Orang-Orang Suryani dan Jembatan Kebudayaan

Bagikan konten:

Pada masa Umayyah, orang-orang Suryani menghubungkan arus-arus kebudayaan yang berbeda. Mereka membawa budaya luar ke dalam lingkungan mereka lalu menyandingkannya dengan yang lain. Di antaranya ialah kebudayaan Yunani dan Islam-Arab. Sikap menerima budaya asing secara selektif seperti itu adalah bentuk apresiasi yang masih sangat langka kala itu.

Setiap kebudayaan memang memiliki coraknya masing-masing, tak terkecuali kebudayaan Arab, Suryani atau Yunani sekalipun. Karenanya secara umum, bisa dikatakan terdapat unsur yang identik dari masing-masing kebudayaan. Misalnya dalam hal-hal yang menonjol, seperti Yunani dengan gudang pengetahuannya, Romawi dengan sistem pemerintahannya, sedang Arab dan Suryani dengan kesusastraan serta keyakinan beragamanya.

Meski begitu, pada saatnya, entah karena kebetulan atau memang kesengajaan, kebudayaan yang berbeda-beda itu akan bertatapan dan bersanding bahkan terikat lalu membentuk sesuatu yang baru. Termasuk di antaranya, pertemuan kebudayaan Yunani, Suryani dan Islam-Arab.

Proses menyebarnya unsur-unsur kebudayaan dari orang-orang Yunani ke masyarakat Suryani kemudian masuk ke lingkungan bangsa Islam-Arab bisa dikatakan sebagai difusi. Walaupun cara yang berlangsung tidak sama, tetapi teknik meniru atau perpindahan yang telah terjadi dalam proses itu sangat kentara.

Kemudian ada proses dalam persinggungan antar kebudayaan di sana yang barangkali bisa saya katakan sebagai proses damai. Sebab tidak ada pertumpahan darah dalam perpindahan dan penyebarannya. Meskipun proses damai yang dilalui dari kebudayaan Yunani menuju ke Suryani tentu berbeda dengan jalan damai yang ditempuh kebudayaan Yunani yang dipegang orang-orang Suryani menuju ke lingkungan budaya bangsa Arab. Jalan damai yang kedua itu saya katakan berbeda karena ada aroma pemaksaan meskipun tidak secara langsung. Sebab proses damai itu telah didahului oleh penaklukan sebelumnya.

Sebelum berinteraksi dengan Islam-Arab, orang-orang Suryani telah lebih dulu bersentuhan dengan budaya Yunani, apalagi filsafatnya terlebih mazhab Neoplatonisme-nya, yang bersinggungan dengan masyarakat Suryani yang menetap di Irak dan sekitarnya. Bahkan mereka memberikan andil dalam menyebarkan kebudayaan tersebut. Misalnya, melalui penerjemahan buku-buku filsafat Yunani ke dalam bahasa Suryani, mereka menyebarkan filsafat Neoplatonisme di wilayah Irak dan sekitarnya.

Bahasa Suryani yang merupakan satu di antara bahasa peradaban kuno Aramaic dan menempati posisi penting zaman itu, membuat penyebarannya lebih efektif. Bahasa Suryani kala itu menjadi bahasa ibu dari ajaran paganisme di beberapa wilayah. Ia adalah bahasa sastra dan keilmuan di semua buku orang-orang Nasrani yang menetap di Antalya (sekarang, suatu kota di Turki) dan bahasa bagi orang-orang Nasrani di wilayah Persia. Bahkan di Harran, satu kota kuno besar di sekitar Irak,  ia menjadi bahasa keagamaan dan sastra  orang-orang Majusi.

Di kemudian hari, Harran, kota itu menjadi pusat penyebaran bagi paganisme dan budaya Yunani. Bahkan sampai setelah kedatangan Islam ke daerah Irak, Harran masih berdiri dan menjadi pusat orang-orang Suryani memberikan pengaruhnya kepada orang-orang Islam saat itu.

Orang-orang Suryani menerjemahkan ilmu-ilmu Yunani dengan teliti dan terpercaya. Upaya itu dapat dilihat ketika mereka tidak menabrakkan dan menyelipkan keyakinan agamanya di dalam buku-buku yang diterjemahkannya. Entah muatan buku itu bertentangan dengan keyakinannya ataupun sesuatu yang umum seperti ilmu logika, pengobatan dan matematika. Artinya mereka berapaya untuk berlaku objektif dalam menerjemahkan. Mereka berusaha menerjemahkan teks dengan apa adanya tanpa menyelipkan keyakinan dan pemahaman mereka di dalamnya. Bahkan dalam wilayah teks-teks ketuhanan, mereka berupaya mengalihbahasakan dengan menyesuaikan keyakinan orang-orang Yunani.

Setelah Islam menaklukan wilayah Irak dan sekitarmya, orang-orang Suryani tetap melanjutkan upaya penerjemahan dan penyebarannya meskipun reaksi mereka terhadap kedatangan lslam tidak sama. Sebagian memutuskan masuk dalam Islam dan yang lainnya tetap memegang agama lamanya. Mereka memiliki karakter yang ulet. Mungkin karena itu orang-orang Suryani memiliki kedudukan istimewa di masa Umayyah. Bahkan di masa itu, sekolah-sekolah yang mereka dirikan tetap diperbolehkan melangsungkan kegiatan-kegiatannya.

Yakub Al Rahawi adalah satu di antara orang-orang Suryani yang menjadi terkenal di masa Umayyah. la seorang nasrani yang mempunyai pengaruh besar kala itu. Di samping menerjemahkan karya dari bahasa Yunani ke Suryani, ia mengajarkan ilmu-ilmu, seperti filsafat dan matematika kepada orang-orang lslam. Barangkalı itu satu contoh bagaimana orang Islam menerima budaya-budaya Yunani melalui jembatan kecil bernama Yakub al-Rahawi.

Jika lebih jauh lagi, akan ada nama-nama lain yang muncul dan barangkali akan berserakan. Hunain bin Ishak adalah yang paling terkenal melalui penerjemahan yang melimpah dan penting di masa Abbasiyah. Kalau saja Yakub aAl Rahawi berumur lebih panjang atau hidup semasa dengan Hunain bin Ishak, mungkin namanya akan sejajar dengan Hunain dan mendapat apresiasi yang lebih tinggi.

Ketika filsafat Yunani pada akhirnya berbaur dengan kehidupan orang Islam-Arab di era Umayyah, meskipun tidak semencolok di masa Abbasiyah, saya ingin mengatakan bahwa orang-orang Suryani berperan sebagai jembatan yang berhasıl menghubungkan dua kebudayaan itu. Apalagi, di sisi yang lain mereka juga menunjukkan bahwa orang Islam-Arab tidak hanya mengasingkan diri untuk beribadah, memperluas wilayah, dan menumbuhkan cara berpikir secara mandiri. Akan tetapi, masyarakat Islam-Arab juga berinteraksi untuk mengembangkan kebudayaannya dan bertoleran dengan budaya lainnya. Bahkan hubungan itu telah berlangsung sejak masa pra Islam. Lalu di era Islam interaksi semacam itu cenderung lebih giat dan masif.

Di titik ini, kita akan memahami peran yang tidak kecil dari orang-orang Suryani. Ketika filsafat Yunani tersebar di wilayah Irak dan sekitarnya, kita tahu orang-orang Suryani menyebarkannya lewat sekolah-sekolah dan penerjemahan yang ulet, kita tahu semangat mereka dalam mengapresiasi keilmuan dan kebudayaan lain yang kemudian dilanjutkan oleh orang Islam di masa Abbasiyah. Selain mengapresiasi, setidaknya kita juga perlu belajar dari orang-orang Suryani.

 

Facebook Comments
Bagikan konten: