Bianglala Gagal Memutar Kesepian Kita Sebab Pasar Malam Usai Sebelum Kita Sampai Masih dalam Proses Pembentukan

Bagikan konten:

Beberapa waktu lalu, kawan-kawan Rumah Budaya Akar menerbitkan sebuah antologi puisi yang berjudul Bianglala Gagal Memutar Kesepian Kita Sebab Pasar Malam Usai Sebelum Kita Sampai. Ada tiga belas penyair yang menuliskan puisinya di sana, termasuk saya sendiri. Saya secara pribadi merasa bangga akan kelahiran buku ini, karena puisi-puisi yang saya tulis di dalamnya adalah puisi hasil ‘bacaan’ saya sampai saat ini. Apakah saya sudah puas? Tentu saja belum. Saya menganggap puisi yang saya tulis di antologi ini adalah bagian dari proses kepenyairan saya pribadi. Mungkin begitu juga dengan kawan-kawan lain yang turut menuliskan puisinya di antologi puisi ini.

Secara garis besar saya melihat bahwa puisi-puisi yang ada di buku antologi ini sangat mengedepankan unsur emosi. Puisi cinta bertebaran di sepanjang lembar kertas (bukan hanya perihal jatuh cinta, namun juga patah hati). Sebenarnya, kita tahu bahwa unsur emosi yang ditulis penyair akan mentok di emosi itu-itu saja: senang, sedih atau kecewa. Biasanya, yang membedakan antara satu puisi dengan puisi penyair lainnya adalah peristiwa (saya mengacu pada ruang, waktu dan alasan) yang melandasi pembuatan puisi tersebut, serta bagaimana seorang penyair memunculkan emosi tersebut di dalam puisinya.

Dan di dalam antologi ini, saya harus mengakui bahwa emosi dalam beberapa puisi di dalamnya belum tersalurkan secara maksimal karena pilihan diksi yang kurang tepat dan ataupun susunan kalimat yang terkesan asal. Dalam esai berjudul Korelasi Objektif; Trik Membangun Emosi dalam Puisi, saya pernah menyinggung tentang Korelasi Objektif yang merupakan sebuah teknik untuk menambah unsur emosi dalam puisi. Teknik ini digunakan hanya sebagai media atau cara untuk menyampaikan emosi seorang penyair di dalam puisinya, agar puisi yang dibuat oleh si penyair tidak terlalu gamblang. Puisi tetaplah puisi. Diksi-diksi yang berada di sana harus lebih kuat dari penyairnya sendiri. Semua diksi, entah itu kata kerja atau pun kata benda, sudah harus dipikirkan matang-matang. Seorang penyair harus dapat menyediakan ‘kolam renang’ yang dapat diselami oleh pembaca, bukan rawa yang kotor dan jorok, yang hanya dapat dilihat sekilas oleh pembaca dan setelah ia akan merasa muak.

Kita harus menyepakati beberapa hal terlebih dahulu: walaupun emosi bukan unsur satu-satunya di dalam puisi, unsur emosi memiliki peran yang sangat penting dalam puisi, dan keberhasilan penyair dalam memfungsikan unsur ini tergantung pada pemilihan diksi. Di sini, tugas seorang penyair semakin jelas; ia harus dapat mengolah perasaannya lalu memaksimalkan daya kerja diksi yang ia letakkan di dalam puisinya. Ketika membaca sebuah puisi, terkhusus puisi yang meletakkan objek di sana, saya biasanya memberi tangga pembacaan. Tangga pertama adalah tangga permukaan, objek yang berada di sana akan selalu saya inderakan. Dan ini akan berkaitan erat juga dengan logika. Tangga kedua adalah tangga makna, dan saya mulai mempekerjakan objek sebagai metafora atau hal lainnya. Tangga ketiga adalah tangga dekonstruksi.

Langsung saja kita melihat bagaimana unsur emosi dan pemilihan diksi bekerja di dalam antologi puisi karya kawan-kawan Rumah Budaya Akar ini. Puisi pertama yang akan saya sorot di sini adalah pusi karya F. Abimanyu yang berjudul Mainan Anak-anak.

Bajingan betul orang tuaku

Kita diukur-kecilkan

Diberi truk mini

Mobil-mobilan dan

Anak-anakan yang bisa kencing

 

Ibu membelikan buaya mini dan rusa

Lalu aku mempermainkan kebengisan

 

Ayah menghadiahiku tentara-tentara kecil

Dan sepasang koboi

Lalu aku bermain bunuh-bunuhan

Saya sendiri mengakui, bahwa apa yang ditulis Abimanyu ini adalah sebuah puisi. Dan di puisi ini pula, Abimanyu melakukan suatu tindakan terpuji yang patut dicontoh oleh semua penyair: kejujuran. Unsur emosi dalam puisi ini sudah mencuat, bahkan dari larik pertama bajingan betul orang tuaku. Ketika unsur emosi seorang penyair sudah dimunculkan, bahkan di larik pertama, lalu apa lagi yang perlu saya cari dari puisi Abimanyu ini? Menurut saya tidak ada. Semua unsur terlihat begitu saja. Bahkan dalam pemilihan sudut pandang sendiri, Abimanyu tidak berusaha untuk berpura-pura sebagai anak kecil atau memosisikan dirinya sebagai seorang anak. Abimanyu sebenarnya bisa jujur dengan cara yang lebih menarik jika ia ingin mencoba memosisikan dirinya ke dalam sebuah peran (bukan sebagai dirinya). Abimanyu menulis sebagai Abimanyu saat ini, terlihat dari diksi-diksi yang ia pilih kurang ajar, kebengisan dan bunuh-bunuhan.

Titik ‘kerisihan’ saya tidak sampai di situ saja. Pada puisi ini, Abimanyu melemparkan banyak objek truk mini, mobil-mobilan, anak-anakan yang bisa kencing, buaya mini, rusa, tentara-tentara kecil dan sepasang koboi. Menurut saya, puisi Abimanyu ini telah lolos dari pembacaan tangga pertama. Namun sayangnya, puisi ini hanya berhasil lolos pada pembacaan tangga pertama itu saja, tidak lebih. Truk mini, mobil-mobilan dan mainan lain yang Abimanyu letakkan di puisinya sekedar digunakan untuk menguatkan kurang ajar betul orang tuaku. Setiap objek yang berada di sana, tidak diberikan kekuatan yang lebih, dan hanya diletakkan demi menyalurkan perasaan si penyair belaka.

Selanjutnya, puisi lain yang akan saya sorot adalah puisi karya Lia A. Lyani yang berjudul Puisi ini Cukup Sederhana:

Ketika kita adalah pantai yang mempertemukan lautan dengan daratan.

Pada puisi ini, dari diksi ketika, Lia langsung mengajak kita untuk meloncati tangga pembacaan, dan langsung menuju tangga kedua: metafora. Tidak seperti Abimanyu yang langsung menggamblangkan emosinya, di puisi ini, Lia sudah berusaha menyembunyikan unsur emosi yang ia maksud. Dan tentunya, hal tersebut patut diapresiasi. Namun kembali lagi, ketika kita membicarakan puisi, apalagi puisi pendek seperti ini, setiap diksi yang diletakkan di sana harus memiliki kekuatan yang lebih besar daripada puisi-puisi yang lebih panjang. Hal seperti ini juga saya rasakan ketika membaca puisi Ulya yang berjudul Untuk Ia yang Cantiknya sia-sia, puisi Muzammil yang berjudul Ibadah yang Melampaui Keagungan Sembahyang dan puisi Tsiqqoh yang berjudul Tiket.

Mungkin untuk penyair yang menulis puisi-puisi pendek seperti ini, pertama-tama, cara termudah, dapat membaca puisi karya Sitor yang berjudul Malam Lebaran. Di dalam puisi tersebut, Sitor hanya meletakkan dua objek: bulan dan kuburan. Tetapi peletakkan objek tersebut sudah cukup untuk menguatkan puisi yang ia buat. Unsur kesedihan muncul di puisi Sitor itu, di mana ketika malam lebaran, yang seharusnya dipenuhi dengan suka cita, ia malah meletakkan bulan dan kuburan. Tentunya, unsur emosi ini tidak muncul di tangga pembacaan pertama.

Kembali lagi ke puisi Lia, ia menyebut pantai, lautan dan daratan yang (sama seperti Abimanyu tadi) hanya digunakan sebagai penyalur perasaan belaka. Lia belum dapat mengeksplor atau mengerahkan kemungkinan kekuatan diksi pantai, laut dan daratan sepenuhnya. Lia seperti hanya ingin bilang ketika kita bisa mempertemukan dua hal yang berbeda saja. Diksi serupa juga digunakan Rofiah di dalam puisinya yang berjudul Bahasa Kapal Kepada Pantai:

Genggam jangkarku di pantaimu, kau tahu

Ombak laut selalu siaga menyeretku menuju

Samudera.

Genggamlah jangkarku! Aku takut, samudera

Akan

Menyesatkanku dari jalur menuju pantai.

Pantai menjadi suatu hal yang klise di sini. Ketika kita membicarakan pantai, mengapa yang muncul di benak penyair hanya ombak, laut, samudera, daratan dan kapal? Padahal ada banyak objek yang bisa digali dari pantai. Salah satu alasan mengapa saya memuji puisi Chairil, karena Chairil berhasil mencari sesuatu yang tidak klise pada sebuah pelabuhan: gudang dan rumah tua, seperti dalam puisinya yang berjudul Senja di Pelabuhan Kecil. Di dalam puisinya, Rofiah mengajak kita untuk meloncati tangga pembacaan pertama, dan langsung masuk ke tangga kedua. Sang kekasih diandaikan sebagai pantai. Sudah. Dan pertanyaan akan berlanjut kalau kita membahas, lalu apa hubungannya seseorang itu dengan pantai? Kalau kita mengartikan pantai sebagai cinta atau rindu misalnya, apakah ada semacam petunjuk yang diberikan Rofiah kepada pembaca agar kita dapat mengartikan lebih jauh lagi?

Pantai di sini masih terlalu umum, dan untuk menggali terus ke dalam sungguh mustahil, karena tak ada tanda apa-apa di sana. Lagi-lagi saya juga menemukan hal serupa di puisi Lia Tsiqqoh yang berjudul Petani Hati:

Jika aku tanamkan padi di atas ladangmu

Maukah kau menuainya di lembar kalender yang

Akan datang?

Mengairinya seperti memandikan bayi kemaren

Sore dan memupuknya dengan basuhan tangan

Ketulusan?

 

Bukan tentang padi atau rumput yang tumbuh

Yang akan aku tanyakan, tapi tentang bagaimana

Kau siangi setiap tangisan pada musim badai

Kalender ini

Padi, ladang dan kalender akan menjadi inti pembahasan saya dari puisi ini, yang ke semuanya terbentuk akibat judulnya petani, yang karena petani hati, lalu puisi ini membahas tentang cinta. Kita sudah dapat melihat pemaksaan bahkan dari judulnya. Untuk sebuah puisi cinta seperti ini, mengumpat di balik tubuh petani adalah hal yang sangat disayangkan. Masih ada banyak hal sebenarnya yang bisa digali dari petani, meskipun ingin membicarakan cinta. Di sini Tsiqqoh ingin membawa padi ke makna lain, bukan sekedar padi: saya beranggapan bahwa padi di sini adalah cintanya. Pertanyaannya akan sama dengan pertanyaan yang saya lempar ke puisi Rofiah, lalu apa? Peletakkan kata ladang di atas ladangmu pun tidak bisa dibawa ke makna mana pun lagi, selain hidup dari seseorang yang aku cintai. Sejujurnya, ketika menulis ini, saya berusaha keras untuk mencari makna lain akan ladang pada puisi ini. Dan harus saya katakan, saya tidak menemukannya sama sekali.

Mungkin kalau Tsiqqoh masih memaksakan diri untuk menggunakan diksi ladang, ia bisa menentukan dulu rincian dari ladang yang ia maksud (meskipun tidak ditulis di puisinya): ladang subur, ladang kering, ladang di perkotaan, ladang di pedesaan dan hal lainnya. Kemudian jika ia sudah dapat menentukan rincian itu, barulah Tsiqqoh dapat meng-imajinasi-kannya, lalu membangun seluruh puisinya berdasarkan rincian itu. Di puisi ini, ladang yang Tsiqqoh letakkan masih terlalu umum, karenanya menjadi sulit untuk memaknainya lebih dalam lagi. Dan diksi lembar kalender pun bernasib sama: dipasang hanya untuk mengganti waktu atau jika di kata di lembar kalender yang akan datang seperti hanya ingin mengganti kata suatu hari nanti?

Puisi lain yang akan saya sorot adalah puisi Innike yang berjudul Kandas:

Di balik tabir birai,

Penderitaan tumpah di lubuk geladak.

Bahtera pun karam di palung sungkawa.

Penggunaan geladak dan bahtera di sini terlihat hanya sebagai latar dari kesedihan. Unsur emosi di puisi ini pun sudah sangat terlihat jelas dari dua diksi sentral penderitaan dan sungkawa. Satu hal yang patut diapresiasi dalam puisi ini, kesedihan yang diletakkan Innike bukan hanya pada kata benda, namun juga pada kata kerja tumpah dan karam. Ada struktur kesedihan yang ingin dibangun Innike, dan menurut saya pribadi hal tersebut cukup berhasil. Namun bagaimanapun, saya masih merasa ‘risih’ pada diksi penderitaan dan sungkawa, yang seharusnya bisa diganti dengan objek lain, yang dapat diinderakan. Berbicara mengenai struktur, ada satu hal lucu yang muncul di benak saya ketika saya memikirkan acara launching buku antologi ini: yaitu ketika Haikal, salah satu penulis antologi, ditanya oleh pembedah, mengenai struktur erotis dalam puisinya yang berjudul Skala Lima. Alih-alih mengakui, Haikal malah menyangkal bahwa ia tidak berniat menuliskan sesuatu yang erotis di sana:

Jika saja aku tak mengenal Pentatonik

Yang bermain dengan desah indahmu

Yang menari dengan nafasmu

Maka jemariku tak akan lagi mampu menggagahi

Surgamu.

Langsung saja saya garisbawahi diksi desah dan menggagahi. Sebenarnya, tanpa perlu pembacaan yang lebih jauh, kita dapat menebak di struktur mana puisi ini berteduh. Tak ada yang perlu disanggah ketika seorang penyair meletakkan diksi-diksi seperti itu. Saut Situmorang pernah menuliskan diksi jembut di puisinya. Tak ada masalah dengan itu. Puisi itu bebas, dan imajinasi seorang penyair bukanlah sebuah aib. Tidak ada tanda lain yang Haikal letakkan, untuk tidak mengartikan erotis. Ketika Haikal menyanggah hal tersebut, di sini saya melihat, Haikal seperti belum dapat mengetahui resiko yang akan ia terima ketika meletakkan diksi-diksi tersebut. Makanya menjadi penting bagi para penyair untuk menentukan diksi apa yang akan diletakkan di puisinya.

Menulis puisi adalah pekerjaan yang berat. Selain membutuhkan perasaan, seorang penyair juga dipaksa untuk berpikir. Dunia ini luas, dan puisi itu sempit. Tugas penyair adalah bagaimana cara merangkum sesuatu yang luas itu, dalam suatu wadah yang tidak pernah cukup. Dengan menulis seperti ini, bukan berarti saya mengatakan bahwa puisi-puisi saya adalah puisi yang baik. Tidak. Menerbitkan suatu karya, saya anggap sebagai ukuran perkembangan dari puisi-puisi saya. Saya masih berporses, dan para penulis antologi ini pun masih berproses. Proses adalah hal yang patut untuk dihargai, dan kritik adalah salah satu cara untuk menghargai itu.

Tapi puisi tetaplah puisi, bukan? Orang-orang yang membaca puisi seringkali tidak mau tahu, apakah puisi tersebut adalah proses atau hasil. Untuk saat ini, mungkin saya harus mengatakan bahwa ‘bianglala gagal memutar kesepian penyair, sebab bianglala’ masih dalam proses ‘pematangan’. Proses tersebut tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat, karena memang tidak ada yang singkat dalam proses pembelajaran.

Facebook Comments
Bagikan konten: