Menggapai Pengetahuan yang Absolut dari Keniscayaan Kontingensi, Mungkinkah?

Bagikan konten:

Konsep filsafat modern sejak Kant adalah tentang korelasi.

Kalimat kunci Quentin Meillassoux, filsuf Prancis kontemporer sekaligus murid dari Alain Badiou ini, akan membuka diskursus kita mengenai keniscayaan kontingensi. Apa itu kontingensi? Sebelum menjawab ini ada baiknya kita mulai dari jejak kritik Meillassoux atas filsafat sejak Kant. Semenjak Kant menyatakan bahwa benda pada dirinya sendiri (das Ding an sich) tidak mungkin diketahui, maka yang kita ketahui selanjutnya hanyalah fenomena, atau benda sebagai yang tampak pada kita, bukan nomena, benda pada dirinya sendiri. Filsafat sebelum Kant adalah filsafat yang berusaha menggapai pengetahuan absolut tentang substansi. Sejak Kant, bukan lagi perkara penting apa itu substansi, tapi tentang bagaimana dan siapa yang mampu menangkap korelasi antara benda yang nampak dan subjek yang menangkap benda itu. Mari kita simak sendiri suara Meillassoux dalam bukunya After Finitude, An Essay on the Necessity of Contingency (saya salin dari Matrealisme Dialektis, Martin Suryajaya, Resist Book, 2016). Meillassoux menulis:

“Awalan ‘ko-’ [atau ‘kesaling-an’] (dalam kesaling terberian [co-givennes], kesaling-hubungan [co-relation], kesaling-mulaan [co-orginary], kesaling-hadiran [co-presence] dan sebagainya) adalah partikel tata-bahasawi yang mendominasi filsafat modern […]. Demikianlah, kita dapat mengatakan bahwa sampai sebelum Kant, satu dari antara problem-problem utama filsafat adalah berpikir tentang substansi, sementara sejak Kant, [problem] itu terdapat dalam pemikiran tentang korelasi. Sebelum kedatangan transendentalisme, satu di antara pertanyaan-pertanyaan yang membelah para filsuf secara mendalam adalah siapa yang menangkap hakikat yang sejati dari substansi? Apakah ia yang berpikir tentang Idea, individu, atom, Tuhan? Tuhan yang mana? Namun sejak Kant, menemukan apa yang membelah para filsuf […] adalah bertanya tentang siapa yang telah menangkap korelasi yang lebih asali: apakah pemikir tentang korelasi subjek-objek, korelasi noetiko-noematik, ataukah korelasi bahasa-acuan? Pertanyaannya bukan lagi ‘manakah dasar [substrat] yang sesungguhnya?’ melainkan ‘manakah korelasi yang sesungguhnya?’”

Filsafat semenjak Kant kemudian disebut korelasionisme. Ambisinya adalah untuk menemukan kesejatian korelasi, baik melalui modus filsafat fenomenologi (Husserl), filsafat analitik (Wittgenstein), filsafat eksistensialis (Heidegger, Sartre), maupun filsafat bahasa (Derrida). Hasil akhir korelasionisme adalah filsafat hanya mungkin menjangkau apa yang diasumsikan ada menurut kesadaran. Sementara ada-pada-dirinya-sendiri menjadi sebuah misteri yang tak terpikirkan dan tak mampu dijangkau pikiran. Meillassoux membagi korelasionisme menjadi dua: (1) korelasionisme lemah (KL), dan (2) korelasionisme kuat (KK). Yang pertama merupa dalam Transendentalisme Kantian, yakni meskipun das Ding an Sich tidak bisa diketahui secara pasti, namun kita masih bisa memikirkannya secara rasional, dan bahwa ia tidak kontradiktif. Yang kedua, yaitu KK, membantah kemungkinan untuk memikirkan das Ding an sich sebab tak ada relasi apapun antara pikiran kita dengan hakikat benda itu. Proyek filsafat Meillassoux berupaya menjangkau apa yang dinegasikan oleh KK, bahwa benda pada dirinya sendiri inilah yang mengandaikan tidak adanya pengamat dan oleh sebab itu ia bersifat non-korelasionis.

Sampai mana mukadimah akan diberikan untuk menuju kontingensi yang dimaksud dalam esai ini? Kita akan melangkah sedikit lebih pelan agar maksud yang ingin saya sampaikan bisa diterima dengan utuh. Setelah berusaha meruntuhkan korelasionisme, proyek filsafat Meillassoux selanjutnya berusaha menggapai benda tanpa intervensi kesadaran manusia, atau benda bagi diri kita. Realitas absolut menurut Meillassoux adalah entitas tanpa pikiran. Problemnya: bagaimana menjangkau entitas-tanpa-pikiran itu jika seaindainya kita memikirkannya maka ia menjadi entitas-setelah-dipikirkan? Meillassoux menjelaskan bahwa KK memuat dua pilihan yang melandasinya. Pilihan pertama lumrah dipegang oleh semua korelasionisme, yakni tak tepisahkannya antara pemikiran dengan isinya; yang dapat dipikirkan adalah apa yang terberi bagi pikiran. Pilihan kedua adalah absolutisasi korelasi, yaitu, jika benda-pada-dirinya sendiri adalah tidak terpikirkan, maka kita bisa membuang benda itu dan yang tersisa hanyalah korelasinya. Korelasi diasumsikan absolut, tanpa lagi memikirkan benda yang memungkinkan ada bagi-manusia. Korelasionisme kuat (KK) berakhir pada faktisitas korelasi yang perlu dibedakan dari kontingensi. Martin Suryajaya menyimpulkan:

“Faktisitas ini mesti dibedakan dari kontingensi: sementara kontingensi menandai fakta bahwa adanya hukum fisika tidak menjamin terjadi/tidaknya suatu peristiwa, faktisitas mengacu pada tetapan-tetapan (les invariants) yang diandaikan menstruktur dunia. Tetapan struktural itu adalah sistem organisasi representasi yang menyediakan stabilitas minimal bagi penampakan, misalnya prinsip sebab-akibat, hukum-hukum logika, bentuk persepsi dan lain sebagainya.”

Faktisitas menghendaki adanya suatu hukum tetap yang melekat pada suatu benda atau semesta secara umum, meskipun kita tidak tahu apa hukum tetap itu dan tidak bisa mencari alasan keberadaannya. Sedangkan kontingensi justru mengacu pada absennya struktur yang mengikat, sistem yang melandasi semua kejadian. Meillassoux membedakan antara faktisitas dan kontingensi tetapi kemudian ia meradikalkan faktisitas sebagai suatu keadaan tanpa alasan. Ia melakukan dua radikalisasi sekaligus, pertama mengabsolutkan faktisitas, dan kedua meniscayakan kontingensi. Absolutisasi faktisitas terpotret dari pernyataan bahwa ‘adalah niscaya secara absolut bahwa setiap entitas adalah mungkin untuk tidak eksis’. Sementara dari upaya meniscayakan kontingensi, Meillassoux melahirkan prinsip yang ia namai Prinsip Ketakberalasan (principle of unreason) yang berbunyi: “Tidak ada alasan untuk segala sesuatunya ada atau tetap ada sebagaimana ia ada; segala sesuatunya harus dengan tanpa alasan bisa untuk tidak ada dan/atau ada secara berbeda dari yang sebagaimana ia ada sekarang.” (Saya kutip dari Hizkia Yosie Polimpung, Ontoantropologi: Realisme Spekulatif Quentin Meillassoux, Cantrik Pustaka, 2018). Kita harus membedakan antara kontingensi yang dimaksud oleh Meillassoux dengan kontingensi pada taraf empiris sebagaimana lumrah kita kenal.

Pada taraf empiris, benda (yang sudah ada) mungkin untuk menerima kondisi musnah atau menjadi tidak ada lagi. Misalnya, tiga puluh tahun yang lalu, orang bernama Zaid yang hidup di kota A secara kontingen mungkin untuk tidak ada atau ada di masa sekarang. Bukan ini yang dimaksud Meillassoux. Yang dimaksud dengan kontingensi di sini adalah sebuah kemungkinan murni yang karena sedemikian kontingennya sampai-sampai bisa saja tidak terealisasikan. Secara bahasa sendiri, kontingensi, seperti yang diungkap Martin Suryajaya, “berasal dari kata Latin contingere yang artinya ‘menyentuh’ atau ‘menimpa’. Kata ini mengacu pada peristiwa, pada terjadinya sesuatu, terlepas dari kalkulasi atasnya dan dari segala kemungkinan yang teratasi.” Inilah makna kontingensi yang dikehendaki Meillassoux.

Meillassoux tidak berusaha mengabsolutkan suatu entitas karena ia akan terjebak pada sistem yang ditolaknya sendiri, oleh sebab itu solusinya adalah mengabsolutkan kontingensi entitas, bukan entitas itu sendiri. Polimpung menyimpulkan dua Prinsip Ketakberalasan Meillassoux menjadi dua hal: (1) Entitas niscaya adalah mustahil, karenanya kontradiktif, dan (2) Keniscayaan dimiliki kontingensi entitas, karenanya hanya kontingensi yang bisa ada. Dengan akhirnya mengganti faktisitas menjadi faktualitas (sebagai nama bagi pemikirannya), Meillassoux, dalam simpulan Polimpung, ingin mengatakan bahwa “hanya faktisitas yang tidak faktual; yaitu hanya kontingensi sesuatulah yang tidak kontingen pada dirinya sendiri.” Dan “prinsip faktialitas tidak mengatakan bahwa ‘kontingensi itu niscaya’, tetapi ‘hanya kontingensi yang niscaya.’” Sampai di sini kita akan segera masuk ke inti pembahasan.

Jika dilihat lebih dalam, pengandaian Meillassoux tentang keniscayaan kontingensi bekerja kurang lebih sama dengan hukum Parmenides, bahwa segala hal berubah, dan hanya perubahan itu sendiri yang tidak berubah. Realitas itu bukanlah realitas yang bulat adanya, tetapi realitas adalah menjadi (becoming) dan senantiasa dalam kemenjadian. Kontingensi radikal Meillassoux, jika ingin menjadi suatu teorema yang diterima, ia harus punya aksioma yang memungkinkan teorema itu ada. Apa basis aksiomanya? Ketika menolak korelasionisme, Meillassoux memberikan contoh ungkapan menarik tentang problem purbakala yang biasanya datang dari kaum saintis, misalnya, bahwa “umur semesta adalah 13,5 milyar tahun.” Bagaimana orang-orang korelasionisme menilai pernyataan ini, di saat di mana segala bentuk organisme kesadaran belum tercipta/ada? Pemegang teori kontingensi murni mungkin bisa mengatakan bahwa adanya alam semesta 13,5 milyar tahun yang lalu mugkin ada dan mungkin tidak ada sama sekali. Pengetahuan kita hanya sampai sebatas itu karena segala bentuk kesadaran barulah lahir sekitar 6000 tahun yang lalu, bersama lahirnya manusia. Apakah pengetahuan model ini absolut? Setiap pemikiran tak akan absah dan menjadi suatu pengetahuan jika tak ada yang ajeg, tetap, dan permanen. Apa itu yang ajeg, tetap, dan permanen? Sebuah hukum, dan jika dalam matematika: sebuah aksioma. Dalam Parmenides, yang tetap dari semua yang berubah adalah adanya hukum ketetapan perubahan itu. Saya katakan bahwa jika Parmenides berbicara mengenai ontologi, maka Meillassoux, dengan Keniscayaan kontingensinya, berbicara mengenai epistemologi. Kontingensi absolut, perubahan terus menerus yang tanpa alasan, dalam diri segala sesuatu yang ada dan bahkan sesuatu yang belum ada, agar menjadi suatu pengetahuan, harus mengandaikan adanya hukum yang mengikat, dalam hal ini, keniscayaan perubahan segala hal, baik hukum, entitas, maupun substansi. Apakah dengan begitu Meillassoux terjebak di lingkaran yang ditolaknya sendiri, lingkaran korelasionisme?

Anti-korelasionisme adalah kemustahilan itu sendiri. Kenapa? Jika kebenaran teori keniscayaan kontingensi diterima, maka bukankah teori itu diterima hanya dan sebatas oleh subjek berkesadaran? Apakah ada subjek yang tanpa kesadaran yang sanggup menerima kebenaran bahwa kontingensi itu suatu yang niscaya? Problem keniscayaan, seperti dalam arkeologi pemikiran Islam, adalah hukum akal, bersanding dengan kemungkinan dan kemustahilan. Jika ia adalah hukum akal, lantas akalnya siapa? Bukankah akal subjek berkesadaran? Dalam After Finitude, Mellaussoux mengajukan alternatif matematika sebagai model pengetahuan absolut yang lepas dari manusia. Lalu, kita patut bertanya, matematika modelnya siapa? Melalui kajiannya tentang Meillassoux, Martin Suryajaya menjawab ‘matematika Cantor’, yaitu melalui teori himpunan. Pertanyaannya: apakah teori himpunan Cantor merupakan satu-satunya teori dan tidak mungkin dilawan dengan teori lain di suatu hari nanti? Gagasan Meillassoux mengenai Yang-Absolut hanya mungkin diterima ketika kita menerima teori Cantor. Jika memang ada matematika absolut yang bisa menjamin kebenaran teori Meillassoux, lantas pertanyaannya: apakah matematika adalah sistem yang sama sekali non-korelasionis? Melalui kajiannya tentang Realisme Spekulatif Meillassoux, Hiskia Yosie Polimpung berhasil menunjukkan bahwa matematika pun tidak bisa lepas dari jebakan korelasionisme. Polimpung berkata:

“[B]ukankah matematika adalah buah dari pikiran manusia? Dengan kata lain adalah korelat—lantas, apa yang membuat penggunaan matematika ini tidak lagi mengulang korelasionisme? … Harus diakui, Meillassoux sebenarnya telah memberikan antisipasi akan ini saat mengatakan bahwa yang coba ia lakukan melalui matematika adalah “Cartesian, .. [dan] bukan, ini penting diperhatikan, Pitagorean: klaimnya bukan bahwa ada .. pada dasarnya adalah matematis.”

Dalam After Finitude tak ada jawaban bagi pertanyaan tentang korelasionisme matematika, barulah saat mengisi kuliah umum di Berlin tahun 2012, Meillassoux menyadari betapa persoalan tersebut menjadi penting. Di kuliah itu, Meillassoux juga tidak menjawab keganjilan korelat matematika, dan itu menjadi semacam tugas yang diemban Meillassoux di buku selanjutnya. Di akhir kuliah itu ia membeberkan tugas rumahnya sebagai berikut (dikutip dari Polimpung):

“[T]eka-teki baru yang muncul di hadapan kita adalah sebagai berikut: bagaimana suatu tanda tak bermakna memungkinkan untuk mendeskripsikan dunia, tanpa sekali lagi menjadi tanda bermakna, dan dengannya mampu merujuk suati dunia di luarnya?”

Sungguh berat tugas Meillassoux selanjutnya. Jika ia berhasil menjawab pertanyaannya sendiri, saya kira ia pun akan terjebak di persoalan bagaimana menyampaikan jawabannya itu kepada manusia, makhluk semesta tanda? Dan satu lagi: bagaimana menjelaskan tanda yang tidak bermakna bagi manusia yang selalu menghendaki kebermaknaan? Saya akan berusaha memecahkan persoalan Meillassoux dengan cara memaknai ulang korelasionisme. Tidak benar bahwa korelasionisme muncul semenjak Kant. Menurut saya, Kant hanya mengeksplisitkan bahwa das Ding an sich tidak mungkin diketahui, dan apa yang kita ketahui hanyalah benda sebagaimana yang tampak kepada kita. Filsuf sebelum Kant, jika mereka tidak kaum korelasionis, maka tak akan muncul dari mereka pengetahuan apapun, lebih-lebih pengetahuan yang absolut. Dalam sejarah pemikiran manusia, benda pada dirinya sendiri sudah selalu terpisahkan dari benda sebagaimana yang tampak bagi kita. Hanya saja das Ding an sich itu muncul dengan nama yang lain, kadang disebut hakikat, atau substansi, atau esensi. Hal ini kembali kepada dasariah manusia sebagai entitas yang mungkin itu sendiri.

Kesimpulan saya: semua teori tentang das Ding an sich tidak pernah ada kepastiannya, mereka sesungguhnya selalu berkutat pada korelasionisme. Siapapun filsuf yang berbicara hakikat, atau esensi, atau substansi, adalah senantiasa dalam rangka membicarakan relasi. Ciri-ciri relasi adalah sifatnya yang terbahasakan. Sejauh para filsuf itu membahasakan esensi, sejauh itu pula ia berbicara relasi. Misalnya, ketika Plato berbicata tentang Ide, ia sesungguhnya sedang berbicara tentang relasi ide itu terhadap benda indrawi. Jika yang hakikat adalah ide disebabkan ia tidak berubah, maka ide menjadi mungkin ketika ia berelasi terhadap sesuatu yang bukan ide, dan jika ide ini diketahui oleh manusia, maka yang sebenarnya Plato katakan adalah tentang relasi, bukan esensi.

Apakah dengan demikian saya menjadi korelasionisme kuat (KK) yang menolak semua kemungkinan untuk memikirkan das Ding an sich? Jawaban saya iya, tapi dengan suatu penekanan bahwa hanya KK yang mungkin ada. Kenapa? Jika korelasionisme lemah (KL) itu mungkin, seperti dalam transendentalisme Kantian, maka bukankah upaya untuk memikirkannya sebagai yang rasional dan tidak kontradiktif itu sendiri adalah upaya memastikan (memfiksasi) das Ding an sich itu sendiri dan oleh karenanya jika ia terpikirkan dan terfiksasi maka ia bukan lagi benda pada dirinya sendiri tetapi benda sebagaimana yang kita tangkap? Akhirnya, tibalah saya membuka diskursus lebih lanjut yang jawabannya barangkali ada di tempat lain, yaitu, Wujud yang absolut adalah wujud yang tidak ditangkap oleh pengetahuan apapun, sebab sesuatu yang absolut (mutlaq) adalah sesuatu yang tidak bisa diikat (muqayyad) oleh pikiran manapun. Di sinilah kita perlu membedakan antara yang abslout di ranah ontologi dan ranah epistemologi dan apakah keduanya memiliki korelasi atau tidak, dan jika iya apakah korelasi itu absolut atau tidak.

Facebook Comments
Bagikan konten: