Pertanyaan-pertanyaan yang Hadir Ketika Berpuisi

husni
Bagikan konten:

Sebagai pegiat komunitas sastra yang juga bergelut dengan puisi, tidak jarang saya menemukan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang puisi, baik yang diajukan rekan-rekan komunitas atau justru saya pribadi: apa itu puisi? untuk apa saya menulis puisi? untuk siapa puisi ini saya tulis? Dlsb. Atau pada taraf yang lebih serius misalnya, apa guna saya menulis puisi? Tapi yang kadang mengherankan adalah pertanyaan-pertanyaan semacam itu justru muncul melalui orang-orang yang sudah berulang kali menulis puisi—terlepas puisi yang ditulis adalah puisi yang bagus atau buruk—dan hampir sama sekali tidak pernah muncul dari rekan-rekan yang baru ingin mengenal dan menulis puisi. Entah apa sebabnya.

Namun saya mengira bahwa setiap kita sudah selalu memiliki pemahaman dan pengalaman tersendiri terhadap puisi yang menjadi titik tolak untuk mencoba menulis puisi, baik itu pemahaman yang diperoleh dengan membaca karya sastra, mempelajari teori sastra, atau sekedar stalking di media sosial, misalnya. Melalui pemahaman dan pengalaman yang diperoleh setiap orang dengan cara yang berbeda-beda itu, barulah kemudian seseorang dengan bebas menulis karya sastra (dalam hal ini puisi). Karena kebebasan untuk menulis karya sastra, tanpa harus memiliki pengetahuan yang mendasar, maka pada tahap tertentu, mungkin saja pertanyaan-pertanyaan di atas baru muncul secara terlambat. Namun kita juga akan menghabiskan waktu yang lama dengan ragam penelitian, jika kita ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan tepat.

Namun, sebelum sampai pada pertanyaan-pertanyaan di atas, ketika kita mencoba untuk berpuisi (entah itu menulis puisi atau sekedar memahaminya), barangkali ada satu pertanyaan -menurut saya-yang semestinya lebih dahulu diajukan: di dalam persinggungan kita dengan puisi, baik itu melihat atau memaknai sebuah puisi, seberapa berartikah  puisi dalam kehidupan kita secara personal?

Sebab seperti tidak mungkin, jika seandainya kata puisi absen dari pendengaran seseorang. Meskipun seseorang tersebut bukan dari kalangan terpelajar (terutama dengan mudahnya mendapat informasi seperti sekarang), puisi tetap memiliki makna, entah itu makna yang benar atau sekedar abstrak yang tidak terjelaskan dan mentok di dalam kepalanya. Apa yang saya maksud adalah bahwa hampir tidak mungkin kita tidak bersinggungan dengan puisi, sebab kehadirannya yang terlampau dulu. Sejak kita kecil, entah itu melalui majalah anak-anak atau buku-buku paket sekolah dasar atau sekedar siulan remaja-remaja kampung, kita sudah berhadapan dengan puisi dan berkenalan ala kadar. Tapi, Jika seumpama anda bertanya kepada saya, kapan pertama kali saya bersinggungan dengan puisi, misalnya, saya tidak yakin dapat mengingatnya secara tepat. Sebagai satu genre yang luhur dalam sastra, puisi seolah-olah sudah hadir begitu saja dalam kehidupan kita.

Bahkan akan menjadi pertanyaan yang lebih rumit lagi jika semisal anda bertanya, sejak kapankah puisi ada? Meskipun kita mengenal Homer dengan Illiad dan Odyssey sebagai penyair di zaman Yunani Kuno atau pun puisi puisi Jahiliah yang terangkum dalam al-Mu’allaqât al-Sab’ah yang hadir sebelum datangnya Islam di tanah Arab, dan puisi-puisi yang lahir pada peradaban-peradaban kuno lainnya, namun itu hanyalah potongan dari peninggalan dan literatur yang sampai kepada kita saat ini, tanpa adanya batasan sejarah dari awal mula kemunculan puisi. Namun kehadiran puisi pada masa-masa silam tersebut, memberitahu kita bahwa puisi sudah menjadi tradisi tersendiri di setiap peradaban, puisi menandai banyak hal; kemunduran, kemajuan, kejadian, budaya, dlsb. di setiap masing-masing zaman. Hingga puisi sampai kepada kita maka puisi pun sudah menjadi tradisi tersendiri dalam peradaban kita.

Kemudian, sebab puisi sudah menjadi tradisi, maka tidak akan ada sesuatu yang bakal lolos dari rangkulan puisi. Puisi dengan sendirinya akan mencatat segala hal. Bahkan seseorang yang tidak berkecimpung di dunia puisi tidak akan lepas dari puisi itu sendiri. Seorang penyair yang berusaha menulis sejarah personal maka pada saat yang sama ia juga sedang menulis sejarah orang lain. Sebab adanya kesamaan budaya, tradisi, ruang, waktu, dlsb., kita tidak bisa menafikan bahwa kita akan menjumpai banyak persamaan antara seseorang dengan orang lain dari setiap persinggungan mereka terhadap dunianya masing-masing.

Katakanlah seorang penyair yang sedang patah hati dan menuliskannya ke dalam puisi. Bukankah patah hati adalah sejarah setiap orang? Dan bukankah tidak mustahil terjadi peristiwa patah hati dengan kejadian dan setting yang sama? Atau justru dengan orang yang sama(?). Maka yang membedakan sebuah peristiwa yang terjadi dalam hidup banyak orang adalah bagaimana cara seseorang memaknai peristiwa tersebut. Atau seberapa berartinya peristiwa tersebut sehingga setiap orang harus mengenangnya, membunuhnya, atau mengabadikannya dengan cara masing-masing.

Upaya Memaknai Puisi sebagai Puisi

Pada dasarnya, pertanyaan-pertanyaan yang hadir dari puisi dan persinggungan dengannya akan membentuk satu lingkaran yang akan saling menjawab dan bertanya satu sama lain. Jika seumpama kita bertanya ‘apakah kegunaan pisau?’, barangkali sebelum pertanyaan ini hadir, kita sudah selesai dengan pertanyaan ‘apa itu pisau?’. Namun, bukankah akan lebih mudah menjawab pertanyaan tersebut dengan mencari kegunaannya? Maka memaknai sebuah pertanyaan justru seharusnya menjadi upaya yang lebih dahulu dilakukan sebelum bersusah-susah dengan jawaban.

Proses seseorang untuk dapat melahirkan suatu pertanyaan dari persinggungannya dengan dunia ini adalah akibat dari upaya seseorang memaknai persinggungan tersebut. Bukan mustahil bahwa setiap orang sesungguhnya sudah lebih dahulu memiliki jawaban dari pertanyaan yang ia lahirkan. Benar atau salahnya jawaban tersebut adalah persoalan yang lain. Mungkin akan lebih mudah jika kita andaikan seperti seorang filsuf yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan filosofis dari hidupnya.

Dalam tradisi filsafat, menjawab pertanyaan 5W 1H (What, Where, Who, When, Why, dan How) adalah pertanyaan-pertanyaan awal dari seseorang untuk kemudian ia dijuluki sebagai filsuf. Dan dari pertanyaan tersebutlah seorang filsuf mengembangkannya menjadi pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang harus ia pecahkan lagi. Lalu mengapa seorang filsuf harus bertanya? Sebab bertanya adalah proses awal dari berpikir yang dilalui seseorang lalu kemudian berusaha untuk memaknainya. Namun apabila anda bertanya, dengan demikian apakah filsuf dan penyair itu sama dalam proses berpikir dan memaknai, dan lantas filsafat serta puisi menjadi produk yang dilahirkan secara serupa? Barangkali kita mesti menuliskan satu esai lagi untuk menjabarkannya.

Meskipun kita menjumpai persamaan antara puisi dan filsafat pada proses awal, namun memaknai puisi adalah juga memaknai pertanyaan-pertanyaan (bukan menjawabnya) yang hadir dalam bentuknya masing-masing, baik yang hadir melalui proses berpuisi atau dari puisi itu sendiri. Dari proses pemaknaan yang dilakukan seseorang, secara sadar atau pun tidak, akan melahirkan satu citra imajinatif yang ia bayangkan menjadi suatu pemahaman. Sebab imajinasi tidak bisa kita lepaskan dari proses berpikir itu sendiri. Melalui imajinasi ini lah, lalu kemudian puisi dengan beragam pertanyaannya itu akan selalu membentuk suatu dunia yang baru, tentunya dengan mencomot sebagian atau seluruh hal yang ada di dunia yang sesungguhnya.

Ketika seseorang berhadapan dengan puisi maka sesungguhnya ia sedang berhadapan dengan ruang dan peristiwa yang baru, meskipun ruang dan peristiwa tersebut dibangun melalui kenangan-kenangan dan masa lalu. Dalam esai berjudul Dante (1929), T. S. Eliot menegaskan bahwa pengalaman dari puisi adalah pengalaman yang melahirkan suatu momen dan kemewaktuan yang dihadirkan secara unik, mengejutkan, atau bahkan dengan teror. Momen dan kemewaktuan tersebut dilahirkan tentunya dengan bentuk imajinatif yang barangkali hanya dapat kita rasakan, bukan kita temukan.

Jika kita melihatnya dari sudut pandang seorang penyair, maka upaya menulis puisi adalah upaya membentuk suatu imitasi dari dunia dan seisinya. Karena imajinasi yang ada di dalam kepala penyair tidak akan lepas dari apa yang selalu ia indera di dunia nyata. Tidak berhenti sampai pada titik itu, jika kita mengacu kepada lingkaran besar di dalam sastra, barangkali perihal yang membedakan puisi dengan genre sastra lainnya adalah penyajiannya yang tidak pernah sederhana. Puisi memaksa bentuk yang lebih rumit dari sekedar menulis prosa, meskipun seringkali disajikan dalam bentuknya yang teramat singkat. Dan setiap bentuk yang kita jumpai dalam penulisan puisi selalu memiliki peran tersendiri dalam upaya membentuk imitasi yang juga berbeda-beda dari proyek dunia baru yang berusaha dibangun oleh penyairnya.

Dalam wajah klasik puisi Indonesia, misalnya, tidak ada yang tidak mengenal Chairil Anwar. Upaya-upaya yang dilakukan Chairil dengan gaya bahasanya, cara ia benarasi, kepingan-kepingan adegan yang kemudian disatukannya dalam puisi sudah lama dijadikan kiblat oleh para penyair di Indonesia. Dalam sajak Senja di Pelabuhan Kecil, melalui pelabuhan nyata ia membentuk suatu pelabuhan baru dengan padanan diksi-diksi kesedihan. Atau Sutarjdi yang memainkan kata seperti mantra dalam puisi Winka dan Sihka. Atau sekarang, misalnya, ada Afrizal Malna yang setia berakrobat dengan kata-kata. Dunia yang dibangun oleh setiap penyair akan selalu menjadi dunia yang baru dan berbeda satu sama lain. Meskipun memiliki padanan yang serupa dan bentuk yang sama.

Hidup untuk Puisi atau Sebaliknya(?)

Dalam sebuah interview bertajuk I Was Born For Poetry yang dapat anda tonton di Youtube, Adonis bercerita bahwa ia dilahirkan untuk puisi. Di sebuah desa miskin dan terpencil di Syria sebelum menjadi negara republik, Adonis kecil menetap. Melalui ayahnya, ia sudah dihadapkan dengan tradisi berpuisi yang sangat kental di dunia Arab. Masa kecilnya tumbuh bersama al-Mutanabbi, Imru’ al-Qays, Abu Nawwas, al-Ma’arri, dll, dari sanalah ia kemudian belajar menulis puisi.

Singkat cerita, ketika Syria merdeka dan menjadi republik pada tahun 1943, Shukri al-Quwatli yang terpilih menjadi presiden pertama datang mengunjungi kampungnya yang sangat pelosok. Mendengar berita tersebut, Adonis kemudian menulis sajak dengan harapan dapat membacanya di depan Sang Presiden dan memperoleh beasiswa sekolah darinya. Entah itu adalah kebetulan atau Adonis memang dilahirkan untuk puisi, sehingga ia mendapatkan apa yang ia angankan. Sejak ia dapat menginjakkan kaki di sekolah, ia terus menerus berpuisi dengan keyakinan ia memang hidup untuk puisi. Barangkali di mata Adonis, puisi sudah menjelma mukjizat dan ia adalah nabi utusan Tuhan yang Maha Sastra. Di usianya yang sangat senja ini, Adonis sudah menyelesaikan berjilid-jilid Diwan yang mengundang perhatian lebih dunia kesusastraan. Adonis memainkan andil yang besar dalam gerakan pembaharuan sastra Arab kontemporer.

Sebelum kemudian kita berdecak kagum atas cerita masa kecil Adonis tersebut, mungkin kita perlu bertanya: apakah Adonis yang dilahirkan untuk puisi atau justru puisi yang dilahirkan untuk Adonis lalu kemudian menjelma sebagai malaikat penolong baginya? Atau keduanya hanyalah peristiwa yang melingkar, saling bertemu satu sama lain tanpa adanya awal dan ujung, keduanya saling melahirkan dan dilahirkan pada saat yang sama? Sebab bagaimana pun apa yang coba disampaikan Adonis, sesungguhnya adalah upaya yang dilakukannya untuk memaknai sebuah peristiwa dan pertanyaan-pertanyaan yang bersinggungan dengannya hingga berujung pada pemaknaan terhadap puisi.

Jika kemudian kita mencoba untuk membaca proses tersebut, tanpa melangkahi satu babak penting, maka jauh sebelum proses berpuisi seseorang semestinya telah berupaya untuk melampaui proses pemaknaan, dan kemudian darinya lahirlah sebuah pemikiran. Sama seperti Heidegger melalui bukunya Poetry, Language, Thought (1971), pada bab pertama yang sepenuhnya berisikan puisi, ia memberi judul bab tersebut The Thinker as Poet, Adonis pun menegaskan bahwa tidak ada satu pun dari penyair besar sejak Homer sampai sekarang yang bukan pemikir besar. Penyair pada waktu yang sama adalah seorang pemikir.

Sedangkan sedari awal proses tersebut, seseorang sesungguhnya sudah terus menerus berpikir hingga mungkin tidak akan pernah mengetahui dengan jelas di titik mana ia telah sampai pada puisi untuk kemudian memaknainya atau dengan upaya lebih menuliskannya, atau mungkin justru ia sebenarnya sudah berpuisi sejak awal ia memulai proses tersebut. Maka tentunya tidak menutup kemungkinan bagi kita yang mungkin tidak dilahirkan untuk puisi tapi kemudian dapat hidup untuk puisi atau sebaliknya.

Barangkali jika kita merunut ulang perbincangan ini, maka kita hanya akan menemukan persoalan-persoalan yang saling kelit kelindan satu sama lain atau justru kita tidak menemukan apa pun selain puisi itu sendiri.

Bahkan jika kita berusaha untuk menjawab segala pertanyaan yang muncul akibat puisi dan segala persinggungan dengannya, mungkin saja hanya akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang baru dan begitu seterusnya. Sedangkan peristiwa-peristiwa yang melesat begitu saja di dalam kehidupan kita justru kadang tidak membawa kita ke masa depan namun berputar-putar menjaga kita di masa lalu dengan tanda tanya masa depan yang terus menerus bertambah.

Tapi puisi, lagi-lagi hanya akan melahirkan tanda tanya, dan penyair hanya memiliki pertanyaan, bukan jawaban sebagaimana yang diungkapkan Adonis. Maka apabila anda memaksa saya untuk berusaha menjawab dengan tepat sederet pertanyaan di awal yang hadir sebab puisi itu sendiri, barangkali saya akan lebih memilih untuk menjadi seorang filsuf ketimbang penyair, atau tidak keduanya.

Facebook Comments
Bagikan konten: