Mengenal Rasionalitas Muhammad Abduh

muhammad abduh
Bagikan konten:

Prolog

Jamak diketahui oleh para intelektual abad ke-20 dan 21, bahwa Muhammad Abduh(*) adalah salah satu pionir dalam gerakan pembaharuan Islam. Perannya begitu sentral dalam menginspirasi generasi sesudahnya agar mengambil spirit yang sama atau bahkan melampaui pencapaian yang sudah digenggamnya abad lalu. Umat Islam sudah sekian lama terkepung oleh mitos-mitos yang irasional. Sehingga daripada itu, mereka tertinggal begitu jauh dalam bidang intelektual dibandingkan Barat yang tercerahkan. Ajaran Islam yang digadang-gadang menjadi inspirasi agung dalam kemajuan, kini seolah-olah kehilangan fungsinya.

Gerakan Muhammad Abduh adalah gerakan rasionalitas untuk menggulingkan kuasa khurafat. Islam menjadi mundur karena para pemeluknya tak mau memaksimalkan fungsi akal. Mereka lebih percaya kepada turats masa lalu daripada akalnya. Mereka lebih nyaman taklid daripada ijtihad sendiri. Salah satu dakwah Abuh adalah dorongan untuk berijtihad. Tak ada kata pintu ijtihad sudah tertutup. Dari tulisan saya sebelum ini (Tentang Agama dan Akal dan Pertentangan Antara Keduanya), saya telah menunjukkan perbedaan antara akal sebagai potensi dengan akal sebagai logika. Tulisan ini berusaha mengenal rasionalitas yang digaungkan oleh Abduh: Apakah ia mengamini rasionalitas doktrinal khas teolog dan filsuf Islam? Ataukah justru ia membebaskan diri dari taklid apa pun termasuk dalam berlogika?

Abduh: Rasionalitas Model Apa?

Bagian ini bermaksud mendeteksi modus-modus rasionalitas Muhammad Abduh. Dalam literatur Islam modern, boleh jadi kecenderungan rasio Abduh dianggap paling radikal. Konsekuensinya: Abduh bisa bebas dari doktrin maupun taklid apa pun. Tetapi bukan berarti Abduh tidak membaca warisan intelektual Islam. Ibn Rusyd mengatakan bahwa kita tidak mungkin untuk tidak membaca literatur terdahulu. Tetapi untuk urusan taklid, itu tergantung seberapa besar kita terpengaruh. Di hadapan tumpukan turats Islam terutama di bidang akidah, Abduh bersikap serupa dengan ketika ia berhadapan dengan fikih, yakni bersikap kritis dan rasionalis.

Abduh berkata: “Dua hal yang tidak bisa dirampas: kebebasan berkehendak dan kebebasan berpendapat dan berpikir.” Kebebasan berpikir dalam arti yang paling asali adalah berpikir tanpa intervensi. Logika adalah salah satu cara mengintervensi akal dan cara berpikir sebab di sana ada kuasa logis. Seolah-olah sesuatu di luar logika dengan demikian tidaklah logis. Hal ini diperkuat dengan adanya permisalan: Sekelompok suku tinggal di sebuah hutan yang tak terjamah peradaban. Kemudian ada salah seorang dari mereka yang mampu menggunakan akalnya untuk sampai kepada kesimpulan bahwa di alam ini, yang serba teratur ini, tidak mungkin tidak ada yang mengaturnya. Kesimpulan ini tak lain adalah karena fitrah setiap manusia adalah homo religious seperti yang diungkapkan oleh Karen Armstrong dalam A History of Gods.

Akal yang dimaksud Abduh adalah akal yang seperti permisalan di atas. Akal yang sejak semula sebagai potensi dasar tiap individu. Dengan demikian, ajakan untuk tidak taklid kepada turats Islam tidak terbatas pada bidang fikih saja, tetapi juga menyeluruh di semua bidang. Hanya saja, cara berpikir ilmu logika berbeda dengan cabang ilmu yang lain. Tidak menutup kemungkinan kaidah-kaidah logika ada yang diterima oleh Abduh karena memang akal budi membenarkannya. Lebih rincinya akan dibahas pada tempatnya nanti.

Abduh berkata:

“Lemahnya akal dipengaruhi oleh beberapa sebab, di antaranya: (1) Masalah fitrah seperti yang terjadi kepada orang yang terkena penyakit lemah akal. Mereka ini tidak dibebani taklif [oleh Syara’]. (2) Masalah kesalahan dalam pendidikan rasionalitas seperti yang terjadi pada para penaklid di mana mereka tidak menggunakan akalnya. Mereka cukup puas dengan apa yang mereka temui dari kaum yang mengedepankan sangkaan dan khayalan… mereka tidak meminta pertolongan kepada Allah dari belenggu hijab [tersebut] dan untuk menghilangkan kabut mega [penghalang] ini.”

Jadi, menurut Abduh, rasionalitas memiliki dua syarat. Pertama, akalnya sehat. Karena dengan begitu ia bisa menggunakan dan memaksimalkan fungsinya. Kedua, membebaskan akal dari belenggu taklid kepada para pendahulu. Akal yang terbelenggu taklid bukanlah akal bebas yang “merdeka dalam bernalar dan berpikir”. Dua syarat ini menjadikan Abduh sebagai seorang yang otentik. Pembaharuan yang dilakukannya tidak sebatas pandangan filosofis, tetapi juga sebagai lelaku.

Abduh menjelaskan alasan kenapa dalam QS. Ali Imran: 7, lafadz Rasikhuna menggunakan fi Al-‘Imi, bukan fi Al-Din. Ilmu/akal lebih umum daripada agama. Artinya, rahmat yang diturunkan oleh Allah kepada manusia salah satunya adalah dengan menjadikan agama sesuai dengan akal budi. Akal yang menemukan mana ayat yang mutasyabih dan mana yang tidak untuk selanjutnya mereka takwilkan.

Bisa disimpulkan: bahwa rasionalitas Abduh adalah rasionalitas fitriah yang dianugerahkan Allah kepada setiap hamba. Sehingga jika pun seorang tidak memiliki akses kepada ilmu logika, niscaya orang itu tetap mampu menemukan rasionalitas agama Islam dari potensi akalnya. Kalau timbul pertanyaan: jika tetap mau mengotakkan Abduh, di antara rasionalitas Filsafat dan teologi, Abduh cenderung ke mana? Jawabannya boleh jadi antara keduanya, seperti yang ditunjukkan oleh Sulaiman Dunya dalam bukunya: Muhammad Abduh: Baina Al-Kalamiyyin wa Al-Falasifah. Tetapi kiranya juga kita tak butuh pengotakan seperti itu untuk pribadi seotentik Abduh.

Analisis Metode Rasio Abduh

Meskipun Abduh secara spesifik tidak menulis metode rasionya, seperti bagaimana ia berpikir rasio; tetapi kita dapat menemukannya dalam beberapa karyanya. Metode ini jelas implisit. Bisa diketahui ketika kita mendalami pemikiran Abduh. Kiranya perlu dibagi metode rasionalnya pada tiga ranah: Tuhan, Wahyu, dan Manusia.

a. Tuhan

Pada ranah ini, pertama-tama Abduh membagi eksistensi pada tiga hal. Mumkin lidzatihi, Wajib lidzatihi, dan Mustahil lidzatihi. Mumkin lidzatihi adalah sesuatu yang tidak wujud kecuali dengan sebab dan sesuatu yang tidak tidak-ada kecuali dengan sebab. Sesuatu di sini adalah alam seisinya. Alam boleh saja ada dan boleh saja tidak ada. Tetapi sesuatu yang mungkin tidaklah membutuhkan, dalam keadaan tiadanya, kepada sesuatu yang membuatnya ada. Sebab tidak ada adalah negatif. Dan sesuatu yang negatif tidaklah membutuhkan ada secara a priori. Jadi, sesuatu yang tidak ada tidak mungkin ada karena bagaimanapun ia adalah tiada.

Sesuatu yang mungkin ada adalah sesuatu yang membutuhkan sebab agar ia ada. Adakalanya sesuatu itu mendahului sebabnya, adakalanya sesuatu itu berbarengan dengan sebabnya, dan adakalanya sesuatu itu lebih akhir dari sebabnya. Kemungkinan yang pertama batal atau tidak sah karena tidak mungkin sesuatu yang membutuhkan sesuatu yang lain mendahului sesuatu yang lain itu. Di sini kita melihat ada kecenderungan penggunaan logika deduktif, meskipun Abduh tak mengatakannya secara gamblang. Mari coba kita urai dengan menggunakan bagan silogisme.

(Premis Mayor)

Sesuatu yang ada karena sebab adakalanya sesuatu itu mendahului sebabnya, adakalanya sesuatu itu berbarengan dengan sebabnya, dan adakalanya sesuatu itu lebih akhir dari sebabnya

(Premis Minor)

Tetapi kemungkinan yang pertama dan kedua batal

(Kesimpulan)

Maka sesuatu itu lebih akhir dari sebabnya

Tidak menutup kemungkinan jika Abduh juga mengambil ilmu logika dalam akidahnya. Bahkan bisa dikatakan bahwa walaupun kita tidak sengaja menggunakan ilmu logika, jika pemikiran kita logis, maka pemikiran kita itu bisa masuk ke dalam contoh logika. Abduh sendiri pernah menyindir mereka yang tidak pernah belajar filsafat Plato dan logika Aristoteles.

Mustahil lidzatihi adalah sesuatu yang tidak mungkin ada dan tidak mungkin dibayangkan adanya dalam alam pikir kita. Mustahil adalah sesuatu yang tidak akan pernah ada. Baik dalam alam nyata atau pun dalam alam pikir kita. Dalam alam nyata, tidaklah mungkin Tuhan berkaki dan bertangan. Dalam alam pikir kita, tidaklah mungkin kita membayangkan Tuhan berkaki dan bertangan. Jikapun kita mampu membayangkannya, jelas itu bukanlah bayangan tentang Tuhan yang sesungguhnya.

Wajib lidzatihi adalah Dzat yang ada karena dirinya sendiri. Ia tidak disebabkan oleh hal lain sebab jika ia disebabkan oleh hal lain berarti ia bukan wajib tetapi mungkin. Sesuatu yang mungkin tidak mungkin memiliki segala sifat sah ketuhanan. Abduh membagi sifat wajib menjadi dua. Pertama, sifat yang bisa dibuktikan menggunakan akal atau burhan. Kedua, sesuatu yang kita ketahui dari teks. Yang pertama, seperti sifat Tuhan Qidam, Baqa, Qudrah, dll. Sedangkan yang kedua adalah sifat-sifat Tuhan yang kita ketahui bukan dari akal tetapi dari teks seperti Kalam, Bashar, Sama’, dll.

Dari sini bisa kita analisa bahwa Abduh tidak bermaksud merasionalisasi sifat-sifat Tuhan yang dikabarkan oleh wahyu. Tetapi dengan begitu bukan berarti ia tak bisa merasionalisasikannya. Hukum sam’iyyat, atau apa yang dikatakan oleh Syara’ adalah sesuatu yang pasti benar. Namun sebelum kita yakin kebenaran Syara’, kita memerlukan analisis rasio untuk membenarkan bahwa wahyu itu sesuatu yang mungkin menurut akal. Jika kita sudah membuktikan bahwa wahyu itu mungkin secara akal, maka apa yang disampaikan oleh wahyu, kita akan yakin bahwa itu adalah benar.

b. Wahyu

Ada dua pembuktian yang dilakukan oleh Muhammad Abduh bahwa wahyu adalah sesuatu yang bisa dibenarkan menurut akal.

Pertama, khabar mutawatir. Berita yang dibawa turun-temurun tanpa terputus secara probabilitas tidak mungkin berbohong. Pembuktian ini kelihatannya tidak rasional. Karena dari sana bisa memunculkan berbagai pertanyaan, salah satunya: bagaimana jika mereka sepakat untuk berbohong? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan dalil mungkinnya mengutus Rasul secara akal. Jika rasul mungkin ada, dan tanda-tanda kerasulan ada pada Nabi Muhammad, maka bagaimana wahyu tidak mungkin? Menurut Abduh, pembuktian pertama ini bagi mereka yang tidak menyaksikan turunnya wahyu. Sedangkan bagi mereka yang menyaksikan turunnya wahyu, pembuktiannya secara empiris.

Hal ini mirip dengan apa yang ditulis oleh Franz Magnis-Suseno dalam bukunya Menalar Tuhan. Feuerbach, seorang ateis, menganggap bahwa agama adalah proyeksi manusia. Maksudnya, agama adalah bikinan manusia itu sendiri. Tak pernah benar-benar ada Tuhan. Franz mengajukan pertanyaan sederhana: Bagaimana mungkin Tuhan ada di proyeksi akal semua orang dari kurun masa ribuan tahun? Jika memang tak ada agama, kenapa masih ada orang yang menganggapnya ada dan mempertahankan kebenaran itu selama bertahun-tahun? Pertanyaan selanjutnya: Bagaimana mungkin akal kita yang terbatas ini bisa memikirkan Tuhan yang tak terbatas? Jika hanya proyeksi akal, bukankah proyeksi ini pararel dengan pengalaman manusia? Sementara itu, Tuhan di luar pengalaman manusia. Jika demikian, berarti pernah ada kabar yang turun-temurun yang mengatakan bahwa Tuhan itu ada.

Kedua, dalil isi Al-Quran itu sendiri. Membuktikan kebenaran sesuatu bisa dari menilai isi kebenaran itu. Al-Quran benar karena isinya membuktikan kebenarannya sendiri. Contohnya tidak sedikit. Al-Quran mengabarkan bahwa negeri Rum akan dikalahkan oleh umat Islam (QS. Al-Rum: 2-4). Selang beberapa abad kemudian, hal itu benar terjadi. Ada lagi. Al-Quran mengabarkan bahwa jasad Firaun akan diselamatkan agar menjadi Ibrah atau pelajaran bagi orang-orang selanjutnya (QS. Yunus: 92). Kemudian pada tahun 1898, kabar dari Al-Quran itu benar adanya. Mumi Firaun ditemukan di laut merah dan masih tetap utuh. Kedua dalil ini cukup kuat untuk membuktikan bahwa Al-Quran tidak mungkin salah.

c. Manusia

Pada masalah ini, Abduh terlihat lentur dalam menggunakan rasio. Ia tak mau terjebak dalam perdebatan klasik apakah perbuatan manusia itu perbuatannya atau perbuatan Tuhan? Abduh menekankan bahwa apa yang kita lihat mengenai manusia adalah bahwa mereka berusaha. Mereka melakukan pekerjaan ini dan itu. Mereka shalat, berdoa, menyembah Tuhan. Semua hal ini tidak perlu diperdebatkan karena bersifat badahi (a priori). Abduh berkata: “Pembahasan di luar itu [yaitu] usaha mendamaikan antara dalil bahwa Tuhan mengetahui, berkehendak, dan berkuasa; dengan apa yang kita lihat secara langsung bahwa manusia bebas berkehendak menentukan ikhtiarnya, adalah termasuk rahasia kekuasaan [Tuhan] … dan akal tidak sampai kepadanya.”

Metode rasio Abduh tidak mau menjangkau apa yang hanya Allah yang tahu. Sebab, pembahasan ke arah sana bukan ranah kita. Di sini terlihat bahwa Abduh tidak mengesampingkan sesuatu yang empiris. Yang empiris tidak menggunakan akal dalam menilainya. Misalnya, tentang kebaikan dan keburukan. Baik adalah apa yang kita lihat baik. Bukan yang kita nilai baik. Dan buruk adalah apa yang kita lihat buruk. Bukan apa yang kita nilai buruk. Meskipun di sana terdapat tingkatan tertentu antara satu orang dengan orang lainnya. Oleh karenanya, jika Syara’ berkata bahwa ini baik, akal tidak bisa menjangkau kenapa ini baik. Begitu juga sebaliknya.

Berbeda lagi jika itu menyangkut Tuhan. Menurut Abduh, Tuhan bisa diketahui/dibuktikan dengan akal. Jika ada orang yang kepadanya tidak tersampaikan wahyu, tetapi ia bisa membuktikan bahwa Tuhan itu ada, kemudian ia meninggal, kita tidak tahu apakah ia termasuk orang yang syaqa’ atau sa’adah. Hal itu di luar jangkauan akal kita. Akal kita bisa mengetahui Tuhan, tapi tidak bisa menebak apa yang mungkin Tuhan lakukan. Rasionalitas Abduh tetap ada batasannya. Abduh tidak mau menjadi kaum yang ia sindir sendiri, yaitu: “Mereka yang berkeyakinan terhadap sesuatu kemudian mencari bukti [yang membenarkannya]. Dan mereka tidak ingin bukti itu berkebalikan dari apa yang mereka yakini.”

Posisi Akal dalam Agama: Analisa Peran Takwil

Telah dijelaskan di muka bahwa akal menduduki posisi penting dalam Islam. Juga telah sedikit disinggung mengenai pendapat Abduh berkaitan dengan keterbatasan tertentu dari akal untuk menjangkau yang tidak bisa ia jangkau. Salah satu tugas penting dari akal, yang menjadi perdebatan panjang antara Asy’ariyyah dan Mu’tazilah adalah mengenai kewajiban pertama bagi mukalaf: antara mengetahui adanya Tuhan atau Berpikir (al-nadzru).

Asy’ariah berpendapat bahwa kewajiban pertama bagi mukalaf adalah mengetahui adanya Allah. Karena tidak ada kewajiban apa pun sebelum ia mengenal Allah. Kewajiban baru ada jika ia mengenal dan mengimani Allah. Sementara itu Muktazilah berpendapat lain: kewajiban pertama adalah Berpikir. Sebab, mengetahui adanya Allah bergantung pada berpikir. Dan apa saja yang tanpanya kita tidak bisa sampai kepada suatu kewajiban adalah kewajiban itu sendiri. Mengetahui Allah itu wajib, tetapi tanpa berpikir kita tak bisa mengetahui-Nya. Jadi, kewajiban pertama adalah Berpikir.

Perbedaan ini dipengaruhi oleh pandangan kedua belah pihak tentang mengetahui Allah ditetapkan oleh Syara’ atau akal. Asy’ariah berpendapat bahwa berpikir untuk mengetahui adanya Allah adalah wajib menurut Syara’. Tetapi tidak wajib menurut akal. Muktazilah berkata lain, berpikir untuk mengetahui adanya Allah wajib menurut akal. Oleh karenanya, perbedaan pendapat ini juga berpengaruh pada penetapan kewajiban pertama. Jika ada orang yang tidak mengenal kitab suci, kemudian dia menetapkan bahwa Tuhan itu ada, maka penetapannya ini berdasarkan akalnya, bukan karena Syara’. Jadi, menurut Muktazilah, jika kewajiban itu ditentukan oleh Syara’, maka bagaimana jika yang bersangkutan tidak mengenal adanya Syara’ seperti kasus pada contoh di atas.

Menurut Abduh, perbedaan ini belumlah ditentukan titik tolaknya. Dalam perkara kewajiban pertama: apakah untuk Mukalaf yang muslim atau Mukalaf secara mutlak? Penentuan titik tolak ini penting, sebab jika titik tolaknya sudah berbeda, maka hasilnya pun akan berbeda. Jika kemungkinannya yang pertama, yakni Mukalaf yang muslim, maka itulah titik tolak perdebatan. Tetapi jika kemungkinannya yang kedua, maka itu jauh dari perdebatan kita. Sebab seorang mukalaf mutlak adalah soal penetapan. Jika ia menetapkan [adanya Tuhan], maka ia terjaga darahnya oleh Islam dan dalam perlindungannya.

Muhammad Abduh sendiri lebih cenderung mengatakan bahwa mengetahui Allah wajib menurut akal. Tetapi untuk urusan kewajiban pertama, ia merinci beberapa hal. Abduh berkata:

“Perbedaannya hanya lafadznya saja. Mereka [Muktazilah dan Asy’ariah] yang berselisih pendapat mengambil pendapat satu sama lain tanpa mengerti maksudnya. Kewajiban pertama yang wajib ada adalah Mengetahu (ma’rifat), itu adalah niat awalnya. Jika yang dimaksud adalah yang umum, yakni, apakah yang dimaksud adalah kewajiban dalam dirinya sendiri atau kewajiban yang dalam tanggungan kewajiban orang lain, maka kewajiban pertama adalah niat untuk mengetahui [adanya Tuhan]. Itu adalah kewajiban yang harus ada yang bukan dalam dirinya sendiri. Tetapi kewajiban mengetahui dalam tanggungan kewajiban berpikir.”

Dalam arti yang lebih mudah, jika ditinjau dari keumuman wajib, maka kewajiban harus diletakkan dalam rangka niat untuk mengetahui. Karena tanpa adanya niat untuk mengetahui, maka mengetahui tidak mungkin ada. Ketika kita terpaksa harus terus berdebat pada soal kewajiban pertama, maka bukan hanya Berpikir yang wajib itu sendiri, tetapi niat untuk berpikir juga wajib.

Pembahasan yang tak juga penting adalah mengenai ayat mutasyabihat. Pembahasan ini bermuara pada masalah pertentangan akal dengan teks. Polemik bermunculan dimulai ketika para teolog menemukan ayat-ayat Al-Quran yang secara zahir bertentangan dengan akidah, misalnya bahwa Allah itu memiliki tangan. Muncul pandangan ekstrim dari mazhab Mujassimah yang menganggap bahwa Tuhan tak ubahnya kita sebagai manusia yang memiliki tubuh.

Akal menghendaki bahwa Tuhan tidak mungkin sama dengan makhluknya. Laisa kamitslihi sayai’un, kata Al-Quran, yang berarti menegasi tiap-tiap apa yang kita temui, baik melalui panca indra atau dalam akal kita berupa khayalan apa pun. Seperti itu semua bukan Tuhan. Dalam perkara ini, ada dua mazhab yang berselisih satu sama lain: Pertama, mazhab yang menetapkan ayat mustasyabihat tanpa menakwilkannya. Kedua, mazhab yang menakwilkannya. Mazhab yang pertama adalah mazhab Salaf. Ketika menjumpai ayat-ayat musytabihat, para ulama salaf mengimani ayat itu tanpa menakwilkannya, serta mengembalikan makna yang sesungguhnya kepada Tuhan. Mazhab yang kedua, ialah mazhab yang menakwilkannya. Jika mereka menemui ayat musytabihat, mereka menakwilkan ayat itu sesuai kaidah yang ada dalam bahasa Arab sekiranya takwil ini tidak mencederai kesucian Allah. Biasanya mazhab ini disandarkan kepada Asy’ariah generasi akhir. Salah satu ulama yang mengarang kitab yang berisi takwilan itu adalah Fakhruddin Al-Razi. Kitabnya berjudul Asas Al-Taqdis, atau Ta’sis Al-Taqdis.

Kiranya di antara kedua mazhab di atas, masih ada mazhab lain. Mazhab ini dipeluk oleh Ibn Taimiyyah beserta pengikutnya. Ibn Taimiyyah sendiri mengklaim bahwa mazhabnya adalah mazhab Salaf. Tetapi menurut Muhamad Abdul Fadeel Al-Qusi, dalam kitabnya Mauqif Al-Salaf baina Al-Mutsbitin wa Al-Muawwilin, sebenarnya Mazhab Ibn Taimiyyah tidak bisa disandarkan kepada mazhab Salaf. Pasalnya, meskipun Ibn Taimiyyah menetapkan ayat itu tetapi ia memiliki qayyid; bahwa dengan ayat itu maksudnya tidak sebagaimana yang tertulis. Perbedaannya: mazhab Salaf sama sekali mengembalikan arti ayat itu kepada Allah, sedangkan Ibn Taimiyyah berkeyakinan ayat itu tidak bermaksud seperti yang terkandung. Dengan demikian, perbedaan antara Ibn Taimiyyah dengan Asy’ariah sangat tipis: yakni, pada permasalahan menakwilkannya atau tidak. Sedangkan dalam masalah apakah ayat itu bermaksud seperti yang termaktub, Ibn Taimiyyah dan Asy’ariah sama saja.

Kita tidak perlu membahas perdebatan ini secara rinci dengan menghadirkan semua ayat musytabihat. Yang menjadi titik tekan adalah metode para ulama dalam menghadapi pertentangan antara akal dengan teks. Jika benar tidak ada pertentangan antara akal dengan teks, kenapa ada ayat yang secara akal tidak bisa diterima? Kita akan melihat metode Abduh dalam menghadapi ayat musytabihat.

Abduh berkata:

“Para ulama sepakat, kecuali sedikit dari mereka yang tidak melihatnya, bahwa jika ada akal bertentangan dengan teks, maka yang diambil adalah pemahaman akal. Yang tersisa dari teks adalah antara dua jalan. Pertama, menyerahkan kebenaran teks dengan mengakui bahwa akal tidak mampu untuk memahaminya, dan mengembalikan makna sepenuhnya kepada Allah. Kedua, menakwilkan teks itu dengan menggunakan kaidah bahasa Arab sehingga maknanya sesuai dengan penetapan akal.”

Kita melihat, Abduh tidak mau terjebak dalam perdebatan soal takwil. Ia mengakui kebenaran dua pandangan di atas. Antara menakwilkan ayat itu atau mengembalikan maknanya kepada Allah. Tetapi masalahnya, apakah kemungkinan kedua berarti mengingkari rasio? Tidak. Mengembalikan makna kepada Allah berarti mengakui kalau ada batas-batas dari rasio kita. Menetapkan adanya Allah bisa menggunakan rasio. Tetapi mengetahui hakikat Allah, akal kita jelas tidak bisa sampai ke sana.

Menurut Abduh, dalam Al-Quran tidak ada ayat musytabihat kecuali hal-hal yang berkaitan dengan kabar gaib. Selain kabar gaib semuanya adalah ayat Muhkam (jelas). Oleh karenya, mutasyabihat perlu dibedakan dari musytabihat. Yang pertama adalah ayat yang tidak jelas maknanya. Yang kedua adalah ayat antropomorphisme: menyerupakan Allah dengan makhluk. Keduanya, menurut Abduh, menerima takwil. Dengan penjelasan ini, Abduh ingin menegaskan bahwa untuk permasalahan takwil, tidak ada klaim paling benar sehingga berpotensi untuk mengkafirkan pihak lainnya. Ibn Rusyd menyayangkan (dan bahkan menyangkal) Al-Ghazali yang mengkafirkan filsuf muslim seperti Ibn Sina dan Al-Farabi. Menurutnya, kedua filsuf itu masih pada taraf menakwilkan. Dan permasalahan yang ditakwilkan bukan teks yang jelas maknanya, yang muhkam, tetapi yang mutasyabih. Seperti halnya masalah pembangkitan jasmani. Baik filsuf maupun Al-Ghazali sama-sama meyakini bahwa esok hari kiamat akan ada hari pembangkitan. Masalah yang dibangkitkan jasad beserta ruh atau ruh saja itu adalah masalah takwil.

Lebih jelas, Rasyid Ridla, salah seorang murid Abduh, merinci bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan ayat musytabihat. Menurut Ridla, ada tujuh kisi-kisi:

  1. Penyucian [Dzat Tuhan]
  2. Iman dan membenarkan [ayat itu]
  3. Mengakui kelemahan [akal]
  4. Diam dan tidak bertanya
  5. Tidak men-tashrif-kan lafadz tersebut [jika hubungannya dengan ayat muqatta’ah, seperti Alif Lam Mim dan permulaan surat lainnya]
  6. Menahan diri dari berpikir tentang itu
  7. Menyerahkan [pemaknaan] kepada ahli makrifat [ulama]

Tujuh kisi-kisi bisa ditempuh keseluruhannya, atau bisa mengambil salah satunya. Kesimpulan dalam pembahasan ini: dalam menghadapi pertentangan antara teks dan akal, Abduh cenderung memenangkan akal, meskipun ia tidak menampik adanya cara lain, seperti menyerahkan makna ayat itu kepada Tuhan; cara yang ditempuh oleh ulama Salaf.

Tasawuf: Modus Pengingkaran Akal?

Banyak orang yang mengatakan bahwa Muhammad Abduh mengkritik tasawuf. Sangkaan ini tidak sepenuhnya benar. Abduh adalah sorang rasionalis, tetapi ia tidak mengingkari peran tasawuf dalam kehidupan nyata. Menurutnya, tasawuf telah menyumbang kepada pembelajaran akhlak dan tata krama yang besar bagi umat Islam. Abduh berkata: “Tidak ada umat mana pun yang bisa menandingi tasawuf dalam ilmu akhlak dan pendidikan psikologi. Dan ketika melemahkan sisi ini, praktis kita kehilangan agama [karena itu merupakan inti dalam agama].” Islam tidak hanya pemikiran (ilmu), tetapi Islam juga akhlak (amal). Pemikiran yang kehilangan akhlak bukan termasuk ajaran Islam.

Benar, pada beberapa sisi Abduh mengkritik tasawuf. Seperti halnya pada sisi pandangan mereka yang bertentangan dengan syariat seperti hulul. Tetapi Abduh tetap memandang bahwa ungkapan-ungkapan kaum sufi tidak bisa dibaca secara zahirnya saja, secara luarnya an sich. Dalam tulisan-tulisan mereka terdapat rumus, teka-teki; yang jika diterima begitu saja bisa menyesatkan. Dalam arti ini, Abduh lebih cenderung kepada tasawuf akhlaki/amali seperti yang dituangkan Al-Ghazali dalam Ihya’-nya.

Abduh mengkritik mereka yang mengagungkan para sufi seperti Imam Syadzili dan Abul Abbas Mursi. Ada seorang yang bertanya kepada Abduh tentang tawasul kepada mereka. Abduh balik bertanya apakah ada dalam Al-Quran, hadis, pendapat sahabat, yang membenarkannya? Si penanya menjawab tidak. Si penanya bertanya lagi: apakah dengan demikian Anda mengatakan bahwa Syadzili, Mursi, Ibn Ataillah, dll. sesat dan mengingkari Al-Quran? Abduh memarahi si penanya. Bahwa jika Abduh menjawab iya, maka orang itu akan bilang kepada khalayak bahwa Mufti (yakni Abduh) telah menyesatkan para wali Allah. Abduh menekankan satu hal: Allah tidak membebani Anda untuk mengikuti mereka.

Jadi bukan mereka para wali yang menjadi persoalan, tetapi para pengikut mereka yang fanatik, yang menguduskan mereka sehingga dengan begitu akal jadi kehilangan perannya. Seolah-olah apa yang keluar dari mulut para wali pasti benar. Abduh sendiri memuji beberapa sufi generasi awal seperti Imam Junaid. Abduh tidak menyerang tasawuf apalagi menegasinya, tetapi ia mengkritik orang-orang yang terlalu fanatik kepada sufi tertentu, sehingga dapat menimbulkan pemujaan yang berlebihan.

Tasawuf adalah jalan di mana akal tidak bisa menjangkaunya. Mempelajari tasawuf dalam arti yang demikian, dibenarkan dalam Islam. Sebab, Islam adalah agama zahir dan agama batin. Tiap individu punya kecenderungannya masing-masing. Agama batin adalah bagaimana agama mendidik kita untuk menghayati yang zahir seperti salat, zakat, dan amaliah zahir lainnya sehingga amal zahir ini tidak kering tanpa ruh. Tasawuf tidak mengingkari peran akal, tetapi mengakui bahwa ada bagian di mana akal tidak sanggup menjangkaunya.

Epilog

Dari tulisan singkat ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa Muhammad Abduh mengakui keunggulan rasio. Tetapi tidak berarti ia fanatik akan itu. Ia masih mengakui adanya hal-hal yang tidak bisa dijangkau dengan akal. Allah telah menganugerahkan agama sehingga hal-hal di luar akal itu dapat kita ketahui secara gamblang. Rasionalitas Abduh bukan rasionalitas radikal, tidak seperti apa yang didakwakan banyak orang mengenai dirinya. Tetapi bukan berarti bahwa rasionalitas Abduh tidak punya ciri khas.

Kebebasan berpikir. Itulah kuncinya. Abduh seorang soliter yang menginspirasi intelektual sesudahnya untuk mempelajari Islam sesuai dengan peran dan tugasnya. Dengan tetap berpegang pada asas toleransi. Abduh mengecam pengkafiran terhadap orang yang menakwilkan pemahaman agama non-asasi. Selama itu masih iman kepada Allah, kitab suci, dan hari kiamat, ia anti mengkafirkannya. Masalah di luar asas itu, apalagi soal alam gaib, terbuka berbagai takwil—asalkan sesuai dengan kaidah yang semestinya.

Tugas generasi sesudah Abduh adalah mengambil spirit yang telah ditularkannya. Mengikuti Abduh bukanlah mengikuti doktrin, tetapi justru mengikuti diri kita sendiri. Sebab Abduh senantiasa menekankan potensi akal tiap manusia. Kebebasan dalam berpikir. Itu asas pertama yang selalu dikumandangkan oleh Abduh. Dan kita masih mendengar kumandang itu, persis di sisi telinga kita. Dan sungguh payah jika kita tak terbangun dan tergugah karenanya.

Catatan Akhir:

Tulisan ini adalah bagian kedua dari “Tetralogi Akal”. Lihat bagian pertama di sini.

(*) Nama lengkap Muhammad Abduh Hasan Khairullah. Lahir pada tahun 1849 M, di Kota Buhairah, Delta Nil, Mesir. Pada tahun 1866 ia belajar di Al-Azhar di bawah bimbingan ulama-ulama besar. Di Al-Azhar inilah ia bertemu Jamaluddin Al-Afghani dan banyak terpengaruh oleh gurunya tersebut. Abduh adalah seorang pembaharu yang pemikirannya masih terus dikaji sampai sekarang. Pembaharuannya menginspirasi banyak orang. Ia termasuk orang yang memperbaiki sistem pendidikan di Al-Azhar. Bersama Al-Afghani, di Paris ia mendirikan sebuah jurnal yang bernama Urwatul Wutsqa. Abduh memiliki banyak karya. Baik berupa buku, diktat, makalah, dan semua karya lengkapnya telah tersedia dalam 5 jilid. Dikumpulkan oleh Muhammad Imarah dan diterbitkan oleh Dar El-Syuruq. Abduh meninggal pada tahun 1905 M.

Daftar Bacaan:

Abduh, Muhammad, Risalah Al-Tauhid (dalam Al-A’mal Al-Kamilah), Dar El-Syuruq, ed. Dr. Muhammad Imarah, t.t.

————————, Ta’liqat ala Syarhi Al-Aqaid Al-Adhudiyyah, Maktabah Al-Syuruq Al-Dauliyyah, cet. I, 2012.

Al-Qusi, Muhammad Abdul Fadeel, Mauqif Al-Salaf baina Al-Mutsbitin wa Al-Muawwilin, Dar El-Qusi Al-Arabi, Kairo, 2016, cet. I.

Badawi, Abdurrahman Muhammad, Al-Imam Muhammad Abduh wa Al-Qadlaya Al-Islamiyyah, Maktabah Usrah, t.t.

Imarah, Muhammad, Maqam Al-‘Aqli fi Al-Islam, Dar Nahdeet Mishr.

Magnis-Suseno, Franz, Menalar Tuhan, Kanisius, 2006.

Ridla, Muhammad Rasyid, Tafsir Al-Manar, Maktabah Taufiqiyyah, Kairo, t.t. vol. 3.

Facebook Comments
Bagikan konten: