Bagaimana Puisi dan Kenangan Berupaya Menulis Sejarah Personal

Bagikan konten:

Tentu masih terngiang di telinga kita ungkapan terkenal dari Herodotus, bapak sejarah dunia itu, yang berbunyi: “Sejarah (Penyelidikan); supaya tindakan-tindakan manusia tidak memudar seiring berjalannya waktu.” Waktu dengan kemisteriusannya menjadikan yang tiada menjadi wujud, tetapi di waktu yang sama menjadikan yang dulunya wujud menjadi tiada. Kita, manusia, seperti berada di kedua tangan waktu. Jikalau hidup ada di tangan kanan, waktu bisa memindahkan kita ke tangan kirinya, tempat di mana kita akan mati dan tiada, di waktu kapan pun yang waktu mau. Ditinjau dari segi apa pun (agama, logika, biologi, psikoanalisis, filsafat eksistensialis, sosiologi, dan seterusnya), manusia adalah makhluk yang memiliki batas waktu. Dalam psikoanalisisis, hubungan antara manusia dengan ‘batas waktu’ itu amat bias. Bukan badan dan segenap apa yang dirasakan ketika mati yang ditakuti manusia, namun justru perasaan terabaikan, dilupakan, dan dianggap tak pernah eksis. Oleh karenanya sejarah ditulis agar manusia, yang sudah selalu terbatasi oleh tempo itu, “tidak memudar seiring berjalannya waktu” dan mengalami “kematian psikis” (dalam terminologi psikoanalisis Freudian).

Tetapi, sebelum kita melangkah kemana-mana, apa itu sejarah?

Kita akan memulainya dari tesis Heidegger dalam Being and Time untuk membuka jalur tulisan ini. Dasein (istilah Heidegger untuk menyebut manusia, yang artinya being-in-there, yang-ada-di-sana) adalah entitas yang temporal atau mewaktu. Itu adalah suatu faktisitas, suatu fakta yang, katakanlah, ‘melampaui fakta’. Faktisitas kemewaktuan manusialah yang memungkinkan manusia untuk disebut sebagai makhluk yang menyejarah. “Kami berpendapat,” kata Heidegger, “bahwa yang pada dasarnya menyejarah adalah Dasein.” Dari sini satu batu sudah kita tapaki: bahwa hanya manusia yang punya sejarah. Makhluk hidup selain manusia tidaklah bisa disebut menyejarah meskipun ia berada dalam waktu. Bangunan di masa lalu, misalnya Piramida, bisa disebut ‘bersejarah’ bukan karena bangunan itu sendiri, suatu benda mati yang tergerus oleh amuk alam. Piramida bersejarah karena ia dibangun oleh manusia. Gunung, seindah apa pun itu, tidak bisa dikatakan bersejarah karena ia bukanlah tempat atau sesuatu yang dibangun oleh manusia. Batu kedua yang kita tapaki adalah: setiap tindakan manusia yang terjadi di masa lalu dan di suatu tempat pada dasarnya adalah sejarah. Kata kuncinya ada tiga. Pertama, tindakan manusia merupakan satu-satunya neraca untuk mengukur kesejarahan sesuatu. Kedua, tindakan itu harus terjadi di masa lalu. Sejarah tidaklah mempelajari apa yang terjadi di masa depan, meskipun pada akhirnya apa yang terjadi di masa depan bisa diketahui dari apa yang terjadi di masa lalu. Ketiga, peristiwa sejarah haruslah berada di tempat tertentu. Kita tidak bisa menyebut Republik-nya Plato menyejarah, meskipun buku itu sendiri menyejarah. Begitu juga Al-Madinah Al-Fadhilah milik Al-Farabi, juga Utopia Thomas More. Buku-buku ini menyejarah, tetapi kota atau negara yang ada dalam buku-buku itu tidaklah menyejarah karena tidak terjadi di suatu tempat tertentu.

Setelah sejarah dimengerti dan hanya mungkin dimengerti dalam dan melalui manusia, timbul pertanyaan lagi: kenapa satu kejadian dicatat oleh sejarah dan satu yang lainnya diabaikan? Benar bahwa setiap kejadian di masa lampau adalah sejarah, tapi tidak semua dicatat oleh sejarah, atau disifati ‘menyejarah’. Runtuhnya tembok Berlin disebut menyejarah, tetapi runtuhnya tembok rumah seorang petani di sebuah desa terpencil tidaklah itu dikatakan menyejarah. Di sini kita perlu memilah dua peristilahan penting. Pertama, memilah istilah ‘menyejarah’ yang perlu dibedakan dari segi filosofis dan dari segi historiologi. Secara filosofis, setiap kejadian di masa lalu yang terjadi di suatu tempat ‘pasti’ menyejarah. Atau jika dalam filsafat eksistensialis Heidegger, Dasein adalah entitas yang menyejarah tersebab dimensi temporalitas yang menjadi faktisitasnya. Berbeda dari segi filosofis, istilah ‘menyejarah’ dalam ilmu sejarah punya kriterianya sendiri. Dalam ilmu sejarah, biasanya yang dinilai sejarah adalah suatu kejadian yang implikasinya terhadap kejadian selanjutnya itu signifikan. Runtuhnya tembok Berlin menandai kebobrokan kekuatan komunis Uni Soviet (yang kemudian disusul oleh runtuhnya negara besar ini) dan menangnya kapitalisme liberal Amerika Serikat. Runtuhnya tembok rumah seorang petani di sebuah desa terpencil paling santer jadi perbincangan di pos kamling atau arisan ibu-ibu. Tak ada pengaruh yang mendalam terhadap alur kejadian yang menyusul kejadian sebelumnya. Kedua, memilah istilah sejarah (tarikh) dengan historiografi (ta’rikh). Hubungan antara sejarah dengan historiografi adalah hubungan umum dengan khusus. Sejarah bersifat lebih universal daripada historiografi. Sejarah membidik tiap sisi dari kejadian di masa lalu baik itu agama, politik, kesenian, kesusastraan, ekonomi, dan seterusnya. Sedangkan historiografi hanya membidik satu bagian kecil dari sejarah, misalnya sejarah penghancuran buku dan perpustakaan (bibliosida/librisida) seperti yang ditulis oleh Fernando Báez dan Rebecca Knuth.

Dalam studi psikologi, Francis Bacon membedakan tiga potensi akal manusia (berdasar pada keyakinannya bahwa filsafat harus membangun asas dari ilmu jiwa). Pertama, potensi memori. Kedua, potensi imajinasi. Ketiga, potensi berpikir atau bernalar. Ketiga pembagian ini sebenarnya sudah ada sejak masa Ibn Sina hanya saja tidak dikaitkan dengan psikologi sebagai diktum yang memungkinkan tiap potensi didedah dalam dan melalui pengalaman manusia. Potensi pertama, yaitu memori, menghasilkan sejarah. Potensi kedua, yaitu imajinasi, menghasilkan puisi. Potensi ketiga, yaitu berpikir, menghasilkan filsafat. Pembagian ini sesungguhnya adalah upaya untuk mempermudah jalan antropologi untuk memahami manusia personal dan manusia universal. Manusia personal memiliki tiga potensi ini untuk bertahan hidup di belantara kesehariannya, tetapi di waktu yang sama ia adalah makhluk sosial yang keberadaannya menerjemahkan dan diterjemahkan oleh lingkungan. Pembagian yang terkesan kasar ini berguna bagi ilmu tertentu seperti psikologi. Akan tetapi, terkadang pembagian ini sekedar menafsiri secara sederhana apa yang sebenarnya kompleks. Dalam faktanya, potensi dalam diri manusia itu seringkali saling menyangga satu sama lain. Misalnya, dalam menulis puisi orang tidak hanya mengaktifkan imajinasi mereka tapi juga ingatan. Begitu juga, ketika orang menulis sejarah, ingatan tak akan utuh tanpa membayangkan konteks di mana suatu sejarah terjadi, atau katakanlah, menyangkok satu tesis dalam neo-historisisme, “sejarah adalah interpretasi terhadap masa lalu”.

Di sini saya akan membahas dua potensi akal manusia, yaitu memori yang mengasilkan sejarah dan imajinasi yang menghasilkan puisi. Saya tidak mau terjebak dalam klaim yang buru-buru untuk mengunggulkan antara keduanya: misalnya hanya mengafirmasi sejarah karena nilai fakta yang diembannya, atau hanya mengedepankan puisi karena nilai luhurnya dalam berdialog dengan inti kalbu manusia. Keduanya sama-sama penting bagi kehidupan, dan mengabaikan satu sisi di antara keduanya akan mengakibatkan terjadinya ketimpangan. Saya juga tidak mau terjebak dalam upaya menggabungkan antara puisi dengan sejarah. Artinya, keduanya punya ranahnya sendiri-sendiri dalam menerjemahkan kehidupan. Yang pertama menekankan sisi asarnya terhadap individu manusia, yang kedua menekankan pentingnya fakta yang berbicara. Meskipun dua pertimbangan di atas harus saya ungkapkan, bukan berarti tulisan ini putih tanpa diskursus. Tentu tidak selugu itu saya ingin mengangkat sesuatu menjadi tulisan. Saya akan membawa tulisan ini sampai batas kemungkinannya untuk membicarakan sejarah dan puisi dengan tidak mengesampingkan satu aspek dari keduanya, juga dengan tidak berusaha mati-matian membuktikan bahwa keduanya itu satu keutuhan.

Aliran neo-historisisme muncul sekitar paruh kedua abad yang lalu lewat studi filsuf-filsuf posmodernisme, meskipun embrionya sudah kita temukan di akhir abad kesembilan belas melalui kajian filsafat sejarah. Kalimat yang terkenal dari Hegel ini contohnya, “kita belajar dari sejarah bahwa kita belum belajar dari sejarah”. Neo-historisisme adalah aliran yang mengkritik historisisme tradisional. Salah satu tesis penting dalam neo-historisisme adalah: fakta sejarah tidak lebih penting dari makna sejarah. Jadi neo-historisisme tidak menekankan pada fakta yang terjadi di masa lalu tetapi bagaimana fakta itu dimaknai. Singkatnya, aliran ini tidak mencari ‘fakta’ sejarah tetapi mencari ‘makna’ sejarah. Sejarah ditulis bukan untuk mengabarkan sebuah fakta yang ada di masa lalu saja. Sejarah ditulis untuk dimaknai, direnungkan, dan diaktualkan untuk masa kini dan masa depan. Aliran ini sangat dipengarui oleh filsuf Prancis, Michel Foucault, dengan tesis-tesisnya soal pengetahuan dan kuasa (Knowledge/Power). Melalui aliran ini, kita serasa menemukan napas segar untuk studi kesusastraan, terkhusus puisi. Yang jelas membedakan antara puisi dengan sejarah adalah: yang pertama biasanya berbasis pada fiksi dan yang kedua selalu pada fakta. Tetapi ternyata tidak semudah itu kita bernapas di ruangan yang tidak kita bangun sendiri. Teori neo-historisisme memang membantu kita dalam membicarakan arti penting puisi bersanding dengan korpus sejarah. Meskipun begitu, tujuan kita adalah tidak untuk mencari pembenaran berdasarkan kebenaran yang kita temukan di satu tempat, misalnya melalui kritik neo-historisisme, untuk kita klaim sebagai satu-satunya hal yang paling cocok dan relevan.

Kita harus membangun ruangan sendiri agar bisa bernapas lega. Kita akan memulai membangunnya dengan batu bata pertama: puisi dan sejarah sama dalam hal referensi, yaitu ingatan. Sejarawan memiliki referensi yang beragam, mulai dari dokumen, nota, buku diari, rekaman suara, rekaman visual, rekaman audio-visual, dan seterusnya. Sejarawan juga menggunakan ingatan sebagai dasar penulisan sejarah. Ingatan untuk menulis sejarah bisa datang dari bermacam-macam medium. Ada yang hidup dan ada yang mati. Medium yang hidup adalah orang yang memiliki ingatan tertentu tentang suatu kejadian di masa lalu. Misalnya, ketika saya ingin menulis sejarah tentang tragedi kemanusiaan G30S PKI, saya bisa mewawancarai orang yang pada waktu itu hidup dan bersinggungan (baik secara langsung ataupun tidak) dengan peristiwa itu, baik dari sisi korban, pelaku, maupun bukan kedua-duanya. Medium yang hidup bisa juga sang sejarawan itu sendiri. Misalnya Ibn Katsir yang dalam beberapa mozaik di kitabnya itu, al-Bidayah wa al-Nihayah, menulis berdasarkan ingatannya akan suatu peristiwa penting pada masanya. Medium yang mati adalah ingatan seseorang yang diabadikan di benda-benda tertentu, misalnya kertas, tablet, papirus, kayu, batu, dinding gua, dan bisa juga dalam satu gulungan yang utuh misalnya buku diarinya Anne Frank. Puisi juga dibangun dari ingatan, hanya saja ia bersifat lebih personal. Seorang penyair bisa menulis tentang apa yang ia ingat bersama orang lain, misalnya kekasihnya, di suatu tempat dan di suatu waktu. Ingatan adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa sekarang, bahkan juga masa depan. Masa lalu adalah suatu masa yang telah tiada dan ia tak akan berulang. Kita tidak punya akses kembali ke masa lalu kecuali melalui ingatan. Baik puisi maupun sejarah menjadikan ingatan sebagai jembatan penghubung ke masa kini.

Batu bata kedua adalah: puisi dan sejarah sama-sama berangkat dari interpretasi atas kenyataan. Agaknya perlu dibedakan antara kenyataan atau realitas dengan fakta. Realitas adalah dunia yang kita alami. Kereta yang kita lihat, gelas yang kita sentuh, musik yang kita dengar, masakan yang kita cecap, parfum yang kita cium; itu semua adalah realitas. Singkatnya: realitas adalah apa yang di luar perspektif kita. Sedangkan fakta adalah gabungan dari realitas dan penilaian. Sesuatu dinilai fakta jika ia sudah dihubungkan dengan penilaian. Suatu kejadian di suatu tempat dianggap sebagai fakta, misalnya, jika dinilai berdasarkan waktu berlangsungnya kejadian itu. Realitas selalu telanjang, tanpa nilai, sedangkan fakta sudah selalu mengandaikan adanya penilaian. Puisi memang kadang tidak berdasar pada fakta, tapi, seperti sejarah, ia selalu berangkat dari realitas. Sejarah adalah kumpulan realitas di masa lalu. Sejarawan hanya mungkin berlandaskan pada fakta tertentu yang pernah terjadi, kemudian menginterpretasikan hal itu ke dalam bentuk tulisan. Sejarah tidak pernah menulis sesuatu yang belum menjadi realitas. Sesuatu yang mungkin terjadi di masa depan bukanlah objek dalam sejarah. Nah, itu sejarah. Lantas bagaimana dengan puisi yang kadangkala menceritakan sesuatu yang belum atau bahkan tidak pernah terjadi—misalnya buku Dante Alighieri, Divine Comedy? Jawabannya: sesuatu yang belum dan tidak akan pernah terjadi yang ditulis oleh penyair bukanlah ‘titik berangkat’, ia adalah hasil atau garis akhir dari interpretasinya terhadap realitas. Dalam bukunya itu Dante boleh saja membahas sesuatu yang eskatologis, misalnya surga dan neraka, tetapi itu adalah hasil akhir daripada tulisannya, bukan tempat di mana Dante berangkat. Dante masihlah manusia, dan tulisan apa pun yang ditulis manusia pasti ada pembenarannya dalam realitas—sebab bukankah tulisan itu adalah bahasa manusia yang sudah selalu melalui kesadaran?

Sekarang, kita akan meneliti sejauh mana puisi dan sejarah itu berbeda.

Kita akan mencari perbedaan di antara dua persamaan yang sudah disebutkan di atas. Pertama, puisi dan sejarah memang sama-sama mengambil sumber dari ingatan, tetapi keduanya berbeda dalam menyebutkan detil, sejalan dengan perbedaan keduanya dalam tujuan aksiologisnya. Unsur dalam sejarah sama dengan unsur dalam berita, yaitu 5W + 1H (who, what, where, when, why, how). Kelima unsur ini harus ada dalam penulisan sejarah. Ketika saya ingin menulis tentang sejarah runtuhnya tembok Berlin, misalnya, saya musti memenuhi unsur 5W + 1H itu. Apa yang terjadi? Siapa pelaku dalam kejadian itu? Di mana kejadian itu berlangsung? Kapan kejadian itu berlangsung? Kenapa kejadian itu terjadi? Bagaimana kejadian itu terjadi?—singkatnya, sejarah adalah berita masa lalu, dan layaknya watak berita, unsur-unsurnya harus dipenuhi secara utuh. Bisa jadi suatu kejadian di masa lalu tidak bisa dipastikan kejadiannya kapan, tetapi biasanya sejarawan punya bahasanya sendiri, misalnya ‘sekitar’ atau ‘kira-kira’. Berbeda dari sejarah, puisi tidak harus memenuhi unsur 5W + 1H. Dalam hal ini, saya akan mencontohkannya secara langsung. Simak puisi Ghayath Almadhoun yang berjudul ‘Gnosida’ ini:

Ketika mereka membunuhmu,

sebenarnya mereka melakukan gnosida pada seorang saja.

 

Ketika orang-orang menemukan makammu,

mereka mendapati kuburan massal untuk satu mayat.

Puisi yang termuat di dalam antologi La Astathi’u al-Hudhur ini tidak berupaya memberikan berita yang komplit dan detil tentang seorang yang dibunuh dalam aksi gnosida. Orang itu pun tidak disebutkan identitasnya ataupun inisialnya. Sang penyair hanya menekankan satu ironi bahwa ketika mereka, para diktator dan tangan-tangan mereka membunuhmu (‘mu’ yang masih misterius), mereka sebenarnya hanya melakuan pemusnahan massal terhadap seorang saja. Dan ketika ada orang-orang yang menggali kuburan massal itu, mereka justru hanya menemukan satu mayat. Ironinya terletak tepat di kata kunci ‘gnosida’ yang artinya pemusnahan secara massal; ke-massal-an yang justru batal tersebab mereka membunuh seorang saja. Tempat dan latar tidaklah disebut di sana, selain kuburan, dan kita pun tidak diberi kisi-kisi kira-kira di manakah tepatnya letak kuburan itu. Fakta memang kadang penting, tetapi bukan itu yang ditonjolkan. Yang lebih ditonjolkan dalam puisi adalah bagaimana puisi itu mengetuk sanubari, atau menggelitik rasionalitas, daripada sekedar menghadirkan fakta apa adanya.

Kedua, puisi dan sejarah memang sama-sama berangkat dari kenyataan atau realitas, tetapi keduanya berbeda dalam cara menuliskan realitas itu dan oleh karenanya berbeda juga dalam ‘output’ bentukannya. Dalam menuliskan sejarah, seorang sejarawan mengacu pada data tertentu dari masa lalu seperti yang sudah disinggung di atas. Data ini diolah oleh sang sejarawan untuk kemudian dikaitkan secara kausalitas antara satu kejadian dengan kejadian yang lainnya. Data masa lalu itu kemudian diberi makna oleh sang sejarawan berdasarkan pertimbangan yang selektif dan sekaligus objektif. Selektif artinya mengunggulakan apa yang menurutnya perlu untuk dituliskan. Objektif artinya tidak memasukkan unsur-unsur subjektifitas seperti emosi dalam menuliskannya. Seorang sejarawan yang ingin menulis tentang persitiwa G30S PKI, misalnya, harus selektif dalam memilih data untuk kemudian diolah. Selain itu, ia juga harus seobjektif mungkin dalam mengolah sejarah itu. Meskipun jika ia punya pengalaman kelam dengan rezim yang melakukan pemusnahan terhadap partisipan partai itu, ia tidak boleh memasukkan emosinya ke dalam tulisan.

Puisi berbeda dari sejarah. Dalam puisi ada teori mimetik, yaitu upaya menuliskan kenyataan. Teori mimetik paling klasik datang dari dua filsuf yang satu dengan yang lainnya berbeda pendapat, Plato dan Aristoteles. Teori mimetik Plato berhubungan dengan teori idenya. Menurutnya, ide adalah satu-satunya kenyatan, sedangkan realitas adalah jiplakan dari ide itu. Akibat pandangannya ini, Plato memandang rendah seniman dan sastrawan yang menurutnya malah memandang yang jiplakan, yaitu realitas, sebagai yang lebih nyata daripada yang asli, yaitu ide. Pandangan ini ditolak oleh Aristoteles. Menurutnya, karya seni adalah katharsis, penyucian jiwa. Seorang seniman memang tidak bisa menjiplak realitas tetapi ia bisa menciptakan realitas baru yang berbeda dari realitas yang dijiplaknya melalui proses mimetik. “Itulah kenapa,” tulis Aristoteles dalam bukunya Poetics, “puisi lebih filosofis dan lebih serius ketimbang sejarah. Puisi menggambarkan yang universal, sedangkan sejarah berurusan dengan yang partikular.” Berbeda dari sejarawan, seorang sastrawan memberi makna terhadap realitas tidak berdasarkan pada selektifitas dan objektifitas, tetapi berdasarkan pada kebebasan dan kreatifitas dalam menciptakan dunia alternatif.

Setelah sampai sejauh ini, kita akan kembali ke tempat di mana tulisan ini memulai: kematian psikis dalam terminologi Freudian adalah dilupakannya kita, sebagai manusia, seperti dianggap tak pernah eksis, “memudar seiring berjalannya waktu”. Sejarah dan puisi membuat kita abadi. Sejarah mengabadikan kita sebagai manusia universal, puisi mengabadikan kita sebagai manusia personal. Dalam masyarakat yang belum berperadaban, yang hidupnya masih nomaden, unsur ingatan dan oral masih sangat kental. Orang Arab Jahiliyyah salah satunya. Kita hampir tidak bisa memisahkan antara sejarah dengan peradaban, karena sejarah hanya mungkin ditulis ketika tanah dan air menetap, tidak berpindah-pindah. Puisi-puisi Arab klasik disebut Diwan Al-Arab. Puisi-puisi ini diriwayatkan secara lisan, dari generasi ke generasi, sampai akhirnya ditulis ketika peradaban Arab-Islam muncul. Puisi Arab klasik adalah salah satu sumber dalam menulis sejarah Arab Jahiliyyah. Di sini kita melihat bahwa puisi yang awalnya hanyalah sejarah personal, akhirnya, dalam situasi dan kondisi tertentu, bisa menjadi sejarah universal yang mencerminkan suatu keadaan sosio-kultural di suatu masa dan di suatu tempat.

Puisi dan sejarah sama-sama sarana agar manusia tidak musnah karena dilupakan. Puisi memberi makna lebih kepada ingatan. Tetapi ingatan itu harus berproses sebelum menjadi puisi. Mengenai sejarah, di atas sudah disinggung kenapa sejarawan memilih satu kejadian dibanding yang lain? Pertimbangannya mengacu pada pentingnya kejadian itu bagi gerak kejadian selanjutnya. Proses ini juga berlaku dalam puisi. Ada semacam proses pembekasan ingatan yang ada di benak kita. Ingatan yang kuat dan membekas lazim disebut kenangan. Ingatan di otak kita tidak akan pernah hilang, ia hanya teritimbun oleh ingatan baru dan kemudian terlupakan. Setelah ingatan itu membekas dan jadi kenangan, penyair haruslah menghadirkan kenangan itu. Ini dinamakan nostalgia. Dengan proses mimetik yang jitu atas ingatan itu, berdasarkan prasyarat yang menyulam teori estetika, puisi akan berhasil ‘membincangkan’ ingatan. Bukan berusaha menjiplak ingatan itu saklek-saklek, tapi justru menghancurkannya, membangun kuil ingatan lain yang loncengnya berdentang sampai ribuan tahun kemudian. Kita perlu memperkenalkan istilah baru untuk proyek penghancuran ingatan, memorasida. Diambil dari kata ‘memora’ yang artinya ingatan dan ‘sida’ yang artinya pemusnahan. Dengan mengenang, sebenarnya kita sedang menghancurkan ingatan, puisilah yang akhirnya mendirikan ingatan lain di atas reruntuhannya. Masih lekat di ingatan kita kalimat legendaris dari Chairil itu, “aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Kita tahu Chairil Anwar bukanlah seorang sejarawan, ia hanya seorang yang menulis puisi. Ia telah menjadi sejarah, sejarah yang dituliskannya sendiri.

Daftar Bacaan:

Almadhoun, Ghayath, La Astathi’u Al-Hudhur (Al-Mu’assasah Al-‘Arabiyyah li Al-Dirasat wa Al-Nashr, 2014)

Aristoteles, The Philosophy of Aristotle (Mentor Book, 1963)

Budbus, Ragab, Ta’ammulat Falsafiyyah (Majlis Al-Saqafah Al-‘Am, 2010)

Carr, Edward Hallet, What Is History? (Vintage Book, 1961)

Heidegger, Martin, Being and Time (Blackwell, 1962)

Külpe, Ozwald, Al-Madkhol ila Al-Falsafah (Alam Al-Adab, 2016)

Moran, Dermot, Introduction to Phenomenology (Routledge, 2000)

Tyson, Lois, Critical Theory Today (Gerland Publishing, 1999)

Facebook Comments
Bagikan konten: