Teori Qiyâs dari Masa ke Masa

Bagikan konten:

Mampukah sebuah teori bertahan ratusan hingga ribuan tahun? Lebih lanjut daripada itu, bagaimana ia mampu bertahan hidup di waktu yang terus berubah-ubah? Kira-kira dari pertanyaan semacam inilah tulisan ini bermula. Mungkin, pertanyaan tersebut akan sangat mudah terjawab, apalagi jika melihat dari sebuah fakta, bahwa banyak diskursus keilmuan yang telah mampu melampaui masa dan terus relevan hingga saat ini. Artinya, hanya dengan melihat fakta tersebut seolah-olah pertanyaan di atas sudah terjawab dengan sendirinya. Akan tetapi, benarkah demikian? Lantas bagaimana dengan teori qiyâs?

Setelah kemunculan usul fikih teoritis-metodologis -yaitu komparasi nalar Ahl al-Ra’y dan Ahl al-Hadis yang termaktub dalam al-Risâlah Imam al-Syafii- banyak ditemukan karya-karya yang berpijak pada pembacaan Imam al-Syafii ini. Dari pijakan tersebut, tidak hanya melahirkan karya, bahkan mampu melahirkan metodologi-metodologi baru. Secara tersirat, kelahiran metodologi ini mengatakan bahwa teori-teori yang terkandung di dalamnya juga akan mengalami perkembangan.

Usul fikih yang bertugas sebagai instrumen untuk memahami teks-teks agama, memiliki serangkaian teori yang telah ditetapkan oleh ulama salaf. Salah satunya adalah analogi (qiyâs). Dalam al-Risâlah, Imam al-Syafii (w. 204 H) menghadirkan teori qiyâs secara eksplikatif (bayânîy). Mekanisme analogi-eksplikatif (qiyâs bayânîy) ini sangat dekat dengan nash (teks wahyu). Di samping itu, teori ini menggunakan proses pembandingan sesuatu (ashl) dengan padanannya (far’). Terkait bagaimana proses analogi-eksplikatif ini bekerja, lebih jauh bisa dilihat di artikel Implementasi Qiyas Bayaniy dalam Perundang-undangan. Dialektika qiyâs dalam kerangka al-Risâlah, murni terjadi secara internal dengan nalar Arab-Islam, belum ada pengaruh secara eksternal. Sehingga qiyâs Imam al-Syafii memiliki rancang bangun dan logikanya sendiri yang berbeda dengan qiyâs di masa-masa setelahnya.

Aroma qiyâs bayânîy Imam al-Syafii bisa dirasakan sejak dari pengantar al-Risâlah, yaitu ketika Imam al-Syafii melontarkan pertanyaan, ‘kayf al-bayân?’. Pertanyaan ini mengindikasi imbahwa rancang bangun usul fikih, teoritis dalam al-Risâlah itu murni dari Imam al-Syafii, ia menjadikan teks wahyu sebagai pijakan dasar dan analisis makna sebagai pendekatannya. Di masa setelahnya, dalam rentang waktu yang cukup lama, al-Risâlah hanya dianotasi, ikhtisar, dan komentar-kritik (ta’lîq wa naqd). Hal ini terus berlanjut sampai muncul metodologi usul fikih setelahnya, tharîqah al-mutakallimîn.

Sesuai dengan namanya, metode ini digawangi oleh pakar ilmu kalam (mutakallimîn) atau teolog. Sehingga dalam pendekatannya, para teolog tidak bisa melepaskan diri dari identitas yang mereka bawa; identitas yang bisa dikatakan sebagai gerbang akulturasi usul fikih dan teologi yang sudah melebur dengan manthiq Aristoteles. Dalam implementasinya, tharîqah al-mutakallimîn melakukan pembacaan dengan cara deduktif. Yaitu dengan merumuskan kaidah tertentu sebagai neraca penggalian hukum. Kaidah atau rumusan teori ini nantinya menjadi acuan dalam penggalian sebuah hukum.

Terkait bagaimana akulturasi ini terjadi, barangkali melihat dinasti Abbasiyah sebagai prototipe pemerintahan yang menerjemahkan filsafat Yunani secara masif dan penerapannya adalah pilihan yang tepat. Akan tetapi, penerjemahan ini sebenarnya sudah ada sejak dinasti Umayyah. Di era ini, nilai-nilai egaliter menjadi ruh bagi setiap warga, tanpa adanya perbedaan strata sosial, budaya, bahasa dan bangsa. Tanpa disadari, di titik ini pengaruh sekaligus pemikiran Yunani mulai berkembang dalam Islam sehingga akulturasi Islam dan Yunani dalam berbagai aspek tak terelakkan. Salah satu aspek yang sangat kentara pengaruhnya dalam teori qiyâs ialah penerjemahan filsafat Yunani, termasuk karya Aristo, Organon. Di titik ini pula qiyâs menemukan wajahnya yang baru, yang tertuang dalam karya-karya Tharîqah al-Mutakallimîn, salah satunya milik Imam al-Ghazali (w. 505 H), al-Mustashfâ. Pemilihan al-Mustashfâ sebagai objek analisis kali ini adalah karena karya ini hadir saat kondisi intelektual Imam al-Ghazali dalam bidang usul fikih berada dalam puncak kematangan. Al-Mustashfâ tidak terlalu bertele-tele seperti Tahdzîb al-Ushûl, pun tidak sesingkat al-Mankhûl.

Qiyâs di tangan Imam al-Ghazali  menggunakan pendekatan silogisme Aristo (qiyâs burhânîy). Konklusi yang dibangun dari logika argumentatif ini adalah gabungan dua premis atau lebih, yaitu premis mayor (muqaddimah kubrâ) dan premis minor (muqaddimah shughrâ). Konklusi ini dihasilkan dengan proses penggabungan (al-jam’i) bukan pembandingan (al-muqâyasah) seperti dalam al-Risâlah Imam al-Syafii, dengan demikian qiyâs sebagai pengejawantahan logika Aristo.

Ada beberapa model penetapan illah al-hukm (ratio-legis) dalam qiyâs burhânîy. Pertama, melalui teks wahyu, kedua, dengan konsensus (ijmâ’) dan ketiga, dengan identifikasi illah. Identifikasi ini melalui dua cara. (1) al-Sabr wa al-Taqsîm, yaitu dengan analisis kemungkinan illah, untuk kemudian dipilih illah yang tepat. (2) al-Munâsabah, analisis kesesuaian hukum ashl dan hukum far’. Model ketiga (identifikasi illah) ini, memegang peran logika secara masif. Pijakan inilah yang membedakan qiyâs burhânîy dengan qiyâs bayânîy. Sebuah capaian yang senada dengan Imam Abu al-Ma’ali al-Juwaini (w. 478 H) dalam al-Burhân-nya.

Jika kita analisis lebih jauh, dalam implementasinya, sebenarnya Imam al-Ghazali tidak benar-benar melepaskan diri dari qiyâs bayânîy. Ia hanya menjadikan logika Aristo sebagai neraca kausa-kausa hukum. Dengan artian, Imam Ghazali masih menggunakan qiyâs bayânîy, tapi dalam verifikasi illah, ia memakai logika Aristo. Kesimpulan ini bisa dilihat dalam al-Mustashfâ ketika Imam Ghazali memberikan definisi qiyâs. Beliau menuturkan bahwa qiyâs adalah upaya menyamakan sesuatu yang maklum dengan yang lainnya untuk ditetapkan sebuah hukum atau sebaliknya. Definisi ini tidak lain adalah definisi qiyâs bayânîy. 

Melihat perkembangan qiyâs dari yang semula qiyâs bayânîy kemudian beranjak menjadi qiyâs burhânîy, membuat saya tertarik untuk menelisik metodologi usul fikih terakhir, tharîqah maqâshid al-syarî’ah. Metodologi baru ini digagas oleh bapak maqashid, Imam Abu Ishaq al-Syathibi (w. 790 H) sesuai dengan pernyataan Prof. Dr. Mahmud Abdurrahman Abdul Mun’im dalam al-Asâs fî Ushûl al-Fiqh.

Di tangan Imam al-Syathibi, qiyâs melampaui eksistensi di tangan Imam al-Ghazali. Jika di Imam al-Ghazali, ia hadir dengan corak qiyâs burhânîy, maka di tangan Imam al-Syathibi, ia hadir dalam bentuk qiyâs burhânîy tajrîbîy. Kita menyadari bahwa qiyâs di sini tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, sehingga titik tekannya hanya pada istilah ‘tajrîbîy’.

Imam al-Syathibi membangun teori ini di atas dua fondasi. Pertama, analisis teoritis. Analisis ini berupaya menetapakan kausa hukum (illah), yang metodenya hampir sama seperti dalam qiyâs burhânîy Imam al-Ghazali. Perbedaannya hanya pada corak rasionalismenya; Imam al-Ghazali menggunakan rasionalisme deduktif, sedangkan Imam al-Syathibi dengan rasionalisme induktif. Rasionalisme Imam al-Syathibi mengharuskan adanya poin kedua, yaitu analisis eksperimen hukum (tajribah). Apa yang digagas Imam al-Syathibi tidak terlepas dari proyek besarnya, harmonisasi usul fikih teoritis-aplikatif. Sebuah proyek yang mengedepankan kontekstualisasi nilai-nilai mashlahah. Nilai-nilai yang sebenarnya sudah menjadi inisiatif Imam al-Juwaini dan Imam al-Ghazali, namun belum terealisasi.  Dan tentu saja, analisis eksperimen hukum menjadi niscaya sebagai upaya uji penerapannya.

Sebuah teori yang mampu bertahan hidup dari waktu ke waktu dalam sebuah diskursus keilmuan, membuat kita menyadari ulang beberapa hal. Pertama, teori apa pun dan bagaimana pun dalam diskursus keilmuan akan dituntut untuk mengalami pembaharuan. Pembaharuan di sini akan dilakukan sesuai dengan konteks yang ada pada dimensi waktunya. Kedua, dalam perjalanannya, teori yang ada sebelumnya, tidak akan benar-benar bisa dihilangkan secara utuh. Pasti masih ada bagian-bagian yang bisa diambil dari teori mapan untuk menjadi sandaran atas pembaharuan yang akan dilakukan. Dan dengan menyadari dua hal tersebut, setidaknya seseorang akan memahami, bahwa sebuah teori tidak akan pernah benar-benar final. Karena seiring berjalannya waktu, ia akan dituntut untuk menemukan coraknya yang baru.    

 

 

 

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan