Yang Dapat Dilakukan Nalar Arab Ketika al-Qur’an Diturunkan Kepada Mereka

Bagikan konten:

Apa yang dapat dilakukan Nalar Arab sebelum Islam ketika al-Qur’an diturunkan kepada mereka? Bagaimana jadinya jika al-Qur’an diturunkan kepada Nalar Yunani? Dua pertanyaan ini saya ajukan setelah membaca komentar Ahmad Amin, seorang peneliti sejarah kenamaan Mesir, tentang cara kerja Nalar Arab sebelum Islam dalam bukunya Fajr al-Islâm.

“Secara keseluruhan, Nalar Yunani, misalnya, pada saat ia melihat sesuatu, maka ia akan melihatnya sebagai satu keutuhan (melihat sesuatu berdasarkan keterhubungannya dengan sesuatu yang lain, sehingga menjadikan gabungan dari keduanya sebagai sebuah kesatuan), kemudian ia akan meneliti dan menganalisisnya secara mendalam. Sedangkan Nalar Arab (sebelum Islam), pada saat melihat sesuatu akan ‘berkelana’ mengeliling sesuatu tersebut, kemudian mengolahnya hingga berubah menjadi mutiara-mutiara yang sangat beragam, yang ia sendiri bahkan tidak dapat menguntainya dalam satu ikatan.”

“Nalar Arab (sebelum Islam) ketika melihat satu hal, tidak akan menelitinya dengan segenap kemampuan berpikirnya. Akan tetapi, ia akan memusatkan pandangannya pada tempat-tempat tertentu yang menarik perhatiannya. Maka, ketika ia berhenti untuk melihat sebuah pohon, ia tidak akan melihatnya sebagai satu pohon yang utuh. Ia hanya akan melihat satu hal khusus yang ada pada pohon itu, seperti betapa tegak batangnya atau betapa indah tangkainya. Dan ketika ia ada di depan sebuah taman, ia tidak akan melihat taman itu secara menyeluruh, sedang hatinya juga tidak akan merekamnya sebagaimana sebuah fotograf. Nalar Arab (sebelum Islam) laiknya sebuah lebah, hanya bisa hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain setelah benar-benar menghisap madunya.”

Dari komentar di atas, setidaknya kita dapat menyadari tiga hal. Pertama, sebagaimana kita saat ini terbiasa untuk melihat perbandingan antara Timur-Barat, Ahmad Amin, sebagai seorang Arab yang meneliti sejarah, mencoba menyoal Nalar Arab sebelum Islam dengan Nalar Yunani. Kedua, Nalar Arab sebelum Islam adalah nalar yang bekerja secara parsial. Ia terbiasa mengamati detail sesuatu secara mendalam, bukan strukturnya. Sangat memungkinkan, hasil dari satu pengamatan yang ia lakukan di satu waktu dengan pengamatan yang ia lakukan di waktu yang lain, memiliki warna yang sangat kontras. Artinya, hasilnya benar-benar tidak bisa terhubung karena masing-masing pengamatan terlalu mendalam pada satu detail. Sehingga hasil dari pengamatan-pengamatan yang dilakukan oleh Nalar Arab sebelum Islam tidak mudah untuk dipadukan di bawah satu narasi. Ketiga, sebaliknya, Nalar Yunani adalah nalar yang bekerja secara universal. Ia terbiasa mengamati korelasi antara satu detail dengan detail yang lain secara terstruktur. Hasil dari pengamatannya pun akan relatif bersambung. Artinya, mayoritas hasilnya bisa dihubungkan di bawah satu narasi.

Lebih mudahnya, -sebagaimana contoh di atas- ketika berhadapan dengan taman bunga, Nalar Arab sebelum Islam akan melihatnya secara parsial; ada yang berfokus pada keragaman warna bunga-bunganya; ada yang berfokus pada air mancur di tengah taman; ada pula yang berfokus pada sepasang burung yang menari-nari di sudut taman. Nalar Arab sebelum Islam akan memilih satu fragmen yang ia rasa menarik, memisahkannya dari fragmen-fragmen yang lain, kemudian memperhatikan dan mendeskripsikannya secara mendetail. Lain halnya dengan Nalar Yunani, ia akan melihat taman bunga itu sebagai sebuah keutuhan. Ia tidak akan melihat berbagai detail yang ada di dalam taman itu secara terpisah-pisah. Ia hanya akan melihat ragam warna bunga, air mancur dan tarian sepasang burung sebagai elemen-elemen yang membentuk struktur taman, kemudian melihatnya hanya sebagai satu fragmen saja, sebagaimana sebuah fotograf.

Dari sini, telah terlihat kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pihak. Nalar Yunani mungkin lebih utuh dalam melihat suatu struktur, akan tetapi Nalar Arab sebelum Islam bisa jadi lebih tajam dalam melihat detail yang ada dalam struktur tersebut. Nalar Arab sebelum Islam mungkin lebih berguna untuk menguji kedalaman suatu detail, akan tetapi Nalar Yunani bisa jadi lebih bermanfaat untuk mengukur luas dan keliling struktur yang mengitari detail tersebut.

Sekarang, apa yang dapat dilakukan Nalar Arab sebelum Islam ketika al-Qur’an diturunkan kepada mereka? Bagaimana jadinya jika al-Qur’an diturunkan kepada Nalar Yunani? Jawabannya mungkin akan menjadi lebih menarik jika kita mengulas pertanyaan kedua terlebih dahulu.

Dengan corak bernalar seperti di atas, jika al-Qur’an diturunkan kepada Nalar Yunani, menurut saya, sedikitnya akan ada tiga poros yang bisa dihubungkan secara struktural; Iman (Akidah), Islam (Syariah) dan Ihsan (Akhlak). Al-Qur’an akan dinilai secara utuh, lengkap dengan statusnya sebagai sumber ajaran agama Islam yang memuat tiga poros di atas, yang semuanya telah dikaji secara struktural. Pengamatan mengenai Akidah al-Qu’ran tidak akan berdiri sendiri, ia tidak akan dilepaskan dari pengamatan mengenai Syariah dan Akhlak al-Qur’an. Sebagaimana pengamatan mengenai Syariah al-Qur’an tidak akan dilepaskan dari Akidah dan Akhlak al-Qur’an. Sebagaimana pengamatan mengenai Akhlak al-Qur’an juga tidak akan dilepaskan dari Akidah dan Syariah al-Qur’an. Ketiganya saling terhubung dan saling menjalin relasi sebagai sebuah keutuhan, sebagaimana fotograf taman bunga tadi.

Dengan demikian, al-Qur’an akan menjadi kitab yang sangat utuh, lengkap dengan kompleksitas relasi antar elemen yang termuat di dalamnya. Seseorang yang bernalar menggunakan Nalar Yunani akan melihat al-Qur’an secara universal. Ia bisa memetakan mengapa setelah ayat ini harus disusuli dengan ayat itu, mengapa setelah pembahasan mengenai satu hal dikutip sangat singkat, kemudian pembahasan mengenai hal lain dikutip sangat panjang hingga hampir lengkap. Ya, Nalar Yunani akan memuaskan kita tentang rangkaian konsep itu. Atau dengan kata lain, al-Qur’an akan menjadi grand konsep utuh yang bisa dilihat keluasannya secara terukur dan dapat diteliti secara komprehensif oleh semua orang karena Nalar Yunani otomatis akan merumuskan relasi-relasi tersebut.

Tentu saja, di titik ini, jika kita mau sebentar saja kembali ke masa sekarang, kita sudah mengerti jawaban finalnya. Gambaran al-Qur’an yang komprehensif tidak dapat dilihat oleh semua orang di masa ini. Bahkan tidak semua ulama mampu melakukannya. Karena relasi-relasi di dalamnya belum terbaca dengan jelas. Karena al-Qur’an tidak diterima oleh Nalar Yunani. Lantas apa yang dapat dilakukan oleh Nalar Arab sebelum Islam?

Yang dapat dilakukan oleh Nalar Arab sebelum Islam adalah melihat detail per detail, kalimat per kalimat, kata per kata, bahkan huruf per huruf. Ya, itulah yang dilakukan oleh Nalar Arab sebelum Islam. Maka, sebagai bangsa yang dikenal memiliki sensitivitas bahasa yang tinggi, mereka pun melakukan studi analisis kebahasaan. Tentu saja, tidak secara universal, akan tetapi secara parsial, hanya pada kalimat, kata, huruf yang menarik perhatian mereka. Mereka pun menjelaskan pemahaman-pemahaman mendetail mereka dalam penafsiran-penafsiran.

Di fase ini, saya menemukan beberapa gagasan menarik. Mungkin, inilah salah satu sebab mengapa setelah al-Qur’an diturunkan, Nalar Arab di era awal kedatangan Islam pun lebih tertarik pada menjelaskan penafsiran-penafsiran terkait isi al-Qur’an, bukannya merumuskan grand konsep sarat muatan dengan kompleksitas yang ada di dalamnya. Mungkin pula, inilah salah satu sebab mengapa para orientalis menganggap bahwa Imam Al-Syafii hanya menduplikasi cara berpikir Nalar Yunani ketika beliau merumuskan konsep Usul Fikih dalam magnum opus beliau, al-Risâlah. Karena secara genealogi pemikiran, Nalar Arab sebelum Islam hingga era awal kedatangan Islam, memang tidak mempunyai gaya berpikir seperti itu.

Di antara para cendekiawan era awal Islam, hampir semuanya bergelut pada dunia parsial. Sahabat Abdullah Ibnu Abbas, Ali Ibnu Abi Thalib, Abdullah Ibnu Masud adalah sebagian contohnya. Mereka adalah orang-orang tercerdas yang hidup di era Rasulullah Saw., mereka juga orang-orang yang secara kontinu mempelajari al-Qur’an, Sunah dan konteks keduanya yang termanifestasikan dalam hidup Rasul. Akan tetapi setelah memahaminya, mereka lebih ke arah menjelaskan (menafsirkan) hal-hal parsial (kalimat, kata dan huruf) yang barangkali sulit dimengerti oleh masyarakat Arab pada waktu itu, bukan membangun grand konsep universal dari pemahaman mereka atas al-Qur’an.

Para Fukaha sebelum Al-Syafii pun demikian, bahkan yang cukup terkenal dengan corak logika seperti Hanafiyyah sekalipun. Mereka tidak melihat al-Qur’an sebagai keutuhan, kemudian membangun konsep di atasnya. Mereka justru menghimpun praktik-praktik yang telah terjadi secara induktif, untuk kemudian dijadikan titik tolak untuk memahami al-Qur’an dan memberikan putusan hukum.

Barangkali inilah yang menjadikan kalangan modernis-Islam seperti Hasan Hanafi, filosof Mesir abad ini, menyayangkan—jika tidak mengerdilkan—banyaknya penafsiran dalam bentuk anotasi (syarh), catatan pinggir (hâsyiyah), komentar (ta’lîq) dalam khazanah klasik Islam di dalam bukunya al-Turâts wa al-Tajdîd. Menurut beliau bentuk penafsiran tersebut adalah tahshîl al-hâshil, atau meminjam bahasa kawan saya, bagaikan mengulek sambal yang sudah halus setelah diblender. Tidak menghasilkan sesuatu yang benar-benar berarti.

Gagasan menarik terakhir yang saya temui adalah adanya absorpsi, dari yang semula adalah Nalar Arab sebelum Islam menjadi Nalar Islam itu sendiri. Dari yang asalnya hanya sebatas Nalar Islam kemudian menjadi tradisi keilmuan Islam itu sendiri. Ini menjadi sekeping lego yang sangat berarti bagi saya. Bayangkan saja, tradisi penafsiran-parsial yang dilakukan oleh Nalar Arab sebelum Islam, pada akhirnya telah menjadi semacam corak tradisi yang diikuti oleh komune intelektual Islam di seluruh penjuru dunia. Intelektual Islam yang ahli di bidang logika menafsirkan al-Qur’an dengan ilmu logika, begitu pun para intelektual lain yang ahli di bidang sains, hukum, tasawuf, bahasa dan lain sebagainya. Rata-rata, para intelektual tersebut menuliskan tafsir mereka dalam bahasa Arab, tidak peduli mereka berasal dari Rusia, Iran, Spanyol atau bahkan Indonesia, seperti tafsir Marâh Labîd karya Syekh Nawawi Al-Jawi Al-Bantani. Lebih luar biasanya lagi, jika Anda menginventarisasi seluruh tafsir yang ada di dunia dengan berbagai ragamnya, mulai dari era terawal Islam hingga sekarang, Anda akan tercengang bahwa jumlahnya tak hanya ratusan.

Inilah mengapa saya katakan luar biasa, bukan karena melebih-lebihkan, melainkan murni karena analisis. Pernahkah Anda menjumpai satu naskah yang bisa ditafsirkan ribuan kali dengan pemaknaan yang berbeda, lintas disiplin keilmuan, lintas mazhab dan lintas generasi? Di titik ini, saya tentu kurang sepakat dengan Hasan Hanafi, saya lebih bersepakat dengan Musthofa Abdul Al-Raziq dalam al-Syâfi’iy Wâdli’ ‘Ilm Ushûl al-Fiqh, yang mengatakan, “Jika kita hanya menganggap kitab-kitab Fikih (matn, syarh, hâsyiyah, ta’lîq) sebagai akumulasi hukum-hukum di masa lalu, yang sebenarnya terjadi adalah pengerdilan identitas fikih itu sendiri. Kitab-kitab fikih adalah fenomena akbar untuk rasionalisasi terbesar dalam Islam!” Khazanah klasik Islam yang kita miliki, apa pun genre keilmuannya, bukan hanya kumpulan data-data. Ia adalah dialektika atas sedikitnya tiga aspek: teks suci al-Qur’an, sensitivitas dan keilmuan seorang penafsir (yuris), dan konteks yang sedang berlangsung.

Saya tidak mengatakan bahwa semua ulasan ini adalah satu-satunya alasan mengapa al-Qur’an harus turun kepada Nalar Arab, meskipun tentu saja, semua ulasan ini bisa dijadikan sebagai data tambahan untuk mendukung hal tersebut. Akan tetapi, jika saya harus menjawab dengan singkat terkait apa yang dapat dilakukan oleh Nalar Arab ketika al-Qur’an diturunkan kepada mereka dan mengapa al-Qur’an harus turun di Arab, bukan di Yunani, barangkali saya akan memilih jawaban ini: dengan segala karakteristiknya, hanya Nalar Arablah yang mampu untuk memperhatikan kedalaman detail per detail yang diberikan oleh al-Qur’an, bukannya mengungkung dan membatasi keluasan maknanya menjadi sebuah mono-tafsir. Bukankah demikian?

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan