Syahwat Malaikat

Bagikan konten:

Satu jam sebelum korban saya dieksekusi, ia tengah duduk gemetar di sebuah ruangan sel busuk, di sebuah pulau kecil tempat para raja jin berkumpul. Tangannya mengepal, jari-jemarinya saling peluk. Saya yakin ia tengah memikirkan sesuatu di luar pemikiran saya tentangnya. Bibirnya komat-kamit entah merapal apa. Barangkali doa, tapi ah, doa bukan cara mujarab untuk mencairkan ketegangan. Lagi pula, doa tidak bisa membuat ajalnya datang lebih lama dari jadwal.

Di depan korban saya, ada ayam bakar dan nasi panas. Menu spesial itu adalah hibah dari penjaga sel yang sedang berpesta. Ia tak tertarik dengan makanan. Perutnya memang kosong, tapi ia tak merasa lapar. Tubuhnya memang lemas, tapi ia merasa tak harus menggunakan tenaganya untuk melakukan apa-apa. Dipandanginya makanan itu dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang entah ke mana. Barangkali ia membayangkan nasi dan ayam, tapi dengan situasi yang berbeda. Nasi dan ayam akan menjadi enak jika dimakan bersama keluarga.

Ia terperangah mendengar suara bedil meletus di tempat tak jauh dari ia berada. Itu memang suara bedil, Nona. Saya mencoba memberi pengertian kepadanya. Ia semakin tak keruan. Keringat ketegangan kini membanjiri dahinya, satu dua butir jatuh ke pakaiannya yang lusuh dan berdebu. Tangannya gemetaran, kakinya juga tak kalah gemetar. Kematian yang direncana ternyata lebih menyakitkan dari kematian yang tak sengaja.

Sesekali ia duduk, sesekali ia berdiri. Tapi duduknya lebih banyak daripada berdirinya. Selain saya yakin duduk adalah cara untuk mengatasi ketegangan, duduk juga mungkin tak membuat dirinya jadi gila. Ia telah berdiri lebih dari dua hari semalam. Dalam kendaraan entah apa, ia hanya disuruh berdiri. Sementara ketika suara mesin—ia menganggap itu adalah suara mesin truk bobrok—menderu-deru, matanya ditutup kain hitam. Dalam kendaraan itu, ia tak sendirian. Terakhir kali matanya masih terbuka, ia melihat ada sembilan orang yang bersama dirinya: tiga perempuan dan enam laki-laki. Semuanya paruh baya, termasuk dirinya.

Dipaksa berdiri selama itu membuat urat kakinya hampir putus. Tapi berdiri memang sebuah pilihan; sebab ia tahu tak patuh dengan perintah sama dengan mati diberondong bedil. Mendengar suara bedil barusan, korban saya jadi berpikir: jika sama-sama mati, lebih baik aku mati sedari kemarin. Hei, mati nanti tidak sama dengan mati kemarin. Saya menyahut suara pikirannya. Ia masih duduk, kali ini sembari erat memegang kepalanya. Ia berusaha menyumpal telinganya agar tak lagi mendengar suara bedil.

Dua hari yang lalu, korban saya masih bisa merasakan duduk manis di meja makan sambil melempar senyum kepada suaminya dan kedua anak laki-lakinya yang tengah beranjak dewasa. Ia tak menyangka jika itulah kali terakhir ia duduk manis, juga sekaligus kali terakhir ia bertemu suami dan anak-anaknya. Pasalnya, tiga jam setelah itu, dua pleton serdadu memasuki kampungnya yang tenang dan membawa mala yang begitu menggila, menyiduk mereka yang dianggap anggota atau simpatisan partai komunis.

Ia bahkan tak tahu apa itu komunis. Apalagi menjadi seorang simpatisan. Apalagi menjadi seorang anggota. Keluarganya juga tak jelas tahu apa itu komunis. Satu alasan yang membuat ia dan keluarganya diciduk adalah sebuah poster almanak yang ia terima dari tetangganya bergambarkan seorang pemuda tengah berpidato di atas mimbar di depan khalayak ramai. Ia baru tahu, lelaki di poster almanak itu adalah pemimpin Partai Komunis Indonesia: D.N. Aidit.

Malam itu, tiga jam selepas korban saya dan keluarganya duduk manis di depan meja makan sambil saling membagi senyum, tiga orang tentara memasuki rumahnya seolah sedang mencari-cari sesuatu. Ia dan keluarganya gelagapan dan dirundung banyak tanya. Lantas tanpa banyak berkata, setelah melihat almanak yang tergopoh di dinding ruang tamu, salah satu dari tiga tentara itu memberi isyarat untuk menggelandang satu keluarga itu. Korban saya digelandang ke sebuah truk bobrok sambil ditutup matanya, sementara suami dan kedua anaknya tak jelas rimbanya. Dalam truk itu, ia dipaksa untuk berdiri.

Di dalam truk bobrok itu, air matanya menggenang dan membuat kain penutupnya basah. Korban saya benar-benar dirundung perasaan entah. Ia tak menyangka akan begini jalan hidupnya. Ia tak menahu apa itu komunis. Ia tak diberi sepatah kata pun untuk menjelaskan. Dalam truk itu, satu sengguk suara tangis sama dengan dua pukulan gagang bedil. Malam itu, truk menyusuri hutan yang sangat gelap, membelah malam dan memecah kesunyian dengan suara malas mesin tua.

Satu hari setelah penyidukan, truk bobrok itu berhenti agak lama di sebuah entah. Korban saya tak tahu tempat itu berada di mana. Tapi saya tahu, tempat itu adalah sebuah markas besar tentara Nasional. Di sana, semua orang yang dianggap anggota atau sekedar simpatisan partai komunis dikumpulkan dan dipaksa mengaku. Satu persatu mereka digiring ke sebuah ruangan pengap. Satu persatu mereka ditanyai dan dipaksa mengaku. Korban saya, dan tentu banyak juga dari mereka, tak mau dan memang tak seharusnya mengaku menjadi anggota partai itu. Namun kali ini tak ada pilihan selain mengaku, atau mati.

“Sudah berapa lama kamu jadi budak di partai laknat itu?” Seorang lelaki muda menanyainya. Lelaki itu benar-benar masih muda, mungkin baru 25 tahun, tapi matanya menembakkan kebengisan.

“Saya bukan anggota partai. Saya tak tahu apa-apa.”

“Beginikah mental anggota partai itu? Tak berani mengaku dengan gagah?”

“Beginikah kelakuan tentara yang seharusnya melindungi rakyat?”

Dan inilah balasan jika ia membangkang dan sok bijak, ia diperkosa empat orang tentara kemudian disekap di dalam ruangan pesing yang gelap. Ia berada di ruangan itu selama tiga jam, sebelum digiring lagi ke truk semula. Di sanalah, ketika ia digiring ke luar ruangan, sebelum matanya ditutup, ia melihat kematian begitu dekat. Puluhan mayat digantung di lapangan upacara, disaksikan begitu banyak orang dan ditertawakan. Hatinya begitu perih, hatinya seperti diiris belati.

Dalam truk, ia teringat suami dan anak-anaknya. Kain penutup matanya basah lagi.

Ia dan sembilan korban lainnya diangkut truk menuju entah ke mana. Tentu saya tahu, truk itu menuju ke sebuah pantai. Di sana, para korban dimuntahkan ke sebuah perahu kecil untuk kemudian dilayarkan ke pulau seberang. Sebuah pulau yang tak terlalu luas. Pantainya dilindungi oleh tebing-tebing curam. Benar-benar sebuah pulau yang ideal untuk memenjarakan bajingan. Di pulau itu, ajal ditentukan jadwalnya. Korban saya tentu harus tahu, sebentar lagi, nyawanya mesti saya cabut.

Ayam bakar dan nasi sudah mendingin. Bau sedap yang tadinya menguar dari asap tipis ayam itu, kini mulai menghilang. Bau pesing yang menghuni pojok ruangan itu kembali menguat. Kencing yang ditimbun dengan kencing selama entah berapa ribu kali sungguh membuat bau itu seolah abadi di sana. Tapi korban saya tak menggubris apa pun soal bau ayam maupun bau pesing. Yang ia cium kali ini adalah aroma kematian, dan bedil yang melesatkan peluru di kejauhan sana seolah tiba-tiba ditodongkan ke arah kepalanya yang ringkih dan ia bisa mencium bau mesiu yang tajam sebelum sebuah peluru akhirnya bersarang di otaknya. Membayangkan itu, korban saya menggigil dan memeluk lututnya. Air matanya sudah habis. Suaranya tinggal frekuensi jelek radio bobrok yang sebentar-sebentar timbul-tenggelam dihempas angin.

Saya berusaha masuk ke pikiran terdalamnya, menyibak apa yang tengah menghuni ingatannya. Saya menemukan wajah seorang pria empat puluh lima tahunan dan dua wajah lelaki yang sedang tumbuh-tumbuhnya. Itu adalah wajah suami yang menikahinya dua puluh tahun lalu. Itu adalah wajah kedua anaknya yang masing-masing berumur tiga belas dan tujuh tahun. Korban saya teringat malam terakhir itu, di saat mereka makan malam dan membincangkan banyak hal. Ia menyusuri kembali tiap sudut ruangan tempat mereka makan. Senyum suami yang merekah saat bercanda, binar mata kedua anak saat berkisah tentang kegiatan hari itu, kemudian kursi tempat mereka duduk, kemudian meja, kemudian warna sepia dinding rumah yang terbuat dari papan, kemudian almanak sialan yang menampakkan wajah seorang pemuda tanpa jenggot.

Dan almanak biadab itu membawanya ke suatu hari beberapa bulan yang lalu.

Saat itu siang terik. Ia sedang duduk di depan rumahnya ketika seorang tetangga yang bajunya berbalur lumpur berjalan ke arahnya.

“Habis panen, pak?” Ia bertanya.

“Iya, tapi gabahnya masih saya tinggal di sawah.”

“Dari sawah kok bawa kertas-kertas segede itu?”

“Ini tadi ada petugas desa yang membagi-bagikannya. Saya dititipi beberapa lembar untuk warga kampung kita. Ini ambil satu.” Seorang tetangga yang bajunya berbalur lumpur itu menyodorkan kertas besar kepada korban saya dan langsung disambut uluran tangan.

“Apa ini, pak?” tanya korban saya sambil menaikkan alisnya.

“Tanggalan. Lumayan, kan, dapat gratisan.”

Korban saya tak menyangka itulah awal semula dari apa yang ia alami sekarang. Almanak itu telah membawanya ke ruangan busuk di sebuah pulau antah berantah. Ditambah lagi ia tak tahu bagaimana nasib suami beserta kedua anaknya kini. Tersisa doa yang terus ia rapalkan untuk keselamatan mereka, juga keselamatannya sendiri yang mulai ia ragukan. Doa yang barangkali sia-sia.

Tiba-tiba pintu sel dibuka dengan kasar. Dua orang berseragam tentara masuk kemudian berdiri tak jauh dari korban saya yang duduk menekuk lutut. Satu dari mereka menyakui tangannya yang kanan sementara tangan kirinya memegang rokok yang diisapnya dalam-dalam. Dengan isyarat mata yang ia kirimkan ke kawannya yang bercodet, ia melepaskan rokok itu ke tanah kemudian menginjaknya dengan sepatu larsnya.

Tanpa banyak bicara, lelaki yang baru saja menginjak rokoknya itu melepaskan sabuknya dan membuka celananya. Kawannya yang memiliki codet di wajah menghampiri korban saya, menarik tangannya dengan kasar dan membuat wajahnya tersungkur ke tanah. Korban saya menjerit sekeras yang ia mampu tapi suaranya hanya merambat di dinding ruangan dan memekakkan telinganya sendiri. Kedua tangannya dipegang erat dan rok lusuh yang ia kenakan disingkap ke atas. Ia meronta-ronta tapi tak cukup punya tenaga, hanya kejut lemah yang tak berarti apa-apa buat tangan kekar yang mengunci tangannya. Dan, ah, apa perlu saya gambarkan bagaimana dengan biadabnya mereka memerkosa korban saya itu sampai hampir sekarat? Saya rasa tidak perlu. Saya rasa saya juga keterlaluan lantaran tak mencabut nyawanya dengan segera sebelum dua orang tentara itu merontokkan harga diri korban saya. Saya jadi merasa iba. Saya jadi merasa malu.

Korban saya meringkuk di pojokan ruangan yang pesing ketika pintu ruangan itu ditutup kembali dengan kasar. Kesunyian kembali menyergapnya. Tangannya mengepal tapi ia tak tahu kepada siapa atau kepada apa mesti ia layangkan pukulan. Selangkangannya terasa perih, tapi itu tak seberapa dibanding perih yang dilembingkan tepat di jantung hatinya. Ia ingin sekali berjumpa dengan keluarganya. Kalau tidak di dunia, di alam nanti tak apa. Ia mulai mencari-cari di seisi ruangan. Matanya menelusuri tiap sudut, berharap ada sesuatu entah apa yang bisa membantunya mengakhiri hidup sesegera mungkin. Tapi yang ia dapati hanya piring plastik yang menampung nasi dan ayam bakar. Tak ada benda tajam yang bisa menewaskan dirinya dengan cepat.

Saya tahu, korban saya seperempat jam lagi akan digelandang menuju tempat eksekusi. Itu tak lama lagi, Nona. Saya membisikinya. Tapi rasa kasihan kini menghuni pikiran saya. Tak banyak yang bisa saya perbuat. Saya hanya melaksanakan tugas, tidak ada bedanya dengan tentara-tentara yang menghabisi nyawa orang-orang itu. Mereka juga menerima tugas dari atasannya. Atasannya menerima tugas dari atasannya lagi, sampai ke atasan yang tak punya atasan. Saya hanya bertugas mencabut nyawa di tahun sekian, bulan sekian, tanggal sekian, jam sekian, menit sekian, dan detik sekian. Bagi saya tugas tetaplah tugas. Saya tak mungkin melenceng dari perintah. Namun melihat mata korban saya ini, yang menyorotkan penderitaan, rasa dendam, dan juga kerinduan, membikin saya luruh. Saya mulai berpikir ulang untuk membunuhnya.

Korban saya meraih ayam bakar di piring itu tapi tidak untuk ia sumpalkan ke mulutnya. Ia membuang dagingnya dan mengambil tulangnya. Tulang itu tulang kaki dan tinggal digesek-gesekkan ke tembok yang kasar akan berubah jadi alat yang cukup tajam, setidaknya untuk merobek nadi tangannya sendiri, atau mengoyak lehernya sendiri. Saya tambah iba melihatnya ingin bunuh diri. Saya tahu ia tidak ditakdirkan mati bunuh diri. Saya tahu itu.

Pintu ruangan itu kembali dibuka. Kali ini tiga tentara bersenjata yang datang. Dua orang masuk ruangan dan menggelandang korban saya ke tempat eksekusi. Korban saya sudah tak punya cukup tenaga untuk meronta. Tapi di tangan kanannya, tulang ayam bakar itu sudah lancip. Dan di saat yang benar-benar tepat, ia tusukkan tulang itu ke mata salah satu tentara yang menggelandangnya dan seketika membuatnya mengerang dan mengaduh dan mengumpatkan kata-kata kasar. Korban saya lepas dari genggaman mereka dan lari tunggang langgang menerabas rerimbunan semak-semak. Tiga tentara itu mengejarnya. Teriakan menggema dari mulut mereka dan peluru berhamburan dari senjata mereka. Desingnya memecah kesunyian.

Korban saya berjarak lima puluh meter dari tiga tentara itu. Jarak itu masih terlalu mudah untuk dijangkau laras panjang. Korban saya berlari kesetanan, tak peduli apa yang diinjaknya, apa yang disibaknya, dan apa yang dilewatinya. Hingga sebuah peluru tepat menuju ke arah kepalanya dengan amat cepat. Empat puluh meter ke arahnya, tiga puluh meter, dua puluh meter, sepuluh meter, lima meter, dan satu meter dan kemudian suasana senyap seketika.

Korban saya sudah berada di sebuah tempat bersama keluarganya yang sedang menunggu giliran untuk dieksekusi.

Facebook Comments
Bagikan konten: