Yang Disampaikan Sinema Arab Melalui Capernaum

Bagikan konten:

Meskipun tidak seberuntung Capernaum-nya Nadine Labaki, film-film Arab yang mendapat nominasi di Festival Cannes tahun ini Mei lalu bertambah dari tahun-tahun sebelumnya. Ada enam film yang masuk nominasi utama Cannes (Palm d’Or, Un Certain Regard, Golden Camera dan Cinefondation), tiga film lainnya tayang di Critic’s Week dan Special Screenings dan masuk nominasi sampingan seperi Queer Palm dan Golden Eye. Jadi ada sembilan film yang tayang di festival bergengsi internasional (atau yang sering diibaratkan loket terakhir untuk bisa masuk nominasi Academy Award), itu belum termasuk satu sutradara Arab yang membikin film non-Arab dan sebaliknya, dua film tentang orang Arab dan Islam yang digarap dua sutradara Belgia.

Sejak Nadine meraih beberapa kategori ‘pertama kali’, seperti sutradara Arab perempuan pertama yang memenangkan Jury Prize di Cannes 2018, sutrada Arab perempuan pertama yang lolos nominasi akhir Best Foreign Language Film of the Year di Academy Award 2019 dan perempuan Arab pertama yang dipilih menjadi juri Cannes 2019 untuk kategori Un Certain Regard, tampaknya juri Cannes mulai memberi apresiasi lebih terhadap film-film dari dunia Arab. Atau sebaliknya, sineas-sineas Arab mulai ‘gas pol’ agar karya-karyanya lebih diperhatikan? Bahkan Elia Suleiman, sineas Palestina yang menghilang selama satu dekade muncul kembali dan lolos kompetisi Palm d’Or dengan filmnya It Must Be Heaven (2019).

Tapi saya pikir itu hanya kebetulan saja. Dan untuk mengatakan sineas Arab ‘gas pol’ hanya demi mengejar perhatian orang-orang kulit putih agak berlebihan. Buktinya Elia di film terbarunya itu ia hanya berjalan-jalan melakukan komedi deadpan di kota-kota asing seperti New York dan Paris, mencoba mencari puing-puing negerinya yang porak poranda. Bisa jadi juga kesadaran sineas Arab hari ini mulai bertambah untuk memproduksi film-film yang masuk jangkuan barat. Mereka berkonsentrasi atas film-film yang memiliki kepentingan dengan festival-festival internasional dengan mengangkat tema-tema timteng yang panas atau topik khas negara dunia ketiga yang bercorak lokal.

Kesadaran ini memberi keuntungan tersendiri bagi negera-negara Arab untuk mengejar ketertinggalannya dengan sinema Iran (meski sebagian kritikus mengategorikan mereka ke dalam sinema Arab karena berbagi tema konflik politis yang sama). Film-film Iran lebih sering ‘tersangkut’ dalam kompetisi Palm d’Or ketimbang film-film berbahasa Arab. Meski begitu perlu diketahui bahwa orang Arab pertama yang memenangkan Palm d’Or adalah sineas Ajazair, Mohammed Lakhdar Hamina, melalui filmnya Chronicle of the Years of Fire pada tahun 1975, yang merupakan film berbahasa Arab. Yang baru disusul Iran oleh Abbas Kiarostami dengan Taste of Cherry-nya pada tahun 1997, di mana pada tahun tersebut film Mesir yang berjudul Destiny garapan Youssef Chahine juga berkompetisi di nominasi Palm d’Or.

Kesadaran ini tentu bukannya tak pernah ada sebelumnya mengingat masa-masa kejayaan sinema Arab di pertangahan abad ke-20. Saya menduga tahun-tahun perang dan kepemimpinan militer atau teokrasi yang otoriter telah merepresi akses dunia sinema Arab dan Iran sampai beberapa tahun terakhir.  Tapi para sineas hari ini, jikapun ditekan atau diboikot di negerinya atau oleh kelompok tertentu, tidak akan kehabisan jalan keluar. Setidaknya festival internasional semacam yang kita bicarakan di atas punya andil besar telah membebaskan suara-suara yang dibungkam, seperti sineas Iran Jafar Panahi, Shirin Neshat, sineas Lebanon Ziad Doueiri dan lain-lain.

Oleh karena itu, menurut saya pencapaian Nadine Labaki cukup signifikan. Kebetulan ini merupakan langkah awal dan bisa menjadi cerminan bagi negara-negara dunia ketiga lainnya. Dalam wawancara-wawancara yang Nadine lalui pasca jadi idola, ia selalu mengatakan bahwa sinema adalah senjata ampuh untuk menarik perhatian. Ia sampai pada tahap ini, perhatian yang—boleh jadi—kekal. Sebuah tahapan yang luhur untuk seorang seniman agar menetapkan apa yang ia tawarkan pada masyarakat adalah sesuatu yang nyata, bukan bualan penyair gadungan.

Beberapa waktu setelah meraih Jury Prize di Cannes, setelah dielu-elukan baik oleh dunia Arab maupun Barat, Nadine juga mendapat komentar dari beberapa simpatisan Hizbullah. “Tak perlu bangga akan pencapaian Nadine Labaki saat angka kematian militan Hizbullah di Siria semakin tinggi.” Manar Sabbagh, reporter Al-Manar TV milik Hizbullah, mencuit melalui twitternya. Tweet tersebut ramai dan menjadi debat publik yang cukup berkepanjangan. Ada yang membantah, sejak kapan film tentang anak-anak yang diperlakukan semena-mena, imigran ilegal sampai kemenangan sineas Lebanon menjadi krisis eksistensial daripada Hizbullah?

Tidak peduli dengan komentar tersebut, Nadine bersikeras bahwa sinema adalah wajah dari problem-problem yang nyata. Problem tersebut tentu bukan selalu topik besar yang hangat dibicarakan semua orang di dunia ini. Justru hal-hal sepele menumpuk menjadi masalah besar yang tidak kunjung kita perhatikan. Yang justru Nadine gali dalam-dalam adalah kesadaran kita akan hal tersebut. Bukan permasalahannya, sebab itu sudah ada di permukaan seumur hidup kita.

Dalam film Capernaum (2018) Nadine mengangkat perspektif Zayn, seorang anak yang dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Di saat orang dewasa di sekitarnya tampak tidak peduli. Secara ironis narasinya menjelaskan bahwa ignoran adalah arti menjadi orang dewasa, sedang kepekaan adalah barang usang yang hanya kita miliki waktu masih kanak-kanak. Menjadi orang dewasa berarti tidak punya pilihan lain selain mengorbankan masa depan anak-anaknya. Lahir sebagai seorang anak berarti mengikuti apa kata orang-orang dewasa di sekitarnya tanpa punya kekuatan untuk sekadar bertanya.

Film dimulai dari frame yang menarik. Zayn beridiri hanya dengan pakaian dalam dan orang tua duduk di hadapannya. Orang tua itu tak tahu berapa umurnya. Zayn sendiri juga tidak tahu. Si orang tua tampak sedang mencari tahu, mungkin ia seorang dokter. Kemudian kita diperlihatkan sekumpulan orang-orang non-Arab sedang diperiksa, ditanyai, siapa mereka, apa mereka punya tanda pengenal, ijin kerja. Kita seharusnya bisa mengenali situasi tersebut, mereka adalah imigran ilegal yang tertangkap. Terutama ketika seorang Etiopia bernama Tigest Ailo dipanggil, air mata mengalir dipipinya. Kamera mendekat kepada mereka semua, tapi perhatian kita kepada satu-satunya orang yang berwajah paling bersedih. Kita dipaksa secara halus untuk memperhatikan, atau setidaknya kita diuji apakah kita cukup peduli.

Sinematografi dalam film ini, oleh Christopher Aoun, banyak bermain dalam ironi. Gambar-gambar yang masuk ke dalam frame-nya sering menjadi fokus akan ironi yang ia bangun. Yang paling teringat dalam benak saya adalah ketika berkas aduan Zayn dibawa ke dalam ruang arsip. Kita hanya menduga si petugas menaruhnya secara random di antara ribuan berkas lainnya dalam amplop besar berwarna cokelat. Semuanya menggunakan amplop besar yang sama, yang berbeda berkas milik Zayn tampak masih baru dan masih rapih. Ribuan lainnya hanya tumpukkan amplop cokelat yang lusuh dan kusam. Kamera diam sejenak di situ setelah berkas Zayn ditaruh, memaksa kita merekam gambar itu baik-baik dalam memori kita. Ribuan kasus itu tak kunjung terselesaikan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ribuan berkas itu, adalah ribuan kasus yang serupa.

Saya kira konsep sinematografi Aoun adalah pahit manis. Kita mau tak mau dibuat terhenyak oleh shot yang bergetar, seperti kita adalah orang yang menyaksikan itu secara langsung, tubuh kita tak seimbang oleh keresahan dan rasa amarah yang menguar dari wajah-wajah tak bahagia itu. Kita juga akan tertegun oleh aerial shot yang bertebaran di sepanjang film. Drone yang diterbangkan Nadine dan Aoun masih mampu menangkap gambar-gambar ironi bahkan dari udara sekalipun. Yang paling menarik adalah ratusan ban yang disusun di atas perkampungan kumuh tempat tinggal Tigest (atau yang dikenal sebagai Rahil selanjutnya, atau pada awalnya jika merujuk kronologi sesungguhnya), gambar ratusan ban dari udara itu muncul tepat setelah frame Zayn yang kecewa sedang menarik Yonas dalam panci yang direkatkan pada skateboard.

Selain shot dari udara, kita juga akan menikmati shot punggung. Kita akan sering mengikuti jalan seorang karakter dari belakang, memperhatikan punggungnya, menebak-nebak raut wajah yang ia pasang. Kadang kita bisa menafsirkan isi hatinya hanya dari bagaimana punggungnya membentuk, antara tegap atau lemas, dan antara keduanya.

Banyak yang ingin disampaikan Nadine melalui visi sinematiknya. Melalui Zayn, karakter yang ia ciptakan melalui pendekatan khas film neo-realisme. Pendekatan ini dan juga pemilihan sudut pandang anak-anak sering dilakukan oleh sineas Iran akhir tahun 90-an. Tapi Nadine pernah secara spesifik menyebut The White Balloon (1995) sebagai salah satu sumber inspirasinya. Film karya Jafar Panahi itu mengikuti petualangan seorang gadis kecil bernama Razieh untuk mencari uangnya yang hilang. Jafar menggunakan karakter Razieh sebagai simbol atas perlakuan represif yang dilakukan oleh pemerintah Iran terhadap rakyatnya. Sudut pandang anak-anak yang dikelola dalam sebuah narasi yang diperuntukkan orang dewasa memang sangat menarik, dan seringkali lebih mengena. Karena anak-anak bisa kita uji respon yang paling jujur terhadap suatu permasalahan yang menekannya untuk bisa memberikan perlawanan yang sepatutnya kita lakukan, atau memunculkan ide-ide nakal yang seringkali hanya bisa terpikirkan oleh anak kecil.

Nadine mengakui karakter Zayn memanglah simbolik, tapi saya pikir, dan berharap, suatu saat nanti akan ada Zayn tumbuh dari nurani kita masing-masing. Dengan segala cara apa pun, Nadine, juga sineas-sineas Arab lainnya sudah berusaha menarik perhatian kita. Capernaum yang ia ciptakan, paduan kekacauan dan keajaiban dalam ide besarnya, konsep pahit manis dalam sinematografinya, komedi dan tragedi dalam pergulatan dan penampilan karakter-karakternya, adalah segala yang perlu disampaikan sinema Arab kepada kita. Terlepas corak masing-masing kultur yang jauh berbeda, kita memiliki masalah yang serupa. Semenjak menonton film ini, kita akan memiliki pandangan yang berbeda kepada dunia yang tidak sempurna ini. Coba saja.

Facebook Comments
Bagikan konten: