Perempuan yang Membawa Neraka di Matanya

Bagikan konten:

Rumah Pak Tejo gaduh. Suara teriakan Pak Tejo terdengar sampai kantor desa yang berjarak sekitar tiga puluh meter dari rumahnya. Tubuh gosongnya menggelinjang tak karuan. Sekujur badannya melepuh dan kulit luarnya terkelupas. Matanya melotot seperti hendak mencolot dari liangnya. Bibirnya tidak bisa mengatup sementara mulutnya terus berteriak melontarkan kalimat-kalimat yang tidak jelas. Istrinya, yang pingsan beberapa detik setelah melihat suaminya gosong seperti habis dipanggang, terbujur tak berdaya. Pak Tejo tewas saat itu juga.

Warga desa yang menyaksikan pemandangan tersebut mulai kasak-kusuk. Beberapa mengatakan, sebelumnya mereka sempat berpapasan dengan Pak Tejo yang masih terlihat biasa-biasa saja. Ada juga yang berkata bahwa Pak Tejo pergi menemui Suti. Mereka pun menyimpulkan: Pak Tejo terkena tulah karena telah berselingkuh.

“Bukannya Pak Tejo itu mantan tentara?”

“Terus kenapa, memangnya tubuh tentara anti-api?”

“Bukan begitu. Kalau Pak Tejo mantan tentara, dia tidak mungkin selingkuh dengan Suti.”

Dan orang-orang mulai mengait-ngaitkan kematian Pak Tejo dengan Suti.

“Suti itu dulunya PKl. Pasti dia punya dendam sama Pak Tejo.”

“Siapa yang pernah melihat Suti keluar dari rumahnya? Nggak ada kan?”

“Terus,makan apa dia?”

“Paling hasil kerja anaknya.”

“Sudah PKI, masih saja kembali ke desa. Nggak tahu malu!”

“Suti itu punya aji-aji. Kalau sampai orang terkena tatapannya, orang itu nanti terbakar. Gosong seperti Pak Tejo kemarin.”

“Dulu Pak Atmo juga mati terbakar di lumbung padinya. Katanya waktu itu ada yang melihat Suti di sekitar situ.”

“Dapat kesaktian dari mana dia?”

“Dulu, waktu di pengasingan.”

“Sudah komunis, pake ilmu hitam, mbunuh orang. Nggak tahu malu!”

Rais hanya diam mendengarkan warga sibuk membincangkan hubungan kematian Pak Tejo dengan Suti. Menurutnya, apa yang diperbincangkan mereka adalah omong kosong dan sama sekali tidak masuk akal. Tapi, tentu saja dia tidak akan membantah. Bisa-bisa dia disumpahi habis-habisan oleh warga. Suti muda tidak jauh berbeda dengan gadis-gadis desa sebayanya. Keluarga mereka sama miskinnya. Hanya saja, Suti muda ingin belajar membaca dan bersekolah. Mengetahui keinginannya, carik desa waktu itu pun menyekolahkan Suti untuk menemani anak perempuannya. Tahun-tahun berlalu, entah bertemu di mana, tiba-tiba saja Suti bergabung dengan suatu kelompok perempuan yang menamakan dirinya Gerwani. Katanya, kelompok itu menuntut persamaan antara laki-laki dan perempuan. Kelompok itu pun menjadi buron pemerintah. Selain dianggap membangkang, mereka juga dituduh menyebarkan ajaran komunisme.

“Memang komunisme itu apa?”

“Yang tidak punya agama itu lho. Mereka tidak percaya Tuhan. Kan itu sesat, kafir namanya!”

Begitu yang Rais dengar dari gunjingan-gunjingan warga desa, meski tidak sepenuhnya dia percaya. Tiba-tiba Rais teringat pesan Bapaknya dulu, “Tidak ada orang yang benar-benar jahat. Sama seperti tidak ada orang yang benar-benar baik.”

Rais berpapasan dengan Suti sore tadi saat jalanan desa mulai lengang. Rambut Suti yang panjang dibiarkan tergerai awut-awutan menutupi sebagian wajahnya. Matanya terus menatap ke bawah. Langkahnya panik dan tergesa-gesa, seakan rombongan malaikat maut tengah memburunya. Rais berniat menyapa Suti dan membuat sedikit obrolan basa-basi. Tapi Suti yang kemudian menyadari keberadaannya justru tampak kian ketakutan dan makin mempercepat langkah. Rais mengurungkan niat.

Esoknya, Rais mendatangi rumah Suti di ujung barat desa. Setelah bertanya ke sana kemari, diikuti tatapan curiga warga desa, sampailah dia di rumah Suti. Rumah itu berukuran sedang. Letaknya jauh dari pemukiman warga. Sendiri dan tampak kesepian. Sisi kanan dan kirinya adalah kebun yang terbengkalai, lama tidak dirawat. Rais berjalan memasuki halaman dan menginjak rumput-rumput liar yang tumbuh sembarang di sana. Diketoknya pintu yang terlihat lawas dan tua itu seperti bertahun tahun lupa tidak dicat ulang.

“Cari siapa, Mas?” Seorang laki-laki yang kelihatan lebih tua beberapa tahun darinya, tiba-tiba saja muncul dari samping rumah dan menyapanya.

“Saya mau cari Bu Suti.”

“Maaf Mas, ibu saya sedang istirahat. Tidak bisa diganggu.” Rais manggut-manggut mengerti. Saat dia hendak pamit, laki-laki itu bertanya keperluannya datang dan memintanya singgah sebentar.

“Sudah bertahun lamanya rumah kami tidak pernah kedatangan tamu.” Laki-laki itu membuka percakapan yang bagi Rais justru terdengar seperti sebuah gumaman untuk dirinya sendiri. Rais hanya tersenyum.

“Sampean mahasiswa ya, Mas?”

“Iya. kebetulan sedang libur kuliah.”

“Pasti pintar dan sering baca buku.”

“Tidak semua mahasiswa itu pintar. Kebanyakan mahasiswa membaca buku karena disuruh dosen, Mas.” Mereka berdua pun tergelak bersama.

“Nama saya Jati.”

“Saya Rais.”

Setelah berkenalan dan merasa akrab, Jati mulai menceritakan ibunya.

“Dulu Ibuku termasuk gadis yang pintar di desa ini, Is. Tapi menjadi pintar saja tidak cukup bagi ibuku. Perempuan juga harus memperjuangkan sesuatu.”

Rais diam, tekun mendengarkan penuturan Jati

“Ibuku akhirnya bertemu dengan kelompok Gerwani. Jiwa mudanya yang masih menggebu-gebu ketika mendengar pembicaraan tentang persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, kontan saja terpikat. Belum lagi tentang penolakan mereka terhadap poligami yang dianggap menyengsarakan perempuan. Wajar saja ibuku tertarik. Ibuku istri ketiga, korban perjodohan orang tuanya. Ibuku sangat aktif menyebarluaskan ide-ide mengenai hak-hak perempuan. Sebab itulah, ibuku ditunjuk menjadi ketua Gerwani di sini.”

Jati menghembuskan nafas. Diseruputnya kopi di hadapannya, lantas dia menyulut sebatang rokok dan menawari Rais.

“Kamu tentu tahu peristiwa ’65. Dari sanalah semua kehancuran dalam keluargaku bermula. Ibuku menjadi buronan dan kemudian kabur dari satu desa ke desa lain. Aku tidak tahu lagi kabar ibuku. Warga desa mendatangi rumahku dan mengancam akan membakar rumah. Aku diselamatkan kakek. Bapakku yang tak kuat menanggung malu, gantung diri di pohon.”

“Beberapa tahun kemudian, ibuku tiba-tiba datang mengetuk pintu rumah kakek. Malam itu dingin sekali dan aku melihat badan ibuku dipenuhi memar. Ibu memelukku dan hampir menangis. Sungguh, hampir. Tapi ibuku tidak menangis. Aku tidak tahu siksaan macam apa yang dialami ibuku sampai-sampai dia lupa caranya menangis.”

Rais dan Jati menghabiskan sisi terakhir kopi mereka.

“Boleh saya mampir ke sini,lagi?” tanya Rais sebelum pamit pulang.

“Silahkan. Sebetulnya, aku sangat senang kalau ada yang datang bertamu.”

“Saya pernah mau dihabisi tentara.” Suara Suti terdengar berat, seolah beban seisi dunia hanya dia yang menanggung.

“Bung, benar-benar bisa bantu saya?” Suti menatap Rais. Matanya menyiratkan permintaan lolong yang sangat.

Rais balas menatap mata Suti dengan gentar. Mau tidak mau, dia tetap teringat ucapan warga desa tentang mata Suti yang bisa membakar siapapun yang ditatapnya.

“Saya tidak punya kekuatan seperti yang kau piker.” Tandas Suti menyadarkan Rais.

“Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud…”

“Kalau bung berjanji bisa bantu, saya akan lanjutkan ceritaku.”

“Baik, Bu. Saya akan membantu, semampu saya.”

“Saya ditahan tentara bersama sembilan belas teman lelaki saya. Saya satu-satunya perempuan. Sembilan belas orang itu, mereka disuruh menggali lubang besar. Pakaian kami dilucuti, dan kami benar-benar telanjang. Dalam keadaan begitu, kami dijemur di siang hari. Panas sekali.

Waktu itu, puncaknya panas dan matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Tiba-tiba, pecah suara tembakan. Saya menoleh, seorang kawan roboh di dalam lubang. Mereka ditembaki satu persatu. Sungguh biadab!”

Mata Suti terlihat merah menahan air mata.

“Dua tentara yang menembak itu tertawa-tawa. Mereka mendekati saya dan mengacungkan senapan mereka. Saya melihat mereka tiba-tiba menjelma menjadi malaikat maut yang siap mencabut nyawaku kapan saja. Saya hanya bisa pasrah.”

“Entah kenapa, mereka melepaskan saya. Sekembalinya ke rumah, seisi rumah saya sudah raib diambil warga. Suami saya mati gantung diri. Kalau bukan karena anak, saya tidak ada akan pulang.”

“Anda sudah berjuang. Bu.”

“Tolong, sampaikan pada teman-temanmu, jangan buat apa yang telah kami perjuangkan berhenti sampai di sini!”

Rais meninggalkan ruangan Suti. Langit di luar gelap. Jati Duduk di teras sambil menghisap rokoknya.

“Aku melihat mata ibumu tadi. Memang ada api. Api yang sangat besar. Tapi api itu tidak membakar semua orang. Hanya orang-orang tertentu.”

“Aku sempat terkejut ibuku mau menemuimu. Apa yang kalian bicarakan?”

“Hanya satu dua hal.”

Lamat-lamat, terdengar suara isak dari kamar Suti.

“Setiap malam, ibuku selalu begitu.” Dia meninggalkan Rais yang belum sempat bertanya.

“Rais!”

Rais menoleh dan dilihatnya jati di depan pintu kamar ibunya.

“Ibuku masih percaya Tuhan. Dia masih tetap sholat dan berdoa.”

 

Facebook Comments
Bagikan konten: