Penyair Arab Perempuan yang Bikin Lelaki Baper

Bagikan konten:

Bagaimanapun kerasnya emansipasi wanita diteriakkan, melalui pamflet aktivis feminis, tulisan-tulisan di surat kabar, dan ceramah di seminar, tetap saja ada pembeda kodrati yang tak mungkin bisa diseragamkan antara lelaki dan perempuan. Baik pembedaan itu di level hak maupun tanggung jawab, peran pribadi maupun sosial, ruang privat maupun publik. Di sana mau tidak mau tetap ada diferensiasi antara lelaki dan perempuan, setipis apa pun benangnya.

Termasuk dalam bidang kesenian yang dalam hal ini puisi. Yang saya maksud dengan pembedaan di sini adalah karakteristik penulisan, gaya yang digunakan, dan ekspresi intuitif. Dalam hal kebebasan itu semua, perempuan sudah sama berhaknya dengan lelaki. Tidak seperti apa yang terjadi di Eropa abad ke-19, di mana perempuan yang menulis novel terpaksa menggunakan nama samaran lelaki agar bukunya bisa terbit. Di era globalisasi seperti sekarang, perempuan bisa menunjukkan tajinya, meskipun penilaian tetap berada di tangan publik yang kebanyakan masih membawa warisan paradigma misoginis.

Berbeda dengan penyair lelaki, penyair perempuan memiliki pengungkapan yang khas dalam puisinya. Menurut saya, hal itu tidak hanya didasari oleh lingkungan yang membentuk dirinya, tapi juga bakat kodrati yang tidak dimiliki oleh lelaki dan hanya dimiliki oleh perempuan. Jika penyair lelaki punya banyak senjata untuk membuat perempuan terpana, misalnya dengan menulis puisi rayuan yang mendayu-dayu, yang bikin mereka klepek-klepek, yang bikin mereka menunda untuk menyeruput kopi dan terpaksa harus berteriak girang, maka penyair perempuan hadir dengan kata-kata yang khas. Lalu, seperti apa kekhasan itu? Saya akan mengajak Anda untuk menelusurinya dari puisi Iman Mersal yang berjudul Kaannal ‘Alam Yanqushuhu Syubbak Azraq (Seolah-olah Semesta Terkikis Jendela Biru) yang termuat dalam antologi Hatta Atakhalla ‘an Fikratil Buyut (Al-Tanweer, cet. 1, 2013).

Jika di tulisan sebelumnya, penyair yang saya bahas namanya belum mampir di wikipedia, penyair kali ini namanya begitu gagah muncul di sana. Iman Mersal lahir di Mesir, 30 November 1966. Pada tahun 1998 ia dan keluarganya pindah ke Boston dan setahun kemudian pindah lagi ke Edmonton, Kanada, sampai hari ini. Iman termasuk penyair produktif. Bahkan kumpulan puisinya pernah diterjemahkan ke bahasa Ibrani dan menimbulkan kontroversi tersendiri. Terlebih dirinya adalah penulis kelahiran Mesir, musuh bebuyutan Israel. Puisinya juga menandai perkembangan puisi prosaik Arab dan membedai apa yang sudah dicapai oleh Mahmoud Darwish dan Adonis.

Tidak gampang memilih puisi Iman untuk dijadikan sampel dalam tulisan ini karena hampir semua puisinya memiliki keunggulan sendiri-sendiri. Oleh karenanya, setelah saya telusuri bukunya, terpaksa saya memilih berdasarkan mana yang bikin saya baper; suatu pemilihan yang tentunya sama sekali tidak ilmiah. Puisi Kaannal ‘Alam Yanqushuhu Syubbak Azraq ber-setting di sebuah pesawat terbang dengan rute yang tidak disebutkan, kemungkinan dari atau menuju ke Mesir (dan kita akan melihatnya nanti). Puisi ini termasuk puisi yang panjang, bukan hanya karena bentuknya prosa, tapi ia memang memuat beberapa episode. Kita akan menelusurinya pelan-pelan.

Kita mulai dari episode pertama berikut ini:

Tak ada sesuatu yang bakal terjadi meskipun tak ada juga yang bakal berdiam diri saja. Sebelum tahun akhirnya habis, kamu memotong lautan dan aku memotong tepiannya agar kita bisa bertemu di sebuah kota dengan jarak tertentu dari rumah kita. Kamu sedang menerjemah kisah-kisah tentang penyihir dan jin untuk membeli tiket pesawat. Aku menciptakan rahasia yang transparan sebagai skandal agar bisa meninggalkan malam natal dengan tetap menjaga kehangatan dan agar tidak ketinggalan pesawat.

Tubuhku duduk di atas awan. Setiap awan yang kuceritakan kepadamu akan kuingat karena dirinyalah yang menemaniku saat perjalanan pulang. Hujan yang menguap dari air menuju air akan kembali. Tidak sia-sia kuhabiskan waktu untuk membaca The Museum of Innocence. Barangkali Pamuk tak akan terima, akan tetapi ia terlanjur membangun museum kepolosan dengan kesedihan yang tipis.

Semata-mata agar kita bisa bersama di tempat orang-orang sujud sementara kita hampir saja salah memilih keramaian itu untuk hiasan kamar kita. Lalu kita tidak perlu berbohong kepada seorang penjual yang papa bahwa kita dari Mesir.

Dan padahal secara geografis dan takdir, kita sedang berada di sini dan bersama.

Iman memakai pesawat sebagai medium untuk menunjukkan kerinduan “aku” kepada “kamu” yang kita tidak tahu siapa dia. Biasanya puisi-puisi kerinduan yang ditulis oleh lelaki berisi pemujaan. Tak ada permainan emosi seperti apa yang ditunjukkan oleh Iman di atas. Atau kalau tidak, biasanya ada kata rindu yang dieksplisitkan seperti yang kita lihat dari puisinya Mahmoud Darwish untuk ibunya yang terkenal itu. Aku rindu pada roti ibuku, rindu kopinya, rindu sentuhannya. Iman bermain dengan peristiwa, bahwa si “kamu” sedang kerja menerjemah buku agar bisa membeli tiket pesawat untuk bertemu si “aku”. Dan di akhir episode ini pun kita dibuat tercengang, lantas kita bertanya, untuk apa ia repot-repot naik pesawat jika secara geografis dan takdir, mereka sedang berada di sini dan bersama?

Mari kita lanjutkan ke episode kedua:

Kita bertukar hadiah yang tak pernah dibawa tukang pos: gelang kaki dengan cincin, novel Harisut Tabghi dengan The World Doesn’t End. Kita ciptakan perselingkuhan-perselingkuhan di tembok yang memisahkan kita lalu kita sama-sama mendekat:

“Kamu tidur terlalu lama, sayang. Aku belum pernah melihat orang minum kopi bareng coca cola seumur hidupku.”

“Kamu punya hubungan yang intim dengan sikat gigimu, sayang, seolah-olah aku belum pernah mencium seseorang yang lupa bernapas ketika tertawa karena udaranya riwa-riwi di dalam paru-paru.”

“Kamu pulang ke Mesir di waktu yang tepat.”

“Kamu pergi dari Mesir di waktu yang tepat.”

Kamu membeli batu perhiasan untuk anakku. Aku membeli celak untuk ibumu. Kita berpikir masing-masing tentang perjalanan pergi dan pulang: kapankah waktu yang tepat itu?

Agaknya kita menemukan jawaban dari pertanyaan di episode pertama. Ya, mereka memang terpisah lautan. Antara “aku” dan “kamu” terbentang jarak. Hanya saja, “aku” tidak merasa ada jarak, karena adanya cinta dan kerinduan. Justru kerinduan itulah yang membuat mereka secara takdir bersama-sama. Tapi mereka tetap berada dalam suasana yang serba membingungkan. Mereka saling bercakap tentang banyak hal, namun untuk ukuran orang yang tidak selalu bertemu, percakapan mereka malah lebih banyak berisi tentang hal-hal remeh: keheranan melihat orang minum kopi bareng coca cola; hubungan yang intim dengan sikat gigi. Dan mereka pun saling menyangsikan satu sama lain: yang satu sangsi kenapa “kamu” pergi dari Mesir di waktu yang tepat; yang satu sangsi kenapa “kamu” kembali ke Mesir di waktu yang tepat. Akhirnya mereka pun sama-sama bertanya pada diri mereka sendiri: kapankah waktu yang tepat itu?

Episode ketiga berbunyi seperti ini:

Kita kembali ke keluarga kita masing-masing. Ada bekas ciuman di leher dan sebuah goresan di punggung; ada aroma wangi di atas kulit dan kesakitan di bawahnya.

Begitulah cara kita menggoreskan kejahatan pada diri kita sehingga kita tidak menyakiti siapa pun kecuali diri kita sendiri. Kamu akan menggoreskan garis-garis itu dan aku akan pulang, duduk di atas diamku. Jalan-jalanan kota Kairo tetap sibuk, jendela-jendela rumah tetap tebuka. Adapun diriku sendiri mulai ragu bahwa gunung masih di tempatnya dan aku menganggap bahwa sedekat-dekatnya tempat terjauh dari bumi adalah kematian.

Di sini kita melihat ada yang sublim dari hubungan antara “aku” dengan “kamu”. Keragu-raguan yang muncul di episode sebelumnya semakin menunjukkan citranya di episode ini. Setelah bersama, mau tidak mau mereka akan kembali ke kehidupan mereka masing-masing, meskipun masih ada sisa kebersamaan yang disimbolkan oleh bekas ciuman di leher dan goresan di punggung. Kita semakin dibuat tak berdaya oleh Iman dengan kalimat yang pseudo-filosofis seperti ini: sedekat-dekatnya tempat terjauh dari bumi adalah kematian. Dan jika kematian disebut, yang kita bayangkan adalah sebentuk sikap menyerah, atau pasrah, dari kerasnya kehidupan; bahwa kebersamaan dalam surah apa pun, pasti akan menemui kata akhir, di waktu yang tepat, atau tidak tepat.

Episode selanjutnya berbunyi demikian:

Tak mungkin aku melihatmu di kota yang tanpa pagar, sehingga angin pun menangis di depan pintu gerbang dan tak bisa masuk. Kota yang tanpa pagar. Kita berdua butuh penjara untuk mengingatkan burung yang melintas di atasnya. Aku menebaknya camar. Tidak mungkin sayap ini dari makhluk yang sama yang mencuri anak burung lain. Kau menebaknya camar. Apakah arti dari tanda bahwa penyair menolak untuk memakan bangkai?

Kekhasan yang saya singgung di atas menemukan alasannya di sini. Penyair perempuan cenderung mengajak bicara orang yang dicintainya dalam puisi, menghindari pemujaan atau rayuan atau rajukan seperti yang biasa kita lihat di puisi romantis penyair lelaki. Episode ini semakin menegaskan kelihaian Iman. Ia menggunakan metafora kota yang tanpa pagar sebagai gambaran keinginan perempuan untuk dicintai tanpa dimadu. Juga perempuan butuh ikatan dan kepastian yang oleh Iman diibaratkan dengan penjara; awalnya ia menyiksa tapi lama kelamaan akan membikin orang tidak bisa lepas darinya seperti yang tergambar dari novelet dan film The Shawshank Redemption.

Selanjutnya kita menyimak episode seperti ini:

Seseorang mencari cinta kemudian tak tahu harus berbuat apa terhadapnya. Tangan satu menggengam tangan lain kemudian kamu takut akan senantiasa terikat. Suara berulang-ulang di telinga kemudian bisa jadi kamu tidak bakal menjaganya suatu nanti. Aku mengintip di kegelapan rahim untuk mencari sel telur yang bahagia, menunggu tali pusar melingkar dengan tembok: masa kematangan dan pertumbuhan, perlahan-lahan dan hati-hati, harmoni dan penciptaan, kemudian aku tak tahu apakah kehidupan membutuhkan anak lain atau tidak.

Cinta, sekali lagi, adalah prasangka indah yang kita ciptakan dan kita percaya.

Sampai di episode ini (masih ada tiga episode lagi yang agaknya tidak perlu kita teruskan karena maksud dari tulisan ini sudah tergapai), kita benar-benar masuk ke dalam kepala Iman. Ia berbicara kepada kita tentang kenyataan pahit yang kadang secara nonsens kita hindari untuk diakui dan dipercaya: cinta tidak musti selamanya bisa bertahan. Bahkan setelah kita capai mencari cinta, kita akhirnya tidak tahu apa yang harus kita perbuat terhadapnya. Dan kita pun malu-malu untuk menerima bahwa cinta adalah prasangka indah yang kita ciptakan dan kita percaya.

Saya rasa pembaca lelaki akan dibuat baper dengan puisi semacam ini, kecuali bahwa saya sendirilah yang terlalu mudah baperan.

Facebook Comments
Bagikan konten: