Apakah Neraka Terletak Pada Laknat Suami?

kintaka zulfa
Bagikan konten:

Setelah peti Ahmad dibawa keluar rumah untuk disalatkan di masjid, aku menyendiri di dalam kamar, duduk di pinggir ranjang sembari mengisap sebatang rokok. Aku memandangi foto pernikahan kami yang terpajang di dinding kamar. Padahal baru dua tahun pesta pernikahan itu digelar, tapi aku merasa sudah betahun-tahun terjebak hidup dengannya. Walaupun aku membencinya, aku tak pernah mengharap kematiannya.

Seseorang mengetuk pintu kamar, tak lama kemudian aku mendengar suara Asma yang memanggil namaku. Aku memintanya untuk masuk. Dia duduk di sampingku, mengambil satu batang rokok dari bungkus yang tergeletak di atas kasur kemudian menyulutnya. Setelah menghisap batang rokok dan menghembuskannya perlahan, Asma mulai membuka percakapan.

“Apa kau akan menuntut pria yang sudah menabrak suamimu?”

“Dia tak sengaja menambrak Ahmad. Lagipula ayah mertuaku sudah merelakan kepergian putranya.”

“Nampaknya Tuhan membantu menyelesaikan masalah rumah tanggamu dengan cara-Nya sendiri.”

Aku mengisap rokok yang tinggal separuh. Dalam. Aku ingat bagaimana aku menangis di hadapan Asma seminggu setelah menikah, menceritakan tentang Ahmad yang memerintahkanku untuk berhenti dari pekerjaanku sebagai editor berita di Algomhuria karena dia tak ingin aku berada dalam satu ruangan dengan sejumlah laki-laki asing. Ahmad tahu bagaimana aku menyukai pekerjaan itu, dia juga tahu bagaimana susah payahnya aku mendapatkan posisi itu.

Asma menasehatiku untuk mencoba memahami keputusannya. Sejak masa tunangan, kami berdua sudah tahu watak pencemburu Ahmad. Dia pernah cemburu dengan saudara sepupuku yang masih duduk di bangku sekolah menengah saat itu. Dengan berat hati, aku mendengar nasehat Asma dan mencoba untuk menaati perintah suamiku.

Namun perlahan aku tahu bahwa Ahmad melarangku bekerja bukan karena cemburu pada pria lain, ia hanya tak ingin aku mengunggulinya. Sebagai editor dan penulis kolom, namaku cukup dikenal. Berbeda dengan Ahmad yang bekerja sebagai akuntan swalayan, yang duduk seharian di balik layar komputer tanpa ada yang mengenal namanya. Ahmad selalu mencerca tulisanku dengan mengatakan bahwa tulisanku membingungkan, berputar-putar, terlalu dangkal, membosankan dan lain sebagainya.

Aku mulai berani membantah, bahkan aku akan balik meneriakinya jika dia berteriak padaku.  Jika kita bertengkar, dia akan tidur di ruangan lain, berangkat bekerja sebelum aku bangun dan pulang setelah aku tertidur. Dia baru kembali ke kamar setelah dia ‘merindukanku’. Dia akan menindihku dan mengoyak isi perutku tanpa ampun.

“Kau harus menggugat cerai. Dia sudah keterlaluan,” ucap Asma.

Aku mengindahkan nasehat Asma karena aku sudah tak tahan lagi. Di saat sarapan, aku mengungkapkan keinginanku untuk bercerai. Seketika Ahmad membuang potongan isy yang hendak dimakannya di atas meja. Ia menatapku dengan tatapan murka. Aku mencoba untuk menghiraukan tatapannya dan melanjutkan makan.

“Terserah saja jika kau memang mau bercerai.”

Aku melihat ke arah Ahmad karena tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Wajahnya masih murka.

“Jika kau menceraikanku, aku masih bisa menikah dengan perempuan lain. Sedangkan kau? Katakan padaku, siapa yang mau menikahi janda tak berpenghasilan dan mandul.”

Emosiku membuncah. Aku bangkit dari kursi, menuju kamar dan membanting pintu keras-keras. Aku meringkuk di atas kasur sambil terisak. Ahmad tak pernah tahu aku sempat mengandung janin dari benihnya. Janin itu baru berumur dua minggu ketika aku melihat darah mengalir di kedua pahaku. Aku tak bersedih hati. Aku menganggap  keguguran itu sebagai isyarat dari Tuhan bahwa Ahmad tak layak menjadi ayah dari anakku.

Hari itu juga aku pulang ke rumah orangtuaku di kawasan Giza dengan membawa barang secukupnya. Aku merasa mama tahu aku sedang memiliki masalah dengan Ahmad, tapi ia memilih untuk tidak menanyakan dan membahasnya. Pikiran mama sudah terkuras dengan toko material baba yang terancam bangkrut setelah ditipu oleh temannya sendiri. Baba depresi hingga terjatuh sakit.

“Mengapa tak ada yang memberitahuku soal ini?” tanyaku pada mama.

“Kami mengira bisa mengatasinya tanpa harus melibatkan anak-anak. Kakakmu sedang membangun rumahnya, sedangkan kau sendiri sudah tak bekerja. Kau tahu baba pantang meminta bantuan uang kepada menantunya.” Mama mencoba memberikan senyum tegar kemudian ia melanjutkan, “Tapi aku tenang karena sudah ada yang menjamin hidupmu. Layani suamimu dengan baik. Kunci kekokohan rumah tangga ada di tangan istri. Sebesar apa pun badai yang menerpa rumah tanggamu, jika kau kuat maka rumah tanggamu akan tetap berdiri kokoh.”

Aku merasa tak punya pilihan selain kembali ke rumah Ahmad. Setelah kepergianku itu, Ahmad memperlakukanku dengan hangat dan lembut baik di ranjang maupun di luar ranjang. Tapi ini tak berlangsung lama. Dia tahu aku menulis di kolom cerpen di Algomhuria walaupun aku sudah menggunakan nama samaran. Dia mengataiku istri terlaknat karena berani merendahkan derajat suaminya di publik. Dia tersindir dengan ceritaku yang mengisahkan seorang istri yang berhasil menjadi penulis terkenal setelah menceraikan suaminya yang bodoh dan kasar.

Aku mencoba membela diri dengan mengatakan bahwa cerpen itu hanyalah sebuah cerita. Ia menampar wajahku. Itu adalah pertama kalinya seseorang memukulku. Aku tak pernah melupakan tamparan itu. Aku masih bisa merasakan rasa sakitnya. Ahmad tak hanya menyakiti fisikku, ia juga telah menghancurkan benteng harga diriku sebagai manusia.

Sejak saat itu, aku menjadi mayat hidup yang tak merasakan apa-apa terhadap Ahmad. Rasa benciku terhadapnya berubah menjadi ketidakpedulian akut di mana aku tak lagi merasakan keberadaan Ahmad di sekelilingku. Bahkan aku tak lagi merasakan sakit saat ia menindih tubuhku.

Di saat itulah aku bertemu dengan Ali. Aku mengenalnya dari Facebook. Aku menyukai semua hal yang dia tulis di status Facebooknya tentang puisi, politik dan perempuan. Aku memberanikan diri memberikan komentar di statusnya, menuliskan pandangan pribadiku. Panjang dan menggebu. Tak lama hingga akhirnya Ali mengirimiku pesan pribadi. Kami pun saling berkenalan. Hampir setiap hari kami berkomunikasi via Facebook, mengobrolkan banyak hal, mendiskusikan segala hal.

Hatiku berdegup tak karuan ketika pertama kali aku mendengar suaranya di telepon. Aku suka mendengar suara dan helaan nafasnya, suaranya bagiku bagai aliran air jernih yang mengairi tanah tandus. Aku merasa kembali hidup.

“Apa kau yakin ingin bertemu denganku? Aku sudah menikah.”

“Aku tak memaksa jika kau memang keberatan.”

Kami pun bertemu di sebuah kafe pinggiran sungai Nil di kawasan Zamalek. Ali terlihat lebih tua dari fotonya di Facebook tapi ia tetap terlihat tampan. Aku merasa salah tingkah dan begitu malu. Aku tak berani melihat kedua matanya ketika kami mengobrol. Ali bisa merasakan kegugupanku. Ia mengambil satu batang rokok dan meletakkan di bibirnya. Sebelum menyulutnya, dia menyodorkan bungkus rokoknya padaku.

“Aku sudah berhenti merokok sejak menikah.”

“Ambillah, aku tak akan mengadu ke suamimu.”

Kami berdua tertawa.

Sejak pertemuan itu, kami berdua semakin dekat. Aku sudah tak malu mengiriminya gambar hati dan ia mulai memanggilku dengan panggilan sayang. Aku tak pernah menceritakan Ali kepada Asma. Ketika Asma melihatku kembali menyulut rokok, dia hanya mengatakan bahwa sepertinya hidupku mulai membaik. Aku tersenyum sembari menghembuskan asap rokok ke udara.

Ahmad mulai mencurigaiku, dia mulai peduli dengan kegiatanku saat dia bekerja. Aku tahu dia pernah mencoba memeriksa handphoneku saat aku tidur. Darahnya mendidih karena dia tak tahu password handphoneku. Dengan kasar dia membangunkanku, menyingkirkan selimut dari atas tubuhku kemudian menindihku. Kedua matanya menatapku dengan penuh amarah.

Aku terus berkomunikasi dengan Ali. Setiap kali bertemu, dia selalu memberiku buku yang katanya harus kubaca. Aku menjadi seperti ketagihan membaca buku. Aku selalu mengingat perkataan Ali bahwa kita bisa menundukkan banyak hal di muka bumi dengan buku-buku, seperti halnya Napoleon yang berhasil menaklukkan Mesir hanya dengan berbekal Voyage en Egypte et en Syre karangan Comte de Volney. Aku sudah memiliki buku pegangan Napoleon itu, Ali yang memberiku. Tapi aku tak bisa membacanya karena aku tak memahami bahasa Perancis.

Aku sangat terkejut ketika mendapati Ahmad tengah duduk di ruang tengah, terlihat sedang menanti kedatanganku. Aku melihat jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore. Seharusnya Ahmad berada di kantornya.

“Aku keluar sebentar untuk membeli pulsa.”

Ahmad memukul meja dengan keras hingga membuatku terkejut dan takut. Ahmad berjalan menghampiriku. Wajahnya berkeringat dan kedua matanya merah. Dia menunjukkan sebuah foto di handphonenya. Aku menelan ludah, itu adalah fotoku bersama Ali. Hari ini Ahmad tidak bekerja karena dia ingin membuntutuiku.

Ahmad menamparku.

“Allah melaknatmu dan akan menyiksamu dalam neraka. Kau mengkhianati suamimu. Kau sudah menginjak-injak kehormatan suamimu.”

“Kau yang terlebih dahulu menginjak harga diriku.”

Ahmad mencekikku. Perlahan kedua kakiku tak menyentuh lantai. Aku meronta-ronta dengan sia-sia. Dengan susah payah, aku memintanya untuk berhenti. Ketika aku sudah merasa bahwa ini adalah akhir hidupku, Ahmad melepaskan kedua tangannya dari leherku. Aku terjatuh di lantai, terbatuk-batuk.

Ahmad berlutut lemah dan terisak. Dengan lirih, dia berkali-kali berkata bahwa ia akan membunuh Ali. Tak lama kemudian, Ahmad bangkit dan berjalan keluar rumah. Aku hanya mendengar suara pintu yang dibanting keras. Di pagi harinya, aku mendapat telepon dari rumah sakit yang mengabarkan bahwa Ahmad tertabrak mobil dan menghembuskan nafas terakhir sesampainya di rumah sakit.

 

“Aku akan membantu mencarikan pekerjaan untukmu,” ucap Asma.

“Terima kasih, Asma.” Aku berhenti sesaat. Tanpa melihat ke arahnya, aku bertanya, “Ahmad sempat mengutukku sebelum meninggal dunia. Apakah aku akan masuk neraka?”

Asma menepuk halus pundak kananku kemudian berkata, “Surga dan neraka adalah urusan Tuhan, bukan manusia.”

Asma bangkit, melempar rokoknya keluar jendela. Sebelum keluar kamar, dia berkata bahwa para pelayat menanti kedatanganku, dia juga mengingatkanku untuk memakai kerudung.

“Kau tak boleh memperlihatkan lehermu yang seperti itu.”

Facebook Comments
Bagikan konten: