Tentang Obsesi dan Kedamaian Menonton Film Sheikh Jackson

Bagikan konten:

Film seringkali bercerita tentang obsesi. Daniel Plainwiew terobsesi oleh minyak dalam There Will Be Blood (2007), Louis Bloom terobsesi oleh jurnalistik visual dalam Nightcrawler (2014), Donnie Darko terobsesi oleh kelinci raksasa yang membisiki di kepalanya dalam Donnie Darko (2001). Semakin abstrak semakin si tokoh meragukan eksistensinya di dunia, semakin ragu pula kita bisa memahami obsesi tersebut. Namun tugas film adalah memberikan gambaran sinematika yang membuat sebuah topik yang dibicarakan itu nyata, seabsurd apapun itu.

Kalau hanya obsesi kepada manusia lainnya; lelaki kepada perempuan dan perempuan kepada lelaki, dalam taraf ketertarikan seksual yang wajar, kita tentu bisa mengerti. Maka film merasa perlu melampaui batas-batas ketertarikan tersebut, Norman Bates membunuh ibunya dan menyimpan bahkan mendandani mayatnya agar bisa hidup bersama selamanya dalam Psycho (1960), Annie Wilkes menculik novelis favoritnya agar bisa ia paksa untuk menulis ulang novel kesukaannya dalam Misery (1990), untuk lagi-lagi memaksa kita agar mengerti melalui sentuhan sinematiknya.

Ada banyak lagi batas-batas yang ditembus oleh para sineas untuk menguji seberapa jauh yang manusia bisa lakukan untuk menakukkan obsesinya. Memang kebanyakan naratifnya terinspirasi dari medium seni lainnya seperti novel atau naskah drama, seperti The Shining (1980) atau Macbeth (2015), tapi dengan instrumen-instrumen sinematik yang mendukung kita bisa ikut tenggelam dalam kegilaan yang dilahirkan obsesi lebih dalam lagi. Di kawasan kita, di Asia, mengingat banyaknya ketertinggalan atau setidaknya anggapan Barat akan ketertinggalan kita, film tak jarang berbicara tentang obsesi dalam taraf tidak normal. Katakanlah trilogi balas dendam-nya Park Chan Wook, tiga kisah orisinal yang berdongeng tentang manusia terobsesi oleh balas dendam. Atau obsesi Marlina (2017) yang membalas dendam dalam empat babak. Tapi obsesi ini bila kita amati ditujukan kepada dunia, tidak sekadar kepada tokoh-tokoh yang hanya memuaskan di permukaan saja. Tentu film-film Barat juga punya problem eksistensialnya sendiri, tapi justru membawa pelaku obsesi menuju kehancuran saja tanpa meninggalkan bekas apa-apa kecuali kenikmatan melihat orang lain tersiksa yang menghantui.

Namun film-film kita, atau film-film Timur, punya kekokohan yang ditanamkan pada diri si pelaku obsesi. Seperti yang tumbuh dalam diri Marlina seiring berjalannya film, di tengah keresahan dan keraguan atas tindakannya. Meski kegilaan yang menjadi hasil akhir dari perjalanan balas dendam Dae-su dalam Oldboy (2003) saya kira sedikit banyak sudah berkiblat pada Barat. Tentu Anda sudah curiga apa yang akan saya bicarakan kali ini, karena saya sudah mulai membanding-bandingkan Barat dengan Timur. Sebenarnya saya ingin mengajak diskusi soal film Mesir yang berjudul Sheikh Jackson (2016). Film ini unik karena ia menceritakan obsesi kepada dua hal sekaligus, yaitu figur dan musik. Sesuatu yang berwujud dan sesuatu yang tak berwujud. Kita sudah menonton Amadeus atau Immortal Beloved yang mengisahkan dua legenda musik yang bahkan dikenal namanya saja oleh orang-orang yang tidak mendalami musik. Kita sudah melihat obsesi mereka yang lahir dari kecintaan alamiah dan tumbuh tidak imbang dengan kondisi tubuh mereka.

Di dunia musik, obsesi adalah hal yang sangat wajar. Kompetisi yang ketat menjadikan para pekerjanya tidak bisa menghindari obsesi yang berlebih. Ada dua film Amerika yang ingin saya perbandingkan, dengan Sheikh Jackson, yaitu Whiplash (2014) dan Black Swan (2010). Yang satu bicara musik, yang satunya lagi bicara seni tari. Dua genre kesenian yang saya kira punya kedekatan. Sebelum ke sana saya beri gambaran sedikit tentang Sheikh Jackson.

Berbeda dengan dua film Amerika yang saya sebutkan, film Mesir ini bukan berangkat dari kacamata seorang profesional, melainkan dari seorang penggemar Michael Jackson yang tidak memiliki latar belakang musik maupun tari. Khaled Hany (Ahmed El Fishawy) adalah sosok Sheikh Jackson yang dimaksud Amr Salama, sutradara dari film tersebut. Ia dikenalkan kepada kita sebagai sosok yang familiar dengan sebutan muslim salafi; mengenakan jubah dan memelihara jenggot lebih lebat dari pada rambut kepala atau kumisnya. Lantas bagaimana bisa dua kata yang tak relevan ini berdampingan, sheikh dan nama Jackson? Tentu bukan soal Michael Jackson yang diisukan sempat masuk Islam sebelum meninggal.

Seperti yang sudah saya katakan bahwa ini film tentang seorang penggemar, maka Khaled Hany adalah mantan penggemar Michael Jackson jika melihat atribut yang ia kenakan sekarang, atau pada tahun 2009 sebagai setting film tersebut, tahun Michael Jackson meninggal dunia. Adegan sekelompok orang berjubah yang mengangkut peti mati di tengah antah berantah menjadi pembuka film, mengingatkan saya pada sekelompok penari di pemakaman pada filmnya Nadine Labaki, Where Do We Go Now (2011). Kemudian setelah tanah ditaburkan ke dalam lubang makam adegan di-cut menuju sebuah close up shot yang menunjukkan wajah Khaled. Tatapan mata yang sayu ditambah kerut kening yang tegang membuat kita menebak-nebak, kegelisahan apa yang sedang ia rasakan. Ia berkata ia tidak bisa menangis lagi setiap kali sembahyang. Imannya sudah berkurang, katanya lagi. Ia mengalami krisis eksistensial yang larut dalam laku ibadahnya kepada Tuhan; ia mencari-cari alasan mengapa ia harus beribadah.

Pernyataan menarik yang memuat ribuan pertanyaan lanjutan. Bagaimana bisa sosok saleh yang ditunjukkan melalui atribut simbolik itu bisa mengatakan hal semacam itu? Kepada siapa ia berkata? Apakah kepada Tuhan? Film ini memiliki pertanyaan besar yang seringkali kita tanyakan lantas menyerah dalam mencari jawabannya. Saat memulai menontonnya, kita pun masih belum bisa menebak apakah film ini memiliki jawabannya.  Baru setelah Khaled mendengar kabar bahwa Michael Jackson meninggal kita bisa bersimpati kepada krisis pencarian dirinya. Menurut saya ini kelebihan film tersendiri, dengan beberapa adegan yang jarang sekali berbicara, kadang tidak ada pergerakan, kita bisa mendengar suara-suara yang masuk ke penglihatan kita bukannya pendengaran. Khaled mendengar kabar kematian Jackson lewat radio mobil yang melintas seketika mobilnya oleng dan menabrak pohon. Kita telah melihat ke dalam diri Khaled sedalam-dalamnya.

Baik dalam film Whiplash maupun Black Swan, kita langsung disuguhi obsesi tokoh utama terhadap sesuatu yang ia cintai dengan tegang. Penuh kekhawatiran suatu saat akan ditinggalkan. Andrew di adegan pertama Whiplash menabuh drum dengan mantap tapi wajahnya resah. Dalam Black Swan, tubuh Nina menari dengan sukacita tapi tidak wajahnya yang malah gugup di tengah lampu sorot yang sekitarnya gelap gulita. Damien Chazelle, sutradara Whiplash, mencoba mengajarkan obsesi yang berlebihan selalu membuka pintu-pintu kesialan. Kedamaian hanya bisa dicapai oleh Andrew jika ia menghilangkan obsesi tersebut. Masih memiliki ambisi, tapi ia meredamnya sedemikian rupa untuk tujuan yang lain. Meski bukan tujuan yang mulia, ia berhasil berdamai dengan sosok yang ia musuhi sekaligus terobsesi olehnya selama ini.

Sedang Darren Aronofsky, sutradara Black Swan, memiliki pandangan yang berbeda dengan obsesi manusia. Ia mendorongnya sampai ke puncak tertinggi yang tak mampu didaki oleh kondisi psikologis manusia. Kehancuran yang dialami Nina karena berpegangan erat pada obsesi tanpa bisa ia lepaskan, telah merusak mental dan fisiknya. Saya bisa memahami pandangan Darren ini, mengingat rekam jejaknya yang sudah berbicara mengenai obsesi sejak satu dekade sebelumnya pada film Requiem for A Dream (2000). Bahkan obsesi terhadap obat-obatan dalam film Requiem, ia visualkan sebagai suatu bentuk horor.

Apakah benar obsesi itu horor? Kita tidak akan pernah benar-benar tahu. Penggambaran dalam film-film bisa jadi hanya dilebih-lebihkan saja. Tapi yang menarik perhatian saya, dengan paduan sinematografi Barat dan filosofi Timur Tengah, film Sheikh Jackson justru memiliki kesimpulan tersendiri. Obsesi yang sempat menyesatkan Khaled akan jati dirinya justru menjadi jalan yang mempertemukannya dengan orang-orang dari masa lalu yang terputus darinya. Dengan wanita yang ia taksir, ayahnya yang tidak pernah ia temui, dan kenangan akan ibunya yang mati ketika ia masih kecil dan baru mengenal Michael Jackson. Setidaknya kita bisa menduga ada kedamaian di situ.

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan