Membayangkan Hari Tua Bersama Puisi Chairil dan Novel Hemingway

Bagikan konten:

Hari tua bisa dijalani hanya pada saatnya, tapi ia bisa dibayangkan kapan saja, semau kita. Masalahnya, hari tua bagi yang belum sampai ke sana adalah masa depan yang tidak diketahui. Oleh karenanya pepatah klise kadang menjadi hal yang paling bisa dipegang: “Apa yang kamu lakukan di hari muda, menentukan bagaimana hari tuamu.” Dan orang berbondong-bondong mematuhi pepatah ini agar masa tuanya seindah yang mereka bayangkan: duduk di teras rumah pagi dan sore hari, membaca koran dan menyeruput kopi, uang pensiunan mengalir tiap bulan—misalnya. Tapi bagaimana jika pepatah bisa saja patah dan masa depan dan hari tua memilih jalannya sendiri di luar kehendak kita?

“Membayangkan” adalah kerja imajinasi, sebuah ruang yang tak patuh pada logika dan inskripsi. Yang paling tahu hidup kita adalah diri kita sendiri. Kita bisa membayangkan yang indah-indah di masa depan, tapi kita harus realistis di waktu yang bersamaan. Dan anehnya, kadang berpikir relistis bisa kita pupuk dari membaca dunia fantasi, dunia imaji, dunia tak nyata. Seperti ketika kita membaca puisi Chairil Anwar yang tidak terbit di buku manapun, bahkan di antologi lengkap “Aku Ini Binatang Jalang”. Puisi Chairil berjudul “Hari Tua” ada di arsip Pusat Dokumentasi H.B. Jassin. Chairil pernah memberikan buklet-buklet yang berisi catatan-catatan kepada sahabatnya itu, dan belum pernah diterbitkan. Majalah tempo edisi spesial Chairil Anwar (terbit 21 Agustus 2016) memuat sebagian arsip puisi dan catatan Chairil. Mari kita simak puisi berjudul “Hari Tua” itu:

Tetaplah padaku, Juwita, sebab api makin mati

anjingku dan aku sudah tua, ketuaan bakal mengelana

Lelaki bernapsu teruna bikin menghilang pancaran air terbang

sangat kaku bakal mencinta

untuk maju, terlalu beku untuk bercinta

Kuambil buku dan dekatkan diri pada dia

Bolak balik lembaran kuning lama; dari menit ke menit

jam berdetik kena kalbuku; sebuah kawat kering

Bergerak

aku tak kuasa lajari lautanmu, aku tak kuasa edari

Ladangmu, juga pegununganmu, juga lembahmu

Tidak bakal lagi, juga tidak pertarungan nun disana

Dimana perwira muda kumpulkan lagi barisan yang

pecah

Hanya tinggal tenang sedangkan pikiranku mengenangkan

keindahan nyala api dari keindahan

Chairil mati di usia yang sangat muda, 27 tahun. Dan di usianya yang segitu ia sudah mengenal kebijaksanaan hidup. Misalnya ungkapan terkenalnya “hidup hanya menunda kekalahan”, menjadi bukti bahwa “aku ingin hidup seribu tahun lagi” hanyalah retorika yang menghinggapi masa pubernya, dengan nyala api yang masih menjilat-jilat. Meskipun ia mati muda, ia pernah membayangkan masa tua; suatu masa yang ia tak pernah sampai kepadanya. Dari puisi “Hari Tua”, kita bisa tahu masa depan apa yang ada di pikiran Chairil dan bagaimana ia ingin mengarungi masa tua.

Chairil terkenal sebagai penyair bohemian, hidupnya berpindah-pindah dan tidak pernah mapan. Termasuk dalam kisah cinta, kita tahu dalam puisi-puisinya, ia pernah membubuhkan beberapa nama perempuan seperti Sri Ajati dan Dien Tamaela. Chairil adalah gambaran seorang seniman yang sesungguhnya, tampilannya nyentrik dan penuh semangat dan berapi-api. Tapi kita tahu, puisi Chairil menjelang akhir hayatnya adalah puisi yang redam, tenang bagai laut tanpa gelombang. Mungkin ia telah tahu bahwa hidupnya tidak lama lagi, sebuah isyarat yang entah datang dari mana. Puisi berjudul “Yang Terampas dan Yang Putus” dan “Derai-Derai Cemara” menjadi saksinya. Di pungkasan puisi yang pertama, ia berbisik “tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku”. Di puisi kedua semuanya tampak lebih eksplisit, “dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan/ sebelum pada akhirnya kita menyerah”.

Puisi “Hari Tua” juga bernada demikian. Chairil tak tahu bahwa ia tidak akan pernah sampai menjalani hari tua, tapi ia membayangkannya dengan sangat manis. Ia membayangkan tak ada lagi pengelanaan yang menyala-nyala, “sebab api makin mati”. Di hari tua, ia hanya akan duduk di kursinya sambil mendekatkan diri ke buku, membolak-balik halamannya yang lama, menguning dan kusam. Bahkan tubuh dan hasratnya tak segarang dulu, ia sudah tak kuasa lajari lautan, tak kuasa edari ladang, juga pegunungan, juga lembah. Juga tak bisa bertarung lagi bersama perwira yang mengumpulkan barisan yang pecah. Dan “hanya tinggal tenang sedangkan pikiranku mengenangkan/ keindahan nyala api dari keindahan”. Chairil mengajak kita untuk menjadi romantis pada diri sendiri, meskipun “hari tua”—sesuatu yang belum terjangkau, bisa mengkhianati kita dengan dua kemungkinan: (1) adakalanya kita tak akan sampai kepadanya; (2) adakalanya ia tak seperti apa yang kita bayangkan.

Kemungkinan pertama sudah terpotret dari Chairil Anwar dan puisinya. Kemungkinan kedua, bisa kita potret dari novel terkenal Ernest Hemingway “Lelaki Tua dan Laut”. Cerita dalam novel ini lebih gemuk dari halamannya yang tipis dan bisa dibaca sekali duduk. Di balik ceritanya, tersimpan karakter tokoh yang minta dikaji dengan mendalam misalnya menggunakan ilmu psikologi. Lelaki tua itu menjalani hari tua bukan dengan teras rumah dan kopi dan koran serta uang pensiunan. Ia hidup dengan perahu, angin laut, sengat matahari, rasi bintang, dan ikan yang ia ajak bicara. Ia membaca koran kemaren, mencari berita tentang bisbol dan menceritakannya kepada lelaki muda yang menemani hari-harinya di daratan. Setiap pagi hari di mana ia berangkat ke laut adalah saat menuju hal yang tak pasti. Delapan puluh empat hari ia gagal menangkap seekor ikan pun. Tubuhnya yang renta tak lagi mau kompromi dengan tekatnya yang kuat. Bagaimana pun, masa tua telah mengikis kekuatan masa mudanya yang biasa ia gunakan untuk adu panco di kedai-kedai minuman dekat pantai.

Tak diceritakan—dan memang tak perlu, apa sebenarnya impian masa muda lelaki tua dalam novel itu. Kita hanya menemukan flasback: pemuda yang tangguh yang bisa adu panco sampai beberapa hari non-stop. Lelaki tua itu adalah tipe orang yang tak mau membayangkan terlalu banyak. Ia hanya akan fokus pada apa yang sedang ia hadapi. Karena keinginan berlebih di saat yang tidak tepat tak bisa membantu apa-apa, malah membikin risau dan menggangu pekerjaan. Meskipun kita tak tahu apa impian masa mudanya, tapi lelaki tua itu adalah potret alami di mana masa tua kadang tidak seindah yang kita bayangkan. Dalam masyarakat kita, tokoh lelaki tua itu barangkali tidaklah spesial. Dalam arti, terlalu banyak contoh yang bisa kita saksikan secara langsung di kehidupan nyata. Lelaki tua yang berjualan terong di pasar kumuh; lelaki tua yang menggotong hasil bumi dari rumah ke pasar semalaman penuh; lelaki tua yang masih mencangkul sawahnya meski sendi-sendinya sering encok; dan ribuan gambaran lelaki tua yang nasibnya hampir serupa dengan tokoh dalam novel itu.

Tapi lelaki tua dalam novel itu tetaplah gambaran paling ideal untuk membayangkan kemungkinan terburuk dari hari tua. Bagaimana tidak? Setiap ia berangkat melaut ia tak tahu apakah ia akan kembali lagi ke daratan, boro-boro sampai membawa ikan tangkapan. Di laut itu, di mana hari hanya dihitung oleh terbit-tenggelamnya matahari, ia bertarung dengan ikan tangkapannya, beradu kesabaran sampai beberapa hari, mempertaruhkan kebijaksanaannya sebagai lelaki tua yang tidak buru-buru meskipun tangan kirinya kram akibat mempertahankan kail. Membayangkan kegigihan yang melampaui kemiskinan itu, saya bergidik dan bertanya: apakah sedemikian jahatnya kehidupan ini terhadap seorang lekaki tua yang sudah renta? Mebayangkan kesendirian hidup yang melampaui akal sehat itu, saya menyangsikan: apakah hidup harus terbebani hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan kenyataan misalnya dosa? Lelaki tua itu sendiri pernah berseloroh: “tanpa dosa pun sudah cukup ada masalah”.  Ya, hidup yang sungguh kenyang dengan masalah harus ditambah dengan adanya masalah dosa. Jika hidup kita sudah penuh dengan masalah, apakah kita harus pula menanggung dosa dari masalah itu? Apakah masalah bisa menyelasikan dosa? Apakah dosa bisa menyelaikan masalah? Ah, lelaki tua itu hanya suntuk; ia terlalu banyak berpikir dan berharap dapat menghibur diri di tengah laut yang maha luas.

Dan hidup pun berakhir dengan menyerah. Setelah berhasil menangkap ikan, ternyata masalah tak kunjung menjauh. Ikan marlin besar tangkapannya ia kaitkan di samping perahu karena telalu besar untuk dimasukkan ke dalam perahu. Dan itu mengundang hiu-hiu untuk mendekat. Lelaki tua itu harus berjibaku dengan hiu yang mengincar ikannya siang dan malam sebelum akhirnya sampai daratan. Dan ia kehabisan senjata untuk melindungi tangkapannya itu. Ia menyerah dengan kepiluan tak ada obatnya. Masa tua seperti itu mungkin bukanlah yang ia inginkan di waktu muda dulu. Dan kita pun tak mau membayangkan akan menjalani hari tua dengan nasib yang hampir serupa dengan si lelaki tua itu. Tapi pepatah klise akan menghibur kita dengan berkata: “Hidup di dunia hanya sementara, masih ada kehidupan setelah kematian”. Dan sialnya, pepatah itu menambah daftar panjang keresahan kita andai saja kita akan sampai pada masa tua. Bagaimana nasib saya setelah mati nanti? Itu pertanyaan menjengkelkan bagi orang yang masih percaya adanya dosa, seperti kita.

Facebook Comments
Bagikan konten: