Berita dari Lopo Kopi

husni
Bagikan konten:

Sudah lewat tengah malam. Oki dan Mamad berjalan pelan tanpa saling bicara. Mereka melewati jalan poros yang sekarang semakin lebar dan bagus, hampir sep­erti jalan raya lintas Sumatera. Sebelum tamat SMA, mereka sering sekali melewati jalan poros ini setelah pulang dari warung kopi, waktu itu jalan ini masih ber­lubang di sana-sini. Sesekali mereka berdua menghisap puntung rokok masing-masing.

“Kira-kira apa yang bakal terjadi besok atau lusa, Mad?” Oki memecah keheningan.

“Entahlah. Tak usah dipikirkan, yang begitu sudah biasa terjadi.” Jawab Mamad sambil menyalakan se­batang rokok lagi.

Selepas subuh Oki masih belum bisa beristirahat. Ia masih teringat perbincangan di lopo tadi malam den­gan seseorang yang belum dikenalnya walaupun Mamad sudah menasehati agar tidak usah memikirkannya. Ketika itu, ia dan Mamad sedang saksama memahami gerak langkah permainan catur masing-masing. Seseorang dengan tubuh gempal, otot kekar, brewok tebal, tiba-tiba ikut duduk di bangku panjang sederet dengan Mamad, memesan kopi. Ia memperhatikan beberapa babak yang tetap di­menangkan oleh Oki.

Tiba-tiba orang itu menantang Oki untuk melawannya. Oki merasa canggung, memperhatikan sekilas pria itu: celana pendek yang ia pakai terlihat lembab, lengkap dengan butiran pasir yang masih me­nempel. Akhirnya Oki pun mengiyakan.

Setelah serdadu disusun di atas papan, sambil ber­main, Oki mencoba beramah-tamah. “Dari mana, Bang?”

“Tadi habis ngelihat bagan pancang punya bos.”

Orang itu menukar posisi raja dengan benteng, sedikit terlihat protektif. Rajanya terlindung oleh ben­teng dan menterinya.

“Tadi juga sekalian ngatur rencana sama orang kampung.” Ucap pria itu lagi.

“Rencana melaut, Bang?”

“Ah, masak nggak paham, Dek. Besok atau lusa mau ada baku hantam sama orang pulau seberang.”

“Baku hantam? Tawuran, Bang? Ada masalah apa, Bang?” Oki mencoba menelusuri, seperti ada sesuatu yang tidak ia ketahui selama ini.

“Ya, apalagi kalau bukan soal tanah.”

“Tanah?” Oki semakin bingung

“Aduh banyak kali tanyamu, Dek, kayak baru lahir ke dunia aja. Ini, sekak dulu.”

Oki melihat sebal ke arah Mamad yang cekikikan mendengar obrolan mereka berdua. Karena terlalu sibuk dengan pertanyaannya, Oki terkejut lantaran rajanya terancam. Dari sudut sebelah kanannya melintang ratu catur lawan hendak menerkam raja mili­knya. Sedangkan rajanya sendiri terjepit pion di bagian depan. Satu-satunya cara untuk lolos adalah dengan menggeser raja ke pojok akhir sebelah kiri.

Anehnya, tanpa ampun ratu lawan masih menge­jar raja Oki yang tepat berada di samping kanannya. Ratu lawan meregang nyawa, membuat Oki sedikit tersenyum. Tapi Oki ti­dak menyadari, kalau akhirnya rajanya juga terhimpit pion sendiri di depan dan benteng di samping kanan, tidak bisa bergerak. Tiba-tiba tanpa pikir panjang orang tersebut menjalankan kudanya, mengejar raja dengan jalan huruf L tepat di samping kanan atas posisi ben­teng. Raja Oki tidak bisa bergerak sedangkan tak ada yang bisa dijalankan untuk menghambat si kuda.

Oki menyandar ke tembok menyesali kecerobo­hannya.

“Makanya, jangan terlalu lama baca buku, Bos. Sesekali main ke lopo,” sahut Mamad puas melihat kekalahan temannya.

Setelah membelikan kopi gratis untuk pria yang telah berhasil mengalahkannya, mereka bertiga duduk bersama dan bercakap santai. Oki tiba-tiba teringat tentang baku hantam yang sempat menganggu konsentrasinya saat bermain catur tadi.

“Ya begitu. Kalau tidak besok, ya lusa. Kami menunggu mereka bergerak duluan.” Jawab pria itu.

“Masalahnya, Bang?”

“Tanah tadi. Kau seperti tidak tahu. Apa kau bukan orang sini?”

“Saya orang sini, tapi sekarang lagi kuliah di Ibu Kota.”

“Kau tahu bukit yang di Air Manis itu yang sekarang sudah kelihatan ramai? Itu ulah orang-orang pulau seberang. Awalnya mereka buka lahan, lama-lama jadi pemukiman juga. Terus mereka bilang, itu lahan mereka dan mereka mengan­cam kalau harus bermain parang pun mereka siap.”

“Tunggu dulu, Bang. Jadi masalahnya perebutan tanah? Kalau itu gampang, Bang. Tunjukkan aja su­rat tanahnya. Kalau mereka melawan lapor polisi aja. Aman, Bang.”

“Surat kau bilang? Surat losung yang ada. Kau pikir mudah cari uang dua-tiga juta buat ngu­rus tanah? Mau seribu tahun dulu di laut ini, baru dapat satu hektar. Ah kau ini, sedikit-sedikit lapor polisi. Nanti ujung-ujungnya semuanya digusur sama mereka. Ikut juga polisi itu nanti buka kebun”

“Yang aku baca di berita, kehidupan nelayan kota kita ini makmur-mak­mur saja, Bang.”

Pria itu terlihat geram. Setelah meneguk cangkir kopinya, ia pun berkata, “Kau kan mahasiswa, bilanglah sana ke para pejabat itu. Sudah semestinya tanah bumi ini jadi lahan buat warga setempat, setidaknya ada yang bisa kami wa­riskan kepada anak cucu. Tidak mungkin kami wariskan air laut.”

Oki hanya diam, ia merasa telah dikalahkan oleh pria itu untuk kedua kalinya.

Oki menunggu-nunggu berita ten­tang perang tersebut. Meski menurut Ma­mad tidak akan diliput oleh media, tapi Oki pikir, paling tidak masih ada desas-desus warga atau obrolan ibu-ibu yang lebih hebat dibanding media. Sampai siang hampir sore, ia masih belum dengar berita apapun. Setelah jam menunjukkan pukul empat sore, ia akhirnya keluar dari kamar, menuju ruang de­pan, menyambar kunci motor yang tergeletak di atas meja menuju ke Air Manis. Tapi sesampainya di sana, ia tak mendapati keribu­tan apa pun. Seperti tak terjadi apa-apa di sana.

“Kalaupun perang tersebut terjadi di puncak bukit, pastilah terdengar sampai ke bawah. Atau jangan-jangan mereka main malam supaya tidak diketahui aparat setempat.” Oki hanya terus menerka seraya melihat-lihat keadaan sekitar, tanpa turun dari sepeda motornya.

Ia tidak berniat un­tuk bertanya-tanya pada penduduk setempat. Akhirnya ia pun membalik arah dan pulang tanpa mendapat keterangan apapun.

Dua hari kemudian, Oki belum juga mendengar desas-desus adanya pertempuran dahsyat antara kubu orang pulau seberang dengan penduduk asli. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali memeriksa Air Manis. Seperti sebelumnya, ia tidak juga mendapatkan apa-apa padahal hari sudah semakin sore. Akhirnya Oki memutuskan untuk menunggu sebentar lalu mampir di sebuah lopo kecil di seberang jalan. Den­gan modus membeli rokok dan memesan kopi, ia mulai bertanya-tanya kepada pemilik lopo.

“Bukitnya mulai ramai ya, Pak?”

“Iya, Dek. Semenjak dua tahun ini orang pulau se­berang makin padat di bukit.”

“Pak, kemaren atau malam tadi ada kerusuhan yang terjadi dekat sini?” Oki tak ingin berbasa-basi.

“Tidak ada, Dek. Tidak ada apa-apa. Dapat kabar dari mana?”

“Nggak, dengar-dengar aja, Pak. Katanya ada pere­butan lahan antara orang pulau dengan penduduk se­tempat.”

“Soal itu sudah biasa, nggak usah terlalu ditangga­pi, Dek.”

Malam harinya, Oki mengajak Mamad untuk mi­num di lopo Simpang Limau dengan alasan main catur. Ia mencari-cari pria yang mengalahkannya waktu itu. Oki memperhatikan Mamad yang konsen melihat papan caturnya. Ia tidak terlihat terganggu dengan kabar baku hantam seperti dirinya. Oki benar-benar ingin bertemu dengan pria misterius itu. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri, karena ia bahkan lupa menanyakan siapa nama pria itu.

Empat hari berturut-turut, Oki mengunjungi lopo kopi itu tapi ia juga tetap tak menemukan pria yang tengah dicarinya. Akhirnya Oki memutus­kan untuk bertanya kepada pemilik lopo, ia menjelaskan bahwa lelaki itu adalah nelayan dan pandai bermain catur.

“Nelayan? Kau pikir kami di sini ada yang jadi peja­bat? Hebat main catur? Nggak kau lihat pengumuman lomba catur di dinding itu? Mana aku tahu sudah berapa jawara yang datang ke lopo ini.”

Oki merasa kecewa. Ada yang mengganjal dalam hati dan pikirannya. Pria itu dan kabar baku hantam menjadi misteri yang seolah ingin Oki pecahkan. Tapi Oki harus lagi-lagi mengaku kalah, karena ia tak akan bisa memecahkannya. Besok ia sudah harus kembali ke Ibu Kota.

Sudah lebih dari setahun ia belum pernah lagi pulang ke kota kelahirannya. Ia sudah tak memikirkan lelaki misterius yang sempat menganggu pikirannya ataupun soal baku hantam. Oki sibuk dengan tugas-tugas kampus. Hingga suatu hari, ia membaca berita di koran tentang bupati kotanya yang ditahan KPK karena menggelapkan dana yang semestinya untuk pembangunan pariwisata.

Ia memperhatikan dengan saksama foto-foto proyek pariwisata dalam koran tersebut. Menurut ber­ita yang dibacanya, niat awal proyek tersebut adalah membangun semacam tempat penatapan agar para wisatawan dapat menikmati keindahan pantai dari atas bukit. Namun semenjak hampir setengah tahun yang lalu, proyek tersebut sudah mangkrak karena tidak ada biaya. Oki begitu terkejut ketika mengetahui bahwa daerah yang dicanangkan sebagai tempat wisata itu adalah bukit di Air Manis.

Facebook Comments
Bagikan konten: