Menjadikan ‘Post-Truth’ Sebagai Pendekatan Alternatif, Bisakah?

post-truth
Bagikan konten:

Pada tulisannya yang berjudul “Puisi dan Kritik Post-Truth” Kawan Arifin menawarkan kemungkinan ‘Post-Truth’—yang diandaikannya sebagai suatu bentuk model cara pikir—menjadi pembacaan baru terhadap realitas (setidaknya itu yang sementara ini bisa saya simpulkan dari tulisannya). Memang menarik jika melihat paparannya perihal puisi dan ekspresi sastrawi lainnya bisa digunakan sebagai respons atas peristiwa-peristiwa tragis yang berjejalan di media, juga bahwa dalam menyikapi fenomena sosial kita tak harus meneliti terlalu jauh layaknya para pakar, apalagi menunggu analisis yang benar-benar akurat (untuk tidak mengatakannya ‘ilmiah’) sebagai bentuk simpati dan empati kita atas tragedi kemanusiaan (seperti yang terjadi di Yaman atau Rohingya, misalnya).

Sampai titik ini, di titik bahwa keberadaan ‘suara-suara alternatif sebagai narasi di luar ‘kebenaran’ —yang diilustrasikannya sebagai hegemonik dan totaliter itu—bisa melawan sejarah yang ditulis oleh para peneliti dengan perangkat mereka yang canggih dan ilmiah, lewat bahasa ‘puisi’ yang langsung dipahami dan langsung merasuk ke dalam emosi masyarakat, saya sepakat. Bahwa sejarah perlu mengorek detil-detil dari kejadian yang dianggap tak penting (yang bahkan jika memakai bahasa Goenawan Mohammad adalah “peristiwa yang hanya cukup menjadi catatan kaki!”) juga dari ingatan yang subjektif, saya setuju. Sejarah memang tidak bisa lepas dari itu (saya juga menuliskannya dalam ulasan pendek mengenai ’kegalauan sejarah’).

Justru, kalau boleh menambahkan paparan Kawan Arifin, adanya narasi-narasi kecil yang ada di luar narasi besar itu bisa meluaskan perspektif dari para pengkaji, lebih jauh pembuat kebijakan, sehingga keputusan—terutama yang sifatnya politis—bisa merujuk pada pendasaran yang betul-betul menyejarah dan tak terlepas dari akarnya di ingatan masyarakat. Bahkan lebih jauh, jika memang sedari awal suatu narasi yang ditahbiskan sebagai yang benar terbukti hanyalah propaganda belaka, narasi-narasi kecil ini bisa berkumpul lantas membentuk satu bangunan sejarah baru, yang selanjutnya akan membersihkan sejarah dari noda kepalsuan. Pungkasnya—ketika sejarah lepas dari kepalsuan itu—ia bisa didekati dengan lebih jernih.

Tapi ada beberapa permasalahan dalam ‘perspektif puitik’ Kawan Arifin yang memang jika dilihat sepintas memiliki retorika yang apik, namun implikasi teoritisnya sangat fatal, terutama bila dibawa ke ranah filsafat, di mana—sepanjang yang saya baca—penggunaan beberapa term filsafat tumpah ruah di dalam tulisannya. Saya tidak hendak menelusuri aspek penggunaan istilahnya, yang mana boleh jadi memang hanya sekedar ‘peminjaman term’ yang lazim juga digunakan oleh peminat kajian-kajian humaniora. Dalam tulisan ini, apa yang ingin saya sampaikan lebih berupa catatan atas ‘reduksi’ yang berbahaya yang dalam tulisan tersebut.

Agar lebih sistematis saya ingin membagi uraian dalam beberapa sub terlebih dahulu untuk kemudian bisa menggamblangkan poin-poin yang akan saya kritik dari tulisan di atas.

Dari (Era) Modern sampai Post-Truth; Kesejarahan Pengetahuan di Barat

Kiranya perlu untuk sedikit menguraikan masalah silang-sengkarut istilah-istilah yang sering terjadi dalam kajian filsafat yang berhulu di Barat. Pasalnya, problem dalam tulisan yang hendak saya kritik, salah satunya memang berpangkal dari term yang digunakan. Kekeliruan ini pada dasarnya bisa didapati, bukan hanya dalam tulisan yang hendak saya kritik tapi juga umumnya marak ditemui di berbagai kajian ilmu-ilmu sosial-humaniora, karena berangkat dari kerancuan terminologis, sehingga kadang perdebatan-perdebatan di dalamnya sering kali tidak menjumpai titik temu.

Maka dari itu, pada bagian ini saya akan mencoba memulai dengan sejarah singkat terkait modernisme yang nantinya akan saya akhiri dengan ‘post-truth’ sebagai gejala sosial yang sedang marak belakangan ini. Penguraian sejarah ini dimaksudkan agar pengertian yang memadai dari beberapa istilah yang tersebut bisa terbayangkan. Perlu digaris bawahi bahwa apa yang akan saya ceritakan hanya terbatas yang terjadi di Barat, semata-mata sebagai penekanan genealogi term ‘Modern’ itu sendiri, yang dilanjutkan sampai Post-truth, dalam kaitannya dengan ilmu-ilmu.

Istilah ‘Modern’ baik sebagai era maupun sebagai gerakan pemikiran yang berkembang di Barat, cikal bakalnya dimulai sejak Renaissance, ketika ilmu pengetahuan mulai berpisah dari agama. Pemicunya adalah pertentangan tafsir kosmologis antara penjelasan geosentris gereja dan teori heliosentrisme milik Copernicus yang selanjutnya dikukuhkan oleh observasi kealaman Galileo. Sejak itu hubungan antara gereja dengan para pemikir ilmu-ilmu menjadi kurang akrab, meskipun berabad-abad setelahnya masih banyak yang menyandang gelar pendeta sekaligus ilmuwan atau filsuf. Lalu geliat modernitas ini juga muncul dari kalangan seniman musik, baik liturgikal maupun yang sekular, nama-nama seperti Bach dan Vivaldi.

Jika kita membaca sejarah pengetahuan di Eropa, sudah maklum bahwa sekitaran abad 16 M hingga 18 M, terjadi perdebatan panjang dalam bidang ontologis-epistimologis antar para pemikir Eropa, utamanya Rasionalisme Prancis dan Empirisisme Inggris. Pastinya kita sudah tidak asing dengan René Descartes, Francis Bacon, Newton, Hume, Spinoza, dan lain-lain. Kemudian perselisihan mereka itu berlanjut dengan pendamaian dua mazhab besar epistemologis lewat  kritisisme Jerman yang dipelopori oleh Immanuel Kant. Lalu kajian dan aliran filsafat di Barat selanjutnya kian bercabang dan berkawin silang.

Dalam bidang sosial-politik, karena ilmu pengetahuan, di samping sastra juga seni berkembang sedemikian pesatnya, muncul gesekan-gesekan dalam masyarakat. Revolusi politik tak bisa dihindari. Persoalan-persoalan, seperti bentuk negara, hubungan antara pemerintah dan masyarakat memerlukan jawaban yang harus bisa memuaskan. Para pemikir dituntut untuk menjelaskan mengapa terjadi ketimpangan ekonomi antara golongan bangsawan dan rakyat jelata, dan bagaimana keluar dari jeratan tersebut. Dari Hobbes sampai Rousseau, mulai Locke hingga Voltaire menawarkan ‘kontrak-kontrak sosial’ untuk memecahkan masalah yang dialami masyarakat Eropa. Ditambah tentunya seruan-seruan yang datang dari para seniman (khususnya aliran Romantik seperti sastrawan Victor Hugo dan Musikus Bethoveen) yang juga menambah wacana perihal kemanusiaan semakin menambah kompleksitas sejarah. Ini adalah bagian awal dari era modern.

Tentu Eropa modern yang sedang muntah ilmu-ilmu itu juga menyimpan sisi gelapnya. Dengan berkembangnya ilmu, berkembang pula rasa ingin tahu terhadap hal-hal di luar mereka. Dimulailah ekspedisi-ekspedisi untuk mengenal dunia lebih jauh. Antropologi dan etnografi awal mengambil perannya dalam menjelaskan keberbedaan budaya yang dianut Eropa (yang menganggap diri mereka maju) dengan budaya suku dan bangsa lain (yang mereka anggap primitif). Sebagai bangsa yang merasa perlu mempromosikan nilai-nilai yang dianut kepada bangsa primitif itu, mereka berkenalan lewat misi perdagangan juga misionari. Pada perkembangannya, ekspedisi itu menjadi kolonialisme dan mencapai puncaknya pada imperialisme. Fakta ini memang menjadi sisi lain modernitas yang tidak bisa dipungkiri.

Revolusi Industri menemukan pemuja dan pembencinya sekaligus pada abad 19. Epik tentang Modernitas episode kedua ini melahirkan teknologi dan ideologi yang melampaui imajinasi-imajinasi sebelumnya. Sains, berkat Postivisme Comte, tersapih dari filsafat dan agama dan pada akhirnya tumbuh tanpa arahan etika, yang tentunya masih dalam domain dua raksasa pengetahuan itu, di mana keduanya masih mempertahankan bidang-bidang metafisis yang dipandang kuno oleh umumnya saintis. Materialisme Feurbach mau tidak mau menggiurkan para pemikir cum aktifis politik seperti Marx, Bakunin, termasuk juga Bentham sehingga keluar dari bayang-bayang Idealisme yang masih kuat pengaruhnya pada filsafat di zamannya, termasuk dari idealisme Hegel. Maka kita tahu perkataan Marx yang sering terlontar, “para filsuf hanya menafsir dunia, bukan mengubahnya” menemukan titik tolaknya di sini. Disisi lain seniman perlahan mulai menyingkir dari polemik sosial.

Pada masa itu, ekses-ekses modernitas mulai menggelisahkan dan menimbulkan kegamangan, meski belum seutuhnya. Namun begitu suara-suara sinis perlahan bermunculan, yang digawangi oleh Nietzche juga para pemikir eksistensialis seperti Søren dan penulis sepeti Tolstoy dan Dostoevsky. Sebagai filsuf yang paling gerah terhadap absolutisme (dalam apa pun bentuknya), Nietzche menihilkan semua nilai-nilai yang dianggap ‘selesai’, bukan hanya dari sains, bahkan juga filsafat dan agama.

Abad 20 yang disemarakkan oleh Perang dunia I kemudian dilanjutkan dengan perang dunia II memang seperti membuktikan prediksi Nietzche akan kengerian totalitas nilai-nilai. Di antara dua perang yang hampir melibatkan banyak negara-negara dari belahan bumi, Timur dan Barat—meski tetap kekacauan utamanya berpusat di Eropa, permenungan hidup lewat seni dan sastra menemukan momentumnya: kemuraman narasi dalam roman  sastrawan Lost Generation; seperti Kafka dan Hemingway, hentakan puisi Ezra Pound, ditambah eksperimen artistik dalam musik dan seni rupa.

Meski celah-celah pengetahuan modern kemudian diperbaiki oleh Positivisme Logisnya Russel dan Wittgenstein, ditambah perbaikan metodik lewat falsifikasi Popper serta penjahitan ‘lubang-lubang sosialnya’nya oleh Mazhab Frankfurt, yang diwakili dari Marcuse, hingga Habermas, tetap saja ‘filsafat kecurigaan’ yang diwasiatkan Nietzche bertemu pewarisnya di tangan-tangan filsuf Eksistensialis dan pemikir yang mendaku dirinya Post-modernis, beserta rekannya di bidang bahasa, yang dalam hal ini kalangan Post-Strukturalis.

Pada hakikatnya Filsafat Post-modern, sebagai (yang kita anggap) gerakan pemikiran baru yang berkembang di paruh kedua abad 20, bukan gerakan yang berjalan serempak. Ada banyak varian dari masing-masing pemikiran yang secara konseptual tidak bertemu satu sama lain. Yang menjadi kesamaan dari mereka tiada lain adalah penolakan atas ‘Logosentrisme’ yang diandaikan selalu membayangi semua pemikiran yang lahir dari modernitas itu sendiri, di samping keberadaan objektifitas yang selalu digaungkan modernisme, yang dalam persepsi kaum Post-modern, akan mengikis penghargaan terhadap ‘liyan’.

Dalam filsafat barat kontemporer, mazhab Modernisme (yang untuk abad 21 ini terwakili oleh para filsuf Anglo-saxon dan Amerika, seperti Chomsky dan penerus aliran Pragmatisme) maupun post-modernisme (yang umumnya dikembangkan di Eropa Kontinetal, sebagaimana bisa dilihat dari filsafatnya Derrida, Lyotard, termasuk Žižek) adalah dua kubu yang masih larut dalam perdebatan sampai saat ini. Tapi keduanya sama-sama mengkritik keras produk-produk modernitas sebagai suatu era. Modernitas memang membawa rahmat dan bencana sekaligus.

Sekularisasi yang dibawa oleh modernitas, yang berakar dari perdebatan teologis sekitaran abad 13-14, memang menawarkan alternatif yang sepertinya adil; bahwa agama, filsafat, dan ilmu (sains) mendapatkan domainnya sendiri-sendiri dan berjalan sesuai relnya masing-masing. Iman agama-agama menyendiri dalam kesunyiannya dengan Tuhan, ilmu mengembangkan diri lewat penemuan-penemuan teknologi, dan filsafat terus mengevaluasi konsistensi baik rasionalitas agama, maupun rasionalitas sains. Memang merupakan fakta yang tak bisa dihindari bahwa beberapa pengkaji dari tiap-tiap ranah ketiga bidang ini kadang saling menegasikan perannya satu sama lain, sehingga perdebatan sengit yang ada sejak dulu terkait triad pengetahuan ini masih berlangsung alot sampai sekarang, apalagi ditambah bahwa ketiganya juga memiliki aliran yang beranak pinak. Tapi jika berbicara mengenai perkembangan pengetahuan, tentu gambaran ini seakan menunjukkan kekayaan yang dianugerahi modernitas pada manusia.

Namun begitu, bencana yang harus dipikul pundak-pundak manusia modern tentunya juga tidak sedikit. Kalau boleh merangkum bencana itu dalam kaitannya dengan tiga penopang kebudayaan manusia yang disebut di atas, yakni agama, filsafat dan sains, adalah sebagai berikut:

(1) Kekerdilan manusia mendapatkan bentuk nyatanya lewat pelampauan teknologi—sebagai produk sains—dari akal budi sehingga manusia modern terasing dari ‘kemanusiaan’ yang nilai-nilainya berasas dari agama juga filsafat, ditambah lagi semakin merenggangnya ilmu alam dan ilmu sosial berakibat pada polarisasi keduanya yang sering kali menimbulkan polemik tak sehat.

(2) Di lain pihak, dengan keberadaannya yang mandiri, keyakinan beragama tak jarang lepas dari realitas, sehingga agama menjadi sangat dogmatis dan anti-kritik. Tak sedikit pula manusia modern yang hanya mengambil aspek spiritualitas agama guna sebagai candu dan pelarian diri dari kegelisahan akibat kekagetan terhadap laju kehidupan duniawi dalam berbagai aspeknya.

(3) Pada sudut yang lain, kebanyakan filsuf melontarkan sinismenya terhadap kebingungan eksistensial manusia modern dengan bahasa-bahasa yang rumit—yang utamanya lebih menonjol dari kaum post-modernis, sehingga evaluasi filsafati atas kehidupan modern rupa-rupanya dianggap ‘omongan tak bermakna’ yang keluar dari seorang yang pekerjaan sehari-harinya hanya ‘berfikir’.

Laju masing-masing ketiga arus ini tak dapat dibendung dan tak dapat dikontrol sekaligus mengontrol ambisi manusia-manusia modern. Pada puncaknya, yang terjadi adalah paradoks-paradoks yang muncul dari ketegangan kondisi kemanusiaan yang melibatkan ‘hubungan gelap’ tiang-tiang peradaban ini. Sebagai contoh, ketika agama bertemu kekuasaan maka melahirkan hipokrasi negara-negara bercorak teokratik, agama berkawin dengan kebodohan akan menghasilkan fanatisme dan terorisme, agama yang digunakan untuk mendapat kekayaan melahirkan ketidakpedulian sosial. Dalam filsafat, sering ditemui propaganda dan ideologisasi berlebihan (filsafat-kekuasaan), kapitalisme (filsafat-kekayaan), relativisme mutlak (filsafat-kebodohan). Dan apa yang terjadi pada bidang ilmu pengetahuan justru lebih mengerikan lagi; pengembangan habis-habisan alat-alat perang, pembodohan nalar publik lewat pembuatan-pembuatan produk teknologi, dan mencapai puncaknya pada era informasi digital dengan rekayasa media.

Lalu di dasawarsa kedua abad 21 ini, dengan kericuhan politik yang terjadi di seluruh penjuru dunia, muncul istilah post-truth yang menggambarkan ketidak-seimbangan antara ilmu pengetahuan, filsafat dan agama. Post-truth sendiri memiliki arti, bahwa kebenaran—yang dalam hal ini adalah fakta objektif—tidak berguna dalam menentukan sikap sosial dalam merespon setiap kejadian. Istilah ini digunakan mulanya untuk menandai gejala pertarungan politik identitas yang berlangsung di Barat dengan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika yang berpegang pada konservatifisme politik Partai Republikan, juga keluarnya Inggris, yang pada periode ini dinakhodai Brexit, dari Uni Eropa, serta simpang-siur ‘kebenaran’ yang terejawantah dalam kasak-kusuk media sosial.

Gambaran singkat ini mungkin masih belum mencukupi untuk memasuki poin kritik saya pada tulisan tersebut. Oleh karenanya saya akan masuk pada bagian kedua, tentang hubungan sejarah di atas dan penggunaan istilah yang—sebagaimana saya singgung sebelumnya—sering menjadi masalah sendiri dalam kajian filsafat dan ilmu sosial.

Antara Post-modernisme dan Post-Truth; Kerancuan Terminologis

Pada wacana yang dikembangkan oleh Kawan Arifin terkait post-truth sebagai alternatif, sebagai pijakan awal, hipotesis yang ingin saya kemukakan terlebih dahulu adalah, apa yang dianggapnya sebagai post-truth dalam tulisannya, jika menyimak uraian di atas, pada dasarnya adalah pemikiran yang diusung oleh kalangan post-modernis. Di sini penting untuk memahami—secara global—hubungan modernitas, modernisme dan postmodernisme, sebelum lebih jauh berbicara mengenai post-truth itu sendiri—entah kita menganggapnya hanya sebagai gejala sosial semata atau sebentuk metode merespon realitas (yang lebih dikhususkannya dalam ruang seni).

Franz Magnis Suseno dalam buku Pijar-Pijar Filsafat, menggambarkan dengan sistematis bahwa, pemikiran modern mensyaratkan adanya (1) subjektifitas manusia, dalam arti manusia menyadari dirinya sebagai subjek yang sedang mencari hakikat realitas. Dari pembahasan yang bersifat kosmosentris (pada era Yunani) menuju teosentrisme abad pertengahan sampai antroposentrisme Renaissance. Petualangan rohani dan intelektualitas manusia membawanya pada permenungan atas diri sendiri, di sini manusia menjadi subjek sekaligus objek dari dirinya sendiri.

Subjektifitas itu lalu menuntut manusia untuk bersikap (2) rasional dengan pengaduan argumentasi-argumentasi tradisional serta membayangkan adanya kemungkinan baru dalam memperoleh pengetahuan lalu mengujinya dengan kritisisme yang rasional, maka dengan menyangsikan pengetahuannya sendiri sekaligus membuktikan keabsahannya, pemikiran manusia—yang dalam hal ini mewujud dalam filsafat modern—bersifat (3) reflektif. [Frans 218:2015]

Refleksifitas filsafat modern tampak dalam kenyataannya yang bersifat dialektis: ia selalu membutuhkan lawan, antitesa. Dalam hal ini jika mengacu pada perkembangan pemikiran di abad 20, maka gairah kritik yang digaungkan oleh post-modernisme pada kenyataannya adalah bagian dari gaya berfikir modern itu sendiri. Perdebatan antar mazhab yang melahirkan sintesa-sintesa baru mulai Rasionalisme, Empirisisme, Kritisisme, Idealisme Jerman, Idealisme Inggris, Romantisisme Prancis, Positivisme, Naturalisme, Materialisme, Empirisme Logis, Pragmatisme, Eksistensialisme, Fenomenologi, Strukturalisme, Post-Strukturalisme, Mazhab Frakfurt sampai pada pengembangan psiko-analisis Lacanian, menjabarkan secara jelas dialektika yang terus berputar pada pemikiran-pemikiran khas modernisme.

Di sini ada kenaifan yang ditunjukkan oleh kalangan post-modernis karena kecurigaan mereka terhadap ‘logosentrisme’ yang dianggapnya menggerus narasi-narasi kecil. Memang dalam sejarahnya ada perebutan ‘kebenaran’ yang berangkat dari usaha mereduksi pengetahuan oleh salah satu pihak pada bentuk tertentu yang dianggap absolut. Tapi semua itu bermula dari kekeliruan klasifikasi (dalam bahasa Socrates) antara universalitas dan partikularitas, yang pada akhirnya kekeliruan tersebut dibenahi oleh dialektika sejarah. Dan para pemikir post-modernis (yang sebagian besar berlatar belakang sastrawan atau kritikus sastra), justru memisahkan pertalian objektifitas-subjektifitas manusia dan membatasinya pada subjektifitas belaka. Mereka memberi perhatian lebih pada ‘narasi-narasi kecil’ dan menaruh kecurigaan besar pada narasi besar—yang menampakkan wujud materialnya dalam cita-cita sosial modernis, seperti sosialistik, liberal, egalitarian, dst.—dengan kecurigaan mutlak yang sangat subjektif.

Menarik jika langsung mencontohkan perbedaan pandangan tentang narasi ini pada kasus William Bone, seorang narapidana yang dieksekusi tanggal 22 Februari 1996, di Penjara St. Quentin, California, atas dakwaan menyiksa pelan-pelan sampai mati 14 anak laki-laki demi kenikmatan memperoleh seksual. Narasi aneh yang tak jarang muncul dari kalangan Post-modernis adalah: “mengapa Bone tak boleh menghayati seksualitasnya seperti orang lain? Kalau caranya aneh, bukan justru di situ keunikannya?” Atau misalnya dari pihak Johnny, si anak yang disiksa, si anak ketakutan setengah mati waktu ditangkap Bone, mulutnya disumbat sehingga tak dapat berteriak, muncul perasaan putus asa, ngeri, lalu ia dipotong hidup-hidup, bagian-demi bagian, sampai akhirnya mati dalam waktu 36 jam. Di sini narasi-narasi kecil yang dibela oleh Post-modernis tidak akan berarti apa pun, jika nilai-nilai—yang dibawa oleh pemikiran modern—justru ditolak. [Franz 222:2015]

Lebih lanjut, jika ingin memakai metode penelanjangan a la filsuf posmo, penyelewengan yang terjadi di era modern, tak jarang menemukan pembenarannya lewat narasi-narasi post-modernitas itu sendiri, sebagaimana desas-desus yang berkembang pada perang dunia II bahwa Adolf Hitler, pioner fasis Jerman tak dinyana terinspirasi dari Ubermensch-nya Nietzsche.

Jasa postmodernisme, dalam pada ini, agaknya terbatas pada berapa hal saja, di antaranya membantu proses dekonstruksi ideologi, nilai, dan klaim-klaim ‘kebenaran’ agar kembali ke jalur yang menjadi cita-cita masyarakat  modern itu sendiri. Di samping itu, penghargaan terhadap ‘liyan’ bisa melebarkan perspektif hingga pengujian teori dan metode ilmiah mendapatkan pendasarannya yang kokoh. Di samping tentunya, kajian kritik sastra dan hermeunetik mendapatkan kekayaan tekstual dan kontekstual sekaligus. Lebih jauh, konsep ‘nihilisme’ yang berkembang dalam pemikiran beberapa kalangan Postmodernis, bisa digunakan untuk membongkar nihilisme dalam kenihilannya sehingga tak ada yang tersisa sama sekali dari nihilisme itu sendiri, seperti yang dilakukan Baudrillard—metode ini yang disebut Hizkia Yosie Polimpung sebagai nihilisme aktif. Dari ilustrasi ini kiranya jelas, bahwa yang ditawarkan Kawan Arifin adalah wacana yang sejatinya mirip dengan apa yang sudah dikembangkan dalam tradisi filsafat bercorak Post-modernis. Meski boleh jadi klaim ini masih memerlukan pengujian lebih lanjut.

Bagaimana dengan Post-Truth?

Ada cerita yang sudah masyhur yang dilekatkan kepada Socrates, yang saya kira bisa digunakan untuk menguraikan gejala post-truth ini:

Suatu hari kawan karibnya mendatangi Socrates. Ia bertanya, “Socrates, tahukah engkau tentang cerita terbaru dari salah seorang temanmu?” Socrates tersenyum, lalu berkata, “Sebelum engkau bercerita. Saya punya tiga ujian untukmu!”

“Ujian apa?”

“Yang pertama adalah Ujian Kebenaran. Apakah engkau yakin seyakinnya, bahwa apa yang akan engkau sampaikan padaku ini, memang benar terjadi?”

“Tidak. Aku hanya mendengarnya dari orang lain”

“Engkau tidak yakin?”

Kawan Socrates menggeleng

“Selanjutnya, ujian kedua, Ujian Kebaikan. Apakah kabar yang hendak kau sampaikan, adalah kabar yang baik tentang temanku?”

Muka orang itu menjadi merah, ia pun kembali menggeleng.

“Tidak. Malah sebaliknya.”

“Artinya kabar buruk dan jelek, yang kamu sendiri tidak yakin akan kebenarannya?”

Teman Socrates menjadi tersipu-sipu dengan ucapan Socrates yang menohok.

Socrates melanjutkan, “Ujian yang terakhir, yaitu Ujian Kegunaan. Apakah kabar yang hendak kau sampaikan kepadaku adalah kabar yang berguna?”

Dengan suara perlahan kawan Socrates menjawab, “Barangkali, memang tidak ada gunanya buat engkau.” Lalu Socrates menimpali, “ Kalau engkau hendak menyampaikan kabar padaku yang belum tentu benar, belum tentu baik, dan belum tentu berguna, apa gunanya kabar itu bagiku?”.

Dalam cerita di atas ada tiga lapis fungsi dari informasi: Benar, Baik dan Berguna. Dalam permasalahan filsafat, baik bagi modernis dan (post-)modernis, ketiga nilai ini masih menjadi diskursus yang penting. Post-modern, seliar apa pun mereka menganggap suatu fakta yang teramati—fakta objektif (dalam hal ini dibahasakan dengan ‘teks’), dan sebebas apa pun mereka memerdekakan teks dari pengaruh apa pun yang boleh jadi menempatkannya dalam jebakan-jebakan simulakrais.teks tetap ada pada dirinya sendiri. Ia adalah ‘kebenaran’ yang teramati.

Kalau saya boleh mengaitkannya pada cerita Socrates di atas, seorang penganjur posmo sudah melewati ujian pertama, tentang Yang Benar. Permasalahan yang mungkin akan diketengahkan oleh para Post-modernis adalah ujian kedua dan ketiga, dalam hal ini yang baik dan/atau yang berguna menjadi bahan yang akan diproblematisasi lewat filsafat kecurigaan, bahkan perspektifisme Nietzscheian. Meskipun menggabungkan antara cerita Socrates dan Nietzche akan menimbulkan polemik yang hebat seandainya mereka berdua hidup (Nietzche adalah anti-socratik garis keras!)

Dalam pendekatan lain, lewat dekonstruksi Derridean (kalau saya tidak keliru memahami), boleh jadi pada ujian pertama, perihal kebenaran, karena kesetiaannya pada ‘Liyan’, jika diandaikan bahwa (a) adalah narasi, maka diperlukan narasi (b), (c), (d), agar (a) menjadi (A), sehingga (A) dapat dibaca sebagai (A), dan selanjutnya didekonstruksi dan menghasilkan pembacaan yang mempertahankan/mengubah (a), (b), (c), (d). Atau (a) adalah (A), maka ia juga bisa dibaca (a), (b), (c) atau (d). Dan masing-masing (a), (b), (c), (d) akan didekonstruksi kebernilaian lanjutnya pada ujian 2 dan 3.

Atau seandainya si kawan ini adalah seorang Post-modernis, sebelum ia memberitahukan berita itu pada Socrates, terlebih dahulu ia akan mencurigai kabar yang ia terima, karena ciri seorang Post-modernis, jika kita hendak membedakannya dari pemikir modernis dengan cara yang amat ‘stereotipikal’, ada dua tipe: pencuriga atau determinis (keduanya sama-sama total dalam keciriannya).

Perlu dicatat bahwa saya belum dapat memastikan faktualitas pembacaan saya atas Derrida, yang dari awal ia memang menahbiskan ‘keunikan yang hanya sekali hadir’ dari suatu pembacaan. Begitu juga kesahihan kesimpulan saya atas Post-modernis secara umum (atau juga kesahihan pandangan post-modernis itu sendiri!), mengingat lelucon Alan Sokal, seorang filsuf analitik, yang menunjukkan kekacauan intelektualitas kalangan posmo. Begitu juga gebukan Carnap atas tata bahasa yang digunakan oleh Heidegger. Setidaknya demikian informasi yang pernah diulas oleh Martin Suryajaya.

Masuk dalam term ‘Post-truth’, perhelatan semacam ini tak ditemukan. Post-truth ialah kondisi yang dialami kawan yang hendak memberikan informasi itu kepada Socrates, karena beberapa faktor. Versi lengkap cerita ini ada beberapa riwayat, namun saya masih meragukan validitasnya. Jelasnya, seorang kawan ini menerima kabar begitu saja, dan hendak melanjutkan kabar itu kepada Socrates karena tujuan yang pribadi dan emosional demi kepentingan dan kesenangan si kawan itu sendiri.

Dalam dunia perkabaran yang sederhana, sebelum media berkembang sampai menjadi seperti sekarang, Post-truth bisa menjalar lewat gosip-gosip dan propagada yang disebar dari mulut ke mulut. Jika mengandaikannya dalam psikologi Ivan Pavlov, hasrat dan kepentingan masyarakat sudah terbentuk oleh lingkungan lewat propaganda dan desas-desus, katakanlah dalam politik, sehingga teori Stimulus dan Respon mewujud dalam keputusan-keputusan yang diambil oleh masyarakat itu dalam merespon sesuatu.

Ia menjadi post-truth atau yang melampaui kebenaran karena terlepas dari fakta objektif tersebut benar atau salah. Emosi mengatakan benar, maka ia harus dituruti. Dalam hal ini apa yang disampaikan oleh Kawan Arifin benar bahwa post-truth dengan maknanya yang harfiah sudah ada di “suatu zaman yang entah.” Ia mengkontekstualisasikan dirinya di era informasi ini karena faktor-faktor yang memiliki keserupaan pada tiap masa di mana ‘kebenaran tak lagi berarti’.

Dalam arti yang paling lugas, post-truth bukan kegiatan pemikiran. Ia adalah respon spontan, yang karenanya tidak bisa dianggap bermakna dalam mendekati gejala, termasuk di dalamnya adalah seni. Sekalipun seni adalah hal yang bagian-bagiannya sarat subjektifitas. Dan sebagai catatan tambahan adalah bahwa term ‘post-truth’ sendiri masih ada kemelekatan dengan peristiwa politik dan perdebatan-perdebatan di dalamnya yang berasaskan framing dan fallacy, bahkan tak jarang berpegang pada data palsu (hoax). Kata ini 2016 lalu saat masa-masa Pemilu di Amerika menemukan tempatnya dan tidak terlepas dari maksud awal permunculannya pada tahun 2010 saat kali pertama kata itu digunakan oleh penulis Blogger Amerika, David Roberts, di majalah online non-profit, Grits.

Menyoal Konsepsi ‘Post-truth’ Kawan Arifin, Catatan Penutup

Sebagaimana saya sebut di muka bahwa letak persisnya kesalahan Kawan Arifin adalah konsepsinya pada term post-truth ini. Di paragraf ketiga, ia menghubungkan penolakan post-truth atas objektifitas dengan perspektifisme Nietzche dan menambahkannya dengan ungkapan yang jika dimaknakan: “objektifikasi mengganti mitos lama tentang kebenaran dengan mitos baru yang bernama ‘logos’.”

Filsafat Nietzsche memang filsafat palu (kata Nietzsche sendiri). Makanya eksistensial nihilisme-nya sering digadang-gadang sebagai ‘genealogi kecurigaan’ yang berdiaspora dalam tradisi Postmodernisme. Tapi jika kita membayangkan sinisme seorang Nietzsche sebagaimana tertuang dalam karya-karyanya, termasuk yang disebut yaitu Beyond Good and Evil (juga Also Spracht Zarathustra tentu saja), sebagaimana Baudrillard, Nietzche adalah seorang nihilis aktif yang menghancurkan nihilitas yang dibawa oleh kemajuan modernitas, sehingga nihilisme memiliki maknanya di sini. Agaknya kelemahan saya di sini adalah, saya mendekati Nietzche tidak dengan cara pandang Nietzcheian (Post-modernistik!).

Terkait pengaitan yang terburu-buru antara post-truth dan peristiwa pencatatan hadis. Hadis-hadis fadhailul a’mal (laku yang dianjurkan) yang tak jarang menyiratkan ganjaran-ganjaran menggiurkan bagi orang beriman (terlepas hadis itu sahih atau bahkan hoax), ada lompatan logika yang nantinya juga berujung pada miskonsepsi yang saya jelaskan di atas. Ada pencampuran antara nilai yang dibawa dari suatu ‘teks tak jujur’ dengan keberadaan post-truth yang tak boleh dilepaskan dari teks itu sendiri. Jika menganalogikan pada cerita Socrates, hoax jenis ini hanya lolos pada nilai yang dibawanya saja dalam ujian kedua dan ketiga. Pada ujian awal ia tak bisa diterima, dan implikasinya bukan kembali kepada nilai yang dibawanya itu, tapi pada taraf ‘kebenaran’. Dan si perawi hadis mendapat sanksi karena melakukan dua kesalahan sekaligus: sanksi agamawi, yang dalam hal ini menisbatkan suatu kebohongan pada Nabi Saw., dan sanksi sosial, di mana kredibilitasnya sebagai periwayat (seandainya ia memang periwayat) akan hilang. Dalam pada itu hadis-hadis yang sampai ke masyarakat lewat ingatannya, betapapun sahihnya akan berresiko tak diterima.

Pada ranah puisi, yang mana Kawan Arifin mempunyai kapasitas lebihnya di situ, puisi bernalar post-truth justru kehilangan pijakannya. Puisi di titik ini hanya akan menjadi celoteh dan curhatan tak bermakna karena tak ada permenungan, pengendapan emosi dan mimesis yang justru pada hakikatnya menjadi unsur paling diperhitungkan dalam proses cipta puisi. Saat post-truth bermain di ranah yang ‘sakral’ ini, puisi menjadi banal dan kehilangan estetikanya. Lantas bagaimana ia bisa disandingkan dengan filsafat, sebagaimana perlakuan Heidegger terhadap puisi, jika puisi sendiri kehilangan nilai?.

Kegilaan Qais, menurut saya tidak bisa disamakan dengan gejala yang dialami oleh pengidap ‘post-truth’, sama halnya dengan ujaran-ujaran Surealistik kaum Sufi. Pada dasarnya ini sudah bukan cakupan ‘ilmu-ilmu’, tapi jika mengandaikan lewat pendekatan tasawuf, kegilaan dan kerinduan itu memiliki rasionalitasnya sendiri. Post-truth dilahirkan dari respon yang terkondisikan dalam ruang waktu, di mana ketika ruang dan waktu itu menghilang, pemikiran tentang (a) memiliki kemungkinan berubah menjadi (b). sedang kegilaan yang tulus, seperti yang terilustrasikan dari puisi Qais dalam tulisan Kawan Arifin, idea akan kebenaran itu sendiri sudah lepas dari ruang waktu, bahkan keterlepasan dari ruang waktu menjelma menjadi kebenaran itu sendiri. Ia tidak melihat yang lain selain objek. Ia tak muncul dari situasi respon.

Lalu apa yang berbahaya dari post-truth?

Logika post-truth adalah logika sofisme yang tumbuh di Yunani dalam benak sebagian cendekiawan Athena. Pada situasi yang kritis, post-truth bisa membawa kembali pemikiran modern ke relativisme zaman Pra-Sokratik. Semua menjadi tak bermakna. Semua menjadi tak bernilai. Dalam tulisan Kawan Arifin, saya tidak menemukan tendensi itu, sehingga kesimpulan saya masih sama bahwa, ini hanya masalah miskonsepsi tentang term. Sebagaimana pikiran Rocky Gerung saat acara ILC, mengomentari soal Hoax dan Saracen, bahwa “hoax bisa digunakan untuk memunculkan cerita-cerita faktual yang tak keluar dari pihak pemerintah.” Dan “naikkan IQ, maka Hoax pun turun.” Tak lebih dari retorika yang intinya adalah kewaspadaan terhadap framing dan berita-berita di media apa pun. Tapi karena terlalu  ‘mementingkan retorika’ tanpa memeriksa logika perkataannya, akhirnya Rocky Gerung dan perkataannya menjadi bahan olokan masing-masing Buzzer di Indonesia.

Di sini pertanyaan pada judul akan kembali saya tanyakan di akhir tulisan ini, “Bisakah menjadikan Post-truth sebagai alternatif pembacaan?” saya rasa jawabannya sudah jelas.

Daftar Bacaan

Magnis Suseno, Franz, 2015, Pijar-pijar Filsafat, dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan, dari Adam Mȕller ke Postmodernis, Jogja: Kanisius.

Blackburn, Blackburn, 2008, The Oxford Dictionary of Philosophy, Oxford: Oxford University Press

Chan, Steven (ed.), 1999, Classics of Western Philosophy, Indianapolis, Hacket Publishing

Yosie Polimpung, Hizkia; Suryajaya, Martin; Mulyanto, Dede, Artikel-artikel Filsafat dan Logika di indoprogress

Liputan-liputan tentang hoax di tirto

Ulasan-ulasan tentang post-truth di sini

Episode ILC, Halal-haram Saracen 9 Agustus diakses di youtube

Ceramah-ceramah Filsafat Karlina Laksono Supelli diakses di youtube

Kamus Oxford online

Facebook Comments
Bagikan konten: