Setidaknya Taha Hussein Sudah Berusaha Menjadi Sejarawan yang Baik

Bagikan konten:

Kemukjizatan al-Quran dapat dibuktikan dengan membandingkannya dengan puisi Arab Jahiliah yang merupakan standar estetika tertinggi pada zaman al-Quran diturunkan. Karenanya ketika Nabi membacakan ayat al-Quran, spontan kaum Quraisy merespon bahwa apa yang mereka dengar adalah karangan seorang penyair ulung yang pandai bersilat lidah.

Dalam bukunya I’jâz al-Qurân, al-Baqilani membandingkan antara ayat al-Quran dengan puisi Imru`ul Qais, pujangganya penyair Arab Jahiliah, untuk membuktikan bahwa puisi Imru`ul Qais tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan gaya bahasa al-Quran. Karenanya ketika Taha Hussein mengatakan bahwa seluruh puisi Arab Jahiliah palsu dalam bukunya Fî al-Syi’ir al-Jâhily, ia mendapatkan kritikan pedas dan kecaman dari khalayak luas.

Pasalnya, pendapat Taha Hussein itu tidak hanya memberikan dampak radikal pada kajian sejarah kesusastraan Arab, tapi juga memberikan konsekuensi teologis yang menyangkut bukti kenabian Muhammad Saw.. Selain itu, meragukan puisi-puisi Arab Jahiliah sama saja sedang meruntuhkan pondasi warisan keilmuan Islam yang mengandalkan puisi-puisi tersebut dalam pembentukannya baik dalam tafsir, nahwu, balaghah, fikih dan lain sebagainya.

Dalam tulisan ini, saya tidak tertarik untuk menghukumi pendapat Taha Hussein terkait kepalsuan puisi Arab yang dikenal dalam kajian sejarah sastra Arab dengan wacana pemalsuan puisi Jahiliah (qadhiyyatul intihâl). Pendapat tersebut memang keliru. Jauh sebelum para orientalis diikuti oleh Taha Hussein, Muhammad ibn Sallam Jumahi pada abad ke-2 H. sudah terlebih dahulu mempertanyakan kebenaran dan validitas puisi Arab Jahiliah dalam bukunya Thabaqât Fuhûl al-Syu’arâ`. Sudah banyak dari para ulama kita yang telah menjernihkan wacana tersebut dengan bukti historis dan logika argumentatif.

Saya justru tertarik untuk melihat wacana ini sebagai usaha Taha Hussein untuk bersikap objektif dan ilmiah sebagai seorang sejarawan. Dengan kata lain, buku Fî al-Syi’ir al-Jâhily adalah bentuk auto kritik Taha Hussein terhadap turâts dan usaha membuka pintu ijtihad untuk mengembalikan nalar kritis bangsa Arab secara khusus dan umat Islam secara umum.

Saya kira kita perlu mengenal sosok Taha Hussein terlebih dahulu sebelum kita melangkah lebih jauh di dalam tulisan ini. Tentu saja, saya tidak akan memberikan deksripsi lengkap tentang biografi Taha Hussein dari mulai tanggal lahir, nama istri, jumlah anak hingga kapan ia wafat. Kita bisa mencari tahu sendiri dengan meng-googling di internet. Menurut saya, setidaknya ada dua hal yang perlu kita ketahui tentang seorang Taha Hussein.

Pertama-tama, sebelum menjadi seorang sastrawan dan gelar-gelar lainnya, Taha Hussein pada dasarnya adalah seorang sejarawan. Secara akademisi, ia mempelajari sejarah, geografi dan peradaban Islam di Universitas Mesir (sekarang Univ. Kairo), lalu melanjutkan studi di Perancis untuk mendalami ilmu sejarah (sejarah Yunani, Romawi dan sejarah modern) dan ilmu sosial. Setelah lulus, Taha Hussein diminta untuk mengampu pelajaran sejarah Arab dan Yunani di Universitas Mesir.

Kedua, Taha Hussein telah memiliki daya kritis yang tinggi sejak kanak-kanak sebagaimana yang diceritakan sendiri oleh Taha Hussein dalam auto biografinya, al-Ayyâm. Ketika belajar di al-Azhar, Taha Hussein merasa bosan dengan materi pelajaran bahasa Arab yang itu-itu saja. Tak jarang ia membuat para syekh pengampu naik pitam karena sikapnya yang sok pintar dan menyepelekan. Lalu ketika ia melanjutkan studi di Universitas Mesir yang saat itu baru saja berdiri, ia seakan mendapat angin segar yang memantik gairah intelektualnya. Ia dibuat terkejut sekaligus kagum dengan istilah ilmiah baru, wawasan baru, metodologi baru dan cara pandang baru dalam membaca turâts yang selama ini sudah diakrabinya.

Seperti yang dikemukakan sendiri oleh Taha Hussein dalam pengantar Fî al-Syi’ir al-Jâhily, ia terkagum dengan metodologi ‘meragu’ yang ditemukan oleh Descartes. Walaupun metodologi ini sempat menuai kecaman dan penolakan pada awal kemunculannya, tapi temuan Descartes ini berhasil memberikan sumbangsih besar dalam memperbaharui wajah keilmuan dan filsafat Barat. Descartes dengan ide pemikirannya itu berhasil mengantarkan masyarakat Eropa memasuki dunia baru yang disebut dunia modern. Taha Hussein ingin mengikuti keberhasilan tersebut. Maka, tanpa ragu-ragu ia mengatakan telah menggunakan metodologi ‘meragu’ dalam membaca ulang sejarah kesusastraan Arab.

Sesuai dengan namanya, Taha Hussein harus memulai kajiannya dengan meragukan seluruh pengetahuan mapan yang telah disepakati tentang sejarah kesusastraan Arab. Ia harus melupakan pertimbangan agama, ras dan nasional yang diimaninya sehingga ia dapat bersikap objektif semaksimal mungkin. Menurutnya, hanya dengan cara ini kita dapat mendapatkan hasil yang berbeda dan bisa memunculkan suatu hal yang baru. Sudah saatnya sejarah kesusastraan Arab berbicara hal selain bahwa bangsa Arab terbagi menjadi ‘aribah dan musta’ribah, bahwa sastra Arab terbagi menjadi dua jenis: puisi dan prosa, dan bahwa qifâ nabkî adalah bait puisi Imru`ul Qais.

Dalam memperlakukan teks-teks sejarah, Taha Hussein terpengaruh dengan aliran materialisme yang hanya mengakui validitas fakta histori ketika terdapat bukti-bukti empirisnya. Setelah mempertimbangkan aspek politik, sosial, ekonomi, aspek linguistik dan estetis puisi-puisi yang diklaim sebagai puisi Arab Jahiliah, Taha Hussein mendapati bahwa puisi-puisi tersebut sama sekali tidak merepresentasikan kondisi zaman Jahiliah dari sejumlah aspeknya. Kondisi zaman Jahiliah justru tergambar jelas dalam ayat-ayat al-Quran.

Berangkat dari sinilah, Taha Hussein sampai pada kesimpulan bahwa puisi-puisi Arab Jahiliah digubah pada masa Islam dan masa setelahnya untuk tujuan-tujuan politik, status sosial, keilmuan dan kesusastraan. Sejak awal, Taha Hussein sudah memprediksi dan mempersiapkan diri bahwa kesimpulan yang ia peroleh dari metodologi ‘meragu’ akan menciptakan kegaduhan yang luar biasa. Tapi hanya dengan cara yang ‘berliku’ dan penuh resiko inilah, Taha Hussein mendapatkan kepuasan intelektual sebagai seorang sejawaran yang objektif.

Selain metodologi ‘meragu’, Taha Hussein juga memiliki satu ide pembaharuan lain yang ia terapkan dalam mengkaji sejarah kesusastraan Arab. Ide ini sebenarnya diterapkan lebih awal oleh Taha Hussein dalam karya ilmiahnya Tajdîd Dzikrâ Abi al-‘Alâ` daripada ide ‘meragu’ Descartes dalam bukunya Fî al-Syi’ir al-Jâhily. Ide tersebut mengandaikan bahwa sebuah karya sastra tak mungkin lahir dari ruang kosong karena adanya proses dialektika antara sastrawan dengan kondisi di sekelilingnya.

Pada awalnya Taha Hussein tidak menyukai al-Ma’arri jika tidak bisa dikatakan ‘membencinya’. Ia termakan pendapat sejumlah orang yang ‘membenci’ al-Ma’arri karena pandangan pesimistisnya dalam Luzûmiyyât. Tak sedikit yang menyebutnya kafir dan keluar dari agama. Namun setelah Taha Hussein mencoba mengenal lebih dekat sosok al-Ma’arri, ia baru menyadari bahwa ia tengah berhadapan dengan seorang sastrawan jenius yang memiliki pandangan filosofis yang tinggi. Ia menjadi sadar bahwa ia tak bisa memahami al-Ma’arri dan karya sastranya dengan baik tanpa memahami lingkungan yang telah membentuk konsisi fisik, psikis dan cara berpikir seorang al-Ma’arri.

Terlepas dari kritikan yang diterima buku tersebut, ide tentang ruang kosong ini memiliki urgensitasnya di tengah gelombang generalisasi yang banyak kita temui dalam buku-buku sejarah sastra Arab. Karena kesulitan mengkaji seluruh karya para sastrawan di suatu masa tertentu, akhirnya banyak dari para sejarawan yang mengambil langkah pintas dengan mengklasifikasikan sejumlah sastrawan dan karya mereka dalam kategori-kategori yang bersifat umum.

Karya sastra era Mamluk yang berkuasa beberapa abad dan membawahi sejumlah daerah misalnya, dinilai secara general dan singkat bahwa karya sastra pada era tersebut mengalami kejumudan dari segi kreativitas imajinasi, kedalaman makna dan pemilihan diksi, tanpa melihat adanya perbedaan letak geografis dan perubahan zaman. Kenyataan inilah yang juga dikritisi oleh Amin al-Khuli dalam bukunya Fî al-Adab al-Mishry. Ia melihat bahwa tempat dan letak geografis memberikan pengaruh dan corak tersendiri dalam karya sastra. Dengan kata lain, karya sastra memiliki nilai lokalitasnya masing-masing yang tidak bisa digeneralkan.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, pendapat Taha Hussein terkait kepalsuan puisi Arab Jahiliah memang keliru. Tapi Taha Hussein tak pernah memiliki niatan mencederai kesakralan agama. Walaupun ia menerapkan metodologi ‘meragu’ dalam teks puisi Arab, tapi ia tetap mengatakan secara lantang bahwa validitas al-Quran sudah multak dan tak bisa diragukan kebenarannya. Dalam sebuah wawancara yang dilakukan Dr. Muhammad Dasuqi, Taha Hussein mengatakan bahwa kehebohan terkait buku kontroversialnya Fî al-Syi’ir al-Jâhily hingga membuatnya dikeluarkan dari Universitas Mesir adalah murni permasalahan politik. Ketika disidang di hadapan para ulama dan tokoh, Taha Hussein dinyatakan tidak bersalah dan permasalahan dinyatakan selesai karena ia memang tidak bermaksud mencederai agama.

Kesimpulan Taha Hussein memang keliru, tapi ia tak sepenuhnya salah. Walaupun kendaraan yang ia pilih kurang tepat, tapi ia memiliki tujuan yang mulia. Kita tidak berhak membencinya karena Taha Hussein sepeti halnya manusia normal lainnya yang mengalami fase pembelajaran, terlebih jika kita tidak benar-benar begitu mengenalnya. Taha Hussein hanya melakukan apa yang dianggapnya benar sebagai seorang intelektual yang bebas dalam berpikir, ia hanya mencoba menjadi seorang sejarawan yang tidak hanya mengulang data-data sejarah. Setidaknya, Taha Hussein sudah berusaha menjadi sejarawan yang baik.

 

 

 

 

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan