Kematian Tiba-tiba Ayah Kami

Bagikan konten:

Iman

Setelah bertahun-tahun lamanya akhirnya Iman mendengar kabar tentang ayah, kabar bahwa beliau baru saja meninggal dunia. Waktu itu ia baru saja pulang dari kantornya di kawasan Agouza pada suatu sore menjelang magrib. Kontrakannya yang berada di Nasr City mengharuskan Iman mengendarai Corolla putih peninggalan kakeknya kurang lebih satu jam setiap pulang pergi dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Sebagaimana firasat buruk sering bekerja, dalam perjalanan pulang kala itu Iman tiba-tiba terbayang wajah ayah. Padahal ia jarang sekali memikirkan beliau. Di tengah-tengah amukan klakson dan kemacetan yang melelahkan, mendadak Iman merindukan Baba. Begitu ia selalu memanggilnya meskipun ayah tak terlalu menyukai panggilan tersebut. Iman sempat pingsan dekat rak sepatu setelah membuka pesan tentang kematian ayah dari kerabat di Jogja. Untungnya seorang tetangga, Madam Radwa si janda perang 6 Oktober, yang kebetulan lewat merasa curiga mendapati pintu apartemen Iman tidak tertutup rapat. Wanita lanjut usia itu segera menghampiri dan berusaha membangunkan Iman. Setelah menyadari upayanya tidak berhasil, Madam Radwa meminta bantuan pada cucu lelakinya untuk memindahkan Iman ke kamar tidur. Setidaknya begitulah yang aku dengar ketika kami bertemu di hadapan makam ayah kami.

“Madam Radwa sehat-sehat saja?” tanyaku. Iman tampak terganggu oleh apa yang aku tangkap dari ceritanya. Ia malah balik bertanya apa itu saja yang menarik perhatianku. Tentu saja aku tertarik dan penasaran, dulu aku dekat sekali dengan Madam Radwa. Ia sering memintaku mampir ke rumah setiap kali aku mengungjungi Iman dan suaminya lima tahun yang lalu. Ia akan memberiku makanan dan berulang kali mendongengi cerita-cerita perang 6 Oktober, terutama tentang bagaimana suaminya mati saat mencari tempat buang air di kaki Gunung Sinai. Tapi Iman tampak tidak senang apalagi ketika aku mengingatkan bahwa Madam Radwa telah banyak membantunya termasuk saat ia jatuh pingsan beberapa hari yang lalu. Ia menuduhku tidak pengertian. Ia berkata bahwa aku tidak tahu apa yang harus ia lalui agar bisa datang ke pemakaman ayah.

Yang terberat adalah Iman mesti mendapat persetujuan nenek dan ibunya. Mereka berdua tidak menyukai ayah. Bagaimana tidak? Ayah meninggalkan Iman dan ibunya dua puluh tiga tahun yang lalu. Ia pergi begitu saja setelah semua upaya dan kerja kerasnya untuk bisa menikahi Omnia, ibunya Iman. Dulu ayah harus berhutang ke sana-sini termasuk membujuk orangtuanya untuk menjual lima hektar kebun cengkeh mereka di kampung agar bisa membeli sebuah apartemen. Apartemen tersebut adalah salah satu syarat—selain sejumlah uang yang tidak sedikit tentunya—yang dibebankan orangtua Omnia, Hag Tharwat dan Hagah Dalia, kepada ayah untuk meminang anak mereka. Dan itu pun setelah ratusan permohonan ayah diajukan kepada Hag Tharwat, yang tidak memiliki alasan bagus untuk menerimanya. Mengapa pula ia harus menerima seorang lelaki asing dari tanah yang jauh? Ia tidaklah kaya raya, tidaklah lulusan terbaik dari kampus ternama di Kairo atau pun negeri lainnya. Ayah tidak spesial sama sekali di mata Hag Tharwat.  Dari sekian kenalannya, akademisi, tokoh agama hingga pejabat pemerintah, Hag Tharwat mampu menikahkan anaknya dengan lelaki mana pun yang berkali lipat lebih baik dan memenuhi syarat yang tidak akan bisa dicapai oleh ayah bahkan dalam satu kesempatan hidup ini. Ayah hanya memiliki satu kelebihan, yang mungkin tidak dimiliki kandidat lainnya: Omnia mencintainya. Begitu juga sebaliknya, tentu saja.

Namun suatu malam di penghujung tahun 1991, kediaman Hag Tharwat didatangi sekelompok polisi. Mereka berlima membawa paksa Hag Tharwat dan memasukannya ke mobil box berwarna hitam yang mulai menampakkan jejak berkarat. Hagah Dalia meraung-raung membelah kesunyian Agouza di malam hari. Omnia segera menghubungi paman-pamannya dan meminta tolong agar mereka mencari informasi mengenai keberadaan ayahnya. Adik tertua Hag Tharwat, Paman Hossam, segera mendatangi kepolisian Agouza dan menanyakan keberadaan kakaknya. Petugas di sana berkata bahwa mereka tidak tahu menahu soal kasus tersebut bahkan belum pernah mendengar nama Tharwat Elsayed Tohamy. Sekitar dua minggu kemudian baru Omnia dan ibunya mendapat kabar tentang Hag Tharwat. Setelah proses pencarian yang panjang dan melelahkan sekaligus sia-sia dari satu markas kepolisian ke markas yang lain, akhirnya ada telepon dari kantor kepolisian level II di Nasr City bahwa mereka menahan Hag Tharwat atas tuduhan pencemaran nama baik presiden serta mengancam keutuhan Republik Arab Mesir. Bahkan anak dan istrinya terheran-heran, siapa gerangan ia? Bagi mereka, Hag Tharwat hanyalah seorang pengusaha ekspor minyak wangi yang sangat taat, baik sebagai seorang muslim maupun seorang warga negara. Belakangan mereka mengetahui bahwa Hag Tharwat sangat aktif di kelompok Islam konservatif bernama Persaudaraan yang sedang bersusah payah ikut andil dalam percaturan politik negeri.

Setelah melalui persidangan yang panjang, akhirnya Hag Tharwat divonis sepuluh tahun penjara beserta beberapa rekannya. Mereka terbukti memiliki dokumen perencanaan penggulingan pemerintahan yang masih berkuasa. Kelompok mereka dibubarkan, petinggi-petingginya diburu dan ditangkapi. Sambil membacai koran ibu kota, banyak orang bertanya bagaimana pemerintah bisa mengarahkan mata mereka pada pergerakan tersebut? Usut punya usut, Badan Intelijen Negara menanamkan penyusup seorang asing untuk menjadi tukang bersih-bersih di markas kelompok mereka. Padahal tinggal beberapa langkah lagi, Persaudaraan akan segera menjadi partai resmi yang memiliki ribuan partisan dan lebih banyak lagi simpatisan. Lebih menyesakkan lagi tentu saja bagi keluarga Hag Tharwat. Semuanya hancur berantakan. Jaringan bisnis, akses kepada elit intelektual dan politik, kepercayaan masyarakat, semuanya luruh bersamaan dengan debu dan pecahan semen yang berjatuhan saat pintu sel Hag Tharwat ditutup dengan kencang dan kasar.

Setelah peristiwa tersebut, mereka tentu tidak punya pilihan selain membiarkan Omnia dan ayah menikah. Lagipula sudah tidak ada yang mau mendekati keluarga mereka. Mereka tidak memiliki banyak harta tersisa. Hanya apartemen, satu mobil Corolla putih yang bertahun-tahun kemudian akan diwariskan kepada Iman dan tabungan yang mungkin hanya cukup untuk lima tahun saja. Meski semuanya adalah bencana bagi keluarga Hag Tharwat, mau tidak mau ayah melihatnya sebagai peluang untuk mendapatkan Omnia. Sebagaimana Keluarga Tharwat tidak punya pilihan lain, ayah juga tidak ada rencana lain selain meneruskan perjuangannya. Setelah berhasil menemui Hag Tharwat di tahanan dan mendapatkan restunya, ia segera mendatangi kediaman Tharwat yang kini hanya dihuni Hagah Dalia dan Omnia. Situasinya memang sudah berubah, tapi tradisi tetap tradisi. Ayah mesti membeli sebuah apartemen dan menyiapkan uang yang sangat banyak untuk mahar dan acara pernikahan. Ayah tidak menyerah dan akhirnya mereka menikah pada musim semi tahun 1994 dan Iman lahir pada musim panas tahun 1995. Kemudian Hag Tharwat meninggal di penjara karena serangan jantung, pada hari yang hujan di musim dingin tahun 1996.

Setelah menikah ayah tinggal di kediaman Hag Tharwat bersama Omnia dan ibunya. Dekat rumah tersebut, Ayah membuka usaha restauran khas Indonesia pada tahun 1997. Kerja sedapatnya di sana-sini, dari jaga kedai milik orang Mesir (walau tentu saja ia sendiri juga sudah menjadi orang Mesir) sampai menjadi tukang bantu-bantu di kedutaan, ia akhirnya memiliki modal yang cukup. Penghasilan restauran tersebut tidak banyak, tapi itu sudah cukup. Meskipun ia adalah lulusan Universitas Al-Azhar jurusan tafsir, begitulah bagaimana ia sampai di Mesir, ia tidak memiliki rencana apa-apa mengenai hasil sekolahnya itu. Mungkin lebih tepatnya tidak terpikirkan. Sebagaimana ia tidak terpikirkan pulang ke kampung halamannya. Tapi justru di saat itulah sebuah musibah terjadi.

Di awal tahun 1998, kediaman Hag Tharwat kembali didatangi polisi. Kali ini yang dibawa adalah ayah. Kabar tak sedap segera menyebar bahwa ayah terlibat dengan kelahiran kembali kelompok Islam konservatif yang juga dinamai Persaudaraan. Bagaimana mungkin seorang asing ikut campur dengan pergerakan separatis di negeri orang? Tapi bagaimanapun juga, ayah telah menjadi warga negara Mesir dengan menikahi ibunya Iman. Apalagi ia adalah menantu dari salah satu petinggi kelompok tersebut. Rumor tersebut terdengar cocok sekali dengan latar belakang ayah. Namun empat hari setelah kejadian penangkapan, ayah pulang ke rumah. Ia terbukti tidak bersalah atas tuduhan apa pun yang ditujukan kepadanya. Malamnya mereka tidur bersama: ayah, Iman dan ibunya. Ayah memeluk erat mereka berdua. Air mata hampir menetes di wajah anaknya yang sedang tertidur pulas dalam pelukannya. Tapi ia berhasil memalingkan wajahnya tepat waktu agar air matanya berlinang ke arah yang berlawanan, dan pelan-pelan mengusapnya dengan bahunya. Ia mengintip istrinya yang berada dalam jangkauan pelukannya juga, memastikannya sedang terlelap. Perlahan ia angkat tangannya yang memeluk, menarik tangan satunya yang menjadi sandaran kepala anak dan istrinya. Sekitar pukul satu dini hari, ayah diam-diam pergi. Cerita ini aku dapatkan dari ayah secara langsung. Cerita bagaimana ia meninggalkan mereka selamanya.

Bertahun-tahun kemudian Iman mengetahui bahwa ayah telah kembali ke Indonesia. Sejak pergi tanpa penjelasan apa-apa, Iman dan ibunya bersepakat untuk membenci ayah dan melupakannya. Iman berhasil melakukannya sampai ia beranjak remaja. Saat ia mulai dewasa, menuju usia duapuluhan, ia mulai merindukan ayah. Tepat di usia dua puluh empat tahun, beberapa minggu setelah ia lulus kuliah, ia mendapat pesan berbahasa Inggris dari seseorang yang mengaku adik ayahnya. Orang tersebut, yang berarti adalah paman kami jika perkataannya bisa dipercaya (setelah aku menemuinya langsung dan Iman juga tentu pengakuannya dulu sebagai paman kami adalah sebuah kebenaran), memberitahu Iman bahwa ayah selama ini tinggal di Jogja, kota kelahirannya. Saat ditanya mengapa ayah tidak langsung menghubunginya, Paman hanya menjawab kalau ayah masih merasa berdosa telah meninggalkan Iman dan ibunya. Iman tidak menangis mendengar kabar ayahnya. Tidak ada emosi spesial yang tumbuh dari momen tersebut. Ia pernah memberitahuku bahwa ia sangat kesal mengapa sampai saat itu pun ia masih belum mengetahui alasan kepergian tiba-tiba ayah.

Lima tahun kemudian Iman menikah dengan teman sekantornya di sebuah perusahaan kertas. Iman tinggal dengan suaminya di Nasr City, meninggalkan ibu dan neneknya di Agouza. Pernikahan mereka tidak berlangsung lama, hanya satu tahun lebih tujuh bulan. Selama itu mereka bersama baik di rumah maupun di tempat kerja, ternyata membuat suami Iman merasa bosan dan suatu malam keceplosan mengatakan pada Iman bahwa ia menyesal. Iman tidak cukup mencintainya sampai harus berlama-lama sengsara dan segera mengurus perceraian mereka. Ibu Iman dan mertuanya tidak setuju hingga menghambat urusan perceraian mereka. Suaminya sudah menikah lagi dengan wanita lain, masih orang dari kantor yang sama hanya saja di departemen yang berbeda. Iman keluar dari kantor tersebut dan pindah ke perusahaan komunikasi di Agouza, dekat rumah orangtuanya. Ia juga tinggal di sana kembali. Akan tetapi suaminya bersikeras memberikan rumah mereka berdua di Nasr City untuk Iman tinggali. Iman menyetujui karena toh tidak ada ruginya dan kebetulan ia sedang ingin tinggal sendiri. Dua bulan kemudian mereka resmi bercerai. Sejak itu aku lebih sering datang ke rumah dan menemaninya ngobrol, sambil sekali dua kali mampir ke rumah Madam Radwa, sampai setahun kemudian aku pergi ke Indonesia, atau lebih tepatnya kembali, hanya saja aku belum pernah ke sana sebelumnya untuk pantas mengatakan ‘kembali’. Iman menuduhku ingin mencari ayah. Itu bukan tuduhan, memang benar adanya.

Enam hari yang lalu Iman menerima pesan dari Paman, ia mengabari Iman perihal kematian ayah. Setelah sadar dari pingsannya dan mendapati Madam Radwa di kamarnya, ia berterimakasih kepadanya dan mengatakan bahwa ia tak perlu khawatir lagi. Iman mempersilahkannya untuk pulang sebab ia akan pergi. Setelah beberapa saat meyakinkan Madam Radwa bahwa ia sudah tidak perlu beristirahat lagi, ia segera menuju Corolla putihnya dan kembali ke Agouza, ke rumah orangtuanya. Begitu datang Iman langsung menghampiri ibunya di kamar, meminta izin untuk pergi ke Indonesia. Ia bertanya ada apa. Iman memberitahunya bahwa Baba telah meninggal dunia. Omnia terdiam beberapa saat. Air mata meleleh di kedua pipinya, ada alasan mengapa ia masih sendiri sampai saat ini. Seperti dugaan Iman, ibunya tidak mengizinkan.

“Untuk apa?” tanya neneknya yang muncul beberapa saat lalu dan mendengar cerita Iman.

“Ketemu Baba.” Iman menjawab pendek.

“Tidak akan sempat,” tegas neneknya.

“Setidaknya bisa ziarah, Nek.” Iman tak mau menyerah.

“Untuk apa?”

Iman diam beberapa saat. Ibunya sejak tadi hanya menatap kosong ke kasur besarnya.

Tiba-tiba Iman bersandar di bahuku sembari menangis. Aku diam saja. Sambil tersedu ia meneruskan, katanya baru dua belas jam kemudian ia berhasil mendapat persetujuan ibu dan neneknya setelah berkali-kali berjanji akan kembali secepat mungkin. Itu saja. Ia tak tahu harus memberi alasan apa lagi selain hanya bisa berjanji tidak akan berlama-lama. Iman juga meminta maaf pada ibunya bahwa selama ini ia diam-diam merindukan Baba.

 

Ivanka

Tujuh hari setelah kematian Bapak, kami menggelar yasinan. Di antara orang-orang desa lalu lalang, ada seorang wanita asing berdiri di teras rumah. Ia tampak kebingungan. Ia begitu mencolok. Tinggi, putih dan satu-satunya perempuan yang tidak mengenakan kerudung. Aku mencoba mendekat. Dari dekat aku bisa melihat wajahnya yang ke-Arab-Arab-an. Aku bertanya-tanya dalam hati bagaimana ia bisa sampai ke sini. Ia tampak sadar aku perhatikan, meskipun sedari tadi ia sudah memberikan senyum kepada wajah-wajah keheranan yang berpapasan dengannya. Sudah ada yang menanyakan apa yang bisa dibantu, ia hanya tersenyum. Ia tidak paham bahasa kami. Ia mendekatiku seperti langsung tahu bahwa ia bisa meminta bantuanku.

“Saya Iman,” katanya memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris.

“Saya Ivanka. Anda siapa?” balasku.

“Saya dari Mesir. Saya anaknya Baba…ah, saya anaknya Almarhum.”

Petir menyambar di kepalaku. Bapak tidak pernah cerita. Kami semua tahu ia pernah menikah di Mesir, tapi tidak pernah memberitahu kalau ia punya anak di sana. Sebentar, Iman? Kurang ajar orang itu! Perempuan yang selalu ia ceritakan adalah anak Bapak? Tapi sebentar, bagaimana aku bisa membuktikan kalau dia benar anak Bapak? Terlalu berat informasi ini untuk aku proses sekarang sedang wanita itu masih menunggu responku.

“Ah…” Aku belum tahu harus berkata apa.

“Saya minta maaf. Pasti Baba tidak memberitahumu tentang saya.” Ia menangkap basah kerisauanku.

“Saya perlu menghubungi tunangan saya dulu. Dia kenal Bapak sejak dari Mesir. Silahkan tunggu sebentar di ruang tamu.” Aku baru saja menyadari kerumunan yang menonton kami. Persiapan acara tahlilan terhenti, mereka semua memerhatikan kami. Aku segera menunjukkan jalan padanya menuju ruang tamu. Kerumunan mengikutinya. Aku meminta tolong Nyadhran, seorang warga yang lumayan bisa berbahasa Inggris, untuk mengantarkan dan menemaninya. Saat aku hendak mencari handphoneku, wanita itu memanggilku.

“Nona, terimakasih banyak. Maaf kalau boleh bertanya, Anda siapa?”

Aku ragu untuk menjawab. Sepertinya ia juga tak tahu banyak tentang kehidupan Bapak sejak kembali ke Jogja. Tapi akhirnya kata-kata mengalir dari mulutku, “Saya juga anak Bapak.”

Aku tak tahu apa yang menyambar di kepalanya, yang jelas ia tampak sangat terkejut bahkan hampir terjatuh. Aku segera memegangi dan membantunya tetap berdiri. Aku meminta maaf dan memohonnya untuk menunggu dulu di ruang tamu. Aku menyuruh Nyadhran untuk mengamankan ruang tamu agar orang-orang tidak mengganggu tamu ini. Setelah dibujuk beberapa saat, wanita bernama Iman itu akhirnya mau menunggu dan beranjak menuju rumah.

Aku kembali teringat Isham, tunanganku. Lama sekali dia. Tadi ia kumintai tolong untuk membeli beberapa keperluan di kota bersama Iskandar. Aku langsung mencari handphone di kamar lewat pintu samping. Beberapa saat kemudian aku telah berada di telepon dengan Isham. Ia juga sama terkejutnya denganku. Tapi aku meminta penjelasan padanya, bagaimana bisa ia tidak memberitahuku tentang anak Bapak di Mesir sana. Ia hanya menjawab bahwa ia tak pernah mengira kami akan bertemu. Mana ada alasan seperti itu? Ia meminta maaf. Dan terus meminta maaf. Tapi aku terpikirkan sesuatu yang lebih penting.

“Mas, untuk apa dia jauh-jauh ke sini?”

 

Iskandar

Kau ingat tukang bersih-bersih yang disusupkan Badan Intelijen ke markas Persaudaraan di masa Hag Tharwat? Ia adalah ayah kandungku. Dan ayah, orang yang selama ini aku ceritakan, adalah sahabat baiknya. Ayah kandungku menghilang sejak peristiwa penangkapan itu. Tentu saja ayah tidak tahu menahu soal apa yang dikerjakan ayah kandungku pada waktu itu. Yang ia tahu hanya sahabatnya menghilang dan meninggalkan seorang istri yang sedang hamil. Aku lahir beberapa bulan kemudian, ibu meninggal beberapa jam setelah aku lahir karena posisi plasenta yang terbalik. Ayah pun mengangkatku sebagai anaknya beberapa bulan sebelum menikahi putri Hag Tharwat. Dan Isham adalah nama pemberian ayah, karena orangtua kandungku belum ada yang sempat menyiapkan nama. Tiba-tiba ingatan itu menyerangku. Ayah memberitahu semuanya kepadaku saat aku menemukannya beberapa bulan sejak kedatanganku ke Indonesia.

Dalam perjalanan pulang selepas membeli keperluan yang diminta Ivanka untuk acara yasinan, aku terbayang wajah Iman. Sudah lima tahun berlalu sejak aku meninggalkannya. Bagaimana bisa ia sampai di sini? Kemudian wajah ayah membayang. Meskipun Iman membencinya, ketika berbicara denganku ia selalu mengaku kalau ia merindukannya. Aku tak pernah menghubungi Iman selama tinggal bersama ayah lagi di Jogja. Aku menganggap era Mesir sudah berakhir sejak aku jatuh cinta pada Ivanka. Iman sama sekali tidak tahu tentang Ivanka dan Iskandar, dua anak ayah dari pernikahan keduanya.

Iskandar sedang menyupir dengan tenang di sampingku. Aku tahu hatinya tak tenteram. Ia diam saja ketika mendengar tentang Iman. Ada sesuatu yang masih mengganggu di pikirannya. Satu bulan yang lalu Iskandar membuat sebuah pengakuan kepada ayah bahwa ia mencintai dan ingin menikahi Kristin, seorang perempuan nasrani yang dikenalnya sejak masuk kampus. Ayah tidak setuju karena perbedaan agama. Ayah menasehatinya bahwa perbedaan itu akan menyulitkan kehidupannya di masa mendatang. Seperti dirinya dengan seorang wanita Mesir di waktu dulu. Iskandar bercerita padaku dan meminta pertolonganku. Aku mencoba membujuk ayah tapi tetap nihil. Katanya aku seharusnya yang paling mengerti karena mengetahui kehidupannya selama di Mesir. Aku tidak paham sebetulnya, karena ia tampak bahagia-bahagia saja. Tentu saja sampai musibah di tahun 1998 itu terjadi.

Orangtua Kristin sebenarnya tidak menyetujui pernikahan mereka meski tidak membenci Iskandar. Hanya saja setelah mendengar respon ayah, mereka langsung pasang sikap keras. Mereka melarang Kristin bertemu dengan Iskandar, sama sekali. Meski sudah berusia 20 tahun, Kristin masih dianggap anak kecil oleh orangtuanya sampai tega dilarang keluar rumah sampai berubah pikiran tentang Iskandar. Karena kuliah Kristin sudah tinggal menyelesaikan skripsi saja, maka itu semakin mendukung hukuman orangtuanya karena tidak ada yang mewajibkan Kristin untuk keluar rumah kecuali ada kebakaran atau bencana alam. Iskandar dan Kristin tentu masih bisa berhubungan menggunakan handphone sampai itu juga dilarang oleh orangtua Kristin dua hari kemudian. Saat itu lah Iskandar tak henti-henti memohon kepada ayah untuk diberi restu menikahi Kristin.

“Kau tidak lihat bagaimana respon orangtuanya?” kata ayah waktu itu.

“Mereka seperti itu karena Bapak,” tandas Iskandar.

Ayah diam saja dan segera masuk kamar. Ibunya Iskandar, anak seorang aktivis yang hilang di tahun 80-an, hanya bisa menenangkan. Tapi melihat air mata Iskandar, ia jadi tidak tega dan berkata ingin membantunya. Ibunya masuk kamar menyusul ayah. Keesokannya ayah memberi restu kepada Iskandar untuk meminang Kristin. Tapi ia harus menyelesaikan sendiri persoalan yang terjadi di keluarga Kristin. Kalau misalnya bertambah panas, barulah ia boleh meminta bantuan ayah untuk mendatangi keluarga Kristin. Aku tak tahu apa yang dilakukan ibunya Iskandar kepada ayah sampai bisa meluluhkan hatinya.

Sayangnya ketika sampai di rumah Kristin, Iskandar justru mendapati kekasihnya itu telah meninggal karena gantung diri. Kedatangannya bertepatan dengan diturunkannya Kristin dari kain pembungkus guling yang digantung di kaitan besi yang semestinya digunakan untuk ornamen langit-langit. Belum sempat dia meneriaki orangtua Kristin sebagai pembunuh, ibu dan ayah Kristin sudah bergantian menampar dan menendangi Iskandar, sumpah serapah berhamburan di wajahnya, sampai akhirnya berhasil dihentikan oleh polisi yang bertugas. Sejak kejadian itu ia mengurung diri di kamarnya selama hampir sepuluh hari. Sampai suatu hari yang hujan satu minggu lalu, Iskandar keluar kamar. Di hari itu, ayah tiba-tiba meninggal dunia. Iskandar yang menemukannya terkapar di teras rumah kami. Diduga ia baru saja terjatuh dari atap rumah.

“Is?” Aku memanggilnya tiba-tiba. Aku juga tak tahu mengapa. Perjalanan kami masih sekitar tiga puluh menit lagi.

“Bagaimana, Mas?” balasnya lirih.

“Kau baik-baik saja?”

Ia diam saja.

“Kau tidak penasaran dengan kakakmu yang bernama Iman?”

“Saya ingin bertemu,” jawabnya pendek.

“Aku tidak menyangka ia sampai ke sini. Padahal ayah, maksudku Bapak, sudah lama melupakannya.”

“Tidak, Mas.”

“Apanya?”

“Bapak belum melupakan Mbak Iman.”

“Kamu sudah tahu tentang Iman, Is?”

“Sudah, Mas. Pas hujan waktu itu, Bapak cerita sama saya.”

Aku menelan ludah. Iskandar baru cerita tentang ini.

“Waktu itu sinyal sedang susah. Bapak bilang ingin menghubungi Mbak Iman. Bapak bilang ingin mencoba naik ke atap dan mencari sinyal di atas. Saya bilang jangan karena hujan, bahaya. Saya ambil handphone di kamar siapa tahu bisa pakai punya saya. Pas saya sedang cari-cari, saya mendengar suara gedebuk kencang sekali. Saya langsung lari keluar. Bapak sudah terbaring di teras.”

Facebook Comments
Bagikan konten: