Kiat Mencuri Dengar Kisah-kisah Sedih

Bagikan konten:

Kemarin Aram meminta tolong padaku untuk menguping percakapan ibu dan ayahnya yang bertemu hari ini di kafe tempat aku bekerja. Kawanku itu tidak cerita apa-apa soal bagaimana dan mengapa ayahnya muncul kembali setelah meninggalkan Aram dan ibunya empat belas tahun yang lalu. Juga soal betapa kebetulannya mereka bertemu di kafe ini. Karena tidak sempat mengobrol lama aku tidak banyak tanya. Aku sempat ragu tentang bagaimana melakukan misi pengupingan ini agar tidak mencurigakan. Tapi Aram terus memaksa hingga aku tak ambil pusing dan mengiyakan saja. Hari ini dengan sedikit aneh aku memberi perhatian lebih kepada pelanggan di meja 7. Mereka adalah kedua orangtua Aram. Aku tahu wajah ibunya, jadi mudah memastikannya.

Karena tentu saja aku tidak luang dan pelanggan tidak hanya mereka berdua, maka misi pengupinganku agak sulit dijalankan. Aku sering terpaksa menjauh dari meja 7 hingga membuat hasil transkrip percakapan orangtua Aram tidak sepenuhnya kredibel. Aku akan meminta maaf pada Aram nanti, tapi kurang lebih hasilnya sebagai berikut:

“Apa kabarmu?”

“Kamu tidak ingin menanyakan kabar Aram?”

“Beberapa waktu lalu aku menelepon Aram.”

“Aku tidak tahu kalau kalian saling menghubungi.”

“Dia mengirimiku pesan di Facebook dan meninggalkan nomer ponselnya di sana.”

“Sudah kuduga Aram akan melakukan itu.”

“Dia bilang kamu akan menikah. Selamat ya.”

“Terima kasih. Sebetulnya, aku belum mengatakan apapun kepada lelaki itu.  Butuh waktu sepuluh tahun setelah kita berpisah, sampai akhirnya aku mampu memaafkan diriku sendiri dan mempertimbangkan untuk menikah lagi.”

Ibu Aram terlihat menghela napas panjang sebelum melanjutkan.

“Kenapa dulu kamu memutuskan untuk menikah lagi dengan wanita lain?”

Seketika atmosfir di antara mereka tampak berubah.

“Aku cuma ingin tahu, apakah itu karena kesalahan yang aku buat? Kalau memang benar itu karena kesalahanku, aku ingin memperbaikinya. Di pernikahanku selanjutnya, tentu saja.”

Lelaki di hadapannya, yang aku yakin adalah ayah Aram, hanya terdiam.

“Yang sudah lalu, tidak mungkin kuperbaiki kan?”

“Kalau aku bisa memutar waktu kembali, aku tidak akan melakukan apa yang sudah aku lakukan. Aku akan berusaha sekeras mungkin supaya itu tidak terjadi.” Akhirnya ayah Aram menanggapi.

Ibu Aram memalingkan wajahnya. Ia menengadahkan wajahnya, sekeras mungkin menahan air mata supaya tidak berjatuhan. Mata ayah Aram ikut berkaca-kaca dan iapun melanjutkan ucapannya.

“Itu bukan kesalahanmu.”

Siapapun bisa merasakan emosi yang bercampur aduk dalam getaran suaranya.

“Itu kesalahanku. Aku membiarkan orang lain masuk ke dalam pernikahan kita dan membiarkannya menuntunku kepada pilihanku waktu itu: berpisah denganmu dan melanjutkan hidupku bersama orang lain. Itu sama sekali bukan kesalahanmu.”

“Dulu aku mengira bahwa aku sangat membencimu karena kamu meninggalkan kami dan menikahi wanita lain. Butuh waktu lama sampai akhirnya aku menyadari bahwa aku membencimu bukan karena kamu pergi, tetapi karena kamu membuatku merasa tidak layak.”

“Maaf sudah membuatmu merasa begitu.”

“Aku sangat membencimu saat itu.”

“Kurasa aku bisa memahaminya.”

“Jangan mengatakan hal-hal yang mungkin membuatku membencimu kembali. Kamu mudah sekali mengatakan kamu bisa memahaminya sedangkan kamu sebetulnya tidak betul-betul paham.”

Ibu Aram mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan mengamati orang-orang yang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.

“Kalau kamu betul-betul paham, kamu tidak akan berpikir untuk meninggalkan kami.”

“Aku membawa penyesalan itu seumur hidupku.”

“Kamu layak mendapatkannya.”

“Aku tidak tahu kalau kepergianku membuat kalian berdua menderita.”

“Bagaimana bisa seseorang punya pikiran begitu?”

“Kupikir kamu sangat membenciku waktu itu.”

“Aku membencimu waktu itu dan lebih membencimu lagi setelahnya.”

“Kan? Kamu membenciku.”

“Tentu saja aku membencimu. Kamu melarangku pergi bekerja karena khawatir kalau-kalau aku tertarik kepada teman kerjaku sedangkan kamu sendiri pergi berkencan dengan wanita lain dan bahkan memaksaku untuk merestuimu menikah dengannya. Apakah kamu pikir aku gila dengan tidak membencimu?” Suara ibu Aram meninggi.

“Aku belum pernah mendengarmu marah-marah begini. Dulu bahkan kamu tidak pernah meninggikan suaramu kepadaku.”

“Dari semua hal yang aku katakan, hanya itu saja yang kamu tangkap?”

Ayah Aram tertegun sejenak, tidak menyangka bahwa wanita di hadapannya akan melontarkan pertanyaan demikian.

“Aduh. Maaf, ya. Aku tidak berencana untuk memarahimu. Maksudku, aku sama sekali tidak punya keinginan untuk marah-marah begini. Tetapi begitu melihatmu, pikiran-pikiran yang dulu terkurung di kepalaku berdesakan minta keluar. Aku tidak bisa membendungnya.”

“Jujur sekali aku kaget sewaktu kamu mulai meninggikan suaramu tadi. Aku bahkan sudah bersiap-siap barangkali hidupku akan berakhir di sini.”

“Bahan yang cukup bagus ya untuk sebuah berita. Bayangkan saja foto kita muncul di halaman depan koran nasional dengan judul yang bombastis: ‘Karena Dendam, Seorang Wanita Bunuh Mantan Suaminya di Sebuah Kafe’.”

“Tetap saja, kalau dipikir-pikir, menurutku kamu punya alasan yang cukup bagus untuk mengakhiri hidupku. Maksudku, kalau aku jadi kamu, aku mungkin akan berpikir begitu.”

“Syukurlah, aku tidak sepertimu.”

Ada serombongan anak muda masuk ke kafe dan saling dorong-mendorong satu sama lain.

“Bagaimana­­­­­­­­­­­―“

“Aku―”

Mereka saling menatap dan tergelak bersama.

“Konyol sekali. Ternyata kita masih bisa menertawakan hal yang sepele.”

“Kupikir juga begitu.”

“Baiklah. Lanjutkan ucapanmu yang terputus tadi.”

“Apa yang akan aku sampaikan tidak begitu penting. Kamu duluan saja.”

“Oh, tolonglah. Apakah kita masih perlu mendebatkan hal yang begini-begini saja?”

“Baiklah, baiklah. Kurasa aku ingin meminta maaf kepadamu, dan kepada Aram tentunya. Meninggalkan kalian untuk menikah dengan perempuan lain adalah pilihan terburuk yang pernah aku lakukan, dan aku menyesalinya.”

“Apakah kamu menyesal menikah dengan perempuan itu?”

“Tidak.”

“Baguslah. Kasihan sekali wanita itu kalau sampai kamu merasa menyesal menikahinya.”

“Aku tidak menyesal menikahinya, tetapi aku merasa berdosa karena sudah meninggalkan kalian.”

“Kami mengalami masa-masa yang cukup sulit, tetapi syukurlah kami bisa bertahan.”

“Dan aku minta maaf juga kepadamu. Aku sama sekali tidak tahu, sikapku telah membuatmu merasa tidak layak. Kamu adalah wanita yang hebat dan sangat layak untuk dicintai. Dulu aku terlalu picik dan dengki melihat karirmu yang jauh lebih cemerlang daripada karirku­­­­­­­­­­­. Aku takut kamu akan meremehkanku.”

“Aku tidak pernah berpikir begitu. Aku tidak pernah berpikir bahwa karirku jauh lebih cemerlang dan dengan itu aku ingin meremehkanmu, sama sekali tidak.”

“Pikiranku dangkal sekali waktu itu.”

“Lantas, kamu memutuskan untuk pergi?”

“Kupikir, jika kita lanjutkan, aku justru akan lebih banyak menyakitimu.”

Ibu Aram menghela napas panjang.

“Kamu bukannya tidak layak, hanya saja kamu bersama orang yang tidak tepat saat itu,” lanjut ayah Aram.

“Atau barangkali aku sudah bersama orang yang tepat, hanya saja waktunya tidak tepat,” tambah ibu Aram dengan senyuman getir.

“Kamu akan bertemu orang yang tepat dan di saat yang tepat pula sehingga kamu tidak perlu melalui semua hal itu kembali.”

Ibu Aram hanya tersenyum pendek sebelum akhirnya memilih sebuah pertanyaan.

“Bagaimana istrimu?”

“Ini yang tadi mau kamu tanyakan?”

“Iya.”

“Dia wanita yang baik, gemar bercocok tanam meskipun tidak begitu ahli tentang hal itu. Tetapi kegigihannya cukup mengharukan.”

“Berapa usia anak kalian sekarang?”

“Istriku tidak bisa hamil. Rahimnya diangkat setelah diketahui ada tumor tumbuh di sana.”

“Oh, maaf.”

“Tidak apa-apa. Kami sudah berlapang dada tentang itu.”

“Tolong sampaikan salamku kepadanya. Kalau dia mau, barangkali kami bisa bertemu.”

“Baiklah. Dia pasti akan sangat senang. Sudah sangat lama sejak terakhir kali ada seseorang yang mengajaknya keluar.”

Ibu Aram mengangkat cangkir di depannya dan menghabiskan sisa kopinya sambil melirik ke samping.

“Kamu melihat penjaga kafe itu? Yang duduk di arah jam 5 dari tempatku? Jangan menoleh. Jangan melihat ke arahnya.”

“Kenapa dengan penjaga itu?”

“Kurasa dia memperhatikan kita sejak tadi.”

“Kenapa dia tidak bekerja dan malah duduk di situ?”

“Itu juga yang aku pikirkan. Kurasa dia mendengarkan obrolan kita sejak tadi.”

Aku buru-buru mengirimkan pesan singkat kepada Aram:

Kurasa aku ketahuan.

 

Facebook Comments
Bagikan konten: