Semua Ilmu Itu Cocoklogi

Bagikan konten:

Apa itu “cocoklogi”? Istilah ini telah digunakan banyak orang untuk menyebut, sekaligus mengolok-olok, orang atau peneliti yang “mencocok-cocokkan” asumsi mereka terhadap suatu peristiwa, genealogi, sejarah, ideologi, dan sederet realitas lain yang akan panjang ketika disebutkan. Cocoklogi hadir sebagai olok-olok, dan oleh karenanya makna kata itu tidak telanjang apa adanya dan sudah tertimbun banyak persepsi. Saya akan menelanjangi kata ini dan melihatnya secara fenomenologis (mengembalikan sesuatu pada sesuatu itu sendiri, seperti jargon Husserl). Saya akan berangkat dari sebuah tesis: tidak ada ilmu atau pengetahuan yang tidak cocoklogi. Setiap ilmu adalah usaha mencocokkan sesuatu dengan sesuatu, hanya saja masalahnya terpancang pada argumen dan data yang dihadirkan. Cocoklogi yang sudah ditimbun berbagai macam makna dan olok-olok adalah usaha mencocokkan sesuatu dengan yang lainnya tanpa didukung data yang memadai dan argumen yang cukup.

Tidak hanya sekarang dengan viralnya video seorang Ustadz yang mengatakan bahwa pulau-pulau di Indonesia berasal dari bahasa Arab, fenomena cocoklogi umurnya sudah sangat tua. Kita tentu masih ingat dengan buku dan video yang ramai di tahun 2012 tentang Borobudur yang dalam klaim pengarang atau penelitinya, Fahmi Basya, adalah peninggalan Nabi Sulaiman. Tesis Fahmi Basya menimbulkan sengkarut di kalangan intelektual, terlebih sejarawan. Banyak yang menanggapi tesis itu dengan tesis tandingan yang serius, banyak juga yang kemudian memasang raut sinis bahwa tesis itu sekadar cocoklogi. Untuk menjembatani semua prahara soal cocoklogi, saya akan memulainya dengan suatu pengantar filsafat ilmu.

Apa itu ilmu atau pengetahuan? Imam Asy’ari (*), pembesar Ahlussunnah, mengatakan bahwa ilmu adalah: sesuatu yang dengannya seseorang mengetahui apa yang diketahui (mâ bihi ya’lamu al-‘âlimu al-ma’lûm). Dengan definisi ini, Imam Asy’ari memaksudkan bahwa kita tidak mengetahui yang-diketahui (al-ma’lûm) berdasarkan esensi atau dirinya sendiri, akan tetapi kita mengetahuinya dari perkara yang lain daripada yang-diketahui itu. Perkara yang lain itu adalah: ilmu atau pengetahuan. Dengan demikian, ilmu adalah suatu sifat atau atribut yang dengannya seseorang mengetahui yang diketahui dan dengan demikian pula, kata Sang Imam, ilmu berarti “sebab yang dengannya seseorang mengetahui yang diketahui”. Suatu sebab mengantarkan pada ilmu. Jika kita mengetahui bahwa Budi berdiri di depan masjid, di hari Kamis di jam sekian, kita berarti mengetahui “sebab” yang dengannya kita mengetahui bahwa Budi berdiri di depan masjid. Di sana ada tiga prinsip: (1) sebab—misalnya kita menyaksikan langsung bahwa Budi berdiri di depan masjid di hari tertentu di jam sekian; (2) seseorang yang mengetahui—dalam hal ini bisa siapa saja; (3) apa yang diketahui—dalam hal ini tidak sebatas subjek berkesadaran, tapi juga meliputi benda, peristiwa, dan sifat.

Dalam logika klasik sendiri, ilmu itu dibagi menjadi dua: (1) konsepsi (tashawwur), (2) pembenaran (tashdiq). Tashawwur berurusan dengan definisi sedangkan Tashdîq berurusan dengan silogisme. Sesuatu bisa dinilai benar (true) atau salah (false) ketika sudah menjadi proposisi. Proposisi adalah suatu pernyataan yang bisa dibuktikan baik itu benar ataupun salah, dan oleh karenanya bisa diafirmasi ataupun dinegasi. Suatu pernyataan, misalnya Budi berdiri di depan masjid pada hari Kamis pukul lima sore, bisa dinilai benar atau salah bergantung pada kesesuaiannya terhadap realitas. Jika benar bahwa Budi berdiri di masjid itu di hari Kamis pukul lima sore, maka pernyataan itu adalah benar, begitu juga sebaliknya. Lalu, timbul pertanyaan, apa ukuran atau bagaimana cara membuktikan bahwa suatu pernyataan itu benar atau salah?

Kita berurusan dengan epistemologi, lebih khusus sumber pengetahuan (mashâdir al-ma’rifah). Tetapi sebelum itu, kiranya perlu untuk membahas secara singkat klasifikasi ilmu lantaran berhubungan erat dengan sumber pengetahuan. Imam Asy’ari membagi ilmu menjadi tiga: (1) ilmu pasti (dlaluri), (2) ilmu yang diusahakan (kasbi), (3) bukan pasti dan bukan diusahakan. Dari tiga pembagian ini, dua pertama adalah pengetahuan manusia sedangkan yang terakhir adalah pengetahuan Tuhan. Kita akan membahas pengetahuan manusia. Pengetahuan pasti, menurut Sang Imam, sama derajatnya di tiap insan yang memiliki akal sehat. Ilmu ini tidak diusahakan sebab ia, katakanlah, bawaan dari lahir. Ilmu inilah yang menjadi dasar dari segala ilmu yang dibangun di atasnya. Tanpa ilmu ini, ilmu lain tidaklah absah. Misalnya, dalam ilmu logika (logika juga dibagi menjadi dua: (1) bawaan [fitri], (2) diusahakan [kasbi]), ada hukum non-kontradiksi, bahwa, seperti yang dicontohkan Sang Imam sendiri, wujud adakalanya azali, dan ada kalanya tiada kemudian ada. Tidak mungkin wujud yang azali itu ada kemudian tidak ada atau tidak ada kemudian ada, begitu juga tidak mungkin wujud yang tidak ada kemudian ada sekaligus di waktu yang sama ia azali. Pengetahuan pasti ini dimiliki oleh tiap insan yang memiliki akal sehat. Sedangkan ilmu yang diusahakan adalah ilmu yang sudah melalui pengalaman, atau jika kita terpaksa menggunakan teori Kant disebut aposteriori (setelah pengalaman) sebagai lawan dari apriori (mendahului pengalaman). Ilmu yang kita perolah kebanyakan pada tingkatan ini, oleh sebab itu tidak heran jika di sana terdapat banyak perbedaan, baik di tingkat sumber pengetahuan, modus, maupun konten pengetahuan.

Sumber pengetahuan menurut Sang Imam ada tiga: (1) indra (al-hiss), (2) berita yang sambung sinambung (al-akhbâr al-mutawâtirah), (3) pengamatan rasio (an-nadzar). Dari ketiga sumber pengetahuan inilah suatu proposisi mendapatkan penilaiannya, baik benar maupun salah, baik afirmasi ataupun negasi. Sumber yang pertama, yaitu indra, bersifat langsung dan seketika. Suatu pernyataan bisa dinilai langsung oleh indra, jika konten pernyataan itu (masih) bisa dirujuk pada waktu pernyataan itu dibuat. Misalnya, ada pernyataan “ubin masjid raya Semarang berwarna merah”. Pernyataan ini bisa dirujuk dan dibenarkan, jika konten pernyataannya masih mungkin dibuktikan secara indrawi, yakni melalui pengamatan langsung. Jika faktanya memang ubin di masjid itu berwarna merah, maka pernyataan itu adalah benar. Bagaimana jika konten suatu proposisi tidak bisa dirujuk dengan indra, oleh satu atau dua sebab, misalnya karena jarak, baik jarak tempat maupun waktu? Sumber pengetahuan yang kedua harus digunakan. Konten pernyataan tentang ubin masjid itu masih ambigu, karena tidak menyertakan keterangan waktu. Bagaimana jika kita tambahi dengan “di tahun 1972”? Ubin masjid raya Semarang hari ini boleh jadi sudah berbeda dari tahun 30 tahun yang lalu, dan itu artinya pernyataan yang menyertakan waktu yang tidak kekinian itu sudah tidak bisa dibuktikan melalui indra, oleh karenanya kabar yang sambung sinambung bisa dipakai. Kabar yang sambung sinambung itu adalah sejarah yang sudah disepakati oleh mayoritas pakar, yang dalam terminologi ilmu hadis, mustahil bagi orang-orang itu untuk berbohong secara berjamaah, baik karena periode hidup mereka yang berbeda maupun lokasi mereka yang tidak berdekatan.

Dalam kasus tesis Fahmi Basya soal Borobudur, ia berdiri menentang begitu banyak sejarawan yang mengatakan bahwa Borobudur adalah peninggalan peradaban Budha di tanah Jawa. Sebetulnya suatu sejarah bisa dibantah dan ditentang bukan hanya dengan sejarah tandingan, tapi juga dengan unsur logika. Dalam hal ini, Ibn Khaldun, menurut Abid Al-Jabiri dalam Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi, adalah sejarawan pertama yang berpendapat bahwa sejarah bisa dibenarkan atau disalahkan oleh nalar, dengan syarat dan ketentuan yang tentunya sangat ketat. Saya akan memberikan satu contoh. Dalam kitabnya Al-Jânib an-Naqdi fi Falsafati Abi al-Barakât al-Baghdâdi, syekh Ahmad at-Tayyib meragukan riwayat-riwayat yang mengabarkan tentang proses masuk-islamnya Abi al-Barakat. Ada empat riwayat di sana, salah satunya adalah: suatu ketika Abi al-Barakat berkunjung ke istanah Khalifah. Semua orang yang hadir di sana berdiri untuk menghormati sang filsuf yang juga dokter ini, kecuali seorang Qadli. Alasan sang Qadli menolak menghormati dirinya adalah karena Abi al-Barakat adalah seorang Yahudi. Kemudian, sekonyong-konyong di hadapan Khalifah Abi al-Barakat tiba-tiba mengikrarkan keislamannya. Menurut syekh Ahmad at-Tayyib, melalui pertimbangan nalar, riwayat ini boleh ditolak. Bagaimana mungkin seorang filsuf yang kecerdasannya masyhur itu bisa berpindah agama hanya karena tidak dihormati oleh seorang Qadli? Nah, lantas bagaimana dengan Fahmi Basya? Dalam tesisnya soal Borobudur, ia tidak melakukan bantahan yang berdasarkan nalar atas riwayat mayoritas sejarawan, malah justru riwayat yang digali Fahmi lewat arkeologi dan morfologi, sungguh tidak masuk akal. Tesisnya sebatas asumsi kosong yang dikuatkan—secara sembrono—dengan kitab suci.

Sumber pengetahuan yang ketiga adalah pengamatan rasio. Sumber ini berusaha menjangkau sesuatu yang tak bisa disentuh oleh indra dan juga berita sambung sinambung. Apa itu pengamatan rasio? Imam Asy’ari berkata: “Kegiatan berpikir, mengangan-angan, mempertimbangkan, menganalogikan, dan mengembalikan apa yang absen dari indra kepada sesuatu yang di sana ditemukan pengetahuan atasnya, karena adanya kesesuaian keduanya dalam makna dan terhimpunnya keduanya dalam satu sebab (‘illat).” Sumber ini berasaskan pada analogi, yaitu menyocokkan apa yang-diketahui dengan yang tidak-diketahui. Dalam terminologi ilmu kalam atau teologi Islam, hukum ini biasanya disebut “menyimpulkan dengan yang-tampak atas apa yang tak-tampak (al-istidlâl bi asy-syâhid ‘ala al-ghâib)”. Dalam akidah Sang Imam, hukum ini posisinya sangat sentral, meskipun nantinya ulama Asy’arian setelahnya justru menganggap lemah argumen analogis ini, sebut saja Imam Juwaini, Imam ar-Razi, dan Imam al-Amidi. Kenapa argumen ini begitu penting sampai-sampai dikatakan oleh syekh Ahmad at-Tayyib sebagai inti dalam filsafat Imam Asy’ari?

Pertama-tama, Sang Imam tidak memaksudkan yang-tampak (asy-syâhid) sebagai yang-terindra (al-mahsûs). Yang-tampak lebih umum dari itu, yaitu segala sesuatu yang-diketahui, baik melalui jalan pengindraan, ilmu pasti, maupun melalui ilmu yang diusahakan. Kedua kalinya, terdapat sebab di masing-masing yang-tampak dan yang tak-tampak, dan kemudian menghukumi yang tak-tampak dengan hukum atau atribut yang-tampak. Cara kerjanya begini: di sana ada sesuatu yang-tampak, yang memiliki hukum atau atribut yang melekat pada dirinya akibat adanya sebab yang meniscayakan adanya atribut; lalu di sana juga ada yang tak-tampak, yang memiliki sifat atau atribut akibat adanya sebab seperti halnya pada yang-tampak. Maka, pengetahuan bahwa ada atribut dalam “yang-tampak” karena suatu sebab meniscayakan pengetahuan tetapnya atribut akibat sebab yang serupa dengan yang-tampak pada yang tak-tampak. Berarti di sana ada tiga kaidah yang niscaya, seperti yang disebutkan syekh Ahmad at-Tayyib, yaitu:

  1. Tidak bergantung kepada hukum pada yang-tampak;
  2. Harus mengkonsep sebab pada yang-tampak;
  3. Harus ada kesesuaian sebab pada yang tak-tampak.

Hukum ada karena adanya sebab, oleh karenanya Sang Imam menyarankan untuk tidak bergantung kepada hukum pada yang-tampak, dan harus mengkonsep sebab pada yang-tampak dan kemudian harus ada kesesuaian (bukan “memaksa” sebab pada yang tak-tampak untuk sesuai dengan yang-tampak) antara yang-tampak dan yang tak-tampak dalam hal sebab. Syarat dan kaidah yang diletakkan Sang Imam dengan begitu rigidnya ini harus dipenuhi, tidak bolong satu hal pun. Karena jika tidak, maka argumen analogis ini, sebagai suatu bangunan filsafat, akan runtuh dan hancur.

Dari uraian panjang lebar ini, kita akan kembali ke tesis di awal mula tulisan ini bahwa semua ilmu atau pengetahuan sejatinya adalah cocoklogi, hanya saja bukan dalam tinjauan makna yang sudah menyempit, tetapi kembali kepada makna asalnya. Jika itu ilmu yang didasarkan pada data indrawi, maka apa yang diketahui bisa dinilai benar apabila berkesesuaian atau “cocok” dengan fakta di masa kini. Jika itu ilmu yang berdasarkan riwayat, maka apa yang diketahui bisa benar apabila cocok dengan fakta di masa lalu. Jika itu ilmu yang berdasarkan penalaran, maka apa yang diketahui harus menjadi pembenar dari apa yang tidak diketahui berdasarkan syarat adanya kesesuaian atau kecocokan sebab pada yang-tampak dan yang tak-tampak.

Ilmu yang bisa dinilai salah dan benarnya harus sudah masuk ke dalam ranah proposisi. Suatu pengetahuan adalah pengetahuan akan sesuatu, dan penyandaran sesuatu paling minimum kepada sesuatu yang lain pasti akan menghasilkan kesimpulan baik benar maupun salah. Dalam Tractatus Logico-Philosophicus, Wittgenstein membandingkan realitas dengan proposisi. Pendapat ini berhubungan dengan teori gambar (picture), yang menyatakan bahwa “Sebuah proposisi adalah suatu gambar dari realitas” dan di bawahnya ditambah “Sebuah proposisi adalah model realitas sebagaimana kita membayangkannya” (4.01). Realitas adalah segala sesuatu yang ada, sebagaimana kata Russell. Fakta adalah bagian dari realitas, tetapi ia sudah selalu harus dirujuk dari dan kepada proposisi. Borobudur, pulau-pulau di Indonesia, baru-batuan alam—semua itu adalah realitas. Tetapi menyatakan bahwa Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman haruslah diuji berdasarkan fakta, yang dalam hal ini fakta masa lalu yang kembali kepada riwayat atau sejarah. Jika proposisi tentang Borobudur tidak-cocok dengan fakta yang ada di masa lalu itu maka proposisi itu salah, begitu pula sebaliknya. Pernyataan tentang pulau Jawa, misalnya, yang berasal dari kata al-Jawu (tempat yang tinggi), haruslah dirujuk bukan hanya dari segi morfologis, tetapi harus dicari basis riwayatnya. Penyakit kita zaman ini adalah kita cenderung terpukau dengan retorika yang mentereng, sementara kita lupa bahwa sebelum berkata dengan baik, kita dituntut lebih dahulu untuk berpikir dengan benar.

 

(*) Semua kutipan Imam Asy’ari dirujuk dari buku syekh Ahmad at-Tayyib yang berjudul Nadzârât fi Fikri al-Imâm al-Asy’ari (Dar el-Quds el-Arabi, Kairo, cet. 2, 2016).

Facebook Comments
Bagikan konten: