Puitis, Sinematis, dan Kemampuan Bahasa

husni
Bagikan konten:

1.

Beberapa waktu lalu, karena kesulitan tidur, saya membaca esai kecil T.S. Eliot yang diberi judul Poetry and Philoshopy. Sebab, ketika saya duduk di bangku Aliyah, ada mitos yang mengatakan bahwa membaca dapat menyebabkan kantuk. Dengan mata yang remang-remang itu, saya mendapati bahwa Eliot memisah para penyair antara yang berpikir dan tidak berpikir. Tapi pemisahan ini, tidaklah serta-merta berhenti pada kesimpulan atas kualitas puisi yang dihasilkan. Kata ‘berpikir’ yang dimaksud adalah, di dalam puisinya, si penyair mampu mengekspresikan emosi dan pikiran dengan selaras, Eliot memberi misal Shakespeare dan Dante. Baginya, mereka mampu menghasilkan pemikiran dan berpuisi dalam waktu yang bersamaan, tanpa memberi perhatian khusus terhadap pemikiran tersebut, sebagai tambahan syarat untuk kategori ‘Penyair Berpikir’ menurutnya.

Saya tidak membaca karya Dante atau Shakespeare secara utuh. Tapi pada saat itu juga, saya mengambil kesimpulan sederhana bahwa penyampaian emosi lebih dari sekedar menyoalkan perasaan-perasaan abstrak secara personal. Emosi, diekspresikan untuk menciptakan sebuah ilusi (untuk tetap berada dalam ranah fiksi) yang memberikan cara pandang terhadap dunia yang dibangun di dalamnya, meskipun tetap dimulai dari perasaan yang personal tersebut.

Semestinya, sebelum kita membuat kesimpulan-kesimpulan atas esai Eliot tersebut, kita sudah harus selesai dengan dua kata kunci yang menjadi titik tolak pembahasannya, emosi dan pikiran. Sebenarnya dua kata ini memiliki konotasi yang agak kontradiksi. Emosi selalu bersangkutan dengan hal-hal abstrak yang terjadi atas perjumpaan seseorang dengan fenomena dalam hidupnya, dan ia harus memberikan sinyal agar emosi tersebut dapat dimengerti oleh orang lain di sekitarnya. Sedangkan, pemikiran adalah suatu hal yang sudah lugas sebab dibutuhkan landasan utuh agar bisa dipahami secara tepat untuk kemudian dapat dianalisis permasalahannya. Untuk mencari titik persamaan dan menggabungkan keduanya adalah bagaimana dalil-dalil suatu pemikiran dan isyarat-isyarat suatu emosi dapat disampaikan secara bersamaan tanpa mengurangi keutuhan keduanya.

Jika kita mendiskusikan persoalan ini di dalam puisi, maka mau tidak mau keduanya harus menugaskan bahasa sebagai media dari puisi itu sendiri. Seorang penyair haruslah memiliki—atau katakanlah mencari—bahasa yang mampu memberi pemahaman terhadap keduanya tanpa membutuhkan bantuan dari media lain. Dan akan lain soal jika kita bicara tentang media dari genre seni lainnya, semisal film, yang memakai bantuan visual dalam menyampaikan keinginan sutradaranya. Atau sebaliknya, justru memakai bahasa untuk membantu visualisasi tersebut.

Sebelum terlalu jauh, saya memiliki pertanyaan, apabila Eliot sendiri sudah mengklaim penyair-penyair yang menghasilkan gabungan selaras antara emosi dan pikiran (bahkan menurut saya, itu juga yang dilakukan Eliot di dalam puisinya), adakah batas kemampuan dari bahasa dalam menyampaikan emosi dan pikiran secara utuh sehingga kemudian hari ia akan sampai pada titik ketika bahasa hanya akan mengulang-ulang pakem yang sama pada sebuah puisi? Atau, sebab memang sudah selesai di era klasik, maka semisal penyair adiluhung di Indonesia seperti Afrizal Malna, justru memiliki bahasa yang seolah menggabungkan keduanya, meskipun terasa seperti benturan dua benda keras yang kacau dan memekikkan telinga? Mungkin nanti akan kita obrolkan persoalan ini.

Sedangkan, pertanyaan yang lebih utama adalah apa hubungan permasalahan ini dengan dua kata sifat yang saya jadikan judul? Hampir (untuk tidak mengatakan sama sekali) tidak ada. Persoalan di atas hanya untuk menambah ke-seolah-olah-an saya menjadi lebih seolah-olah lagi.

2.

Obrolan soal poetry film, cinematic poem, the poetic cinema, bukanlah hal baru bagi sineas. Jika saya berupaya menjabarkannya, saya hanya akan menabur garam di laut Mediterania. Maka dari itu saya hanya akan bercerita.

Awal mula istilah film puitis masuk ke kuping saya adalah sejak saya mengetahui nama Abbas Kiarostami, sutradara dan penyair asal Iran. Dan film puitis, mungkin adalah ungkapan yang paling tepat setelah saya menonton The Taste of Cherry. Ada perasaan emosional yang hadir ketika mengetahui bahwa sepanjang durasi film hanya berisi perjalanan lelaki paruh baya mencari orang yang bersedia membantu menguburnya seusai bunuh diri. Dan setelah selesai, saya pun sadar, film itu memang bukan film hiburan. Gelap.

Saya tidak terlalu mengerti tentang sinematografi, menyoal pengambilan gambar, posisi kamera, dsb.. Tapi beberapa gaya pengambilan adegan yang kadang terus diulang-ulang oleh Kiarostami, seperti close-up wajah dua orang secara bergantian ketika dialog atau shoot menyetir dari kaca depan mobil dengan simetris, seperti mengupayakan penonton agar merasakan emosi lebih dari sekedar melihat raut muka yang muram. Secara berlebihan, dialog yang terjadi seolah-olah deklamasi puisi yang spontan. Ditambah dengan suara kerikil, angin, dan suara alam lainnya yang sengaja diperjelas, seolah menjadi musik ‘naturalis’ pengiring deklamasi.

Kemudian, beberapa waktu yang silam, Mas Fadhilah Rizqi, juga sempat mengulas tentang sebuah film dari triloginya Makhmalbaf di Kintaka, The Silence, yang diklaim sutradaranya sendiri sebagai a poetic trilogy. Ulasan tersebut justru mempertanyakan apakah mungkin suatu film disifati dengan sifat dari genre seni lain? Saya tidak menemukan jawaban di dalam tulisanya secara lugas, bahkan saya tidak merasakan upaya untuk menjawab sungguhan pertanyaan yang dihadirkannya itu.

Alih-alih demikian, ia justru masuk ke dalam kerangka berpikir Makhmalbaf dan membaca film tersebut dengan pola puisi. Namun, barangkali itu memang pembacaan yang benar terhadap The Silence. Selain bahwa kita hanya akan merasa sia-sia jika berupaya membacanya, baik pola maupun alur cerita, secara konvensional, emosi yang dibangun sutradaranya justru berada di pembacaan tersebut. Meskipun demikian, saya juga memiliki pertanyaan yang serupa, mengapa harus ‘puitis’?

Baik, pertama, mungkin memang keinginan sang Sutradara untuk menyatukan dua pola yang berbeda agar menelurkan emosi dan pikiran yang lebih di dalam sebuah karya. Kedua, katakanlah opsi pertama itu benar. Artinya, ada waktu saat bahasa tidak sanggup mengungkapkan keinginan tersebut selain harus meminjam kata sifat dari lain kubu. Dan ketiga, barangkali kita memang tidak perlu memilih antara dua opsi di atas. Sebab, setelah saya memikirkan pertanyaan Mas Rizqi tersebut, barangkali juga akan sah-sah saja di dalam puisi, misalnya, untuk menyifatinya dengan sinematis.

Puisi memang tidak pernah sederhana meskipun dihadirkan dengan cara dan pola yang sederhana. Meskipun ia menghadirkan narasi, namun narasi tersebut tidak bisa dilihat sebagai narasi bercerita pada umumnya, jika kita tetap menginginkan pembacaan yang utuh terhadap puisi. Atau barangkali juga setiap puisi sudah memiliki unsur sinematis dalam penyampaiannya.

Lalu, bagaimana puisi yang sinematis itu? Apa defenisinya?

Nah, saya memang selalu kesulitan mendefenisikan sesuatu.

3.

Mungkin akan tidak elok jika saya tidak sedikit menyentil tentang puisi Afrizal Malna setelah tadi saya gunjingkan di bagian pertama. Saya akan mengutip satu puisi Malna secara utuh untuk menemukan pembacaan yang saya maksudkan. Semisal Puisi yang di-post laman Basabasi.co, 9 mei 2017 silam.

puisi dan krikil di tokyo

awalnya gue kenal puisi didefinisikan oleh sekolah, buku-buku, tulisan tangan, aturan bahasa, kabut di puncak gunung, cinta monyet. monyet. selanjutnya gue kenal puisi didefinisikan oleh mesin tik, kehabisan kertas ketik, kehabisan pita mesin tik, yang habis yang hilang, sampah, truk sampah, kebisingan kota, kontrol orde baru, banjir dan rumah bocor. bocor. kemudian gue kenal puisi yang mulai didefinisikan oleh TV, AC, pesawat terbang, ada aplikasi cancel dalam komputer, dunia internet yang gokil, kesunyian yang biasa, cinta gue yang indah, jalan untuk seluruh kesedihan gue, dan teman-teman yang gue sayangi, tapi juga bayangan kematian di hari tua gue. gue nggak mau bayangin ada alam lain setelah kematian. nggak nggak nggak. mungkin akhirnya puisi didefinisikan oleh kematian.

Jika sekiranya saya mendapati puisi ini sebelum mengetahui bahwa penyairnya adalah Afrizal Malna, jelas saya akan abai terhadap seluruh isi puisi ini selain satu kalimat terakhir.

‘Mungkin akhirnya puisi didefinisikan oleh kematian.’ Kalimat terakhir inilah yang menjadi ‘Malna’ dalam puisinya. Yang menjadi benturan di dalam Malna. Benturan yang dibentuk dengan cara penyampaiannya yang keras dan memekikkan telinga.

Jika kita perhatikan, misalnya, puisi yang dibentuk dengan narasi ini mengandaikan seorang ‘gue’ dengan gaya hidup urban dan manja. Namun dapatkah anda membayangkan kalimat terakhir puisi itu diungkapkan oleh seorang bocah urban dengan gaya manja yang khas? Meskipun dalam beberapa kalimat, ada selipan-selipan diksi yang disengaja agar tidak membentuk satu imaji tertentu sebagai simbol yang mampu dipahami secara umum. Cinta monyet; rumah bocor; kontrol orde baru; aplikasi cancel dalam komputer; dll.. Malna mengeluarkan emosinya dengan benturan-benturan ini dan bermain-main di sana.

Selanjutnya, puisi di atas memang terlihat apa adanya, dan bagaimana jika kita membaca puisi ini dari kesederhanaannya saja, dari setiap adegan kecil yang dibangunnya? Puisi sebagai objek. Perkenalan pertama melalui buku menuju cinta monyet. Perkenalan kedua, mulai dari mesin tik menuju rumah bocor. Perkenalan selanjutnya, dari TV sampai bayangan kematian. Keseluruhan adegan yang dibangunnya adalah biografi kehidupan seorang manusia biasa. Lalu bagaimana dengan adegan selanjutnya? Kemungkinan terakhirnya? Kemungkinan terakhir itulah yang mengacaukan kesederhanaan seluruh adegan di atas. Lalu, masih mungkinkah kita menyerap kesederhanaan tersebut tanpa harus meng-cut adegan terakhir dan menjadikannya babak klimaks? Mungkin.

Terlepas dari sekedar Malna yang juga seorang Dramawan, saya memang selalu mengandaikan pembacaan terhadap puisinya dengan visualisasi (atau sinematisasi, sebagai ungkapan lebih dari sekedar visual) di dalam kepala saya. Dan kemungkinan-kemungkinan tersebut hanya dapat menjadi mungkin apabila kita mengandaikan upaya visualisasi dengan membiarkan adegan terakhir membentuk monolognya sendiri di penghujung adegan. Tapi apakah ini adalah kesan bahwa bahasa memang tidak cukup mampu untuk melaksanakan seluruh tugasnya? Atau justru memang begitulah cara kerja bahasa?

Tapi seperti Roland Barthes, Malna juga kerap menjadikan bahasa sebagai subjek yang hidup. Menghidupkan Bahasa dengan mengandaikan pemakaian lain dari bahasa atau kepemilikan personal atas bahasa sebagai upaya melewati sekedar uslûb. Dan seolah-seolah tidak memberi ruang sebagai pusat bagi bahasa itu sendiri. Khas intelektual Posmo. Dan apakah dengan demikian kita selesai dengan cerita tugas-tugas antara bahasa dan visual di dalam puisi-puisinya? Ini pertanyaan sulit.

Meskipun demikian saya sendiri tidak jarang kebingungan ketika membaca puisi-puisi Malna. Hampir-hampir sama dengan kebingungan saya yang belum juga mengerti maksud frasa The Death of Author-nya Barthes. Juga tidak jauh beda dengan kebingungan saya tentang ketiadaan logosnya intelektual Posmo. Tapi mungkin bahasa memang bekerja dengan cara-cara yang membingungkan.

Facebook Comments
Bagikan konten: