Pagi Itu Kairo Adalah Raksasa Kehujanan

Bagikan konten:

Kata penjaga kios depan apartemen, semalam hujan deras sekali. Ia sedang berusaha mengeringkan satu rak jajanan (yang tampaknya semalam lupa ia masukkan ke dalam kios) dengan lap saat tampang keherananku muncul di hadapannya. Katanya lagi, entah sejak jam berapa hujan turun, yang jelas baru berhenti saat adzan subuh berkumandang. Aku yang tidur awal dan bangun telat hanya bisa mematung melihat kondisi depan apartemen.

Jalanan begitu becek, air menggenang di lubang-lubang bekas tergilas tuktuk. Tanah kering kini jadi lumpur, menyiprat ke berbagai arah oleh lalu lalang kesibukan di pagi hari. Sesekali aku merasakan tetesan air di kepala. Awalnya kukira hujan lagi, ternyata berasal dari jemuran basah di jendela lantai dua flat Paman Adil yang enggan diambil isterinya. Bau pesing menguar lebih parah dari biasanya. Aku sempat curiga baunya berasal dari jemuran, tapi dipikir-pikir air hujan pasti sudah menyebarkan bau tak sedap dari sudut-sudut dan celah antar apartemen yang tersembunyi.

Beberapa saat terhenyak entah oleh kenikmatan atau malah keresahan, aku teringat sesuatu dan segera berpamitan dengan penjaga kios kemudian berlalu menuju halte bis. Aku berjalan agak cepat dan sudah hampir menghilang di ujung gang, tapi teriakan paman penjaga kios (aku lupa namanya) sempat terdengar, ia menyumpahiku karena tidak membantunya barang sebentar. Aku mengabaikannya dan terus berjalan. Karena kurang berhati-hati, cipratan lumpur mengotori sepatu dan celana jeanku. Aku hanya mengeratkan jaket parasutku, memeluk tubuhku sendiri. Pagi ini dingin sekali.

Apartemen-apartemen tinggi tempat tetangga-tetanggaku tinggal tampak murung. Mungkin karena aku hanya melihat sekilas. Tentu saja, aku malas mengangkat wajahku dan fokus melihat ke depan, sesekali ke bawah memperhatikan langkahku. Tapi gang ini memang terasa lebih lesu dari biasanya. Jangan salah, orang-orang tetap beraktivitas tanpa memedulikan lingkungan mereka yang mendadak basah kuyup oleh hujan tahunan. Anak-anak yang tampak memanfaatkan situasi dan bermain air di genangan yang sedalam mata kaki dan seluas kasur mereka. Hari-hari tetap seperti biasanya, tidak ada yang berubah. Bedanya sekarang para remaja merekam jejak hujan dan membaginya di media sosial. Meski begitu, di mataku, paduan langit mendung dan apartemen yang tinggi memberikan aura kesedihan.

“Hei, Ayman! Ayo main air!” Salah satu dari anak-anak itu menggodaku. Mereka masih kecipak-kecipuk main kotor-kotoran dengan air lumpur. Apa mereka tidak kedinginan? Aku hanya menanggapi dengan muka malas dan berlari saat mereka bersiap menyipratkan air ke arahku. Sebenarnya sama saja, dengan aku berlari pakaianku semakin tidak karuan, dilempari lumpur dan air keruh yang terangkat oleh hempasan sepatuku sendiri. Di sisi lain, aku sudah muak diajak main air. Sebentar lagi kau akan tahu mengapa.

Aku sudah tidak peduli lagi dengan keadaan pakaianku. Aku bergegas sampai ke halte. Sesampainya di sana, aku tertegun oleh kumpulan orang yang banyak sekali, mengantri angkutan umum sampai menumpuk-numpuk di halte. Mengapa kondisi dingin dan segalanya basah jalanan malah macet? Mereka semua tampak murung. Biasanya mereka kalau bertumpuk-tumpuk begini, dalam rangka berebut sesuatu, pasti saling sumpah serapah bahkan tak jarang sampai adu fisik. Bapak-bapak ataupun ibu-ibu sama saja. Apa amarah mereka teredam oleh suasana selepas hujan? Mungkin dingin-dingin begini mereka tidak tertarik untuk mengubah posisi antri mereka.

Orang-orang tua yang gendut tampak berjejeran memenuhi kursi halte. Beberapa dari mereka terkantuk-kantuk. Padahal jalanan begitu ribut oleh klakson. Bis-bis yang penuh penumpang bersisi-sisian, bahkan dengan nomor jurusan yang sama. Mungkin saking macetnya. Mobil-mobil berebut suara klakson. Angkutan umum tampak penuh semua, sehingga tumpukan orang-orang di halte baru sedikit yang bisa naik. Tampaknya amarah masih terjaga dengan baik di jalanan.

Agaknya jika kuceritakan semua akan lama. Aku persingkat sampai akhirnya ada satu angkutan umum yang justru muncul dari gang arah apartemenku. Mobil putih itu masih kosong, ia berhenti tepat di depan halte dan hampir menabrak orang-orang yang mengantri di luar halte. Kalau hari-hari biasa mereka pasti sudah memaki-maki, tapi pagi ini mereka hanya berebut masuk. Tubuh kurusku kuselipkan dengan lihai di antara jiwa-jiwa yang terburu-buru itu. Aku juga terburu-buru. Harus ada yang kupastikan di tempat tujuanku. Setelah mobil penuh dan bersiap melaju, aku sempat melirik ke wajah-wajah kecewa yang sudah terlebih dahulu sampai di halte daripada diriku. Tapi mereka masih belum dapat kendaraan, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu gendut. Tapi sudahlah, aku juga tidak berhutang apa-apa kepada mereka.

Untungnya aku tertidur sepanjang jalan, jadi aku bisa langsung bercerita sesampainya di sana. Aku khawatir terdorong untuk mengomentari apa saja yang aku temui di jalanan dan kau akan merasa bosan.

Aku turun di jalan Emtedad Ramses sebelum jembatan layang 6 Oktober. Kau mungkin lebih mengenalnya dengan perempatan Nadi Sikkah, sebab ada gelanggang olahraga Sikkah al-Hadid di bawah tanjakan jembatan layang, tempat aku bekerja. Aku bergegas menyeberang dan masuk ke Nadi lewat pintu samping. Aku langsung menuju kolam renang yang tak jauh dari pintu samping, lebih tepatnya di mana aku bekerja. Begitu sampai di kolam yang sudah aku keringkan dan bersihkan seminggu yang lalu, aku terdiam tak percaya. Kekhawatiranku benar terjadi: airnya penuh lagi. Bagaimana bisa? Berapa lama hujan turun semalam?

Sementara aku ragu bagaimana akan membersihkan kolam dengan cuaca sedingin ini, Ezzat menghampiriku. Ia memberi tatapan bergantian, ke arahku dan ke arah kolam renang, sambil mengisyaratkan betapa merepotkannya situasi yang kami hadapi. Ia bertanya bagaimana aku akan mengurasnya.

“Buka salurannya!” Aku setengah memekik. Ia tampak terkejut dan bertanya lagi saluran apa yang aku maksud. Aku mulai kehabisan kesabaran, kenapa anak ini bodoh sekali? Ia malah menatapku keheranan dan mendekat. Ia tampak tidak terima harus menerima amarahku di pagi dingin seperti ini. Aku tanya apa maunya. Ia malah balik bertanya apa mauku. Ia terus bertanya bahwa apa aku sudah lupa. Ia terus mencecarku dengan pertanyaan yang diselipi makian, apa saja yang aku lakukan seminggu ini, apa aku sudah pikun.

Aku tengah berupaya mengingat-ingat apa yang terjadi seminggu yang lalu selain demonstrasi di lapangan Tahrir. Setelah ingat, sambil mengabaikan Ezzat yang masih marah-marah, aku terduduk lemas di salah satu undakan loncat para perenang. Aku menatap gedung tinggi di seberang Nadi, gedung paling tinggi di kawasan itu. Di lantai dasar ada restoran dan kafe, di atasnya ada klinik dokter gigi dan dokter penyakit dalam, di atasnya lagi ada kantor real estate, di atas seterusnya menumpuk flat-flat sampai belasan lantai, di antaranya ada kantor pengacara. Sebenarnya tidak ada yang spesial dengan gedung itu. Hanya saja catnya begitu rapih dan halus tidak seperti gedung pada umumnya. Saking bagusnya, aku bisa melihat jejak hujan di gedung itu. Oleh jejak itu, gedung itu tampak murung. Bukan berarti ia tampak gagah atau berbeda dari sebelumnya. Entah kenapa pagi ini aku memerhatikan sampai sebegitunya.

Ezzat sudah pergi. Aku menyuruhnya mencari alat sedot air. Ia bertanya memangnya ada, aku hanya menjawab ada. Di Nadi sebesar ini pasti ada, pikirku. Aku baru ingat soal seminggu yang lalu. Bos al-Barany memintaku untuk merencanakan perbaikan kolam renang. Ah, si tua bangsat itu. Sebenarnya cuaca dingin sudah mulai sekitar dua minggu yang lalu. Sebelum masuk ke minggu kedua, Barany sudah mengumumkan kolam akan ditutup. Cuaca sudah turun sampai 15 derajat. Di samping itu ia berkata bahwa ia diperintah oleh pimpinan Nadi untuk segera memperbaiki lantai kolam renang. Kemudian aku disuruhlah menjadi panitia.

Langkah pertama yang harus kulakukan adalah menguras dan membersihkan kolam, kemudian mematikan air hanya untuk kawasan kolam renang. Kolam harus kering. Tapi karena saluran air sedang rusak di beberapa gedung olahraga lainnya, maka aku harus tetap membiarkan aliran air di bagian kolam renang tetap menyala. Sehingga aku harus mencari alternatif lain untuk mengeringkan kolam. Karena jika saluran air tetap menyala, banyak celah dan lubang di kolam yang membuat air merembes hingga sulit kering, apalagi di tengah cuaca seperti ini. Dalam proses ini pun, Barany terus-terusan memarahiku sebagaimana ia dimarahi atasannya. Akhirnya aku berinisiatif menyemen lubang dan celah rembesan di kolam, sekaligus saluran utama yang berfungsi untuk memasukkan dan mengeluarkan air kolam.

Aku mengutuk diriku yang terburu-buru menyemen lubang saluran air ke kolam. Sekarang perbaikan tidak bisa diteruskan dan aku bisa melihat masa depanku: menguras kolam dengan ember. Kalau dipikir-pikir mungkin ada baiknya aku menunggu hujan turun, memastikan hari-hari yang dibutuhkan untuk perbaikan akan cerah dan kering. Paling sering hujan hanya turun dua kali sekitar pertengahan Desember, yang tidak aku perhitungkan hujan akan turun seawal ini di bulan November.

Ezzat belum kembali. Mungkin ia sedang kebingungan mencari alat itu, mungkin juga ia kabur. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam kantor dan menghangatkan diri. Baru saja melangkah beberapa meter dari kolam, aku mendengar sesuatu tercebur. Airnya sampai meluap masuk ke dalam parit di sisi kolam, ada percikan yang menghampiri kakiku. Aku menggigil sambil menjauh dan membalikkan badan. Ada orang di dalam air.

Sempat tertegun beberapa saat, pada akhirnya aku menceburkan diri setelah tubuh misterius itu mulai mengambang. Sudah berapa lama sejak terakhir kali aku menyelamatkan orang tenggalam di kolam, pikirku.

Ah, dingin sekali.

Aku segera menariknya. Aku sempat terkejut ternyata ia adalah seorang wanita. Rambut panjangnya yang hitam melekat di wajahku. Aku meneriakkan nama Ezzat, meminta bantuan. Nama-nama lain juga, bahkan Barany. Tak ada yang menyahut. Jangan-jangan hanya ada aku di Nadi pagi ini. Aku kelimpungan, tubuh tak bergeraknya begitu berat dalam air. Tapi akhirnya aku sampai juga ke tepian dan susah payah mengangkatnya. Setelah berhasil aku segera membopongnya ke arah kantor.

Ada ruangan kecil yang memuat ranjang dan kasur pasien, rak obat-obatan, semacam ruang kesehatan darurat. Ruang yang sangat kutakuti. Terakhir kali aku membopong tubuh ke sana, ia mati di atas kasur itu tidak lama setelah aku baringkan. Ruangan itu begitu basah oleh air yang menetes deras dari tubuh anak itu, dan juga dari tubuh orangtuanya yang berlarian di sampingku. Semenjak itu, aku lebih galak lagi melarangi anak-anak berenang tanpa pendamping, meskipun di bagian kolam yang dangkal.

Kini aku memompa dada si wanita misterius, berharap musibah yang sama tidak terulang. Aku memompa dengan gugup. Berhati-hati agar tidak mengenai buah dadanya. Tiba-tiba tangannya menahan laju tanganku yang naik turun di dadanya. Ia menggenggam erat, memberi isyarat agar berhenti. Wajahnya tampak kesakitan. Aku tak melihat ada air keluar dari mulutnya. Aku baru sadar ia ternyata tadi tidak tenggelam. Lalu kenapa ia diam saja?

Ia beranjak, terengah-engah. Aku masih memeganginya, tangan kiri dan pundaknya, dengan kehatian-hatian yang gemetar. Ia menatapku beberapa saat, ia tak mencoba mengatakan apapun. Aku juga hanya melihatinya, berharap bisa mengenalinya.

“Kau siapa?” tanyaku akhirnya.

Ia masih diam saja menatap kosong ke depan sambil duduk bersandar ke dinding di ujung ranjang. Aku tak punya pilihan selain memperhatikan penampilannya. Ia memakai gaun putih polos pendek hingga selutut dengan lengan panjang. Aku segera memberinya handuk tebal dan membiarkannya mengeringkan diri. Aku menawarkan pakaian kering, seragam olahraga bertuliskan nama Nadi, tapi ia menolak. Kemudian aku berikan selimut tebal dan kubantu ia menutupi tubuhnya.

“Apa kau tidak kedinginan?”

Ia menggeleng. Aku agak terkejut saat ia menatapku lagi dengan raut muka yang tiba-tiba gelisah. Aku baru saja mau bertanya ada apa saat ia berkata.

Kau tak akan percaya perkataannya.

“Aku dikejar raksasa.”

***

Ayman tampak kesal melihati kolam di hadapannya. Ia datang ke Nadi pagi buta. Selepas subuh, ia sudah nongkrong di depan kantor Nadi bagian kolam renang. Ia mengenakan jaket parasut dan celana training yang ketat. Saat melepas penutup kepala untuk menggaruk-garuk, tampak rambutnya mulai menipis di bagian belakang, kulit kepalanya sudah terlihat sedikit. Beberapa saat setelah ia sampai, hujan turun lagi.

Kolam yang belum berhasil ia kuras dan bersihkan mulai meluap airnya. Ayman hanya memandanginya dengan muka putus asa. Matahari mulai naik saat ia menghilang dari depan kantor, agaknya ia berkeliling Nadi guna mencari sesuatu untuk membantu pekerjaannya. Seperti kemarin, tampaknya tak ada siapa-siapa di Nadi. Ezzat tak ada kabar sejak meninggalkannya, nomornya tak bisa dihubungi. Ayman sepertinya sedang membayangkan rasa malas luar biasa harus menghadapi Barany sendirian siang nanti. Jadwal kebersihan kolam musim dingin begini memang hanya dipegang oleh Ayman dan Ezzat. Kemarin ia sudah mengabari Barany dan ia berkata akan datang mengecek keesokan harinya.

Tidak menemukan apa-apa, Ayman hanya terdiam lagi. Ia memandangi kolam dihantami air hujan. Tunggu sebentar, tidak. Tidak, ia tidak memandang kolam renang. Ia menatap ke arah gerbang samping. Di bawah gerbang berdiri sesosok manusia yang tinggi besar. Tentu ia berharap sosok itu adalah manusia. Dari situ sosok tampak seperti bayangan, atau memang ia mengenakan pakaian serba hitam. Sosok itu mendekat, menembus hujan yang masih deras. Ayman tampak tak bisa bergerak (mungkin lebih karena ia tak mau hujan-hujanan). Ia menunggu sampai sosok itu sampai di depan kantor, tak jauh dari posisi Ayman berdiri.

Setelah dilihat dari dekat, ia memang besar dan tinggi sekali, bukan hanya karena terlihat dari jauh. Tapi ia memang manusia, ia mengenakan jubah dan tutup kepala hitam. Wajahnya tampak tua, mungkin usia limapuluh-enampuluhan.

“Bisa bicara?” Tanyanya sopan pada Ayman setelah memberi salam. Suaranya terdengar berat.

Ayman mengangguk dan mempersilahkan tamu misteriusnya untuk masuk ke dalam kantor dan duduk di kursi kayu. Ia menawarkan teh hangat untuk tamunya yang segera mengiyakan. Tampaknya ia juga kedinginan, kesan sangarnya jadi pudar perlahan.

“Apa yang bisa saya bantu, Tuan?” Ayman memulai percakapan setelah menaruh segelas teh hangat di meja depan kursi kayu, tanpa basa-basi, mengingat sosok tamunya yang misterius.

“Apa Anda melihat seorang wanita?” Si tamu juga langsung menyampaikan maksudnya.

“Wanita?” Ayman ikut terduduk di kursi kayu satunya.

“Betul. Wanita.”

“Wanita yang bagaimana, ya? Maksud saya wanita ada banyak…”

“Wanita dengan gaun putih…”

“Ah, maaf. Seandainya saya tidak lupa mengunci pintu samping yang Anda masuki itu, Anda akan mengetahui Nadi sedang tutup sejak satu minggu yang lalu. Khususnya kolam renang ini. Seperti Anda lihat, tidak ada siapa-siapa di sini.”

“Jadi?”

“Jadi, tidak. Maaf saya tidak melihat siapa-siapa di dalam Nadi kecuali bayangan saya sendiri.”

“Begitu rupanya.”

“Lagipula, apa Anda tidak salah? Dingin-dingin begini mana ada seorang wanita hanya mengenakan gaun?”

“Dia adalah orang penting. Saya hanya ditugaskan untuk menjaganya.”

Ayman tersenyum getir. “Ah, saya tidak berkata apa-apa, Tuan.”

“Anda jangan khawatir dengan penampilan saya, saya tidak berniat menyakitinya.”

Ayman semakin sulit menyembunyikan ketegangan dan keheranan yang bercampur di udara.

“Maaf, Tuan, sepertinya Anda salah paham…”

“Tidak, tidak apa-apa. Baiklah kalau Anda tidak melihatnya. Saya akan pergi. Tapi bolehkan saya bernaung di sini sampai hujan reda?”

Ayman hanya mengangguk. Wajahnya kini lega bercampur resah.

“Apakah Anda setuju, hujan ini membikin kota ini tampak murung?” Si tamu tiba-tiba bertanya.

“Ah, kebetulan saya juga berpikir demikian. Bagaimana bisa Tuan terpikirkan…”

“Kota ini seperti raksasa yang kehujanan.” Si tamu mengakhiri perkataannya dengan sebuah senyuman. Senyuman yang terlihat sedih sekaligus meresahkan.

Mereka terdiam dalam waktu yang lama sampai hujan benar-benar reda. Si tamu pun pergi sebagaimana yang telah ia katakan. Setelah si tamu benar-benar menghilang, Ayman menoleh ke arahku. Ke arah ruang kecil yang berada di pojok kantor. Aku memperhatikan mereka sejak tadi lewat lubang pintu yang kecil tapi cukup jelas sampai ke kolam renang, bahkan gerbang samping itu kelihatan. Ayman masih belum beranjak dan menatap ke arah lubang pintu menuju ruang kecil ini. Aku tak bisa menerka apa yang ada dalam pikirannya.

 

*Tuktuk: semacam bajaj.

*Nadi: gelanggang olahraga

Facebook Comments
Bagikan konten: