Mendengar Tokoh Cerita Berdialog

Bagikan konten:

Bel berbunyi. Mereka berdua gelagapan panik, saling menjauh. Saat bersegera menggapai pakaian, salah satu dari mereka, seorang lelaki, berbisik:

“Katamu kau tidak sedang menunggu siapa-siapa…”

Satunya lagi, seorang perempuan, menjawab dengan berbisik juga:

“Mungkin itu tukang laundry…”

Sembari sibuk mengenakan pakaiannya, si lelaki berkata lagi:

“Aku harus bersembunyi, tapi di mana?”

“Aku pikir kau tidak harus sebegitunya, tapi kalau yang tidak diinginkan sampai terjadi masuklah ke  kolong ranjang…”

―Penyelidikan, Naguib Mahfouz (dari kumpulan cerita pendek Al Jarimah)

Apa yang kau pikirkan? Seandainya saya tidak menyebutkan nama Naguib Mahfouz, apa yang kau pikirkan? Sebuah kutipan cerita yang mengada-ada? Yang tidak bermoral? Atau yang tidak masuk akal? Atau lagi malah komikal? Pantaskah kita menertawakan situasi tersebut? Bukankah adegan semacam itu banyak sekali dipakai oleh film-film komedi? Kalaupun kau tertawa, tenang saja yang kau tertawakan itu teks, bukan nuranimu. Lalu misalnya kau menemukan humor pada kutipan tersebut, kau tentu harus membayangkan adegan itu dalam benakmu. Bagaimana bisa sebuah teks bisa menggiringmu pada sebuah imaji yang sangat kecil kemungkinannya pernah kau alami sebelumnya? Bagaimana teks tersebut bekerja?

Saya kira kurang lebih begitulah teks sastra bekerja. Ia akan mengelabuimu dengan ilusi kekacauan, menjebakmu dalam keruwetan. Setidaknya teks sastra modern. Ia akan menyembunyikan keteraturannya agar kau bisa menikmati sebuah teks tanpa kekhawatiran akan menghadapi kesulitan seperti saat membaca tulisan-tulisan ilmiah atau non-fiksi. Bahasa yang digunakan dalam teks ilmiah tidak memiliki empat perangkat linguistik yang umum dimanfaatkan oleh teks sastra, yaitu: paradoks, ironi, ambiguitas dan ketegangan (tension, bukan suspense). Teks ilmiah tidak boleh kontradiktif antar pernyataannya tanpa sebuah penjelasan, juga tidak bisa bermakna ganda karena itu artinya ada komposisi yang bermasalah. Oleh karena itu jarang sekali kita bisa melakukan pembacaan serius terhadap teks ilmiah dengan pikiran yang santai. Pikiran kita harus selalu siaga agar bisa memahami sebuah teks ilmiah.

Dengan logika tersebut, tentu kau bisa memahami teks sastra dengan pikiran yang santai dan tidak siaga, atau setidaknya bisa menikmati. Tapi pernyataan ini adalah paradoks. Meskipun ia menggunakan perangkat linguistik yang sebagian besar mengutamakan estetika bukannya kerumitan berpikir, teks sastra tidak mudah untuk diterka muatan yang sesungguhnya dari tubuh teksnya. Bahkan kalau dipikir-pikir justru lebih sulit ketimbang menganalisis teks ilmiah yang maknanya sudah jelas, karena pikiranmu harus bekerja dua kali untuk menggali kandungan maksud sebuah teks sastra. Bahkan intonasi dan warna mood yang dihasilkan oleh teks sastra sangat memengaruhi dan menentukan makna yang tersembunyi agar dapat tersampaikan.

Mood dan intonasi bahasa adalah keperluan sehari-hari, tidak perlu repot-repot bekerja keras dalam meyimpulkan teks sastra. Bahasa percakapan bisa dipahami dan dipisahkan satu maksud dengan lainnya hanya dari mood dan intonasi. Tapi mengapa kau memerlukannya dalam teks sastra? Karena teks sastra tidak sesederhana dan sepraktis menyelasaikan persoalan dengan menunjukkan mood atau meninggi-rendahkan intonasi. Dalam keseharian, kau seringkali hanya perlu meninggikan intonasi untuk menunjukkan kau sedang marah atau merendahkannya jika kau sedang merasa terancam. Sastra mengatur ritme mood dan intonasi untuk menciptakan sebuah keteraturan yang spesial, sebuah dunia alternatif yang bisa kau pilih dan bentuk sesuka hati, yang tidak ada baik dalam teks ilmiah maupun percakapan sehari-hari.

Maka saya bisa simpulkan dengan sederhana, meskpun teks sastra seringkali mimetik pada kehidupan sehari-hari, ia tetap berbeda dengan keseharian, apalagi dengan teks ilmiah. Khususnya dialog, salah satu kemiripan teks sastra dengan percakapan sehari-hari adalah hadirnya dialog dalam ruang-ruang penciptaannya. Coba kau perhatikan lagi penggalan cerita pendek Naguib Mahfouz di atas. Itu adalah sebuah lead dari cerita pendek berjudul Penyelidikan (Tahqiq). Setelah kau perhatikan, sekarang dengarkan mereka berdialog. Ucapkan dengan mulutmu, bayangkan yang terjadi. Sudah tepatkan keputusan Naguib meletakkan dialog di situ? Mengapa ia tidak menuliskannya dalam narasi? Apakah itu sebuah perwujudan mimesis keseharian pada diri sastra? Begitukah kau bercakap-cakap sehari-hari?

Bisa jadi memang begitu kau bercakap-cakap dalam keseharianmu. Saya yakin kurang lebih seperti itu, meskipun skenario tersebut sangat jauh dari kepribadianmu, bagaikan langit dan dasar sumur di belakang rumahmu. Tapi pasti ada yang dihilangkan. Setelah si wanita menjawab bahwa mungkin yang memencet bel adalah tukang laundry, si pria tidak akan puas dengan jawaban itu dan menghujaninya dengan pertanyaan panik lainnya, seperti, “Kenapa kau mengundang tukang laundry?”, “Mengapa kau tidak mencuci sendiri saja sehingga tidak ada yang perlu memencet bel di saat-saat seperti ini?”, dan si wanita akan menanggapi ala kadarnya sambil fokus ke pakaiannya seperti yang ia lakukan di situ. Tetapi ditiadakan oleh Naguib, dan dihentikan di jawaban santai si wanita bahwa mungkin yang datang itu tukang laundry. Ia hadir serupa punch line yang menohok dan menciptakan humor yang berlapis. Mengapa lelaki di sini digambarkan justru tidak rasional di kala wanita seringkali menjadi stereotip akan ketidak-rasionalan?

Pada titik tertentu, kau akan menertawakan kenyataan itu. Di sebuah negeri yang didominasi lelaki, cerita tersebut bisa menggambarkan wanita yang bersikap tenang melalui ritme dialog yang tepat. Lelaki hanya tenang ketika ia mendapatkan layanan seksual, namun saat itu terhenti atau terinterupsi pikirannya kacau dan keputusannya payah. Realita yang hadir dari sebuah kesadaran yang didapati dari sebuah teks sastra memang menggelikan. Kita perlu melalui jalan memutar untuk menuju tujuan yang sama. Meski begitu, menurut pengakuan Milan Kundera dalam esai pembukanya di buku Testaments Betrayed, yang tersulit untuk dijelaskan adalah humor. Karena humor adalah sesuatu yang bekerja justru bukan karena dijelaskan. Seorang profesor perobatan mengagumi novelnya Farewell Waltz yang meramal inseminasi di masa depan, karena menceritakan seorang dokter bernama Skreta yang berupaya mengobati seorang wanita mandul dengan menyuntikkan spermanya secara berkala. Namun di sisi lain, profesor tersebut juga mengkritik ketidakbecusan Milan mendalami kasus pengobatan itu dalam novelnya. Itu hanya sebuah humor, katanya membela diri.

Menyematkan humor adalah salah satu teknik penting dalam pemilihan dan penetapan dialog. Kau akan menemukan ketukan yang tepat untuk meletakan dialog sebagai sematan humor yang berlapis. Yang perlu kau ingat adalah tidak semua percakapan yang kau dengar sehari-hari adalah dialog. Dialog dalam teks sastra adalah pilihan penyampaian informasi. Jadi tidak ada ceritanya kau mengulang informasi dalam bentuk narasi dan juga dialog. Dan juga tidak bisa ditoleransi dialog yang meniru bulat-bulat percakapan sehari-hari, apalagi percakapan mengada-ada yang tidak ada dalam keseharian, terlebih tanpa mempertimbangkan efek dramatis yang merupakan spesialisasi teks sastra. Dialog juga bukan perwakilan suara kelompok berkepentingan, baik itu suku, ras, politik maupun agama. Dialog adalah perwakilan suara tokoh dalam cerita, agar kau bisa mendengarnya.

Saya teringat penggalan dari lead cerita pendek yang lain.

Mereka duduk bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas martini. Mereka sama-sama memandang ke luar jendela.

“Bulan itu ungu, Marno.”

“Kau tetap hendak memaksaku untuk percaya itu?”

“Ya, tentu saja, Kekasihku. Ayolah akui. Itu ungu, bukan?”

“Kalau bulan itu ungu, apa pula warna langit dan mendungnya itu?”

“Oh, aku tidak ambil pusing tentang langit dan mendung. Bulan itu u-ng-u! U-ng-u! Ayolah, bilang, ungu!”

“Kuning keemasan!”

“Setan! Besok aku bawa kau ke dokter mata.”

―Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, Umar Kayam (dari kumpulan cerita pendek berjudul sama)

Eka Kurniawan menggambarkan Umar Kayam sebagai teman ngobrol dalam prolog atas cetakan ulang kumpulan cerita pendek beliau yang berjudul Seribu Kunang-Kunang di Langit Manhattan. Bukan Umar Kayam-nya, tapi cerita-cerita pendeknya. Coba kau perhatikan peragaan dialog antara Marno dan Jane. Gestur dari runtutan dialog di atas begitu persuasif kepada pembaca untuk ikut terhenyak dalam percakapan mereka berdua. Narasi dipersedikit. Penggambaran karakter dilakukan melalui dialog saja, kau bisa melihat Umar bermain-main dengan pilihan respon masing-masing karakter dan bagaimana mood bisa naik turun tanpa deskripsi sama sekali.

Meja 7

“Kau masih suka cappucino kan, Mas?”

“Tentu saja. Ada apa? Kenapa menarik-narik rambut dan senyam-senyum seperti itu?”

“Kalau begitu mari angkat cangkir?”

“Ayo!”

“Kau pembohong manis, dari dulu kau memang tak suka minuman ini.”

“Ketahuan, ya? Habis bagaimana, kalau tidak tubruk tidak mantap. Bahkan, kopi kampung yang dicampur jagung pun lebih enak ketimbang favoritmu ini.”

“Ngawur, ah. Mengapa sih butuh enam bulan pura-pura suka?”

“Aku tak mau membuatmu kecewa.”

“Kenapa tak boleh kalau hanya urusan kopi?”

“E…., aku ingin mengesankanmu.”

“Ha ha ha. Payah, ah. Kalau ingin membuatku terkesan, kenapa tak menari di tengah sana dengan kaki terangkat sebelah dan lidah terjulur?”

“Sungguh?”

“Tidak, dungu.”

Rumah Kopi Singa Tertawa, Yusi Avianto Pareanom (dari kumpulan cerita pendek berjudul sama)

Atau bagaimana jika narasi ditiadakan, semua diceritakan lewat dialog. Coba kau dengarkan mereka bercakap-cakap, apa yang kau pikirkan?

Facebook Comments
Bagikan konten: