Nasib Eros Setelah Membunuh Suaminya

Bagikan konten:

Eros tidak bisa menghindari tatapan mata yang mengancam itu. Tatapan yang menusuk matanya sampai ke dalam otak. Ia tidak bisa ke mana-mana selain berada di ruangan itu. Eros duduk dengan gelisah di sebuah kursi kayu yang berhadapan dengan meja bundar. Sesekali ia berusaha menenangkan tangannya, tapi gagal. Eros heran dengan kedatangan lelaki yang duduk di seberangnya. Ia yakin ia sudah membunuhnya.

Lelaki itu adalah suaminya, Sulaiman. Ia datang ketika Eros sedang berusaha tidur. Eros baru saja membunuh suaminya dua hari yang lalu. Ia menikam leher Sulaiman dengan pisau dapur saat sedang buang air besar di jamban empang. Lalu ia memotong-motong tubuh suaminya menjadi 18 bagian, membungkus masing-masing bagian dengan plastik hitam dan ditambah batu-batu agar berat, kemudian menyebar semua bagian ke dalam empang.

Tentu saja Eros masih terguncang oleh perbuatannya yang keji itu. Ia masih merasa ada iblis yang merasuki dirinya saat melakukan pembunuhan tersebut. Tapi saat teringat bagaimana ia menangkap basah Sulaiman mencumbui Atik di rumahnya sendiri, ia yakin dirinyalah yang membunuh suaminya. Ia sudah mencurigai gerak-gerik suaminya selama ini. Terlebih Atik adalah sahabatnya sejak SD, tentu mereka saling mengetahui agenda masing-masing. Jika ada yang terasa ganjil maka akan mudah ketahuan. Ia ingat dirinya merencanakan pembunuhan itu setelah sebelumnya ia marah hebat dan memukul-mukul suaminya dengan sapu saat ‘melerai’ pergumulan Sulaiman dengan Atik yang segera menutupi tubuhnya dan menyingkir.

Malam itu juga Eros pulang ke rumah orangtuanya yang berada di desa sebelah. Ia tidur di kamar lamanya. Bapak ibunya hanya geleng-geleng dan saling menatap keheranan. Eros tak bisa tidur dan menahan sakit hati yang luar biasa. Ia tak bisa melupakan kejadian barusan. Ia segera mendendam. Ia ingin Sulaiman mati. Tapi ia tidak ingin melakukannya begitu saja sehingga mudah ketahuan seperti almarhum suaminya yang bodoh itu.

Eros ingat waktu kuliah di Jogja dulu, ia pernah membaca novel seri Dexter karangan Jeff Lindsay di perpustakaan kampus. Dexter adalah seorang petugas forensik di kepolisian Miami yang memiliki identitas lain sebagai pembunuh berantai. Ia punya kelainan kondisi psikologis sejak kecil yang membuatnya jadi psikopat. Dengan dibantu ayah angkatnya, untuk memenuhi hasrat membunuhnya Dexter memiliki standar yang tinggi. Ia hanya membunuh orang-orang jahat yang luput dari kejaran polisi. Ia menculik, membunuh dan memutilasi satu persatu dari mereka lalu membuang potongan tubuh mereka ke lautan dalam.

Eros yakin Sulaiman adalah orang jahat. Tapi tidak mungkin kejahatannya dihukum mati oleh pihak berwajib karena tidak melanggar hukum pidana apapun. Tiba-tiba Eros merasa mendapat pembenaran atas rencananya karena terinspirasi Dexter. Yang jelas, Sulaiman sudah jahat padanya. Ia telah menghancurkan hatinya.

Keesokan harinya menjelang magrib Eros kembali ke rumahnya. Tak lupa ia membawa pisau paling tajam dari dapur rumah ibunya. Tanpa sepengetahuan Sulaiman, ia menyelinap ke kebun keluarga sebelah empang. Ia tahu Sulaiman selalu makan malam sebelum magrib dan selalu buang air besar tidak lama setelahnya. Mereka tidak punya kamar mandi di dalam rumah seperti warga kampung pada umumnya, kecuali Haji Karsono dan Haji Saridin yang merupakan orang kaya raya di desa.

Meski sarjana pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UNY, Eros hanya menjadi guru di sebuah sekolah menengah swasta dekat kampungnya. Sementara suaminya yang hanya lulusan STM di kecamatan belum bisa menawarkan kehidupan yang sejahtera. Sulaiman punya bengkel di rumah pemberian orang tuanya dan sepetak tanah untuk ditanami singkong di musim kemarau dan menjelma sawah di musim penghujan.

Eros dan Sulaiman sudah berkenalan sejak SMP, lima belas tahun yang lalu. Mereka saling mencintai. Meski keduanya pernah berpacaran dengan orang lain saat Eros merantau ke Jogja, pada akhirnya mereka tetap menikah.  Selain desakan orangtua untuk hidup di kampung, Eros rupanya juga diam-diam merindukan Sulaiman dan ingin hidup dengannya.

“Mengapa kau tidak hidup di kota saja?” tanya Sulaiman saat bertemu Eros di masjid kampung selepas salat idul fitri lima tahun yang lalu.

“Aku ingin hidup denganmu.” Eros menunduk, memegangi mukenanya yang menyapu tanah.

“Lalu bagaimana dengan pacarmu?”

“Sudah putus. Sebaiknya kau juga putus saja dengan Ningsih. Dia tidak akan bisa membahagiakanmu.” Kini Eros mengangkat wajahnya, menatap mata Sulaiman.

“Bagaimana kau bisa tahu?” mata Sulaiman menyipit keheranan tapi raut mukanya tersipu.

“Karena aku mencintaimu dan aku tahu kau lebih mencintaiku. Aku menawarkanmu kenangan dan masa depan yang mungkin. Ningsih hanya bisa memberi masa depan yang mungkin.”

Tiga hari kemudian, setelah salat istikharah, Sulaiman memutuskan hubungannya dengan Ningsih. Seminggu kemudian ia melamar Eros dengan menjual satu hektar tanah warisan orangtuanya dan hanya menyisakan satu petak di sebelah rumahnya sendiri.

Kini Eros berada di belakang Sulaiman sementara kenangan itu meninggalkannya, bersembunyi di balik daun-daun singkong. Sulaiman memasuki jamban bambu itu. Eros memerhatikan dengan seksama gerak-gerik Sulaiman dibantu penerangan lampu kuning lima watt. Begitu ia lengah, Eros bergerak pelan mendekat sampai ke punggung suaminya yang sedang berjongkok. Lalu ia tusukkan pisau dapur ke bagian belakang leher Sulaiman sampai tembus ke depan. Tentu Sulaiman tidak bisa bersuara saat tenggorokannya ditikam. Sulaiman menggelepar sejenak lalu perlahan menjadi lemas dan pada akhirnya terdiam kaku.

Pada awalnya Eros merasakan kepuasan yang tiada tara. Terutama saat Sulaiman bergerak-gerak kesakitan. Tapi kemudian Sulaiman menjadi kaku, Eros mulai merasa panik. Meski ia sudah memperhitungkan waktu-waktu seperti itu tidak akan ada orang yang lewat, sebab orang kampung yakin bahwa menjelang magrib mereka harus berada di rumah. Dan juga letak masjid berada di jalan yang berbeda dari jalan depan rumahnya. Rumah terdekat dari rumahnya pun berjarak sekitar dua puluh meter lebih. Apalagi empangnya berada di belakang rumah yang berjejeran dengan hutan alami. Suara erangan suaminya tadi kalaupun terdengar tidak lebih serupa suara serangga sore.

Eros bergegas ke dapur rumahnya, ia mengambil pisau besar pemotong tulang sapi. Ia menyelesaikan pekerjaannya.

Dua hari kemudian, malam pukul sebelas, saat Eros berusaha tidur di tengah amukan bayangan mengerikan dan mimpi-mimpi buruk, ada ketukan di pintu depan. Awalnya terdengar pelan, tiga kali tiap ketukan. Semakin Eros biarkan suaranya semakin kencang. Jantungnya berdegup kencang. Ia bisa mendengarnya dengan jelas, sejelas ketukan pintu di depan hingga sulit ia bedakan. Ketukan itu semakin menjadi. Ia ingin teriak minta tolong tapi tak keluar suara sedikitpun. Hanya ada napas yang memburu. Ia makin yakin ketukan itu akan berujung dobrakan.

Tidak. Justru ketukan yang kencang itu berhenti. Ada jeda suasana kosong beberapa menit. Tak ada suara apa pun. Eros sempat berpikir ia berhenti bernapas. Di tengah keheningan itu, tiba-tiba ia mendengar suara kunci berusaha membuka pintu. Siapa yang memiliki kunci rumah ini selain ia dan suaminya. Kunci itu diputar-putar cukup lama di lubangnya. Suara itu sangat mengganggu Eros. Ia tak bisa tinggal diam, ia perlahan beranjak dari kasurnya dan berjalan ke ruang tamu.

Begitu ia sampai, suara kunci tadi berhenti setelah menemukan suara ceklek. Pegangan pintu sempat bergetar ketika dibuka dari luar, seperti ada tangan yang tidak stabil sedang berusaha membukanya. Pintu terbuka. Sulaiman berdiri di ambang pintu. Mereka pertama kalinya bertatap muka secara langsung sejak pertengkaran hebat empat hari yang lalu. Bagi Eros kejadian itu seperti sudah berlalu bertahun-tahun lamanya.

“Tanganku agak sulit digerakkan,” kata Sulaiman datar.

Eros begitu terkejut. Ia yakin sudah membunuhnya. Ia juga yakin sudah memotong-motong tubuhnya. Siapa gerangan yang sedang berdiri di hadapannya, apakah hantu Sulaiman hendak membalas dendam?

Eros tak bisa berkata apa-apa. Ia terjatuh lemas di lantai dengan muka yang masih tegang. Mulutnya terbuka lebar. Ia berusaha menatap mata Sulaiman lagi tapi tak sampai. Ia hanya sanggup melihat sampai bibirnya dengan bantuan lampu teras yang kuning redup. Ruang tamu masih agak gelap. Mungkin ia tidak bisa memastikan wajah lelaki itu. Tapi dari perawakan dan tentu suaranya, Eros yakin ia adalah Sulaiman. Eros berusaha memastikan dirinya hanya sedang mengkhayal. Ini akibat perang batin yang terus menerus bergejolak dalam hatinya. Ia ternyata belum yakin atas apa yang telah ia perbuat. Apakah itu sungguh-sungguh ia inginkan atau tidak.

“Aku hanya ingin bicara,” kata Sulaiman lagi. “Mari duduk di ruang makan, di dalam.”

Eros lalu memberanikan diri menatap mata suaminya. Mata itu begitu kaku, tatapannya tajam, tidak sehangat biasanya. Mata itu seperti telah mati. Sulaiman memang sudah mati. Paling tidak seharusnya. Tapi Sulaiman masih berdiri di pintu. Ketika Eros berusaha berdiri sambil berpegangan pada kursi tamu, ia bergerak perlahan mendekati Eros.  Akal dan insting Eros belum bisa menerima peristiwa ini, ia reflek bergerak mundur dan menabrak tembok. Sulaiman hanya berjarak setengah meter dari Eros. Eros menahan napas dan menutup kedua matanya.

“Tak apa, tenang saja.” Sulaiman tampak seperti zombi yang tak punya ekspresi. Ia berkata-kata datar. Dan itu membuat Eros tambah yakin ia sudah membunuhnya tapi Sulaiman malah bangkit dari kematiannya.

Eros masih belum tahu harus bagaimana. Apakah lari atau membunuhnya lagi? Ia masih terlalu terkejut dan bingung untuk memutuskan.

Sulaiman melewatinya begitu saja dan masuk ke ruang makan. Ia meraba dinding sebentar, mencari saklar dengan gestur yang lemah. Setelah lampu menyala, Sulaiman berjalan gontai menuju kursi kayu dan meja bundar lalu duduk.

“Ros,” panggilnya lirih. “Kemarilah.”

Eros tidak bisa mengelak dari panggilan itu. Ia merasa ada sihir yang menarik dirinya untuk mendatangi meja bundar itu. Sulaiman mengangkat tangannya, menengadah, meminta tangan Eros untuk mengambilnya. Eros mendekat perlahan, ia meraih tangan itu. Tangan itu dingin. Sekarang Eros bisa melihat dengan jelas. Di bekas potongan Eros pada bagian tubuh Sulaiman yang sudah tersambung lagi, ada garis yang memerah. Eros menarik tangannya tapi kesulitan. Genggaman Sulaiman sangat kuat.

“Lepaskan, Sul,” pintanya dengan suara yang tak ia sangka jadi parau.

“Baiklah.” Sulaiman menjawab pelan. “Tolong, duduklah.”

Ia melepas tangan istrinya lalu mendorong pinggulnya ke arah kursi kayu di seberangnya.

“Maafkan aku, Ros.”

“Apakah kau sudah tidak mencintaiku lagi?”

“Bagaimana aku bisa mencintaimu lagi sedang kau begitu tega membunuhku?”

Eros diam saja.

“Aku hanya melakukannya sekali saja, Ros.”

Eros menatap tidak percaya. Rasa takut dan bingungnya sudah sirna.

“Aku ingin punya anak, Ros.”

“Kenapa kau tidak bilang?”

“Aku rasa usaha kita akan sia-sia saja.”

“Kau belum tahu dengan pasti.”

“Ingat, Ros. Perbuatanmu akan segera ketahuan. Kau tidak bisa menyembunyikan pembunuhan hanya dengan berbekal novel murahan.”

“Aku akan membunuhmu lagi, Sul.” Muka Eros merah padam.

“Kau tidak akan bisa.”

Entah karena suatu alasan yang Eros tidak ketahui, ia seperti terikat pada kursi itu. Ia tidak bisa bergerak bebas.

“Orang-orang akan mempertanyakan keberadaanku.”

“Aku akan membunuh wanita jalang selingkuhanmu itu. Aku akan bilang kalian kabur berdua.”

“Kau tidak akan bisa membunuh dua kali dengan cara yang sama tanpa membuat orang curiga, Ros. Lagipula lingkungan rumah Atik selalu ramai dan rumah-rumahnya berdekatan.”

“Aku akan menemukan jalan keluar. Aku anak kuliahan, bukan orang udik yang hanya lulusan STM.”

“Aku selalu buka bengkel, absen sehari pasti orang-orang akan bertanya.”

“Aku menyembunyikan potongan tubuhmu dengan baik.”

“Kau yakin?”

Eros hendak meluapkan amarahnya, namun tiba-tiba kepalanya pusing hingga ia tak sadarkan diri.

Keesokan pagi ia terbangun di kasur. Lalu siangnya ia segera mengosongkan empang tanpa meminta bantuan siapa pun. Ia tidak peduli ikan-ikan yang ia pelihara banyak terbawa air pipa menuju sungai di seberang rumahnya.

Sayangnya, di dasar empang ia tidak menemukan yang ia cari.

Facebook Comments
Bagikan konten: