Being and Perfection: Problematisasi Kesempurnaan Tuhan sebagai Penjamin Kepastian dalam Konstruksi Filsafat Cartesian

Bagikan konten:

Kendati ungkapan ‘Yang sempurna hanyalah Tuhan’ itu sudah diterima dan menjadi lumrah kita ucapkan, ternyata yang berenang di lubuk ungkapan itu tidak sesederhana seperti yang ada di permukaan. Apa dan bagaimana kesempurnaan Tuhan itu? Barangkali saya terdengar mengada-ada ketika mempertanyakan kesempurnaan Tuhan. Tidak, saya tidak sedang bergurau. Perdebatan teologis dan filosofis yang orientasinya adalah metafisika ketuhanan, secara inhern selalu mengandaikan adanya kesempurnaan. Bahkan tidak berlebihan jika saya katakan bahwa perbedaan pendapat di antara kelompok dalam diri teologi dan bahkan perdebatan klasik antara ilmu kalam dan filsafat, bertumpu pada perbedaan pendapat tentang neraca kesempurnaan Tuhan itu sendiri. Maka pertanyaan ‘apa dan bagaimana kesempurnaan Tuhan itu?’ selalu harus dimulai dari peran Tuhan di alam semesta, lebih khusus peran Tuhan dalam menjamin kebenaran.

Problem neraca kesempurnaan Tuhan sudah menggelisahkan saya sejak saya belajar filsafat sekaligus teologi (ilmu kalam). Bahkan problem inilah yang menuntun saya untuk menulis esai ini sebagai, katakanlah, pengantar menuju buku yang rencananya saya beri judul Being and Perfection. Diskursus ini akan sangat panjang dan membutuhkan permenungan yang mendalam, dan tak jarang akan memunculkan polemik. Tetapi sebagai gambaran kecil, di tempat ini, saya akan memberi sedikit pengantar menuju ke buku yang belum ditulis itu. Dalam hal ini, saya akan memakai analisis Rene Descartes dalam bukunya Meditations. Kenapa buku ini? Selain bahwa Descartes tidak diragukan lagi oleh para sejarawan sebagai bapak filsafat modern, dalam buku inilah Tuhan diletakkan secara unik (atau justru janggal?) oleh Descartes, yaitu sebagai penjamin kebenaran dan kepastian pengetahuan.

Kenapa Tuhan diletakkan sebagai penjamin pengetahuan yang pasti? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita mulai dari bangunan filsafat Descartes secara garis besar. Sebelum menemukan suatu kepastian dalam pengetahuan yang sangat terkenal itu, cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada, Descartes terlebih dahulu jatuh pada skeptisisme. Pertama-tama Descartes mempertanyakan keberadaan materi dan dunia fisis. Apakah persepsi indrawi bisa diandalkan? Ketika saya melihat lilin di depan saya, apakah lilin itu benar-benar ada? Persepsi indrawi tidak bisa diandalkan untuk mencapai kebenaran yang tidak bisa diragukan. Buktinya, ketika saya memasukkan sendok ke dalam gelas berisi air, sendok itu terlihat bengkok. Padahal kenyataannya sendok itu lurus. Ketika saya bermimpi, saya merasa bahwa mimpi saya itu nyata, tetapi ketika saya bangun, saya mendapati diri saya berada di luar mimpi. Apakah pengetahuan indrawi itu bersifat pasti dan mengikat? Tidak, karena kita sering ditipu oleh persepsi indrawi itu.

Setelah meragukan persepsi indrawi, lantas bagaimana dengan matematika dan geometri? Apakah keduanya bisa diandalkan? Keduanya tidak bisa mengantarkan kita kepada pengetahuan yang pasti, karena kita sering melihat orang salah dalam penalaran matematis itu bahkan pada tingkat yang paling sederhana. Pengetahuan yang pasti tidak boleh salah bahkan jika yang salah itu hanya satu orang saja. Kepastian harus menjadi pegangan semua orang tanpa terkecuali. Lantas jika indra, matematika, dan geometri gagal mengantarkan kita kepada pengetahuan yang pasti, kita berpegang pada apa? Skeptisisme Descartes sering disebut sebagai skeptisisme metodologis, bukan skeptisisme mutlak (skeptisisme absolut Montaigne, misalnya). Oleh sebab itu, skeptisisme itu harus segera diakhiri dan beralih menuju pengetahuan yang absolut. Apa pengetahuan yang absolut itu?

Setelah saya mempertanyakan keabsahan persepsi indrawi, matematika dan geometri, saya menemukan diri saya sedang dalam mempertanyakan ketiganya. Kegiatan mempertanyakan itu saya ketahui dalam diri saya sendiri. Dengan mempertanyakan, saya berpikir, maka saya mendapati diri saya berpikir. Apakah kenyataan bahwa saya berpikir bisa diragukan? Tidak. Saya tidak mungkin bisa meragukan bahwa saya sedang berpikir. Karena ketika saya meragukan itu, bukankah dengan begitu saya juga sedang meragukan keraguan saya? Berarti, pengetahuan pasti itu terdapat pada diri saya. Diri saya yang mana? Diri saya yang berpikir. Cogito ergo sum! Saya berpikir maka saya ada. Karena saya mendapati diri saya berpikir, maka berarti saya ada. Keberadaan saya sebagai yang berpikir tidak mungkin relatif.

Jika demikian, maka pengetahuan bahwa ‘saya berpikir maka saya ada’ adalah pengetahuan yang pasti dan absolut. Nah, setelah mengetahui bahwa saya ada, lantas bagaimana dengan saya sebagai tubuh dan jiwa? Mana di antara keduanya yang lebih saya ketahui? Descartes menjawab bahwa jiwa lebih kita ketahui daripada tubuh. Setelah saya mengetahui diri saya sendiri, saya kemudian menuju ke dunia luar. Di sana ada langit, bebatuan, pepohonan, dan sebagainya. Saya juga menemukan diri saya bertubuh. Tubuh saya ini apakah saya itu sendiri? Jika tubuh saya adalah saya sendiri, maka pengetahuan absolut tentang diri saya juga harus selalu mengandung pengetahuan saya akan tubuh, bukan hanya jiwa atau pikiran. Berarti tubuh kita bukanlah diri kita, lantaran ketika saya menunjuk diri saya yang saya maksud adalah saya yang berpikir bukan saya yang bertubuh. Pengetahuan saya akan pikiran saya lebih dahulu dan lebih jelas dan pasti daripada pengetahuan saya akan tubuh saya. Descartes berkata:

Akhirnya, saya telah menemukannya, yaitu pikiran. Hanya inilah yang tidak dapat dipisahkan dari diri saya. Saya ada, saya eksis—itu pasti. […] Kali ini, saya tidak mengakui sesuatu yang lain, kecuali apa yang secara niscaya benar. Karena itu, saya adalah, dalam arti yang ketat, sesuatu yang berpikir; yakni saya adalah pikiran, atau inteligensi, atau intelek, atau rasio—kata-kata yang artinya hingga sejauh ini saya abaikan. Tapi, di atas semuanya itu, saya adalah sesuatu yang nyata dan yang benar-benar ada. Tapi sesuatu jenis apa? Seperti yang barusan saya katakan—sesuatu yang berpikir. (Descartes 1993:65)

Persinggungan pertama pikiran saya dengan selain dirinya adalah persinggungan saya dengan tubuh saya sendiri. Setelah tubuh ini, lantas apa? Di atas, saya sudah membahas meditasi pertama dan kedua Descartes. Setelah Descartes menemukan pengetahuan yang absolut, yaitu pengetahuan bahwa saya berpikir, maka seharusnya Descartes segera membahas tentang dunia luar-fisis, yaitu dunia materi. Tetapi kita justru mendapati meditasi ketiga membahas tentang eksistensi Tuhan. Apa pentingnya meditasi ini didahulukan? Pengetahuan bisa salah akibat gangguan sejenis ‘setan’. Setan inilah yang mengacaukan pikiran kita untuk menuju pengetahuan yang pasti. Akibat setan, kita jadi tidak bisa berpikir dengan benar. Setan adalah pengacau pikiran. Sebaliknya, jika setan yang maha mengacaukan pikiran itu ada, maka Tuhan yang maha menjamin kebenaran pikiran harus ada. Itulah kenapa sebelum membuktikan keberadaan sesuatu di luar pikiran, kita harus membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Bagaimana Descartes membuktikan adanya Tuhan? Para pengkaji Descartes menyederhanakan argumen eksistensi Tuhan mejadi tiga: (i) argumen kausalitas, (ii) argumen kosmologis, dan (iii) argumen ontologis. Argumen yang pertama dan kedua berasal dari cogito, berasal dari pikiran itu sendiri. Sedangkan argumen ketiga berasal dari konsep tentang Tuhan itu sendiri.

Argumen kausalitas berangkat dari ide kesempurnaan. Saya mendapati diri saya tidak sempurna, dengan bukti bahwa saya bisa melakukan kesalahan dalam penalaran. Tetapi saya yang tidak sempurna ini ternyata bisa memikirkan tentang kesempurnaan. Dari mana datangnya pikiran saya tentang kesempurnaan sementara diri saya tidak sempurna? Jawabannya: pasti ada Dzat yang eksis lagi maha sempurna. Sisi kausalitas argumen ini ada pada ide kesempurnaan yang ada dalam diri saya. Jika saya tidak sempurna, maka ide kesempurnaan pasti tidak disebabkan oleh diri saya sendiri, oleh karenanya harus ada esensi yang menjadi sebab adanya ide kesempurnaan dalam diri saya. Penyebab itu adalah Tuhan. Argumen kosmologis juga berkaitan erat dengan kesempurnaan. Bagaimana cara kerja argumen ini? Argumen ini dimulai dari pertanyaan tentang eksistensi Cogito. Dari mana eksistensi saya berasal? Apakah dari diri saya sendiri atau dari orang tua saya atau yang lainnya? Tidak mungkin eksistensi saya berasal dari diri saya karena saya serba kekurangan, saya sering salah dalam penalaran, saya sering keliru dalam berargumen—singkatnya, saya tidak sempurna! Kalau saya tidak sempurna, tidak mungkin eksistensi saya berasal dari diri saya sendiri. Begitu juga dengan orang tua saya, mereka juga seperti saya, sama-sama tidak sempurna. Jika eksistensi saya bukan berasal dari diri saya dan bukan dari orang tua saya, lantas dari siapa? Pasti dari esensi yang maha sempurna, dan esensi yang maha sempurna itu adalah Tuhan. Setelah ditetapkan bahwa Tuhan maha sempurna, maka argumen ontologis mulai dipakai. Ide kesempurnaan Tuhan sudah ada dalam diri saya dan tidak bisa diragukan lagi, maka tidak mungkin ide kesempurnaan itu ada jika eksistensi yang menyandang kesempurnaan itu tidak ada. Maka, yang sempurna harus eksis karena jika tidak ia berarti tidak sempurna. Tuhan harus eksis jika ide tentang kesempurnaan itu ada.

Dari sinilah disimpulkan bahwa konsepsi tentang Tuhan lebih dulu dari konsepsi tentang materi dan objek fisis. Dan dengan demikian, sebelum membahas eksistensi yang lain, Tuhan harus dihadirkan untuk menjamin pengetahuan kita tentang objek di luar diri kita. Dengan menetapkan keberadaan Tuhan inilah, penilaian yang benar bisa dijamin. Untuk menjamin kebenaran dalam penalaran, Descartes mempostulatkan Tuhan, selain bahwa harus ada metode yang jelas. Marilah kita sedikit menelusuri metode itu. Dalam menentukan pengetahuan yang jelas dan benar, Descartes memiliki empat kaidah, sebagaimana yang tertuang dalam bukunya Discourse on Method: (i) tidak menerima sesuatu sebagai benar sebelum kita mengetahui bahwa ia benar, (ii) membagi objek yang akan diuji ke dalam beberapa bagian sesuai dengan kemampuan, (iii) menjalankan pikiran dengan teratur, memulai dari yang paling sederhana untuk kemudian melangkah ke yang rumit, dan (iv) memeriksa dan mengulang-ulang secara utuh, memastikan bahwa tidak ada satu pun yang terlewatkan. (Descartes 1993:11).

Metode inilah yang menjamin kebenaran dalam penalaran, tetapi demikian, metode ini harus dipostulatkan pada Tuhan agar ia menjadi absah. Sebab sesuatu yang tidak dipostulatkan kepada Tuhan, tidak ada jaminan sesuatu itu benar. Kenapa bisa demikian? Karena Tuhan maha baik dan maha sempurna, tidak mungkin Dia menganugerahkan akal kepada kita sedangkan akal itu tidak bisa mencapai kebenaran absolut. Dari sini jelas sudah peran Tuhan dalam bangunan fisafat Cartesian: penjamin pengetahuan yang pasti. Tetapi sejauh mana ide kesempurnaan Tuhan itu ditimbang oleh Descartes?

Jika Heidegger mengkritik Descartes dalam hal menyegalakan res cogitan, bahwa pikiranlah yang menjamin eksistensi, kemudian memunculkan bukunya Being and Time, maka saya akan berangkat dari kritik kesempurnaan Tuhan yang menjadi jaminan kebenaran penalaran. Heidegger menganggap bahwa Descartes sama-sama terjebak, sebagaimana filsafat klasik dan abad pertengahan, dalam lingkaran yang disebut ‘pelupaan akan Ada’. Apa yang dimaksud dengan Ada dalam pernyataan ‘aku berpikir maka aku ada?’ Descartes menyejajarkan antara res cogitan dan res extensa dan inilah objek kritik dari Heidegger. Kritikan Heidegger ini sesungguhnya tidak pernah ia tulis. Dalam Being and Time, ia menjanjikan akan membahas destruksi terhadap cogito sum-nya Descartes di devisi kedua dari bagian kedua (rencananya Being and Time terdiri dari dua devisi yang mana masing-masing devisi memuat tiga bagian). Namun devisi itu tidak pernah terbit (bahkan juga devisi ketiga dari bagian pertama di bawah judul Time and Being bernasib sama). Namun demikian, kita sudah bisa menemukan kisi-kisi kritikan Heidegger tersebut ketika ia menganalisis interpretasi Descartes atas Dunia (World) dan membandingkannya dengan analisisnya sendiri atas kemenduniaan (worldliness).

Menurut Heidegger, fundamental ontologi dunia dipandang oleh Descartes sebagai extensio (ekstensi). Ekstensi adalah elemen spasialitas. Dunia bagi Descartes adalah dunia ruang dan waktu. Ruang karena di sanalah ekstensi ada dan ekstensi ini adalah elemen spasialitas. Demi kepentingan diskurus, Heidegger mengetengahkan Descartes dalam tiga masalah ini: (i) determinasi dunia sebagai res extensa, (ii) fondasi dari determinasi ontologis ini, dan (iii) diskusi hermeneutis ontologi Cartesian atas dunia. Ketiga diskusi ini sejatinya akan di bahas lebih lanjut dalam devisi kedua bagian kedua, sebagaimana yang saya sebut di atas. Tetapi kendati demikian, kita mendapat kisi-kisi yang cukup memuaskan dalam Being and Time.

Diskusi pertama, yaitu mengenai determinasi dunia sebagai res extensa, dimulai dari distingsi Descartes atas ego cogito, yakni sebagai res cogitan (semesta diri) dan res corporea (semesta korporeal). Distingsi ini juga biasa disebut dengan distingsi alam dan spirit. Atas dasar apa Descartes membedakan antara keduanya? Atau, memakai pertanyaan Heidegger: dalam pemahaman atas Ada yang bagaimana Descartes mendeterminasi Ada dari adaan itu? Jawabannya: sebagai substantia (substansi). Dunia dipahami sebagai substansia, yang mana ia digamblangkan oleh korporea. Korporea inilah yang mengeksplisitkan substansia. Demi mengungkap yang substansif, yang korporeal harus ada. Bagaimana keberadaannya? Korporea memiliki properti bawaan, berupa longitude, latitude, dan kedalaman. Atau dengan kata lain: ekstensi. “Ekstensi secara mendasar harus menjadi atribut untuk benda-benda korporeal.” (Heidegger 2010:89). Inilah yang Descartes sebut dengan dunia. Dunia adalah dunia korporeal.

Tetapi keberadaan benda korporeal tidaklah menunjukkan ada yang sejati. Segala sesuatu yang ditunjuk hanya berdasarkan propertinya, belumlah tersentuh esensinya atau kesejatiannya. Heidegger menyontohkannya dengan ‘kekasaran’. Apabila kekasaran dianggap sebagai properti bagi benda, apakah ia menunjukkan Ada sejati? Ternyata tidak. Ketika kita menyentuh benda, kita akan merasakan kekasarannya. Tetapi kekasaran itu hilang ketika kita angkat tangan kita dari benda itu. Berarti kekasaran itu, suatu properti bagi benda, tidak menunjukkan Ada sejati, karena ia bisa muncul dan kemudian hilang, tergantung keberadaan orang yang menyentuhnya. Lantas apa itu yang sejati? Heidegger menginjak ke pembahasan selanjutnya, yaitu definisi ontologis yang fundamental bagi dunia. Bagi Heidegger, ide tentang Ada dari karakteristik ontologis res extensa disetir oleh substansinya. Apabila melalui properti benda korporeal kita tidak menemukan Ada sejati, maka kita harus beralih menuju substansi benda korporeal itu. Tetapi, apa sebenarnya substansi itu?

“Dengan substansi,” kata Heidegger, “kita memahaminya tidak lain selain daripada sebuah ada yang dirinya dalam bentuk apa pun tidak membutuhkan ada lainnya untuk menjadi (to be). Keberadaan substansi karakteristiknya tidak membutuhkan apa pun.” (Heidegger 2011:90). Substansi ini, dalam konsepsi Descartes, tidak lain adalah Tuhan. Terma ontologi murni memahami Tuhan sebagai ens perfectissimum (Esensi Sempurna). Segala sesuatu selain Tuhan disebut ens creatum (ciptaan). Ciptaan ini dibagi menjadi dua: (i) res extensa, dan (ii) res cogitan. Dalam klaim Heidegger, Descartes tidak jauh berbeda dari filsuf klasik dan abad pertengahan, sama-sama melupakan Ada. Ketika Descartes berkata, “Tidak ada signifikasi dari nama ini (substansi) yang bakal menjadi lazim bagi Tuhan dan ciptaan-Nya ini bisa dipahami perbedaannya” sesungguhnya, menurut Heidegger, Descartes meninggalkan makna Ada yang tertampung dalam ide substansialitas dan karekter universalitas makna itu tidak dijelaskan. (Heidegger 2011:92). Tersebab maknanya tidak diperjelas, maka Ada kemudian diekspresikan melalui eksistensi kualitas definitif dari Ada itu, yaitu dengan atribut. Descartes kemudian mengatakan substansi sebagai yang-sempurna. Kesempurnaan adalah atribut yang niscaya bagi Tuhan itu sendiri. Namun demikian, atribusi ini menjadikan Descartes lupa akan makna Ada. Heidegger berkata:

Dengan demikian, fondasi ontologis bagi definisi dunia sebagai res extensa menjadi jelas: mereka ditemukan di dalam ide substansialitas yang tidak hanya tak-dijelaskan (unexplained) dalam kerangka makna Ada-nya, tetapi mereka juga sengaja dideklarasikan menjadi yang tak-terjelaskan (inexplicable), dan mereka diperkenalkan melalui jalan memutar mengelilingi atribut substansial paling istimewa dari substansi itu di dalam pertanyaan. (Heidegger 2011:92)

Bagaimana dengan kesempurnaan? Sebagaimana Ada yang luput diselidiki oleh Descartes, kesempurnaan juga luput dibahas. Descartes hanya mengatakan bahwa kesempurnaan adalah atribut esensial bagi Tuhan. Ide kesempurnaan menunjukkan eksisten-Nya. Dan kesempurnaan Tuhan inilah yang menjamin seluruh kebenaran aktivitas bernalar res cogitan. Apa basis kesempurnaan Tuhan sehingga Descartes meletakkannya sebagai penjamin penalaran yang benar? Mungkinkah ada penalaran yang salah jika tidak dijamin oleh Tuhan? Atau bahkan mungkinkah ada penalaran yang benar meskipun tidak dijamin oleh Tuhan? Descartes mengatakan bahwa penalaran bisa salah bukan karena Tuhan menghendaki kesalahan itu atau karena pikiran yang jelas sendiri bisa salah. Penalaran yang salah terjadi ketika disusupi nafsu dan kehendak bebas. Descartes juga berpendapat bahwa penalaran tidak bisa dijamin kebenarannya ketika tidak ada Tuhan yang menjadi penjamin. Orang yang tidak percaya adanya Tuhan, dalam pandangan Descartes, tidak bisa membuktikan kenapa penalarannya benar, dan jika tidak bisa dibuktikan, maka penalaran itu cenderung terjatuh pada kekeliruan.

Sebagaimana Ada yang dilupakan, dalam sejarah filsafat ketuhanan dan teologi (ilmu kalam), kesempurnaan juga dilupakan. Kesempurnaan diasumsikan sudah jelas, tidak perlu dipertanyakan lagi. Ia juga diasumsikan menjadi atribut universal nan niscaya bagi Tuhan tetapi tidak diselidiki bagaimana kesempurnaan itu dan apa neracanya. Jika kesempurnaan diterima begitu saja dan diposisikan sebagai pengetahuan yang apriori, lantas kenapa terjadi perbedaan di antara para metafisikus ketuhanan? Sesuatu yang apriori seharusnya tidak mungkin memunculkan perbedaan. Lantas dari mana perbedaan itu berasal?

Pertanyaan-pertanyaan di atas menggelisahkan, lantaran berkaitan erat dengan isu sensitif keagamaan, tidak samawi tidak pula non-samawi: semuanya sama. Dengan mempertanyakan kesempurnaan Tuhan, bukan berarti saya menyangsikan kesempurnaan itu. Tetapi saya justru berusaha menjernihkan konsep kesempurnaan yang oleh Descartes diterima begitu saja. Dari mana saya akan mulai memecahkan diskursus ini? Saya akan memulainya dari sumber, yaitu sumber yang bisa melegitimasi kesempurnaan Tuhan itu.

Melalui kajiannya tentang Descartes dalam buku Aqni’atu Descartes al-‘Aqlâniyyah Tatasâqatha, Dr. Usman Al-Khusyt menyatakan bahwa mazhab rasionalisme yang didaku oleh Descartes dan pengikutnya ternyata tidak sepenuhnya benar. Dalam filsafat Descartes, unsur khurafat ternyata masih ada, yaitu dengan memasukkan Tuhan demi menjamin kebenaran. Dengan cerdik Dr. Khusyt membuktikan bahwa klaim rasionalisme Descartes runtuh lantaran menyandarkan segalanya pada agama, yaitu agama Kristen. Rasionalitas seharusnya dijamin oleh rasionalitas itu sendiri. Karena jika Tuhan dilibatkan, bagaimana jika ternyata dengan mengikuti metodologi filsafat Descartes kita masih juga terjatuh dalam penalaran yang keliru? Apakah kekeliruan itu bisa disandarkan kepada Tuhan? Poin pentingnya adalah bahwa klaim rasionalitas Descartes tidaklah sepenuhnya bisa diterima karena ia memasukkan Tuhan (dan setan) dalam bangunan filsafatnya.

Dalam Critique, Kant menunjukkan kesalahan mendasar seluruh argumen eksistensi Tuhan, baik fisikoteologis, kausalitas, kosmologis, maupun ontologis. Kita tidak akan membahas kesalahan itu secara rinci di sini, yang jelas menurut Kant, Tuhan tidak mungkin dibuktikan melalui rasionalitas murni, dan dengan begitu, melalui Critique-nya sesungguhnya Kant menjadi seorang agnostis, sekaligus menuntun orang ke jalan ateisme. Kant kemudian membuktikan adanya Tuhan melalui rasio praktis, yaitu lewat Etika. Dalam etika Kantian, Tuhan diletakkan sebagai postulat. Tujuan dari etika adalah untuk mewujudkan kebaikan tertinggi, tetapi kebaikan tertinggi ini mungkin dicapai jika ada postulat berupa: (i) kebebasan, (ii) keabadian jiwa, dan (iii) eksistensi Tuhan.

Moralitas itu nyata, yaitu sebagai imperatif kategori. Adanya moralitas ini dijamin oleh, salah satunya, adanya Tuhan. Jika tidak ada Tuhan, moralitas tidak ada. Namun moralitas sendiri ada, maka Tuhan itu ada. Dari sinilah muncul ungkapan yang sangat terkenal dari Kant, yaitu “Aku harus menolak ilmu pengetahuan agar ada tempat bagi iman.” (Kant 2017:24). Bagi Kant, Tuhan bukan ranah akal budi murni, tetapi ranahnya iman. Dan iman ini diuji dan mendapatkan tempatnya dalam kategori imperatif, yaitu menyangkut apa yang bisa saya lakukan (aksiologi), bukan kategori transendental, yaitu tentang apa yang bisa saya ketahui (epistemologi).

Dengan memisahkan antara ranah iman dan ilmu pengetahuan, antara rasio murni dan rasio praktis, kita sementara ini mendapatkan kesimpulan yang cukup menghibur, yakni bahwa tidak semestinya rasionalitas dijamin oleh Wujud yang Transenden, dan tidak semestinya Wujud yang Transenden dijamin oleh rasionalitas. Dengan demikian, berarti sumber apa pun tentang Tuhan, termasuk kesempurnaan-Nya, tidak mungkin absah dari segi rasionalitas murni, tetapi harus mengandalkan sesuatu yang lain. Kalau Kant menjawabnya dengan moralitas, saya akan menjawabnya dengan wahyu. Tugas wahyu salah satunya ialah mengabarkan sesuatu tentang Tuhan: sifat, nama, tindakan, dan seterusnya. Tanpa wahyu kita tidak mungkin mengetahui bahwa Tuhan adalah cahaya langit dan bumi. (QS. An-Nur:35). Pewahyuan adalah khas agama samawi, atau agama Abrahamik, yaitu dengan turunnya kitab suci. Dari kitab suci inilah kita tahu kesempurnaan Tuhan. Bagaimana kesempurnaan Tuhan menurut yang difirmankan diri-Nya sendiri ini? Di tempat yang sangat terbatas ini, saya tidak akan bisa membahasnya secara menyeluruh. Oleh sebab itu, Being and Perfection yang sudah saya rancang nantinya diharapkan bisa menjawab apa yang luput diungkap di sini.

Namun meskipun harus ada pemisahan yang tegas antara iman dengan pengetahuan, bukan berarti keduanya bisa berdiri satu sama lainnya. Sebagaimana yang dikatakan Alfred North Whitehead bahwa era agama adalah era rasionalitas (Whitehead 1927:18), maka keduanya dengan demikian berjalan beriringan tanpa saling menyikut. Keduanya memiliki ranahnya masing-masing, dan dari sanalah terjalin kerja sama antara religiusitas dan intelektualitas untuk kehidupan yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat. Saya akan melangkah sedikit lagi ke pembahasan ini. Kesempurnaan Tuhan harus memiliki jangkar, yaitu sumber di mana ia dilegitimasi, dan sumber itu adalah wahyu atau kitab suci. Namun meskipun demikian, wahyu tidak mungkin terpahami jika tidak luruh dan menyatu dengan pengalaman manusia.

Kesempurnaan Tuhan yang menjadi bukti eksisistensi-Nya dalam filsafat Cartesian, diletakkan dalam kerangka yang adimanusiawi. Artinya, keberadaan ide kesempurnaan dalam diri manusia yang tidak sempurna menjadi bukti bahwa Tuhan itu eksis. Apakah semata-mata karena ketidak-sempurnaannya, manusia bisa menjadi tolok ukur keberadaan Tuhan? Bagaimana manusia bisa memahami kesempurnaan itu jika dalam denyut yang paling minimal, manusia itu sendiri tidak memiliki kesempurnaan? Bukan lagi masalah membandingkan antara kesempurnaan Tuhan dengan kesempurnaan manusia. Jelas keduanya berbeda. Tetapi ide kesempurnaan dalam diri manusia tidak mungkin ada ketika manusia dalam dirinya sendiri tidak memiliki kesempurnaan barang sedikit.

Suhrawardi berkata dalam kitabnya al-Alwah al-‘Imadiyyah: “Setiap keindahan dan kesempurnaan adalah residu dari keindahan dan kesempurnaan-Nya.” (Suhrawardi 2019:85). Kesempurnaan dalam diri manusia secara kausalitas berasal dari kesempurnaan Tuhan. Iluminasi adalah keterlimpahan kesempurnaan-Nya kepada semesta makhluk, dan manusia adalah esensi yang paling bisa menerima kesempurnaan itu. Tanpa adanya kesempurnaan diri, mustahil seseorang bisa memahami kesempurnaan Tuhan. Dari sinilah barangkali hadis yang sangat terkenal itu menunjukkan kebenarannya: “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.” Jika disederhanakan dengan gaya Cartesian akan berbunyi begini: “Aku mengenal diriku, maka aku mengenal Tuhanku.” Jadi, mengenal kesempurnaan Tuhan dimulai dari mengenal kesempurnaan diri, seperti halnya ketika filsafat Heidegger mengenal(kan) Sein (Ada/Being) dimulai dari mengenal(kan) Dasein (Ada-di-sana/Being-there). Pertanyaan selanjutnya yang mungkin tidak saya jawab di tempat ini adalah: bagaimana cara kita mengenal diri kita agar bisa mengenal Tuhan? Lebih mendasar lagi: apa itu diri/ego?

 

Daftar Bacaan:

Al-Khusyt, Usman, Aqni’at Descartes al-‘Aqlaniyyah Tatasaqatha (al-Hai’ah al-‘Ammah li Qushur ats-Tsaqafah, 2016)

Descartes, Rene, Discourse on Method and Meditations on First Philosophy (ed. Donald A. Cress, Hackett Publishing Company, 1993)

Heidegger, Martin, Being and Time (State University of New York Press, 2011)

Kant, Immanuel, Kritik Atas Akal Budi Murni (Indoliterasi, 2017)

Suhrawardi, Syihabuddin, Mutu Manikam Filsafat Iluminasi (ed. M.S. Arifin, Circa, 2019)

Whitehead, Alfred North, Religion in Making (Cambridge The University Press, 1927)

Facebook Comments
Bagikan konten: