Malam Sebelum Roslan Menghilang

Bagikan konten:

Sekitar akhir tahun 1950, Sekarmadji mengirim seorang pembunuh bayaran ke sebuah kampung di dataran tinggi Cilacap. Demikian rumor itu menyebar ke seantero kampung yang bernama dusun Awisurat tersebut. Karsono tidak bisa diam saja. Sebagai orang yang sering dimintai nasihat oleh warga kampung, ia merasa perlu memastikan kebenaran kabar burung itu. Ia tidak ingin orang-orang terdekatnya menjadi panik akibat rumor yang simpang siur. Setidaknya ketika ditanyai nanti ia punya sebuah jawaban.

Sayangnya dalam upaya menelusuri kabar tersebut Roslan, orang kepercayaan Karsono, malah menghilang. Suatu sore sehari sebelum dikabarkan menghilang, Karsono berpapasan dengannya di jalan. Karsono mengundangnya untuk datang ke rumah setelah magrib. Tanpa mengetahui apa yang akan terjadi, ia berniat meminta Roslan untuk membantunya mencari tahu kebenaran rumor yang beredar.

Sudah satu jam berlalu sejak azan magrib ketika terdengar langkah kaki mendekat ke pekarangan rumah Karsono. Saat Karsono keluar dari rumahnya, malam sudah pekat. Ia segera mengedarkan lampu teplok yang terpasang di tangan kirinya ke sekitar pekarangan. Tak ada siapa-siapa. Tapi ada wangi menyan bercampur tembakau menguar di udara. Ia menoleh ke samping. Tidak jauh dari amben, Roslan berdiri sembari menghisap klembak1 dengan khidmat. Setelah mendekat, Karsono menyodorkan tangannya dengan gestur meminta sesuatu. Roslan yang langsung paham segera menaruh sebatang klembak di tangannya. Angin bertiup ketika Roslan berusaha menyalakan korek api untuk membakar klembak yang sudah menempel di mulut ‘atasan’nya itu. Telapak tangan kanan Karsono menelungkup untuk menghalangi terpaan angin yang mengganggu gesekan korek Roslan.

“Nanti dimarahi teteh, Kang.” Roslan mengingatkan dengan santai, memerhatikan Karsono menaruh lampu teploknya di bagian ujung amben yang agak tinggi.

“Dia tidur gasik.” Karsono menghisap klembaknya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia terlihat masyuk sekali.

“Baunya kan kuat sekali, Kang. Pasti tetap ketahuan.”

“Aku tidur di amben malam ini.”

“Angin sedang dingin-dinginnya, Kang.”

Karsono tidak menjawab. Mereka berdua masih berdiri, menghisap klembak masing-masing dalam diam. Belum ada yang tertarik untuk duduk di amben. Mereka melihat kosong ke kegelapan di depan mereka. Cahaya oranye dari lampu teplok hanya memberi penerangan paling jauh satu meter ke depan. Angin sesekali bertiup. Karsono bergidik, ia hanya mengenakan baju koko, celana kain dan songkok di kepala. Mungkin seragam salat jemaah magrib di musala tadi. Ada sarung yang melilit di lehernya. Sedangkan Roslan mengenakan jaket parasut yang karetnya sudah kendor, dan juga ada sarung melilit di lehernya.

Mungkin agak berlebihan menyebut Roslan ‘orang kepercayaan’. Karsono sebatas memercayakan belanjaan istrinya pada Roslan atau meminta bantuan teknis ketika air ngadat atau bilik di dapur bolong dijebol rubah yang kelaparan. Karsono bisa memperbaikinya sendiri, hanya saja Roslan tidak keberatan melakukan itu semua untuknya. Tapi ia memang memercayai Roslan. Ia tidak akan ragu memasrahkan kambing peliharaannya agar dirawat oleh Roslan saat sedang tidak enak badan atau saat ia mesti berangkat dini hari ke pasar kecamatan untuk menjual cengkeh kering.

“Bagaimana, Kang?” tanya Roslan akhirnya, memecah keheningan yang dikuasai bunyi tonggeret di kejauhan. Rokok klembak mereka sudah habis.

Karsono akhirnya duduk di amben, tangannya menepuk-nepuk sisi amben di sebelahnya, mengisyaratkan agar Roslan duduk di sampingnya.

“Sudah seminggu rumor yang meresahkan itu jadi bahan pembicaraan. Kemarin Ujang dan Wasra datang mengadu bahwa kedua anak mereka melihat orang mencurigakan masuk ke kebun salak belakang rumah mereka.” Roslan masih menggeser-geser pinggulnya agar bisa duduk dengan nyaman. Bambu di sisi amben tempat dia duduk sudah mulai patah dan mencuat di beberapa bagian.

“Di kebun salak?” Roslan sudah menemukan posisi yang pas, agak jauh di ujung amben, jauh untuk ukuran dua orang yang sedang berbincang serius.

“Kenapa?”

“Aneh saja. Kenapa dia masuk kebun salak?”

“Bersembunyi tentu saja.”

Roslan menyalakan klembak terakhirnya setelah sebelumnya menawarkan pada Karsono dan ia menolak. “Bukankah beresiko terluka jika bersembunyi di kebun berduri?”

“Salak sedang tidak musim berbuah, Ros.”

“Bukan hanya buahnya yang berduri, Kang.”

“Tidak ada orang yang kepikiran main di kebun salak. Jadi lebih aman.”

“Terus?” tanya Roslan. Asap klembak mengepul dan bau menyan kembali menguar.

“Setelah dilaporkan kedua anak itu, tentu Wasra dan Ujang segera memeriksa. Mereka tidak menemukan siapa-siapa.”

“Mungkin salah lihat. Atau teman mereka sendiri, mungkin mereka sedang main petak umpet.”

Karsono menoleh ke arah Roslan yang duduk bersila di atas amben sembari menikmati klembaknya. “Apa aku terdengar bercanda, Ros?”

“Tidak, Kang.” Roslan segera menurukan kakinya dan duduk dengan sigap. Matanya mengikuti cahaya oranye yang tertempa di wajah Karsono. “Tapi…”

“Tapi apa?”

Ada jeda sejenak sebelum Roslan menjawab. “Meski rumah-rumah di kampung kita berjauhan, tapi kita saling mengenal dengan baik. Saya pikir jika ada penyusup apalagi sudah seminggu, kita pasti sudah menemukannya, Kang.”

“Aku dulu ikut geriliya di residen, Ros. Kami biasa bertahan hidup di kebun-kebun atau di tempat-tempat tersembunyi lainnya. Berpindah-pindah setiap malam selama sebulan. Tanpa ketahuan.”

“Tapi pembunuh, Kang? Agak berlebihan sepertinya.”

“Kita belum lama merdeka, Ros. Walanda-walanda2 itu masih belum terima. Di waktu-waktu seperti ini, menjadi pembunuh adalah pilihan mudah.”

“Lalu Akang mencurigai orang-orang DI3?”

“Siapa lagi yang dikirim Sekarmadji?”

“Akang, DI itu bukan pembunuh. Kabar yang saya dengar dari saudara di Tasik, mereka paling mentok hanya mencuri hasil panen.”

“Apa bedanya, Ros? Mencuri makanan pokok sama saja membunuh. Lagi pula desas-desus mereka punya senjata api. Bayangkan saja, buat apa?”

“Saya tidak sedang membela mereka, Kang.”

Karsono menghela napas. Ia kembali menghadap ke depan, ke kegelapan. Ia mengangkat kakinya ke atas amben dan bersandar dengan hati-hati ke bilik rumahnya.

“Kita tetap harus melakukan sesuatu,” kata Karsono setelah diam beberapa saat.

“Saya setuju, Kang. Tapi saya penasaran siapa yang menyebarkan kata pembunuh bayaran. Itu kata yang berbahaya. Biar bagaimana pun, kampung kita sedang damai-damainya.” Roslan juga mengangkat kakinya lagi, membuang klembaknya yang sudah pendek dan tak berasa, lalu bersila menghadap Karsono. “Kita juga tetap harus hati-hati, Kang. Tidak boleh gegabah.”

“Aku ingin kamu berpatroli setiap malam mulai besok. Kalau bisa, dan sebaiknya bisa, sampai penyusup itu ketemu. Kamu kan sudah berpengalaman menangkap maling kambingku waktu itu, Ros.”

“Saya tidak keberatan, Kang. Saya siap. Tapi soal pengalaman itu, tentu beda, Kang. Kalau benar ada utusan Sekarmadji berkeliaran di dusun kita, dia tentu bukan pemabuk yang menaruh kambing Akang di pelataran rumahnya.”

“Nanti kita minta bantuan Wasra, Ujang dan yang lainnya.”

“Kita tidak minta bantuan besan Akang, Pak Carik Desa?”

“Kau tahu sendiri bagaimana dia, Ros. Tak pernah mau mendengarkanku selama ini. Apalagi semenjak aku meninggalkan kajawen dia tambah dingin kepadaku.”

“Persoalan sedekah bumi?”

“Persoalan sedekah bumi.”

“Tidak ada dalam ajaran Islam?”

“Tidak ada dalam ajaran Islam.”

Roslan tersenyum. Karsono bisa melihatnya sekilas.

“Akang ini ada-ada saja, dengan besan kok tidak akur!”

“Yang jelas hubungan kami tidak baik.”

“Satu desa juga tahu itu, Kang.”

Karsono menepuk punggung Roslan agak keras. Roslan terkikik sambil mengaduh.

“Akan sulit kalau minta bantuan aparat desa, Ros. Mereka sudah lama berpikiran buruk tentang diriku.”

“Tapi bukannya bisa menjadi kesempatan untuk membuktikan ketidakterlibatan Akang?”

“Mereka malah akan curiga. Bisa-bisa aku dianggap menjebak mereka.”

“Kok aneh ya, Kang? Terdengarnya seperti mereka belum mendengar rumor ini saja.”

“Pastinya sudah ada yang melapor, Ros. Bisa jadi mereka juga sudah melakukan sesuatu untuk menindaklanjuti kasus ini.”

“Lalu?”

“Kalaupun iya, mengapa sampai sekarang masih banyak laporan padaku?”

“Mungkin mereka sedang kesulitan menemukan orang misterius ini, Kang.”

 “Orang-orang dekatku masih banyak yang merasa panik.”

“Aku juga orang dekatmu, Kang.”

“Aku tahu, Ros. Bukan begitu. Kau sudah paham kalau aparat desa tidak akan mengatakan sepatah kata pun kepadaku. Kau juga sudah tahu bahwa tanggungjawabku sekarang semakin banyak.” Karsono berhenti sejenak, seperti menunggu Roslan menanggapi tapi ia diam saja. Karsono melanjutkan, “Aku harus melakukan sesuatu, untuk mereka, untuk keluargaku.”

Roslan mengangguk-angguk. Karsono menghela napas panjang sebelum mereka terdiam untuk beberapa saat. Suara tonggeret dari arah pesawahan kembali menguasai petang.

“Kang?” sahut-sahutan serangga musim hujan itu dipecah suara parau Roslan.

“Ya?”

“Kenapa rumor yang tersebar mengatakan kalau penyusup ini adalah pembunuh bayaran? Apa Akang tahu?”

“Tidak. Makanya kita cari tahu, Ros. Sudah delapan dari sepuluh muridku yang mengaku melihat atau dilapori melihat orang yang mencurigakan dengan tutup muka dan pedang di punggungnya.”

“Seperti ninja saja, Kang.”

“Jangan bercanda, Ros.” Yang disewoti malah tertawa.

“Akang pernah nyantri, belajar agama dengan baik. Sekarang di kampung, Akang juga sedang berdakwah lewat pengajian kecil bersama murid-murid Akang itu. Kenapa Akang tidak sependapat dengan Sekarmadji untuk mendirikan Negara Islam?” Angin memang banyak bertiup malam itu, tapi tak ada angin yang menjelaskan mengapa tiba-tiba Roslan bertanya seserius itu.

“Tidak, aku tidak sepakat.”

“Kenapa, Kang?”

“Aku ngikut dengan Bung Karno saja, Ros.” Meski samar-samar dalam kelebat warna oranye yang pudar, Karsono bisa melihat ketidakpuasan di wajah Roslan. Tapi seketika itu ia tahu, pria di hadapannya sudah tidak berselera mengejar jawaban lain darinya.

“Baiklah kalau begitu.” Roslan beranjak dari amben.

“Jangan lupa permintaanku.”

“Demi Akang, apapun akan saya lakukan.”

Karsono juga ikut beranjak, ia menggigil. Agaknya ia mengurungkan niatnya untuk tidur di amben malam ini.

“Terimakasih, Ros.”

Roslan mengangguk pelan lalu berbalik arah, berjalan menuju kegelapan. Karsono memerhatikannya sampai menghilang. Setelah terdiam agak lama, ia mengangkat lampu teploknya dan berjalan ke arah pintu rumah. Ia masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan damai. Ia tahu kedamaiannya itu hanya sementara. Yang ia tidak tahu, malam itu adalah terakhir kalinya ia bertemu dengan Roslan.

 

Catatan

  1. Klembak: rokok klembak menyan atau rokok siong, campuran daun tembakau, akar klembak dan menyan digulung kertas papier yang populer di kalangan petani dan buruh sekitar dekade kedua abad ke-20 di sepanjang wilayah selatan Jawa Tengah.
  2. Walanda: belanda (bahasa sunda), atau sebutan untuk orang kulit putih/Barat.
  3. DI: Darul Islam, kelompok islamis yang terbentuk pada tahun 1949 dan bertujuan mendirikan Negara Islam Indonesia.
Facebook Comments
Bagikan konten: