Membicarakan Imaji dan Visual dalam Sebuah Puisi

Bagikan konten:

Seperti halnya film, imaji dalam sebuah puisi suasana adalah hal yang sangatlah penting. Dalam kasus ini, antara film dan puisi suasana, imaji berperan sebagai perantara untuk mencapai gagasan.  Mengutip perkataan Ezra Pound bahwa imaji adalah sesuatu yang menghadirkan satu kemajemukan intelektual dan emosional dalam secercah waktu. Maka dari itu, pembangunan imaji secara majemuk yang dilakukan penyair ataupun sineas akan menentukan dalam keberhasilan karya-karya mereka.

Menurut Deleuze, manusia mampu untuk memahami sebuah film disebabkan oleh kumpulan imaji, kumpulan imaji tersebut dapat dipahami karena adanya gerakan, gerakan mengandaikan adanya waktu. Dengan dasar itu, film menciptakan realitasnya sendiri terlepas dari realitas dasar yang kita hidupi. Karena meletakkan kumpulan imaji dalam kerangka waktu (durasi) membuat sebuah film menjadi “ada” termasuk dengan realitasnya. Dengan dasar ini, saya berasumsi bahwa seperti halnya film, puisi suasana juga memiliki realitas sendiri yang terlepas dari realitas dasar yang ada.  Jadi, ketika membaca puisi suasana, hal pertama yang seharusnya kita lakukan adalah mengabaikan realitas dasar itu agar kita dapat masuk ke realitas baru yang telah “diciptakan” puisi suasana.

Contoh termudahnya adalah ketika kita menonton film-film superhero seperti Spiderman. Dengan memutuskan untuk menonton film Spiderman, secara tidak sadar, kita telah sepakat kepada diri sendiri untuk melepaskan sejenak pikiran yang berhubungan dengan realitas dasar dan masuk ke realitas yang diciptakan film Spiderman. Karena kita telah sepakat untuk masuk ke realitas yang ada di film tersebut, makanya kita dapat menerima apa saja yang ada di sana. Jika kita tidak sepakat dengan apa yang ada di film Spiderman, kita pasti akan memaki-maki dan menganggap bahwa film tersebut adalah film jelek dan tidak layak ditonton. Apa-apaan, seorang manusia ketika digigit laba-laba bukannya sakit atau meninggal, dia malah berubah menjadi superhero?

Berangkat dari sana, pada tulisan saya kali ini, saya akan mengomentari tulisan dari M.S. Arifin mengenai kritiknya terhadap puisi Sapardi Djoko Damono di tulisannya yang berjudul “Sapardi Telah Mati, Kita yang Membunuhnya” yang diunggah beberapa bulan lalu. Lebih jelasnya, pada tulisan tersebut M.S. Arifin membawa dua puisi dari Sapardi Djoko Damono yang salah satunya berjudul “Kita Ini” berikut:

kita ini di negeri apa? kau kudengar tertawa

topimu baru saja diterbangkan angin

ketika kau mencoba mendekat

ke tepi Tondano. Hanya kita tampaknya

 

angin menyisir tepi danau bercakap

kepada riak air. Kau menubrukku

ada yang ingin menerbangkan rambutmu:

aku berbisik padamu, ini hari Minggu

 

hanya angin tampak bermain dengan cahaya

hanya kita yang menunjuk ke tengah danau

merentang benang-benang gerimis 12 warna

untuk kita tenun menjadi bianglala ganda

 

meninggalkan danau itu aku membimbingmu

bianglala yang terbit dalam kenangan kita

masih akan tinggal, masih akan tinggal lama

setelah danau lenyap dari pandangan kita

Pada awal kritiknya, M.S. Arifin mengomentari tentang pencapaian yang dicapai puisi itu sendiri. Karena menurutnya, puisi tersebut tidak dapat menandingi puisi-puisi Sapardi sebelumnya yang berada di dalam antologi Hujan Bulan Juni, lalu dilanjutkan dengan kritiknya mengenai ide seorang Sapardi ketika hendak menuliskan puisi tersebut dan kerenggegan-kerenggangan yang ditemukan dari bait-bait puisinya. Tapi masalah yang ada, pada tulisan saya kali ini, saya tidak akan menitikberatkan tulisan saya terhadap kritik M.S. Arifin yang itu, meskipun saya sebenarnya juga tidak sependapat akan ketiga kritiknya di atas. Tetapi saya akan memfokuskan pada kritik M.S. Arifin mengenai paduan imaji dan visual yang ada di puisi itu. Lebih terangnnya, M.S. Arifin menulis:

“Dari pelajaran paling awal yang kita terima di SD, pelangi itu memiliki 7 warna dasar. Sering disingkat menjadi mejiku hibiniu (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu). Jika yang dimaksud oleh sang penyair dari benang-benang gerimis adalah prisma yang menghasilkan pelangi akibat dari memantulnya cahaya matahari, maka yang dihasilkan oleh proses itu adalah cahaya yang kita kenal sebagai pelangi. Pelangi berjumlah tujuh warna. Jika yang dimaksud dua belas warna yang ada di puisi itu adalah warna pelangi, maka jumlahnya kurang satu. Karena 12 dibagi dua menjadi 6. Pelangi atau bianglala ganda adalah hasil dari enam kali dua. Barangkali dalam hal ini sang penyair sedikit silap, ataukah ia memang memaksudkan arti yang lain?”

Pertama-tama mari kita sepakati terlebih dahulu, bahwa puisi Sapardi yang berjudul “Kita Ini” dapat digolongkan kepada puisi suasana. Karena dari bait pertama pun, Sapardi mengajak kita untuk masuk ke sebuah latar tempat yang hendak digambarkan di puisi /kita ini di negeri apa?/ dilanjutkan dengan adegan-adegan seperti /topimu baru saja diterbangkan angin/, /ketika kau mencoba mendekat/,/ke tepi tondano/. Imaji-imaji yang diletakkan Sapardi sudah dapat membuat kita membayangkan adegan tersebut. Adegan seorang wanita yang topinya diterbangkan angin ketika ia sedang berjalan ke tepi tondano.

Dan di bait-bait selanjutnya pun Sapardi dengan imajinya menyugesti kita ke sebuah realitas yang ingin dia bangun. /angin menyisir tepi danau bercakap/,/pada riak air/,/hanya angin tampak bermain dengan cahaya/,/hanya kita yang menunjuk ke tengah danau/,/untuk kita tenun jadi bianglala/,/…../.

Setelah menghetahui bahwa puisi karya Sapardi di atas termasuk puisi suasana, berarti kita juga sudah sadar bahwa Sapardi ingin membangun realitas lain, atau bisa kita sebut sebagai dunia alternative. Kesalahan yang dilakukan M.S. Arifin adalah dengan memadukan realitas dasar yang beliau sebut dengan “Dari pelajaran paling awal yang kita terima di SD, pelangi itu memiliki 7 warna dasar. Sering disingkat menjadi mejiku hibiniu (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu)” dengan realitas lain yang ingin dibangun Sapardi di dalam puisinya.

Tentu saja, jika kita berbicara hal tersebut menggunakan sudut pandang sains, saya akan sangat setuju dengan perkataannya. Tetapi jika itu adalah sebuah puisi suasana, tentunya saya sangat tidak setuju dengan apa yang ia katakan. Barangkali jika saya menggunakan cara berpikir tersebut, yang memadukan kedua realitas, saya akan mengatakan:“Dari pelajaran awal yang saya terima di SD, seseorang jika digigit laba-laba akan sakit dan masuk rumah sakit, dan jika laba-laba itu beracun, orang itu akan meninggal. Bukannya malah jadi superhero.”

Mengenai dunia alternative sendiri pun, Goenawan Mohammad di bukunya yang berjudul Puisi dan Antipuisi juga pernah menyinggung bahwa seorang Walter Benjamin akan menyambut puisi sebagai dunia pemaknaan alternative, pemaknaan yang tidak menaklukkan dunia, yang membiarkan angin, daun, kabel telepon, warna hijau yang jadi biru, bisa hadir dan hidup dan tidak terjepit oleh pengertian. Dan Walter Benjamin lebih menginginkan meletakkan hal-ihwal yang asyik tapi tak bertujuan itu ke dunia privat. Dan dari tulisannya M.S. Arifin, ia seakan-akan ingin menjepit sebuah kata di dalam “Pengertian.”

Hal serupa dilakukan M.S. Arifin pada tulisannya ketika mengritik puisi Sapardi lainnya yang berjudul “Ada Yang Tak”:

ada yang tak hendak susut

saat seutas cahaya menegang

menjelma garis tipis

yang menyekat kita

 

ternyata kita masih juga ada

dalam denting-denting hening

tetes demi tetes luruh

tak hendak jenuh

 

seutas garis tipis, tipis saja

memisahkan kita

agar masih berdebar mendengar

agar masih saling mendengarkan

Dengan cara yang sama M.S. Arifin mengritik mengenai imaji pada puisi ini:

“Kalimat yang pertama kali mengganggu adalah seutas cahaya menegang. Memang, saya bisa membayangkan bagaimana seutas cahaya bisa menegang. Ya, itu ranah imajinasi. Tetapi apakah benar seutas cahaya bisa menegang? Di sini kita berhadapan dengan sains, yaitu fisika. Cahaya adalah energi berbentuk gelombang elektromagnetik. Nah, sifat cahaya adalah ia tak pernah bisa melengkung tanpa medium apa-apa seperti cermin. Cahaya senantiasa merambat lurus. Diksi seutas cahaya menegang mengandung makna kontradiktif bahwa cahaya bisa saja melembek atau melengkung (sebagai lawan dari kata menegang). Apalagi di situ ada kata seutas, yang ketika cahaya itu muncul, misalnya dari laser, justru akan semakin tampak kelurusan atau ketegangannya. Berarti, cahaya tidak akan pernah tidak menegang (jika diksi ini bisa mewakili “kelurusan” bidang cahaya).”

Yang berbeda, pada awal kritiknya kali ini, sebenarnya M.S. Arifin sudah menyadari bahwa Sapardi memang membangun puisinya sebagai puisi suasana yang sangat mengedepankan imajinasi. Namun alih-alih menerima hal tersebut, M.S. Arifin malah menolak asumsi awalnya. M.S. Arifin, lagi-lagi memadukan dua realitas yang berbeda ke dalam pembacaannya yang pada akhirnya membuat ia sendiri berpikir keras untuk menjawab pertanyaan yang seharusnya tidak perlu dijawab. Ia membandingkan sebuah kata-kata yang dibangun dalam sebuah karya fiksi dengan sains. Dan itu sudah dapat saya kategorikan ke dalam kesalahan yang sangat fatal.

Tulisan saya kali ini akan saya tutup dengan pengandaian yang sudah lama, berbulan-bulan semenjak saya membaca tulisan dari M.S. Arifin tersebut. Chairil Anwar, Sapardi dan barangkali GM beruntung dapat menulis puisi suasana, membuat realitas baru menggunakan imajinasi dan akal mereka yang luar biasa. Dan dari karya-karya mereka yang berkualitas, saya dapat mempelajari banyak hal. Ya, mereka, para penyair puisi suasana, meskipun beberapa ada yang sudah mati, tetapi mereka sudah hidup abadi.

Facebook Comments
Bagikan konten: