membaca kisah-kisah absurd yang tak jelas apa intinya.

Rita baru menyadari bahwa bus hijau yang dinaikinya bukan terjebak macet karena lalu lintas, tapi karena ada rombongan presiden yang akan lewat sehingga jalanan dikosongkan. Beberapa pria berjas rapi dengan mikrofon kecil terpasang di belakang telinga terlihat berdiri di beberapa titik jalan memastikan kondisi keamanan. Sejenak Rita memperhatikan salah seorang penumpang pria berwajah kesal yang berdiri di dekat pintu bus. Mungkin ia sedang terburu-buru. Ia melihat ke arah jam tangannya kemudian menggerutu dan berkali-kali mengucap kata istigfar. Tidak ada yang menggubris penumpang itu. Wanita di samping Rita masih tertunduk membaca al-Quran dengan suara lirih.

Tiba-tiba terdengar suara keributan dari arah belakang Rita. Seluruh penumpang di dalam bus melihat ke arah sumber suara. Laki-laki berbadan cungkring itu tengah beradu mulut dengan perempuan berambut keriting. Seorang pria tua mencoba untuk menjadi penengah di antara mereka. Dengan nada penuh emosi, si perempuan keriting mengatakan dengan blak-blakan bahwa laki-laki di sampingnya telah melakukan pelecehan seksual. Si laki-laki cungkring tidak terima. Dengan nada yang tak kalah emosi, laki-laki itu mengatakan bahwa ia tidak melakukan apa-apa, ia hanya berdiri melihat ke arah luar jendela.

“Aku bersumpah demi Allah, dia mencoba untuk menyentuhku,” teriak si perempuan berambut keriting.

“Kau berani menuduhku sedangkan kau tidak punya saksi,” bantah laki-laki itu geram.

Keadaan semakin riuh karena para penumpang lain ikut mengangkat suara. Ada yang membela si perempuan, ada juga yang membela si laki-laki. Pria tua yang mencoba menjadi penengah terlihat kebingungan sendiri. Rita ingin sekali membantu si perempuan keriting tapi ia tak punya bukti dan ia hanyalah warga asing. Semakin lama Rita semakin tak mengerti apa yang mereka perdebatkan. Yang jelas, si laki-laki cungkring tiba-tiba turun dari bus sambil terus menggerutu. Tak lama kemudian, rombongan presiden lewat dan jalan kembali dibuka.

“Jika aku jadi perempuan itu, aku sudah menusuk anu nya dengan jarum!” ucap wanita di samping Rita. Wanita itu sengaja melirihkan suaranya.

“Aku tahu laki-laki itu tidak baik. Aku menyesal karena hanya diam.” Rita menanggapi.

“Percuma saja. Untuk masalah seperti ini, wanita yang selalu disalahkan.”

Wanita Afrika itu pun mengenalkan dirinya. Ia bernama Aisyah dan berasal dari Nigeria. Tanpa ditanya, Aisyah menjelaskan sendiri alasannya ke Mesir. Pada awalnya ia hanya seorang pengungsi yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Mesir. Beruntung ia mendapat majikan yang baik hati dan bersedia membantu membiayai kuliahnya di Universitas Ain Syams. Ia mengambil jurusan bahasa Inggris. Sekarang ia sudah duduk di tahun ke-empat.

“Bagaimana keluargamu?”

“Aku tak tahu.” Aisyah menghela nafas. “Ibuku sudah lama meninggal dunia, sedangkan ayah dan dua kakak laki-lakiku ikut bergabung dengan Boko Haram. Aku tak tahu apakah mereka masih hidup atau tidak.”

“Boko Haram?” Rita memastikan apa yang baru saja didengarnya.

Aisyah mengangguk kemudian ia menjelaskan bahwa banyak dari penduduk Nigeria bergabung ke kelompok Boko Haram karena takut dan terpaksa. Tapi ayah dan kedua kakak laki-lakinya bergabung dengan sukarela. Mereka meyakini bahwa apa yang dilakukan Boko Haram benar, bahwa Barat adalah musuh nyata yang harus dimusnahkan. Aisyah melihat keadaan sekeliling kemudian melanjutkan ceritanya.

Aisyah melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana ayahnya mengajarkan cara merakit bom dan ranjau. Ayahnya terlibat dalam aksi pemboman gedung PBB di Abuja pada tahun 2011 yang dianggap sebagai pusat tersebarnya westernisasi di negara. Sejak saat itu, ayahnya menjadi buronan dan Aisyah terpaksa harus ikut berpindah dari satu tempat persembunyian ke tempat persembunyian yang lain.

“Lalu bagaimana kau bisa sampai di Mesir?”

“Aku melarikan diri dari ayah dan kedua kakak laki-lakiku. Saat itu aku berumur tujuh belas tahun. Ayahku berencana untuk menikahkanku dengan salah seorang petinggi Boko Haram yang masih memiliki hubungan kerabat dengan Shekau.”

“Abu Bakr Shekau?”

Aisyah mengangguk, “Benar, pendiri Boko Haram.”

“Aku tak setuju dengan rencana pernikahan itu. Calon suamiku sudah memiliki tiga orang istri dan dia orang yang kasar. Aku tak suka orang yang kasar. Karenanya aku melarikan diri. Aku berhasil bergabung dengan para calon pengungsi yang ingin meninggalkan Nigeria karena perang teroris yang tak berkesudahan. Kami terombang-ambing di lautan selama berminggu-minggu.”

Rita menelan ludah. Ia ingin bertanya apakah kejadian ini benar-benar dialami oleh Aisyah tapi ia mengurungkan niatnya. Ia takut Aisyah akan merasa tersinggung. Rita memperhatikan wajah Aisyah yang terbalut hijab berwarna hitam polos. Ia terlihat begitu ramah tapi tiba-tiba Rita merasa takut.

Hening sesaat.

Aisyah seakan bisa menebak apa yang ada di dalam kepala Rita saat itu. Tiba-tiba saja ia mengatakan bahwa ia tak pernah menyetujui tindakan Boko Haram. Dulu ia terjebak dan ia tidak punya pilihan. Sedangkan sekarang ia sudah menjadi wanita bebas dan berpendidikan. Ia tidak membenci barat karenanya ia mengambil jurusan bahasa Inggris. Ia berkata bahwa ia sangat menyukai bahasa Inggris. Ia mengatakannya dengan pengucapan Inggris yang fasih.

“Apa kau sudah menikah?” tanya Rita.

Aisyah mengangguk. “Namanya Mahmud. Ia seorang pengungsi sama sepertiku. Dia pandai menjahit. Kau lihat abaya yang aku pakai ini?  Dia sendiri yang menjahitnya.”

“Semoga Allah selalu memberimu kemudahan,” ucap Rita sebelum akhirnya ia pamit karena ia harus turun. Hampir saja Ramses terlewat olehnya.

Rita melambaikan tangan ke arah Aisyah yang juga melambai-lambaikan tangannya dari balik jendela bus. Ia langsung menuju kedai jus yang terletak tak jauh dari stasiun metro. Ia sudah memiliki janji dengan Andi untuk menemaninya mencari buku di kawasan Down Town. Tak lama kemudian, Andi terlihat di antara lalu lalang orang. Andi melambaikan tangan sembari berjalan ke arah Rita.

“Aku menelponmu berkali-kali,” kata Andi ketika sudah berdiri di hadapan Rita.

Begitu mendengarnya Rita langsung menggeledah ransel, memeriksa dengan teliti semua kantung yang ada di rok panjang dan jaketnya. Ia tidak menemukan handphonenya.

“Coba kamu ingat-ingat di mana terakhir kali kamu menaruhnya.”

Rita ingat betul ia memasukkan handphonenya ke dalam ransel setelah Andi meneleponnya. Ia selalu menaruh handphone di dalam kantung ransel bagian dalam.

“Ingat-ingat siapa saja yang ada di dekatmu.”

Rita langsung teringat laki-laki cungkring yang bertingkah mencurigakan di dalam bus. Tapi tidak mungkin. Ketika mendapatkan tempat duduk, Rita berhasil menjauh dari laki-laki itu dan masih mengangkat telepon dari Andi setelahnya. Ketika laki-laki itu turun dari bus, Rita mendekap erat ransel hitamnya.

“Tidak mungkin pelakunya Aisyah,” ucap Rita tiba-tiba. Ia seakan berbicara dengan dirinya sendiri.

“Siapa itu Aisyah?”

Rita pun menceritakan wanita asal Nigeria yang ditemuinya di dalam bus kepada Andi. Ia juga menceritakan asal-usul keluarga Aisyah yang bergabung dengan kelompok Boko Haram hingga bagaimana ia bisa kabur dan sampai ke Mesir.

“Aku tidak percaya dengan ceritanya. Menurutku ia hanya mengarang-ngarang cerita. Mesir tidak begitu saja mudah membukakan perbatasannya untuk para pengungsi. Kamu tahu sendiri berita para pengungsi yang terombang-ambing di lautan karena beberapa negara tak mau menampung mereka. Lagi pula, bagaimana ia bisa kabur dengan mudah dan mengapa keluarganya yang militan itu tidak mencarinya?”

Walaupun yang dikatakan Andi masuk akal, tapi Rita merasa kesal mendengar ucapannya. Kalau pun Aisyah berbohong soal Boko Haram dan keluarganya, Rita merasa sangat yakin bukan Aisyah yang telah mencuri handphonenya. Tiba-tiba air matanya keluar. Perasaannya menjadi campur aduk. Andi yang terlihat kikuk karena menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang, akhirnya mengajak Rita duduk di bangku taman.

Andi meminta Rita untuk berhenti menangis, ia mencoba menghibur Rita dengan mengatakan bahwa ia memiliki dua handphone dan Rita bisa memakai salah satunya.  Rita tak merespon. Rita tak yakin ia menangis karena handphonenya yang hilang, ia memang sudah berencana untuk membeli handphone baru.

Rita mengusap wajahnya yang basah dengan tisu. Mungkin Rita sudah berhasil menahan air matanya, tapi ia tak bisa menahan sosok Aisyah yang membayang jelas di dalam kepalanya.

Facebook Comments
Bagikan konten: