Menghayati Budaya Keagamaan

Bagikan konten:

Dari sejumlah buku tentang analisis sejarah, saya  mendapati bahwa satu budaya keagamaan tidak bisa dilepaskan dari budaya keagamaan yang lain. Ada sesuatu yang senantiasa terhubung di antara budaya-budaya itu. Kadang hubungan dan keterkaitan itu begitu terang, kadang pula samar-samar, tertindih oleh perbedaannya yang menggunung.

Karenanya, pembacaan budaya keagamaan yang hanya mengandalkan aturan agama itu sendiri akan mengantarkan pada pembacaan yang kaku. Bahkan, seluruh metode yang mencoba mendekati budaya keagamaan dengan pendekatan objektif hanya terlihat seperti seperangkat instruksi yang tegas namun tumpul.

Bisa dikatakan, bahwa memahami budaya keagamaan yang lain merupakan kata-kata kunci dalam pembacaan hubungan antar agama. Dari yang saya pahami, budaya keagamaan adalah tanda pengenal dan identitas dari agama itu sendiri. Pada hakikatnya, budaya keagamaan yang berarti aturan dan etika agama yang terejawantah dalam kehidupan pemeluk agama, sering kali menjadi bias budaya dari luar agama itu sendiri. Kehadiran budaya keagamaan mengisyaratkan bahwa aturan dan etika agama itu telah menjadi bagian gaya hidup masyarakat setempat. Dan yang menjadi pertanyaan, bagaimana posisi ‘budaya keagamaan’ ini ketika hadir agama yang lain di tempat itu?

Seseorang baru benar-benar bisa merasakan keindahan dan kebesaran agamanya, ketika ia menyerahkan totalitas diri dengan segala kesadaran yang dimilikinya untuk memahami aspek-aspek yang mengelilinginya. Sebab agama bukan hanya sekedar deretan aturan, namun sebuah kereta yang diturunkan oleh Tuhan dengan pernak-pernik yang menempel di sekelilingnya. Dan seorang yang beragama baru bisa melihat jejak dan jalan yang akan ditempuh kereta itu ketika ia membuka pikiran dan hatinya.

Hal semacam itu memang terkesan terlalu muluk, berlebihan dan dramatis. Akan tetapi kita tak boleh berpura-pura memberikan wajah penuh antusias ketika seseorang menjelaskan panjang lebar tentang agama padahal kita tidak memahaminya sama sekali. Atau pun kita tidak boleh sok pintar memberikan komentar terhadap permasalahan agama padahal kita belum ‘tuntas’ dalam memahaminya. Kenapa? Sederhana, karena berpura-pura dan menganggap dirinya paling tahu bukanlah etika yang baik.

Dalam beragama, seseorang harusnya tidak bertujuan untuk memberikan kepuasan dan menjustifikasi seseorang, namun bagaimana ia bisa melahirkan respon terhadap peristiwa dengan suatu perilaku yang baik. Karenanya, seorang pembaca buku-buku keagamaan tidak boleh berhenti pada fakta dan aturan, ia harus menguak hakikat emosional dan makna, dan itu menurut saya bisa dilakukan, salah satunya dengan membaca budaya keagamaan yang lain. Dengan kata lain, ada hakikat luhur yang harus dikuak oleh seorang yang beragama tentang kaitan antar budaya keagamaan. Hakikat ini tidak akan terkuak bagi orang beragama yang malas nan pasrah. Untuk membuktikannya, saya akan menukilkan tentang Al-Thabari yang dalam tafsirnya yang menukil Taurat dan penjelasannya untuk memaparkan lebih jauh tentang makna al-syajarah dalam kisah Adam dan Hawa yang memakan buah khuldi.

Penjelasan tentang aneka pohon berbuah yang dilarang untuk Adam dan Hawa tidak tercantum secara rinci di dalam al-Quran. Lalu untuk memaparkan lebih jauh ayat tersebut, Al-Thabari meriwayatkan kisah itu dari Wahab bin Munabbih yang banyak mengetahui tentang riwayat Israiliyyah. Wahab bin Munabbih sendiri mengambilnya dari Taurat dan penjelasan-penjelasannya.

Ketika Al-Thabari menafsirkan ayat tentang kisah Adam dan Hawa dengan ayat yang ada dalam al-Quran saja, ia mendapatkan informasi yang sangat minim. Tapi ia membuka pikirannya lebih jauh dan mendapati gambaran kisah yang lebih rinci. Meski pun itu dalam Taurat dan penjelasan-penjelasannya.

Al-Thabari hanya menukil saja kisah itu. Ia tidak memberikan kepastian tentang kebenaran kisah dari Taurat itu. Meski begitu, kita bisa melihat ada hubungan dan keterkaitan antara Islam dengan agama samawi sebelumnya. Ada budaya keagamaan yang bercerita hampir serupa; tentang nabi-nabi pendahulu dan kisah-kisah lampau untuk umat yang akan mendatang.

Banyak ayat di dalam al-Quran yang mendorong kita untuk beriman kepada Nabi dan Rasul terdahulu serta kepada kitab-kitabnya. Saya memandang bahwa perintah itu mendorong para penganut agama saling memahami agar bisa saling menghayati budaya keagamaan yang lain.

Membaca budaya keagamaan tidak bisa dilakukan dengan terburu dan asal baca. Membaca budaya keagamaan yang lain adalah upaya memahami yang membutuhkan penghayatan dan konsentrasi. Karena saya ragu jika ada seseorang yang membaca sejarah hubungan antar budaya keagamaan kemudian secepat itu pula ia menyimpulkan kesannya terhadap keterkaitan keduanya, kecuali bagi manusia dengan kelihaian di atas rata-rata. Karena sebagian orang memang memiliki pembacaan yang luar biasa, hanya dalam satu cecapan, ia sudah bisa memahami bahwa antar budaya keagamaan pasti memiliki keterkaitan.

Oleh karena itu yang harus digarisbawahi adalah bahwa budaya keagamaan yang kita bincangkan bukanlah sesuatu yang secara pasti harus kita setujui. Membaca budaya kebudayaan yang lain adalah melatih terus menerus, menelaah dan memperkaya wawasan terhadap agama itu sendiri. Dengan begitu, barangkali kita bisa menjadi lebih ilmiah dan rasional, serta bisa menilai yang lain dengan penilaian yang bijak.

Facebook Comments
Bagikan konten: