Khalifah dan Cerita yang Mengherankan

Bagikan konten:

Ada banyak cerita tentang Abasiyyah ketika saya membaca sejarah Islam. Tapi bagi saya cerita tentang khalifahnya adalah yang paling memukau dan menggelikan.

Kita sudah sering mendengar atau membaca tuturan orang tentang keemasan dinasti Abasiyyah dan kejayaan Islam di masanya. Meskipun demikian, tentu realitasnya boleh saja berbeda.

Banyak contoh yang bisa disebutkan tentang hal itu. Misalnya khalifah pertama Abasiyyah dan orang-orang di sekitarnya yang melakukan pembantaian terhadap golongan Umayyah. Ada satu momen ketika seorang di antara mereka menikmati makanan sedang di depannya pembantaian terhadap orang-orang Umayyah sedang berlangsung.

Di kalangan umum, jika anda bercerita tentang kalangan istana Abasiyyah yang saling menyingkirkan demi menduduki kekuasaan, cerita anda akan dianggap mengada-ada dan itu berarti cerita buruk. Banyak orang tidak akan memercayai cerita tersebut dan mereka akan menganggap anda seorang pembual.

Di dalam realitas, seseorang yang melakukan pembunuhan dan kemudian mengambil alih kekuasaan bisa lancar-lancar menjalankan pemerintahan setelah berbagi wilayah dan pengaruh. Kemudian, ia dipuja-puja oleh para penjilatnya dan orang-orang itu mendukungnya dalam segala tindakan dan kebijakan. Dan dia betul-betul menjadi pemimpin di masa yang mungkin dianggap paling jaya. Seandainya itu disampaikan ke khalayak umum, barangkali orang-orang tidak akan percaya ada masyarakat sedungu itu, memilih seorang pelaku kejahatan menjadi pemimpin.

Tentu tidak selamanya cerita yang jarang disampaikan itu buruk. Ada juga hal baik tentang sejarah Abasiyyah yang jarang disampaikan. Seperti perihal khalifah kedua dinasti Abasiyyah, Abu Ja’far Abdullah al-Mansur, yang piawai dalam berpuisi, bahkan secara spontan.

Saya kira khalifah hanya sibuk mengurus kebijakan dalam negaranya dan hanya kadangkala menikmati para penyair berpuisi, menilainya dan menghadiahinya. Karenanya, ketika Al-Mansur menggubah syair dan menyanyikannya, saya bisa mengatakan itu menakjubkan. Apalagi ia melakukannya pada momen yang unik.

Selain Al-Mansur, tokoh dalam momen itu ialah Abu Muslim al-Khurasani. Ia adalah seorang pembesar di awal dinasti Abasiyyah dan satu di antara orang-orang yang oleh Al-Mansur dianggap musuh membahayakan bagi kelangsungan pemerintahannya.

Ketika itu Abu Muslim al-Khurasani menerima undangan dari Khalifah dengan tawaran akan ditetapkan sebagai penguasa Khurasan, setelah sebelumnya menolak tawaran damai dengan iming-iming wilayah Suriah dan Mesir untuk menyelesaikan pertikaian yang terjadi di antara keduanya.

Setelah keduanya bertemu dan melakukan basa-basi, khalifah menyebut satu persatu dakwaan yang dikaitkan kepadanya. Dia disalahkan untuk hal-hal tersebut dan ketika dakwaan itu berakhir, Abu Muslim berkata: “Ini tidak dikatakan kepada saya setelah persidangan saya dan tidak ada sesuatu yang berasal dari saya”. Al-Mansur mengatakan kepadanya: “Meskipun umat di tempatmu menyetujui bagiannya, tetapi apa yang sudah engkau lakukan, sesuatu yang kau kerjakan itu terjadi di negara kami. Dan kami yang menguasainya”.

Kemudian Abu Muslim mengambil tangan khalifah, menerimanya dan meminta maaf kepadanya. Lalu khalifah bertepuk tangan sebagai tanda perintah kepada bawahannya di belakang jendela agar membunuh Abu Muslim al-Khurasani di majelis itu. Peristiwa itu terjadi pada 25 Sya’ban 137 H.

Setelah Abu Muslim terbunuh Al-Mansur menyanyikan syair:

Aku kira agama tidak akan menghendaki
Maka terimalah rupa sebagai seorang penjahat
Aku menuang sesuatu pada cangkir yang kautuangi
Sesuatu dalam tenggorokan dari tanaman labu.

Membaca cerita itu saya terpukau. Saya membayangkan adegan-adegan yang dramatis dan epik. Saya pun terngiang-ngiang peristiwa yang tak kalah epik; The Red Wedding dalam serial Game of Thrones.

Sebenarnya rangkaian peristiwa keduanya jauh berbeda. Dalam peristiwa the Red Wedding Arya membunuh semua orang di aula yang ramai itu. Sedangkan dalam cerita di atas hanya Abu Muslim al-Khurasani yang terbunuh.

Motif Arya membunuh Walder Frey dan Al-Mansur menyingkirkan Abu Muslim pun berbeda. Arya bergerak karena keinginan untuk membalaskan dendam keluarganya. Sedangkan Al-Mansur bertujuan menstabilkan dan menjauhkan negara dari kemungkinan gonjang-gonjing serta mengamankan kekuasaannya.  Al-Mansur was-was kalau saja Abu Muslim dengan pengaruhnya yang besar ingin membelot dari kepemimpinan dinasti Abasiyyah. Al-Mansur ingin meniadakan musuhnya setelah lebih dulu menyingkirkan pamannya Abdullah bin Ali melalui Abu Muslim.

Akan tetapi dalam benak saya, tepat setelah Arya membunuh semua orang di aula itu lalu musik pengiring memainkan alunannya hampir serupa suasana saat Abu Muslim al-Khurasani dibunuh lalu seketika Al- Mansur menyanyikan syairnya.

Dua peristiwa itu pun menjadi suatu kewajaran dalam dunianya masing-masing. Dua-duanya juga memiliki alasannya masing-masing. Seperti dikatakan Machiavelli dalam The Prince ketika membicarakan tentang negara ‘pangeran campuran’, “orang seharusnya mengingat baik-baik bahwa seorang manusia mesti diperlakukan dengan baik atau dihabisi sekalian, karena mereka bisa menuntut balas untuk hal-hal yang sepele.” Tetapi saya tidak akan memperpanjangnya.

Apa pun itu, hal yang ingin saya utarakan ialah kekaguman terhadap khalifah Abasiyyah yang mahir dalam berpuisi di antara kesibukannya mengurus hal-hal kenegaraan dan mememajukan dinastinya hingga dikatakan sebagai era kejayaan.

Sebenarnya bukan Al-Mansur saja, khalifah Abasiyyah yang lain juga lihai dalam hal syair. Begitu pula khalifah era Umayyah yang eranya belum banyak bercampur dengan orang non-Arab. Kalau pun tidak menggubah, mereka gemar dan senang dengan puisi.

Mungkin bisa saya tuliskan bagaimana para ahli sejarah memuji kemampuan bersastra para khalifah Abasiyyah. Al-Mahdi putra al-Mansur dikatakan oleh Khotib al-Baghdadi dalam al-Kamil-nya, bahwa ia berpengetahuan luas tentang syi’ir, riwayat kisah-kisah Arab, perumpaan-perumpuan, dan bahkan ia menulis buku Amtsalul Arab. Atau Al-Hadi bin Al-Mahdi yang dituturkan fasih dan dan sangat baik dalam bersyair dan berpidato oleh al-Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa’. Atau Harun al-Rasyid yang dikelilingi oleh penyair dan ahli ilmu. Juga al-Makmun yang dikatakan dalam Tarikh al-Thobari sebagai sastrawan cerdas yang mampu membedakan antara syair yang baik dan syair yang cacat.

Bahkan al-Amin yang dikatakan oleh Ibnu Atsir “kita tidak menemukan sesuatu dari sejarah al-Amin untuk bisa kita puji dan kita ingat” pun ulung dalam hal puisi dan keilmuan lainnya. Namun di antara itu semua, saya memilih peristiwa Al-Mansur berpuisi karena momennya yang unik.

Kadang saya menggandrungi realitas yang dilupakan seperti itu.

Tetapi kita jauh lebih sering mendapati hal-hal buruk yang tidak diungkapkan. Mungkin itu konsekuensi yang wajar dari kondisi kita. Semakin awut-awutan kondisi masyarakat, ia akan gampang melupakan suatu realitas atau menutupinya dan membuka lebar-lebar sesuatu yang baik saja. Padahal kita tidak bisa berbuat apa-apa terhadap realitas masa lalu. Sebab, kehidupan dan realitas masa lalu, di dalamnya adalah ciptaan Tuhan. Setidaknya itu yang diyakini mayoritas penghuni bumi.

Realitas dalam sejarah harus benar-benar dijaga sebab-akibatnya dan nalarnya oleh Sejarawan. Rangkaian kejadian demi kejadian di dalamnya, seabsurd apa pun, harus bisa dipertanggungjawabkan dan masuk akal dalam logika masa itu.

Begitu pula dalam kisah sejarah yang jarang diungkapkan, setiap penulisnya harus meyakinkan pembaca bahwa apa yang dia tulis itu benar-benar ‘kisah nyata’. Semua tokoh dan peristiwanya nyata.

Di sinilah cerita tentang khalifah berbeda dari sekian cerita tentang dinasti Abasiyyah. Ceritanya membuat saya terpincut tentang realitas yang belum diungkapkan, kadang membuat ragu apakah semua itu sungguh-sungguh terjadi atau tidak. Ceritanya bisa bertutur dengan ketenangan dan wibawa dari orang-orang yang berkuasa nan berkehendak. Beberapa dari ceritanya menyelipkan ayat al-Quran sebagai kutipan. Sebuah cara menakjubkan untuk membuat kita percaya.

Saya heran sekali setiap selesai membaca cerita-cerita seperti itu.

Facebook Comments
Bagikan konten: