Tentang Kemanusiaan Nezuko dalam Kimetsu no Yaiba

Bagikan konten:

Saya tertarik menonton Kimetsu no Yaiba setelah episode ke sembilan belas dari anime ini menjadi trending topic di Twitter dua bulan lalu. Yang ramai menjadi perbincangan adalah visualisasi pertarungannya yang sangat memukau di episode itu, yang menjadi puncak dari visualisasi apik yang telah tersaji di episode-episode sebelumnya.

Saya sepakat dengan keramaian di Twitter itu, setelah saya menonton anime yang season pertamanya berakhir minggu lalu ini. Ada hal lain menarik lain yang saya temukan dari anime ini: kemanusiaan Nezuko dan jalan cerita shounennya yang sederhana namun tetap apik.

Tiap orang selalu meragukan sesuatu yang belum ditemuinya, apalagi sesuatu itu telah menjadi semacam mitos. Saya pikir anime Kimetsu no Yaiba ini memulai ceritanya dengan keraguan semacam itu. Tanjirou Kamado, pemuda sulung dari keluarga yang kurang mampu dan tinggal di pedalaman gunung pada era Taisho, pernah mendengar rumor mengenai Oni (iblis pemakan manusia) yang bersembunyi di hutan. Karena itu, penduduk setempat tidak pernah berani keluar di malam hari. Rumor itu juga mengatakan bahwa pembasmi Oni juga berkeliaran di malam hari dan memburu iblis yang haus darah.

Akan tetapi, bagi Tanjirou yang belum mengetahui apa-apa, hal itu hanyalah sekedar rumor belaka dan tidak akan menyebabkan masalah di kehidupannya. Ia menjalani kesehariannya tanpa kecemasan. Ia menggantikan ayahnya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sejak ayahnya meninggal. Meski kehidupannya sangat berat, ia dan keluarganya merasakan kebahagiaan dan kehangatan hidup yang luar biasa.

Namun, semua keraguan Tanjirou tentang rumor itu lenyap saat ia melihat keluarganya dibantai saat dirinya meninggalkan rumah untuk bekerja menjual arang di Kota. Kebahagiannya telah hancur. Tapi tidak hanya itu, ia mendapati satu-satunya keluarganya yang selamat, adik perempuannya, Nezuko, berubah menjadi Oni. Dan yang mengejutkannya, Nezuko masih menunjukkan emosi dan pemikiran manusianya dengan mencoba melindungi Tanjirou dari serangan pembasmi Oni, Tomioka.

Tak mudah menemukan anime sejenis dengan sensasi berbeda. Beruntung, periode musim semi tahun ini kita disuguhkan Kimetsu no Yaiba. Serial anime ini sudah unik sejak awal dengan melukiskan kehidupan damai Tanjirou yang berubah pedih dalam tempo satu malam saja. Ditambah, dieksposnya tkp tewasnya keluarga Tanjirou yang dibanjiri darah, yang relatif jarang bis kita temukan pada anime bergenre shounen.

Alur pembawaan kisahnya diceritakan cukup rapi dengan memberikan progresi alur yang teratur pada tiap adegannya. Sehingga pada episode perdananya ini, penonton benar-benar dibawa ke dalam perasaan yang dirasakan oleh Tanjirou. Apalagi iringan musik yang sangat berhasil memainkan perannya, sehingga gejolak emosi kesedihan, keputusasaan, dan kemarahan dari Tanjirou benar-benar dapat saya rasakan saat menontonnya.

Adegan itu adalah adegan awal yang mengantar saya kembali pada perbincangan tentang kesadaran. Apakah Nezuko harus dibunuh karena ia seorang Oni? Atau, emosi dan pemikiran manusianya masih bisa dipertimbangkan untuk mengatakan Nezuko sebagai manusia dan ia tidak perlu dibunuh?

Setelah Tanjirou lulus ujian terakhir dan resmi menjadi pemburu iblis, adegan seperti itu berulang-ulang disajikan ketika Tanjirou bertemu dengan tokoh lain dan mengetahui kalau ia melindungi Nezuko. Dan statusnya yang menuntut membunuh Oni yang ditemuinya membuat konflik lebih menarik; antara Tanjirou sebagai seorang kakak yang berusaha melindungi adiknya dan orang-orang lain yang melihat Oni sebagai Oni, sebagai iblis yang harus dibasmi.

Misalnyam saat ia bertemu Inosuke yang mencium bau Oni dari Nezuko dan ingin segera membunuhnya. Kemudian Tanjirou dan Inosuke berdebat tentang etika sebagai seorang pemburu iblis yang harus membunuh Oni yang ditemuinya. Perdebatan itu juga terulang meski tanpa melibatkan Tanjirou secara langsung dalam adegannya. Ketika itu Tomioka berdebat dengan pemburu iblis lain yang ingin membunuh Nezuko. Bahkan mereka terlibat pertarungan ketika Tomioka melindungi Nezuko dan membiarkannya pergi begitu saja.

Di season pertama ini, adegan tentang status kemanusiaan Nezuko memuncak ketika ia dan Tanjirou dibawa menghadap ke pemimpin utama pemburu iblis di markas pusatnya. Pemimpin itu mengatakan kepada para Hashira (pemburu iblis level tertinggi) untuk membiarkan Tanjirou dan Nezuko hidup. Sebab, Nezuko masih memiliki emosi dan pemikiran manusianya. Ia juga belum pernah meminum darah manusia.

Tapi beberapa Hashira ada yang tidak menerima keputusan itu karena mereka tetap melihat Nezuko sebagai iblis. Untuk membuktikan kebenaran putusan itu, seorang Hashira menyiksa Nezuko dengan menusuk tubuhnya dengan pedang. Ia berupaya membuat Nezuko marah. Lalu ia membuka kotak kayu yang mengurung Nezuko dan membiarkannya keluar. Seketika seorang Hashira itu menyayat tangannya sendiri hingga mengucurkan darah. Lalu menyodorkannya di depan Nezuko. Ia ingin membuktikan kalau Nezuko tetaplah iblis yang akan memakan manusia di suatu hari ketika ia memiliki kesempatan.

Raut muka Nezuko terlihat menahan sesuatu dan segera ingin melemparkannya. Bisa jadi itu kemarahannya atau hasratnya terhadap darah segar atau malah kedua-duanya. Tapi, setelah beberapa lama semua terdiam dan hanya memperhatikan Nezuko yang tetap diam dengan tetesan darah segar di depannya, adegan itu berakhir dengan para Hashira menyetujui keputusan pemimpinnya.

Perdebatan soal status kemanusiaan itu menjadi awal persoalan cerita dan akan terus menempel di keseluruhan jalan ceritanya. Sebab, alasan kuat Tanjirou menjadi pemburu iblis adalah agar bisa melindungi Nezuko dan mengembalikannya sebagai manusia.

Cerita dari Kimetsu no Yaiba ini memutar ulang ingatan saya tentang Tokyo Ghoul dan Fullmetal Alchemist Brotherhood. Dalam Tokyo Ghoul, Ken Kaneki berubah dari manusia menjadi Ghoul, yang selalu memakan manusia. Perbedaannya, mereka yang peduli dengan Kaneki justru orang-orang awalnya tidak mempunyai hubungan keluarga. Mirip seperti kisah Hyakkimaru dalam anime Dororo dalam pencarian kemanusiaannya sendiri. Apalagi alur Tokyo Ghoul sendiri berjalan tidak sesederhana Kimetsu no Yaiba.

Alur yang tidak sederhana itu mirip seperti Fullmetal Alchemist Brotherhood (FAB). Di awal-awal episode FAB, saya sudah disuguhi alur mundur yang dalam perjalanan ceritanya akan sering ditemui. Saya bisa katakan, formula dalam FAB lewat tokoh Edward Elric yang ingin mengembalikan tubuh manusia adiknya, Alponsho Elric, mirip dengan tujuan Tanjirou untuk menjadikan Nezuko sebagai manusia.

Bedanya, alur dalam Kimetsu no Yaiba berjalan secara terus terang dari awal cerita. Tidak ada permainan alur yang bolak-balik di season pertama ini. Jalan ceritanya lurus saja, tidak seperti Gintama yang rumit dan berputar-putar, tidak seperti Naruto yang terlalu banyak cerita masa lalu, ataupun tidak sekompleks One Piece dan Hunter x Hunter.

Dan justru karena alur yang sederhana ini, Kimetsu no Yaiba enak untuk dinikmati. Apalagi adanya konflik antara Tanjirou dan iblis-iblis yang ditemuinya, membuat saya dan mungkin penikmat lainnya, menantikan pertarungan-pertarungan yang akan terjadi selanjutnya.

Jalan cerita yang sederhana itu berawal dan berlanjut dengan dua pola.  Pertama, orang biasa yang diletakkan ke dalam situasi-situasi yang heroik. Seperti saat Tanjirou melawan Tomioka untuk menyelamatkan Nezuko. Tanjirou tampil sebagai karakter tak berdaya yang seiring waktu semakin tangguh dalam menunaikan tugasnya.

Satu hal yang lebih penting, Tanjirou punya tabiat yang seimbang. Dia bukan tipikal protagonis yang suka berteriak lantang tanpa sebab, dianugerahi kekuatan yang imba, atau hobi menceramahi setiap orang yang dia temui dalam perjalanan. Sifatnya yang tidak terlalu mencolok pada satu sisi ini tampak manusiawi dan tervalidasi oleh nalar kita yang sudah bosan dengan karakter utama ala anime shounen.

Penulis ceritanya seakan suka melihat orang biasa terjebak. Dalam kondisi tersebut, Tanjirou harus melakukan tindaka-tindakan yang luar biasa untuk menyelesaikan masalah. Tentu, Kimetsu no Yaiba bukan yang pertama membuat cerita seperti ini. Sebelumnya, pasti sudah ada yang membuat cerita seperti itu. Ada karakter orang-orang biasa. Karakter seperti itu bisa dikenali oleh penonton dengan mudah. Rasanya dekat. Penonton akan lebih mungkin mengidentifikasi dirinya dengan orang biasa ketimbang seorang superman, misalnya. Sepertinya anime ini berusaha untuk mudah dikenali dan diresapi penonton.

Pola lainnya yang saya lihat, protagonis adalah ‘orang baik-baik’ yang sedia melakukan apa saja demi seseorang yang dicintainya. Dalam hal ini, saya ingin mengatakan bahwa Kimetsu no Yaiba pada dasarnya adalah cerita cinta atau cerita keluarga, bukan action-fantasy yang merupakan kemasannya saja.

Saya membayangkan kalau penulis cerita anime ini senang membuat orang berlari. Dan tampaknya, seperti itulah cerita dalam anime ini berjalan.  Saat tokoh protagonisnya sudah mempunyai cerita, ia membuat si tokoh itu berlari. Ia membuat Tanjirou berlari dari kehidupan damainya, terjebak, dan berlari lagi mencari kedamaiannya kembali. Menurut saya, cara terbaik untuk membuat seseorang berlari adalah dengan memaksanya menyelamatkan orang yang paling dikasihinya. Cinta dalam hal ini adalah elemen dasar dari segalanya. Elemen yang baik untuk menarik perhatian penonton mengikuti tokoh protagonis. Elemen yang baik juga untuk membuat tokoh protagonisnya melampaui kehidupan sehari-harinya.

Kimetsu no Yaiba memang telah diperkirakan menjadi anime terbaik di tahun 2019. Ia telah menarik perhatian para penonton dengan cerita keluarga orang biasa yang dibalut dengan fantasi, petualangan, adegan action yang apik dan visualisasi yang memukau. Namun, karena season pertama ini masih akan berakhir panjang jika melihat cerita dalam komiknya (akhir dari season pertama masih berkisaran empat puluh-an babak), saya penasaran apakah Kimetsu no Yaiba akan ngelantur seperti anime genre shounen yang lain? Saya benar-benar menanti kelanjutannya.

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan