Mengapa Kita Harus Bersusah-susah dengan Aturan Menulis Puisi (?)

Bagikan konten:

‘Bagaimanakah semestinya puisi dimulai?’

Seingat saya, entah bulan apa tepatnya, saat Corona sedang berkecamuk parah di Wuhan, dan di Indonesia masih jadi bahan meme-meme receh yang berseliweran di Instagram, saya dan seorang kawan mempersoalkan pertanyaan di atas.

Sedari awal, saya juga sudah merasakan betapa obrolan itu, mungkin tak ubahnya seperti membahas sebuah artikel yang, katakanlah, diberi judul “Tatacara Menulis Puisi untuk Pemula”. Dan tentu saja, bukan hanya saya, jika tidak sedang iseng, siapa pun juga tidak akan berharap menjadi seorang penyair dengan modal membahas artikel semacam itu. Dan apabila kemudian anda memaksa saya untuk menjawabnya, tentu saja saya akan menjawab: Bebas, atau mungkin: Terserah. Tidak ada aturan mengenai itu.

Tapi jika kita mencoba mundur sedikit, pertanyaan di awal itu justru muncul dengan bentuk yang cukup problematis. Kata ‘semestinya’, selalu mengandaikan suatu perbandingan, satu hal lebih unggul dari hal yang lainnya. Jika hal tersebut adalah puisi itu sendiri, maka ia pun akan muncul dengan dua wajah, yang menentukan kualitas antara satu dengan yang lainnya. Lalu, perbandingan seperti apa yang terjadi di dalam kerangka pertanyaan tersebut? Semestinya seperti apa dan seperti apa? Atau memang adakah yang lebih unggul antara keduanya? Atau itu memang pertanyaan remeh-temeh yang hanya asyik dibahas di warung kopi saja?

Perbincangan yang ngalor-ngidul itu selesai dengan kesimpulan yang juga masih antah-berantah. Tidak ada lagi obrolan-obrolan santai dengan kopi atau teh. Seperti yang juga anda rasakan, Social Distancing, melanda seluruh dunia. Dan jika boleh sedikit curhat, saya adalah orang yang belum bisa nyaman untuk berlama-lama ngobrol secara virtual. Tidak asyik. Tapi dari pertayaan yang antah-berantah itu, jika kita kemudian mundur lebih jauh lagi, kita tentu juga akan mempersoalkan, mengapa pertanyaan remeh-temeh (jika mungkin anda menganggapnya begitu) itu muncul?

Puisi (juga produk budaya lainnya), jika kita mengandaikan ia sebagai sebuah ruang, tentu bukanlah ruang yang memiliki pintu masuk khusus, mungkin seperti Kedokteran, yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang memiliki izin khusus juga. Tidak ada aturan mengenai itu. Setidaknya itu yang terjadi. Tidak ada yang akan mempersoalkan seorang lulusan Tata Boga yang menulis puisi. Tapi meskipun demikian, puisi sebagai karya sastra, tentu tidak bisa kita lepaskan dari hubungan dan ketergantungan dengan kritik dan ilmu tentangnya. jika tidak, maka mustahil ia akan diperbicangkan dan obrolan tentang puisi akan selesai begitu saja. Sebagai ilmu, maka niscaya dengan sendirinya ia akan membuat batasan dan aturan mengenai puisi itu sendiri.

Pertanyaannya, seberapa penting ilmu itu sebelum seseorang beranjak menuju puisi? Sedangkan tidak ada lampu jalan di simpang perjalanan tersebut. Seseorang selalu bebas untuk menentukan ia akan lanjut menuliskan apa dan bagaimana. Tapi bagaimana ia mengetahui, ia tengah menulis, katakanlah, puisi tanpa ilmu tentang itu? Kita mungkin akan terus menerus berputar di pertanyaan yang melingkar ini.

Meskipun demikian, saya akan meneruskan pertanyaan lainnya, mungkinkah kemudian seseorang menulis puisi tanpa sedikit pun menyentuh ilmu atau kritik tentangnya? Mungkin, iya, jika kita merujuk bahwa karya sastra selalu lebih dulu lahir ketimbang kritik atau ilmu tentangnya. Tapi bukankah perbincangan mengenai siapa yang lebih dulu, antara sastra dan kritik sastra, sama saja seperti memertanyakan siapa yang lebih dulu antara ayam dan telurnya? Saling tumpang tindih dan seperti sirna di makan sejarah.

Sedangkan, betapa naif jika seorang penyair, umpamanya, mengaku bahwa ia menulis puisi tanpa memikirkan ilmu dan kritik tentang puisi itu sendiri. Bermodal ‘bakat alam’ saja. Entah bagaimana yang sesungguhnya terjadi, tapi itu memang hal yang mungkin. Mungkin terjadi dan mungkin hanya sebagai apologi.

Sebab upaya seperti itu, justru menunjukkan betapa tidak pentingnya kritik maupun ilmu tentang puisi, atau sastra pada umumnya. Padahal butuh waktu dan ulasan yang panjang jika kita mencoba mengurutkan proses ilmu dan kritik sastra terwujud. Sedangkan tanpa harus merujuk kepada seorang Sapardi, misalnya (meskipun sepertinya ia tidak begitu peduli dengan tetek bengek kritik, “jika ada yang ingin menulis puisi, ya nulis saja, tidak usah memikirkan bagus atau jelek, puisi itu tidak ada yang bagus dan tidak ada yang jelek”, katanya, di sebuah acara Belajar Menulis Puisi), anak SMA yang gemar bermain bola juga tahu, bahwa mendengarkan ocehan komentator dan review sebuah pertandingan adalah upaya meningkatkan kemampuannya.

Tapi bila kita memosisikan diri sebagai seorang praktisi sastra, sebagai penyair, sebelum menulis kita mungkin sudah membayangkan, khalayak dan komunitas seperti apa yang nantinya akan jadi pembaca kita. Apakah khalayak yang sesuai dengan ‘pasar’ atau justru kalangan seniman yang kadangkala hanya asyik dengan obrolannya sendiri. Dan itu sebuah pilihan, tentunya. Lagi-lagi tidak ada hukum mutlak yang mengatur itu.

Dan itu juga tentu akan berpengaruh pada karya atau puisi seperti apa yang ingin kita tulis.

Tentu, saya tidak sedang membahas wacana Estetika abad 19 tentang Art for Art’s Sake (Seni untuk Seni) yang digagas oleh orang-orang seperti Baudelaire, misalnya. Menyatakan bahwa seni selalu otonom dan terlepas dari apa pun (termasuk fungsi, jika memang memiliki fungsi) di luarnya; politik, agama, moral, dll.  Ataupun wacana lanjutan yang digagas orang-orang seperti Eduard Hanslick. Bukan lagi ‘Seni untuk Seni’ tapi ‘Bentuk untuk Bentuk’. Sebab konten apa pun yang berada di dalamnya selalu sama, dan perbedaan kualitas adalah tentang bagaimana ia disampaikan. Bagaimana bentuk yang dilahirkan oleh seorang seniman.

Dan mungkin anda sudah tahu, bahwa keduanya dibantah oleh Muhammad Iqbal, Penyair sekaligus Filsuf asal Pakistan. Bahwa Substansi dan Struktur adalah kesatuan yang membentuk sebuah karya, tak bisa dipilah. Apa yang ingin disampaikan dalam sebuah karya selalu menjadi penting sebab emosi yang berada dalam karya lahir dari substansi itu sendiri. Sehingga, seni tidak sekedar menjadi adu estetis saja, tapi memuat pemikiran dan gagasan di dalamnya.

Sebab Jika kita kembali ke persoalan awal (bagaimana semestinya puisi dimulai?) yang mengandaikan adanya perbandingan, kita juga mesti menentukan di posisi mana wacana-wacana seperti Estetika dan kritik sastra ini berada. Apakah kita memang harus memulainya dari wacana-wacana tersebut? Atau justru sebaliknya, akan selalu ada jarak antara puisi dan kritiknya, juga ilmunya barangkali? Sehingga pada akhirnya tidak ada batas untuk menentukan pertanyaan ‘bagaimana’ yang lahir dari puisi itu sendiri. Sehingga yang paling penting dari sebuah puisi hanya urusan ketika berhadapan dengan khalayaknya saja. Tanpa harus bersusah-susah dulu dengan aturan-aturan yang niscaya dari sebuah ilmu (puisi).

Lagipula, bukankah kita hidup di dunia yang sudah memiliki terlampau banyak aturan? Apakah kemudian kita harus dipaksa pula untuk menaati aturan-aturan sastra, aturan puisi(?).

Kadang saya juga membayangkan, bahwa persoalan seperti ini hanya akan asyik diobrolkan di warung kopi seperti mengobrolkan kampaye politik, barangkali. Sepertinya di dalam puisi, yang ada hanya kemungkinan-kemungkinan. Tidak ada yang absolut tentang bagaimana puisi itu. Dan secara dramatis, seorang penyair, hanya akan terus berdilema ketika berusaha memulai puisi, dan menaruh perjudian besar yang memakan waktu, tenaga dan hidupnya untuk puisi.

Tapi jika di saat ini anda sedang berusaha menulis puisi, barangkali ada satu kutipan yang bisa jadi motivasi dari Sartre, yang ia ditulis di paragraf awal esainya, Why Write?:

Each one has his reason: for one, art is flight: for another, a means of conquering. But one can flee into a hermitage, into madness, into death. One can conquer by arms. Why does it have to be writing, why does one have to manage his escapes and conquests by writing?

Setidaknya, anda bisa merefleksikan kembali keinginan ‘berpuisi’ itu. Atau barangkali mencoba berubah haluan dengan membayangkan menjadi seorang dokter saja. Tapi sepertinya mustahil, ilmu kedokteran itu mahal dan sastra gratis.

Facebook Comments
Bagikan konten: