Dapatkah Suriah Keluar dari Konflik?

kintaka zulfa
Bagikan konten:

Banyak pihak terlibat dalam konflik Suriah yang menjadikan konflik ini tak menemui titik terangnya hingga sekarang. Di tahun 2011, warga melakukan aksi demo dan meminta Presiden Bashar al-Assad untuk turun, aksi demo tersebut merupakan gejala yang melanda negara-negara Timur Tengah atau yang dikenal dengan Arab Spring. Rakyat menyebut aksi tersebut sebagai revolusi, sedang pemerintah menyebutnya pemberontakan. Rezim Bashar al-Assad didukung oleh Iran dan Hizbullah Lebanon, sebelum akhirnya juga Rusia ikut bergabung mendukungnya. Sedangkan oposisi yang terdiri dari sejumlah milisi bersenjata, didukung oleh Turki, Negara-Negara Teluk, dan Amerika Serikat.

Dalam perjalanannya, terjadi pertikaian internal di kalangan oposisi sendiri. Misalnya saja, ketika Jabhat al-Nusra (cabang Al Qaeda di Suriah) menolak tawaran Abu Bakr al-Baghdadi untuk memasukkan Jabhat al-Nusra ke dalam barisan Negara Islam (cabang Al Qaeda di Irak) yang dipimpinnya. Al-Baghdadi pun akhirnya mengumumkan berdirinya Negara Islam Irak-Suriah yang dikenal dengan ISIS. Al Qaeda angkat tangan dan menyatakan tidak memiliki hubungan apa pun dengan ISIS. Jabhat al-Nusra dan ISIS bentrok dalam usaha memperebutkan wilayah kekuasaan di Suriah. Ketika ISIS semakin kuat dan berhasil menguasai wilayah-wilayah strategis, Turki, Negara-Negara Teluk dan Amerika Serikat berganti haluan memerangi ISIS dengan tetap mempertahankan kepentingan masing-masing di Suriah. Di bawah pimpinan Amerika, koalisi internasional dibentuk untuk memerangi ISIS.

Di awal tahun 2019, Pasukan Demokratik Suriah telah mengumumkan kemenangan total atas ISIS setelah menggempur benteng pertahanan terakhir ISIS di desa Baghouz. Tapi permasalahan belum selesai karena ISIS bukanlah satu-satunya pihak yang memainkan konflik di Suriah. Pertama, Rusia tidak akan membiarkan Bashar al-Assad turun dan membiarkan oposisi memerintah Suriah karena Rusia berambisi menjadikan Suriah sebagai pintu masuknya memasuki kawasan Timur Tengah setelah Rusia dipermalukan di Afganistan 1989 dan kehilangan pangkalan militernya di Timur tengah. Di pihak lain, Amerika tidak akan membiarkan rivalnya memperkuat pengaruhnya di Timur Tengah.

Kedua, Iran sendiri tidak akan membiarkan Bashar al-Assad lengser karena Iran tidak mau kehilangan Suriah yang merupakan jalur strategis untuk menjalin komunikasi dengan Hizbullah yang ada di Lebanon, sebagaimana Suriah merupakan salah satu negara yang menjadi basis Iran untuk memperluas pengaruhnya di Timur Tengah selain Irak dan Yaman. Di pihak lain, Arab Saudi dan Israel tidak akan diam melihat geliat Iran.

Ketiga, Kurdi menjadikan konflik Suriah sebagai kesempatan untuk menunjukkan diri di hadapan dunia internasional sehingga Kurdi bisa mendapatkan dukungan luas untuk mendirikan negara sendiri. Dan Kurdi memang berhasil menunjukkan pengaruh kuatnya melalui Pasukan Demokratis Suriah yang terdiri dari pasukan Suriah-Kurdi. Di pihak lain, Turki tidak akan diam dengan hal tersebut. Dan keempat, di antara Iran dan Rusia sendiri terjadi ketegangan terselebung karena keduanya sama-sama ingin berkuasa secara penuh di Suriah.

Suriah pada akhirnya menjadi medan peperangan terbuka bagi negara-negara yang masih ragu melakukan kontak senjata secara langsung dan menjadi tempat uji coba kekuatan militer negara-negara tersebut. Dalam tarik-ulur kepentingan seperti itu, Bashar al-Assad tak memiliki kendali apa pun, ia layaknya boneka yang dikendalikan Rusia dan Iran karena Al-Assad tidak akan mungkin masih duduk di kursi presiden dalam konflik bersenjata selama hampir sembilan tahun, jika bukan karena dukungan kedua negara tersebut. Secara de jure, Suriah masih diakui sebagai pemerintahan yang berkuasa. Tapi secara de facto, Suriah sulit untuk tetap disebut sebagai negara karena ia kehilangan unsur-unsur pembentuknya: wilayah, kedaulatan, dan rakyat.

Walaupun telah berhasil membebaskan sejumlah wilayah dari tangan oposisi, pemerintahan Suriah tetap tidak mampu memberikan keamanan dan stabilitas bagi wilayah-wilayah tersebut. Sebagaimana pemerintah Suriah juga tidak mampu mengendalikan secara penuh wilayahnya karena ia harus ‘berbagi’ kuasa dengan Iran dan Rusia, belum lagi Turki yang menguasai kota perbatasan Afrin dan Aleppo utara. Tidak berlebihan rasanya mengatakan bahwa pemerintahan Suriah kehilangan kedaulatannya sebagai negara independen yang berkuasa penuh secara teritorial.

Selain itu, rakyat Suriah sendiri sudah terpecah belah, ratusan ribu meninggal dunia dan jutaan lainnya menjadi pengungsi di negara lain. Rakyat yang masih berada di Suriah hidup dalam ketakutan dan kesulitan. Dalam esai berjudul The New Pattern of Us-Gulf Relations and the Crises in the Middle East Under Trump’s Administration, Anthony H. Cordesman, pengkaji di Center for Strategic Studies Washington, mengatakan bahwa perekonomian Suriah mengalami kemunduran drastis akibat konflik sejak tahun 2011, dan mundur lebih dari tujuh puluh persen di tahun 2010-2017.

Andaikan pemerintahan Al-Assad berhasil keluar dari konflik, apakah rakyatnya masih percaya dan akan tetap mendukungnya? Perang selama bertahun-tahun tentu menumbuhkan perasaan marah dan dendam tersendiri di dalam hati rakyat. Jikalau pun Al-Assad berhasil menekan opisisi dengan melarang berbagai bentuk perkumpulan ‘mencurigakan’ seperti yang ia lakukan sebelumnya, seberapa lama emosi memberontak itu dapat dibungkam? Penekanan terhadap oposisi tanpa memberi ruang berdialog seperti halnya merawat bom yang dapat meledak sewaktu-waktu.

Hal yang tak boleh luput dari perhatian, kalahnya ISIS di Suriah membuka problematika baru: puluhan ribu keluarga (perempuan dan anak-anak) eks ISIS, ditahan di kamp pengungsian Al-Hol yang terletak di provinsi Hasakeh, dekat perbatasan Irak. Para keluarga ini masih belum ‘bertaubat’. Mereka masih meyakini bahwa ISIS akan kembali bangkit, akan ada Abu Bakr al-Baghdadi yang lain yang akan datang menyelamatkan mereka. Dalam sebuah video Youtube yang dirilis oleh Sky News langsung dari kamp pengungsi Al-Hol, seorang bocah laki-laki berumur sepuluh tahun tanpa ragu mengatakan ‘kita akan membunuh kalian dengan membantai kalian, kita akan membantai kalian’. Di dalam kamp tersebut, pengungsi yang lari dari ISIS dicampur dengan pendukung ISIS. Siapa yang bisa menjamin bahwa ideologi ISIS tak bertransmisi?

Suriah akan kembali stabil jika Bashar al-Assad dan opisisi berdamai, dan pihak-pihak yang mengintervensi angkat kaki dari Suriah. Tapi usulan tersebut terdengar begitu mengada-ada. Permasalahan di Suriah sudah menjadi begitu rumit dan kompleks di mana kesepakatan pihak-pihak tertentu saja tidak akan menyelesaikan konflik. Bashar al-Assad sendiri sudah terjebak dalam permainan yang berada di luar kendalinya. Jika pun ia ingin mengakhiri konflik dan berdamai dengan oposisi, Rusia dan Iran tidak akan membiarkannya. Selain itu, apakah ia siap diminta bertanggung jawab atas ratusan ribu nyawa yang melayang dan krisis kemanusiaan yang sudah kian menimbun?

Facebook Comments
Bagikan konten: