Gagal Paham Fatwa Corona

Bagikan konten:

Mewabahnya virus Covid-19 adalah alasan ditetapkannya pembatasan sosial atau sosial distancing kepada masyarakat di berbagai penjuru dunia. Langkah ini diambil oleh beberapa negara yang terpapar virus Corona sebagai bentuk antisipasi penularan. Tak terkecuali Indonesia dengan jumlah pasien positif Corona yang semakin bertambah setiap harinya.

Di situasi seperti ini informasi mengenai perkembangan kasus, dampak dari wabah, serta pencegahan penularan virus menjadi tren di media massa. Namun sayangnya, media sosial sebagai alat penyebaran informasi acap kali disalah gunakan oleh oknum-oknum yang tak bertanggungjawab. Terlebih menyoal imbauan untuk tidak melaksanakan salat Jumat dan salat berjamaah di masjid yang melahirkan kontroversi. Hemat saya, hal ini terjadi karena masyarakat masih gagap dalam memahami sebuah informasi serta rendahnya kesadaran akan keberagaman dalam beragama.

Dua hari yang lalu saya menelpon sanak saudara untuk berbagi kabar. Benar saja, isu mengenai imbauan untuk tidak salat jumat menjadi bahan perbincangan yang empuk. Salah seorang kerabat sangat menyayangkan imbauan tersebut dikeluarkan di tengah bencana melanda yang harusnya diisi dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Ditambah lagi menurutnya, hal ini justru bertolak belakang dengan apa yang terjadi di China ketika manusia berbondong-bondong masuk Islam karena virus Corona tidak menjangkiti umat muslim di China. Amboi betul, memangnya kalau Corona menjangkiti mayoritas muslim, lalu sisanya akan berbondong-bondong membaptis diri, begitu? Sebenarnya saya tidak kuat hati menuliskan ini, tapi apa daya, inilah kenyataan yang terjadi di mayoritas masyarakat muslim Indonesia.

Mereka yang salah paham mengira bahwa fatwa yang dikeluarkan lembaga agama —MUI dan Dewan Ulama Senior Al-Azhar— perihal Corona bertujuan untuk mengosongkan masjid dari jamaah salat. Mereka mengusung dalil penguat berupa hadis-hadis daif mengenai keutamaan memakmurkan masjid serta dihindarkannya penyakit dari orang-orang yang meramaikan masjid. Akhirnya, beberapa orang mulai berpendapat bahwa Corona telah merusak tatanan agama dengan adanya larangan menunaikan salat di masjid, bersilaturahmi, bahkan bersalaman pun dilarang.

Padahal, jika kita lihat ulang fatwa yang dikeluarkan MUI, kita akan mendapati rincian fatwa yang sangat jelas. Bagi yang terpapar, wajib banginya mengisolasi diri sehingga kewajiban salat jumatnya digantikan dengan empat rakaat salat zuhur dan dilaksanakan di rumah masing-masing. Sedangkan bagi yang sehat, fatwa dibedakan menjadi tiga:

Pertama, bagi yang tinggal di kawasan dengan potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi, umat muslim diperbolehkan meninggalkan salat jumat dan menggantinya dengan salat zuhur di kediaman masing-masing.

Kedua, bagi yg tinggal di kawasan dengan potensi penularannya rendah, umat muslim tetap wajib melaksanakan salat jumat dan wajib menjaga diri agar tidak tertular.

Ketiga, dalam kondisi penyebaran virus yang tak terkendali dan mengancam jiwa di sebuah kawasan, umat Islam dilarang menyelenggarakan salat jumat di kawasan tersebut dan digantikan dengan salat zuhur di rumah masing-masing (baca fatwa MUI nomor 14 tahun 2020).

Selain salat jumat yang wajib, ibadah-ibadah sunah juga sama hukumnya sesuai dengan keadaan masing-masing orang. Yang dimaksud ibadah sunah di sini adalah ibadah sunah yang membuka peluang penularan virus seperti salat berjamaah lima waktu, salat tarawih, salat Ied yang dilaksanakan di masjid atau tempat umum, serta menghadiri pengajian umum.

Dari rincian di atas sudah jelas bahwa tujuan fatwa tersebut adalah untuk mencegah dan meminimalisir penularan virus yang sangat cepat. Alasannya karena salat jumat, salat berjamaah lima waktu, serta ibadah-ibadah sunah tersebut di atas merupakan ibadah yang dalam pelaksanaannya melibatkan banyak orang, sehingga membuka peluang penularan virus secara massal.

Belum selesai, pihak-pihak yang berpegang pada hadis-hadis daif beranggapan bahwa hadis-hadis tersebut merupakan petunjuk untuk mengikuti tindak tanduk Nabi saw. yang harusnya senantiasa diamalkan oleh umatnya. Memang benar adanya, hadis-hadis tersebut walaupun derajatnya daif masih bisa diamalkan karena hanya berkaitan dengan pelengkap ibadah saja dan bukan yang menyoal akidah maupun halal-haram. Namun, jika hadis-hadis tersebut digunakan untuk tetap bersikap fatalisme terhadap bahaya virus Corona serta tidak mengindahkan fatwa ulama, maka rasanya tidak tepat untuk diamalkan di situasi seperti ini. Karena Nabi saw. pun dalam sabdanya yang diriwayatkan dengan sahih memerintahkan umatnya untuk berusaha terlebih dahulu sebelum menyerahkan segala urusan kepada Tuhan.

Bisa disimpulkan bahwa imbauan yang sudah banyak menyebar, serta fatwa mengenai ibadah di tengah wabah merupakan upaya sebagai bentuk ikhtiar untuk menekan dan meminimalisir penularan virus. Tugas kita sebagai warga biasa (bukan ahli medis atau ahli agama) adalah dengan mengindahkan imbauan dari para ahli, serta berhati-bati dalam menerima ataupun menyebarkan informasi demi kebaikan bersama.

Agama kita di-setting untuk memberikan kemaslahatan serta kemudahan, bukan sebaliknya. Mari kita bertakwa (takut) kepada Allah dengan bekerjasama menghindari penyebab penularan virus Corona. Ustad Felix Siau saja mengikuti dan menganjurkan untuk mengikuti fatwa ulama, bagaimana dengan anda?

 

 

 

 

Facebook Comments
Bagikan konten: