Fenomenologi Tubuh yang Terluka dalam Puisi Ghayath Almadhoun

Bagikan konten:

Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada, adalah jargon filsafat Barat modern paling penting. Descartes, sang bapak filsafat modern, menemukannya setelah melepaskan diri dari doktrin filsafat Abad Pertengan yang cenderung teosentris—semua berpusat pada Tuhan dan meninggalkan kolerat manusia di antara jejak-jejak metafisis. Tetapi, penemuan itu, yang menjalar di tubuh sejarah filsafat setelah Descartes meninggal sampai dengan awal abad ke-20, justru menyimpan satu masalah yang akhirnya mengilhami Husserl untuk mencetuskan gerakan baru: fenomenologi. Peradaban ide, ego, nalar, rasio—dan kata yang sederivasi lainnya, melupakan tubuh sebagai entitas pertama yang memungkinkan seseorang bersinggungan dengan dunianya. Fenomenologi hadir di tengah kegelisahan ini. Pada tahun 1900, Husserl menerbitkan bukunya Logical Investigation, tahun yang seolah sengaja dipilih untuk membuka jalan baru filsafat abad ke-20. Tetapi yang lebih penting dicatat perihal tema kita adalah buku yang terbit 36 tahun kemudian, yaitu The Crisis of European Sciences. Seluruh fokus isi buku ini adalah membantah logika positivistik yang justru menjauhkan manusia dari dunia kehidupannya. Setelah Husserl, lahirlah banyak fenomenolog dengan ciri khasnya masing-masing yang beberapa di antaranya akan saya sebutkan nanti pada tempatnya.

Lain dari pada itu, ada sebuah esai menarik dari Milan Kundera yang terkumpul dalam buku The Art of Novel. Di bawah esai bertajuk The Depreciated Legacy of Cervantes, Kundera memberikan jawaban lain berkenaan krisis yang diangkat oleh Husserl di paruh pertama abad ke-20 itu. Jawaban itu: sastra, lebih khusus novel, lebih khusus Don Quixote-nya Cervantes. Krisis kajian kemanusiaan yang benar-benar manusiawi di jagad pemikiran Eropa berdasarkan akumulasi dari banyak hal: cogito Descartes, revolusi industri, logika positivistik August Comte, dan sederet kejadian maupun hasil karya pemikir ulung sebelum datangnya Husserl. Dalam klaimnya, Kundera berpendapat bahwa justru semua krisis pemikiran Eropa pada waktu itu dikarenakan kita tidak kembali kepada novel, kepada sastra, dan—tentunya, kembali kepada bapak novel modern, Miguel de Cervantes. Novel adalah sebuah seni menilai dan menanggapi hidup. Dan hidup di sini tidak lain adalah kehidupan manusia. Novel tidak pernah mengaleniasi manusia dari kehidupannya. Kegelisahan, hasrat, ambisi, kebahagiaan; seluruh hal yang menjadi jangkar manusia untuk bisa dikatakan manusia itu dipotret oleh novel—dan tentunya oleh novel Don Quixote.

Descartes dan Cervantes sama-sama bapak modern. Yang pertama bapak filsafat, yang kedua bapak novel. Keduanya—dengan dunianya masing-masing—merintis jalan yang akhirnya saling menjauh. Pengikut Descartes adalah orang-orang idealis yang menyegalakan res cogitan, yang kemudain dalam tinjauan filsafat mengklaim adanya dualisme antara tubuh dan jiwa. Sedangkan pengikut Cervantes adalah novelis-novelis yang—kalimat mudahnya—memanunggalkan tubuh dengan jiwa, seperti Leo Tolstoy, Diderot, Dostoyevsky, juga Milan Kundera sendiri. Dan di abad ke-20, di saat novel sudah membentang dan melahirkan ratusan punggawanya, tema usang diangkat kembali oleh Husserl (dalam klaim Kundera), yaitu suatu krisis sains kemanusiaan dalam peradaban Eropa modern. Jika saja kita kembali ke haribaan novel, begitu kira-kira maksud Kundera, kita tidak akan menemukan krisis tersebut.

Satu dari sekian banyak fokus fenomenologi adalah masalah tubuh. Husserl sudah membahasnya, tetapi seolah fenomenologinya tidak sempurna tanpa hadirnya seorang fenomenolog asal Prancis, Maurice Merleau-Ponty, dalam karyanya Phenomenology of Perception. Oleh sementara pakar, Merleau-Ponty dianggap sebagai fenomenolog yang seolah-olah menulis apa yang ‘luput’ ditulis oleh Husserl. Dalam bukunya itu, ia mempertanyakan lagi apa makna dari fenomenologi: suatu hal yang justru aneh sebab fenomenologi sudah lahir dan berkembang 45 tahun setelah Husserl menerbitkan Logical Investigation. Selain Merleau-Ponty, seorang fenomenolog yang lebih dikenal sebagai eksistensialis, Jean-Paul Sartre, dalam bukunya Being and Nothingness (bagian III, babak II) membahas tubuh dan kaitannya dengan kesadaran, serta tubuh sebagai Ada-untuk-dirinya-sendiri sebagai suatu faktisitas. Di dunia Arab, Abdurrahman Badawi dalam az-Zaman al-Wujudi bisa disitir, hanya saja ada kajian lain dari Sarah Izzuddin yang secara lengkap memotret fenomenologi tubuh dalam bukunya al-Ana al-Mutajassid. Buku yang terakhir ini bisa dibilang sebagai antitesis dari cogito Cartesian, yaitu dari ‘aku-yang-berpikir’ menuju ‘aku-yang-bertubuh’. Dengan hadirnya fenomenologi, kajian tentang tubuh menjadi beragam bentuk dan konsepnya. Tetapi, menurut saya, ada satu lubang yang perlu ditambal dalam filsafat fenomenologi tubuh yang selama ini lebih memandang tubuh sebagai suatu keutuhan, kebulatan dan kepenuhan. Bagaimana dengan tubuh yang terluka, tubuh yang selalu tak menemukan keutuhannya? Dari sinilah, mengikuti Milan Kundera, saya akan mulai mengkaji fenomenologi tubuh yang terluka dari sastra, lebih khusus dari puisi-puisi Ghayath Almadhoun.

Ghayath Almadhoun, penyair Arab kontemporer keturunan Palestina dan kelahiran Siria yang kini tinggal di sebuah kota di Swedia, Stockholm, banyak menulis tentang tubuh dalam puisi-puisinya. Tak begitu mengherankan jika tubuh yang ia hayati dalam puisinya adalah tubuh pesakitan, lantaran ia lahir dari rahim negara konflik. Dalam satu penggalan puisinya yang berjudul al-‘Ashimah (Ibu Kota), ia mengingat:

Ketika kami lahir

hidup sungguh berwarna

dan poto masih hitam-putih.

Sekarang, poto sudah berwarna

dan hidup kami menjadi

hitam-putih.

Puisi ini memainkan ironi. Kemajuan teknologi yang bisa memotret objek senyata mungkin, dengan perpaduan warna yang bahkan over-realistis, justru tidaklah menjadikan hidup yang sesungguhnya ikut berwarna. Namun sebaliknya, di waktu sang penyair lahir di mana teknologi belum secanggih sekarang, di mana poto masih hitam putih, hidup sang penyair malah lebih berwarna. Tubuh di sini hadir sebagai permainan persepsi. Tubuh kita mampu menangkap objek di luar diri kita, yang dalam fenomenologi Husserl disebutkan bahwa pengetahuan kita tak pernah kosong dari sesuatu; pengetahuan kita sudah selalu berisi sesuatu. Hal ini lazim disebut intensionalitas, konsep yang diadopsi oleh Husserl dari psikologisme Franz Brentano. Dalam puisi itu, sang penyair bertindak sebagai pengingat. Kegiatan menangkap objek dibedakan dari mengingatnya. Pada salah satu bab dalam buku yang sudah saya sebut di muka, Merleau-Ponty membahas tentang ‘asosiasi dan proyeksi ingatan’. Asosiasi adalah pertautan antara gagasan, ingatan, atau kegiatan panca indra. Kegiatan mengingat adalah mengingat sesuatu yang pernah di alami di masa lalu, dan oleh karenanya sangat erat kaitannya dengan pengalaman, dan oleh sebab itu tak ada ingatan akan masa depan karena ia belum dialami. Dalam puisi di atas, sang penyair mempertautkan antara gagasan tentang kehidupan yang indah—yang diwakili oleh warna-warni, ingatan tentang masa lalu yang ia pernah hidup di sana, juga kegiatan panca indra yang menangkap objek kehidupan sebagaimana adanya—penuh warna—sekaligus menangkap apa yang sanggup ditangkap oleh potret pada waktu itu yang masih hitam-putih.

Interaksi tubuh dalam puisi Ghayath selalu dalam ketidak-utuhan, selalu dalam benturan luka. Tubuh yang pernah menangkap objek-objek di dunia dalam balutan warna-warni, kini seolah-olah berganti hitam-putih (monoton, tidak bahagia, tidak bergairah) seperti halnya poto zaman dahulu. Interaksi tubuh yang lain dalam puisi yang lain juga tak kalah ironis. Dalam puisi at-Tafashil (Daftar Rincian), Ghayath berkata:

Lubang kecil itu,

sisa setelah terobosan peluru,

mengosongkan isiku

Semua mengalir dengan lembut

kenangan

nama kawan-kawan

vitamin C

lagu pernikahan

kamus Arab

suhu 27 derajat

asam urat

puisi Abu Nuwas

dan darahku.

Bait di atas adalah sekian dari puisi panjang yang bercerita tentang si Aku yang ketika jalan-jalan di salah satu jalan di Siria ditembak oleh penembak jitu. Tubuh dalam puisi Ghayath selalu hadir dalam pesakitan. Dalam puisi ini, tubuh yang lepas diberondong peluru, mengosongkan isi tubuh itu. Di sana, ada perpaduan yang menarik. Pertama, kenangan, nama kawan-kawan, lagu pernikahan, suhu 27 derajat, puisi Abu Nuwas adalah hal-hal yang artifisial, bukan entitas yang terjamah. Kedua, darah adalah suatu materi yang niscaya akan keluar ketika tubuh seseorang dilubangi peluru, sama saja ketika kau membuat lubang di tangki air—seperti kata Ghayath sendiri. Ketiga, hal seperti vitamin C dan asam urat bukanlah benda atau materi, tetapi ia tetap merupakan bagian dari tubuh. Dari sini kita patut mempertanyakan: apakah tubuh itu materi? Sarah Izzuddin dalam buku yang sudah saya sebutkan di atas, sambil mengamini pendapat Merleau-Ponty, berpendapat bahwa tubuh bukanlah material. Merleau-Ponty mengkritik orang-orang yang menjadikan tubuh ‘hanya’ sebagai objek, misalnya dalam ilmu fisiologi (suatu cabang dalam ilmu biologi yang berkaitan dengan fungsi dan kegiatan kehidupan atau zat hidup). Kenapa tubuh bukan hanya sebagai objek di alam ini? Merleau-Ponty berkata:

“Tubuh bukan hanya objek di alam ini yang tunduk pada kekuasaan jiwa dan terpisah darinya. Tubuh harus dipandang dari instensi Ego; ia adalah intensi pandangan kita terhadap alam. Ia adalah tempat yang mana melaluinya, jiwa mengambil posisi jasmaniah dan historisitas tertentu.”

Argumen itu dibangun di atas tesis bahwa sesuatu tidak mungkin menjadi subjek sekaligus objek. Tubuh adalah subjek yang mengobjek sesuatu di luar dirinya. Itulah yang namanya persepsi atau pengindraan. Jika tubuh adalah subjek, maka ia bukan objek. Jika ia bukan objek, maka ia tidak bersifat material seperti benda-benda. Tesis ini tentu harus sinkron dengan pandangan fenomenologi tentang kemanunggalan tubuh-jiwa. Manusia adalah tubuh dan jiwa. Dan manusia, dengan ketunggalannya itu, bukanlah ‘sesuatu’ seperti benda-benda lainnya.

Dalam penggalan puisi di atas, Ghayath tidak melupakan tubuh sebagai rangka manusia yang berisi darah, jeroan dan seterusnya. Namun meskipun demikian ia juga tidak melupakan bahwa tubuh adalah sebuah subjek yang punya kenangan, yang menyimpan nama kawan-kawan, puisi Abu Nuwas, lagu pernikahan, dan kamus Arab. Tubuh-jiwa itu adalah penjaga sesuatu yang bersifat non-material. Dengan matinya tubuh, sesuatu yang non-material itu akan hilang dengan cepat, lantas disusul darah, jeroan, tulang, kulit, dan menyatulah kita, pada akhirnya, dengan tanah. Tubuh dalam puisi ini adalah tubuh yang terluka. Persinggungannya dengan dunia luar selalu dalam bingkai yang ironis. Ghayath menikmati kehidupan di Barat, sedang pikirannya melayang ke tanah kelahiran, membayangkan entah siapa mati ditembak penembak jitu, meninggalkan kenangan, ingatan tentang puisi Abu Nuwas, lagu pernikahan dan seterusnya. Lebih jelas lagi terpotret lewat penggalan dari puisi yang sama seperti di bawah ini:

Begitu nyawa mulai meloloskan diri melalui lubang kecil yang telah dibuka oleh peluru, segala sesuatu menjadi lebih jelas. Teori relativitas berubah menjadi sesuatu yang terbukti dengan sendirinya, persamaan matematis yang dulu rumit kini menjadi masalah sederhana, nama-nama teman sekelas yang dulu kulupa kini kembali mengisi ingatan. Hidup, dengan segala pernak-perniknya, tiba-tiba mencorong: kamar tidur masa kanak-kanak, susu ibu, orgasme pertama, jalan-jalan di kamp, potret Yasser Arafat, aroma kepulan kopi di dalam rumah, suara azan subuh, Maradona di Meksiko tahun 1986, dan kamu.

Lubang di tubuh itu menjadi tempat lepasnya nyawa. Gambaran ini bertentangan dengan hampir semua agama samawi tentang keluarnya roh dari jasad. Sang penyair menggambarkan keluarnya roh itu melalui tubuh yang koyak, terlubangi, terluka. Ia memainkan hiperbola bahwa kematiannya memang disebabkan lubang itu yang meluapkan banyak darahnya sehingga ia mati lantaran itu. Teori-teori dalam fisika dan matematika yang dulu dipelajari dalam ranah kognisi, setelah nyawa melayang, mencorong dengan sendirinya dan kemudian menjadi sesuatu yang dialami. Relativitas Einstein adalah teori yang mengatakan bahwa waktu itu relatif dengan rumus terkenalnya:  E = mc2. Dalam puisi itu, nyawa yang meloloskan diri melalui lubang peluru digambarkan mengalami relativitas itu, yang sebelum ia terlepas dari tubuh hanya bertahan sebatas teori. Semua hal yang digambarkan Ghayath di akhir penggalan puisinya itu adalah persepsi indra, beserta seluruh variannya: pertama, penglihatan—kamar tidur masa kanak-kanak, jalan-jalan di kamp, potret Yasser Arafat, Maradona di Meksiko tahun 1986, dan kamu; kedua, pengecapan—susu ibu; ketiga, perabaan—orgasme pertama; keempat, penciuman—aroma kepulan kopi di dalam rumah; kelima, pendengaran—suara azan subuh.

Seluruh persepsi hadir sebagai ingatan yang mencorong begitu nyawa sedikit demi sedikit meloloskan diri dari tubuh. Kita tidak akan bisa tahu persis apa yang kita rasakan ketika menjelang ajal. Ghayath memberikan gambaran itu bukan dalam rangka memastikan keadaan sesungguhnya. Ia tengah mempermainkan ingatan indah di masa lalunya, dalam memorinya, untuk ia hadirkan saat tubuh terluka atau sekarat. Tubuh dalam puisi Ghayath di sini masih memerankan fungsi penting bahkan ketika ia sekarat: melaluinya-lah ingatan tentang orgasme pertama datang, rasa susu ibu, aroma kepulan kopi, dan seterusnya. Pengalaman Ghayath dengan tubuh yang sakit adalah hasil akhir dari pengalamannya sendiri sebagai imigran. Lihatlah bagaimana mirisnya ia ketika menggambarkan matinya imigran dalam penggalan puisi al-‘Ashimah (Ibu Kota) di bawah ini:

Fisika

Semoga Allah melaknat fisika

Kenapa para imigran itu tenggelam,

dan setelah mereka menghirup nafas terakhir,

mereka mengapung di atas air?

Kenapa bukan sebaliknya?

Kenapa manusia tidak mengambang

ketika masih hidup

dan tenggelam ketika sudah mati?

Tubuh sebagai subjek yang oleh Merleau-Ponty dianggap bukan materi ternyata harus tunduk kepada hukum fisika. Dalam fisika, tubuh akan tenggelam ketika manusia masih menghirup napas, masih hidup, dan tubuh akan mengambang setelah tak ada lagi napas, setelah nyawa hilang. Tubuh memang punya faktisitasnya, yaitu Ada-untuk-dirinya-sendiri, seperti dalam filsafat fenomenologi Sartre. Suatu faktisitas adalah kenyataan yang tidak bisa diubah, diotak-atik, direkayasa. Dalam kesadaran subjek Sastre, tubuh bergelut dengan objek di sekitarnya sebagai Ada-untuk-dirinya sendiri. Sebuah meja adalah meja untuk subjek berkesadaran yang kualitas dan kuantitasnya ditentukan oleh subjek itu. Meja dalam kesadaran subjek adalah meja yang ‘berada’ di samping kanan atau kiri, di depan atau di belakang, di atas atau di bawah, kecil atau besar, dan lain sebagainya. Kedalaman air yang ada di sungai, misalnya, bergantung kepada subjek sebagai entitas yang menyadari adanya air di sungai: sungai itu bisa dalam atau dangkal tergantung ukuran tubuh sang subjek yang ia sadari. Ukuran objektif seperti cm, m, km, dan lain-lain, tidak punya kuasa jika subjek sadar akan tubuhnya. Air berkedalaman satu meter mungkin dianggap dangkal oleh orang dewasa yang rata-rata punya tinggi 160 cm. Akan tetapi, kedalaman satu meter itu termasuk dalam bagi seorang anak kecil dan mampu menenggelamkannya. Ketinggian tubuh orang dewasa pun bervariasi: tergantung keturunan, ras, pola makan, dan kebiasaan. Ukuran tertentu akan berdampak berbeda di tiap-tiap orang.

Selain dari pada Ada-untuk-dirinya-sendiri, tubuh juga Ada-untuk-orang(entitas)-lain. Tubuh kita tunduk oleh hukum fisika. Tubuh kita tidak melayang-layang di udara karena tubuh kita tunduk pada hukum gravitasi Newtonian. Tubuh kita akan hancur ketika bertabrakan, karena tubuh kita tunduk pada hukum tekanan. Dalam puisi Ghayath, kita melihat betapa ironisnya tubuh-tubuh imigran itu ketika berusaha menyeberangi lautan untuk mendapat suaka. Betapa banyak kabar yang sampai kepada kita tentang imigran yang meninggal ketika kapal ringkih mereka terkena badai di lautan dan tubuh-tubuh mereka tersapu hingga ke pantai dan lupa membawa nyawa mereka. Ketundukan tubuh manusia pada hukum alam menyisakan kesakitan. Ketika keinginan manusia berlawanan dengan kehendak alam, misalnya dalam banyak kejadian bencana alam, manusia seketika tersentak. Dalam ekspresi Ghayath, ia sampai pada tahap mengutuk hukum fisika itu. Dan itu berlaku untuk semua jenis bencana, juga bencana kemanusiaan di Irak, Siria, Palestina, di mana tubuh kolega-kolega Ghayath takluk oleh amuk bom, peluru nyasar, pukulan algojo, sementara Ghayath, di suatu belahan dunia yang dingin itu, hanya bisa berceletuk dalam puisinya La Astathi’ al-Hudhur (Aku Tak Bisa Hadir):

Ya, aku tidak bisa hadir. Jalan antara sajakku dan Damaskus terputus karena alasan post-modern: kawan-kawanku naik menuju Tuhan dengan kecepatan melebihi prosesor komputerku. Alasan lain berkaitan dengan seorang perempuan yang aku temui di utara dan membuatku lupa rasa susu ibuku. Alasan lainnya lagi berhubungan dengan ikan di dalam akuarium yang tak menemukan orang yang memberinya makan ketika aku tidak ada.

Betul, tubuh Ghayath tidak bisa hadir, tubuh gemuknya itu, tubuh bersih dan sehatnya itu, dan ia hanya bisa mengabarkan tubuh orang lain yang terluka, tubuh orang-orang yang sekarat. [*]

Facebook Comments
Bagikan konten: