Sapardi Telah Mati, Kita yang Membunuhnya

Sapardi
Bagikan konten:

Siapa yang menyangkal keindahan puisi Aku Ingin yang dikarang oleh penyair besar Indonesia Sapardi Djoko Damono? Mayoritas orang awam maupun kritikus sastra menahbiskan bahwa puisi itu adalah salah satu masterpiece sastra Indonesia: masyarakat awam menaruhnya secara terhormat di kertas undangan pernikahan, dan para kritikus tanpa henti mengapresiasinya tinggi-tinggi dalam buku-buku mereka. Sapardi benar-benar menjadi ‘penyair paling ideal’ yang ada di benak orang yang belajar sastra, terutama puisi, dan ia juga memengaruhi banyak penyair muda Indonesia utamanya dari tahun 80-an sampai saat ini.

Tetapi dahulu tetaplah dahulu. Penyair bisa menua dan ide di kepalanya bisa tumbang seperti pohon yang rapuh. Memang jika dibandingkan kawan seangkatannya seperti Goenawan Mohamad, Taufik Ismail, dan Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi bisa dibilang yang paling produktif. Di umur senjanya ia bahkan mampu menulis novel Hujan Bulan Juni yang sebentar lagi mendapat haknya dalam wahana lain yaitu film. Untuk urusan kuantitas, karya-karya Sapardi di umur tuanya menjadi bukti bahwa usia tidak lantas menyudahi orang untuk berkarya.

Namun demikian, selain kuantitas, kita juga punya pertimbangan lain yang lebih penting: kualitas. Apakah karya-karya Sapardi di masa tuanya mampu mengungguli atau paling tidak menyamai pencapaiannya tiga atau empat puluh tahun yang lalu? Ini pertanyaan pahit yang mesti dijawab dengan jujur.

Sebelum melangkah jauh, ada dua hal yang perlu diperhatikan terlebih dahulu. Pertama, kenapa kita mesti bertanya soal kualitas karya Sapardi di usia senjanya? Berulang kali saya tegaskan bahwa orang zaman sekarang cenderung memanfaatkan ketokohan―baik dirinya maupun orang lain―untuk melegitimasi suatu kualitas. Hal ini sangat berbahaya bagi masa depan sastra Indonesia. Pasalnya, yang menjadi pertimbangan dalam kesusasteraan bukan lagi karya tapi penuliskarya.

Sudah bukan asumsi lagi bahwa jika penulis pernah menganggit masterpiece di masa lalu kemudian dikenal, ia bisa dengan mudah memanfaatkan ketokohannya untuk menarik pembaca, sejelek apa pun karyanya saat ini. Atau, penulis yang tidak pernah punya masterpiece tapi berada di lingkaran nama-nama besar kemudian ia diangkat oleh nama-nama besar itu sebagai seorang master. Atau, penulis yang belum pernah berkecimpung di dunia sastra tapi menjadi tokoh di bidang lain dan memiliki banyak uang kemudian menyulap dirinya menjadi bagian dari tokoh sastra paling berpengaruh. Atau, gabungan dari itu semua!

Kedua, jawaban jujur atas pertanyaan pahit di atas tidak boleh selugu jawaban dari pertanyaan “sudah makan belum?” karena ia tidak butuh banyak penjelasan dan bukti. Tapi ‘jujur’ dalam hal ini adalah penelusuran terhadap karya bersangkutan dan menilai karya itu secara objektif. Saya pernah ngobrol dengan salah satu kawan di komunitas saat saya menyetorkan puisi saya untuk dikomentari (atau lebih tepatnya dihabisi). Isi obrolan kami adalah soal kualitas karya. Kawan saya itu mengatakan bahwa kita memang tidak bisa membuat karya yang sempurna karena kita bukan Tuhan. Umumnya, dari sekian banyak puisi dalam antologi, tidak mungkin semuanya berhasil dari segi kualitas. Begitu juga dari sekian banyak buku antologi yang ditulis, tidak semuanya mampu abadi. Perkataan kawan saya ada benarnya. Tapi karya akan menjadi bagian dari masyarakat jika ia sudah disebarluaskan dan oleh sebab itu kemungkinannya hanya ada dua: bagus atau jelek. Tidak ada yang lain.

Mari Kita Masuk ke Karya Sapardi.

Saya tidak akan membahas semua karya Sapardi yang saya nilai tidak berhasil. Karena tentunya itu tidak tertampung dalam tulisan singkat ini. Saya akan mengambil puisi Sapardi yang terbit di basabasi.co sekitar sebulan yang lalu. Saya heran mengapa puisi macam ini bisa lulus dari meja redaksi basabasi.

Ada lima puisi yang dimuat di sana, tapi saya akan membahas tiga saja. Puisi pertama yang berjudul “Kita Ini di” berbunyi demikian:

kita ini di negeri apa? kau kudengar tertawa

topimu baru saja diterbangkan angin

ketika kau mencoba mendekat

ke tepi Tondano. Hanya kita tampaknya

 

angin menyisir tepi danau bercakap

kepada riak air. Kau menubrukku

ada yang ingin menerbangkan rambutmu:

aku berbisik padamu, ini hari Minggu

 

hanya angin tampak bermain dengan cahaya

hanya kita yang menunjuk ke tengah danau

merentang benang-benang gerimis 12 warna

untuk kita tenun menjadi bianglala ganda

 

meninggalkan danau itu aku membimbingmu

bianglala yang terbit dalam kenangan kita

masih akan tinggal, masih akan tinggal lama

setelah danau lenyap dari pandangan kita

Yang pertama kali ingin saya ketengahkan adalah soal pencapaian. Puisi di atas tidak mampu menandingi pencapaian puisi-puisi dalam antologi Hujan Bulan Juni. Bahkan secara estetika malah menurun drastis. Hal itu disebabkan oleh beberapa perkara. Pertama, puisi-puisi dalam Hujan Bulan Juni memagutkan diri dengan ide yang jelas dan terstruktur (meskipun akhirnya kita bisa memaknai puisi-puisi itu dengan beragam jalan). Sementara puisi di atas hanya bertahan sebagai permainan kata (mengenai teori kata dan ide, lihat esai saya “Apakah Indonesia Punya Penyair?”).

Ide yang ingin diketengahkan dalam puisi di atas sangat samar atau bahkan sama sekali tidak ada. Kosong. Sementara puisi yang kosong ide tak ubahnya otak yang tak punya pengetahuan. Atau hati yang tak punya daya merasa. Akibatnya semuanya menjadi kering. Kering karena tidak menyentuh sisi intelektualitas kita. Dan kering karena tidak menyentuh intuisi kita. Perhatikan baik-baik keutuhan puisi di atas. Apa yang ingin disampaikan oleh Sapardi? Tidak lebih dari penggambaran situasi yang memanfaatkan tokoh “aku” dan “kau” yang seolah-olah hadir hanya sebagai figuran. Jika kita membawa ke struktur puisi itu, kritik bahkan bisa lebih dipertajam lagi, karena puisi di sini dipandang sebagai suatu keutuhannya, bukan bagian-bagiannya yang parsial. Dan seperti yang saya singgung sebelumnya, keutuhan puisi ini berhadapan dengan ide yang abstrak, yang menjadikan puisi ini tidak mampu berbicara sendiri, ia terbisukan oleh “salon kata-kata”.

Selanjutnya, menurut saya, puisi di atas sangatlah longgar. Antar baris satu dengan lainnya tidak membentuk satu keutuhan. Terdapat jarak terlalu panjang antar-kalimat untuk diterka apa hubungan satu dengan yang lainnya. Simak misalnya kalimat ini: Kau menubrukku/ ada yang ingin menerbangkan rambutmu:/ aku berbisik padamu, ini hari Minggu. Antara baris Kau menubrukku dengan ada yang ingin menerbangkan rambutmu begitu jauh hubungannya, bahkan terkesan tak berkaitan sama sekali. Akibatnya kalimat demi kalimat dalam puisi di atas lepas satu persatu untuk menyembulkan maknanya sendiri-sendiri.

Dari bait pertama lalu memasuki bait kedua dan ketiga, kita merasa bahwa bait pertama dan kedua tidak ada arti yang bisa dikorek dari jalinan keduanya. Jika yang ingin dihadirkan oleh sang penyair adalah kenangan, bait kedua dan ketiga tidak mewakili maksud yang diinginkan. Padahal di bait terakhir tertulis sangat jelas bahwa kenangan kita masih akan tinggal, masih akan tinggal lama. Kenangan macam apa yang ingin dibangun oleh bait pertama, kedua, dan ketiga sehingga keindahannya masih akan dikenang oleh “kita” bahkan setelah danau lenyap dari pandangan? Puisi di atas seperti puisi yang masih ingin menemukan bentuknya. Padahal sang penyair telah menjadi tokoh dalam sastra Indonesia yang karyanya selalu ditunggu oleh khalayak.

Selain itu, jika kita lihat di bait ketiga, ada ketimpangan paduan imaji dan visual yang sangat kentara. Baris pertama berbunyi hanya angin tampak bermain dengan cahaya. Baris kedua berbunyi hanya kita yang menunjuk ke tengah danau. Peralihan dari gambaran alam ke gambaran manusia sangatlah kasar. Bahkan penghubungnya, atau sesuatu yang seharusnya menjadi jembatan citraan, tampak begitu kaku. Baris pertama seolah tanpa makna jika kita merujuk ke baris ketiga. Karena di baris pertama ada hanya yang berarti “tak ada sesuatu yang selainnya” sementara baris ketiga justru mengkhianati hanya yang ada di baris pertama. Berarti, yang hadir di sana “bukan-hanya” angin yang tampak bermain dengan cahaya, tapi juga benang-benang gerimis 12 warna. Baris kedua juga mengkhianati baris keempat karena subjek yang melakukan sesuatu ternyata “tidak-hanya” menunjuk ke tengah danau tapi juga menenun 12 warna untuk dijadikan bianglala ganda.

Soal 12 warna bisa diproblematisir lebih jauh. Si “aku” di puisi itu ingin menenun 12 warna menjadi bianglala ganda. Dari pelajaran paling awal yang kita terima di SD, pelangi itu memiliki 7 warna dasar. Sering disingkat menjadi mejiku hibiniu (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu). Jika yang dimaksud oleh sang penyair dari benang-benang gerimis adalah prisma yang menghasilkan pelangi akibat dari memantulnya cahaya matahari, maka yang dihasilkan oleh proses itu adalah cahaya yang kita kenal sebagai pelangi. Pelangi berjumlah tujuh warna. Jika yang dimaksud dua belas warna yang ada di puisi itu adalah warna pelangi, maka jumlahnya kurang satu. Karena 12 dibagi dua menjadi 6. Pelangi atau bianglala ganda adalah hasil dari enam kali dua. Barangkali dalam hal ini sang penyair sedikit silap, ataukah ia memang memaksudkan arti yang lain?

Tidak jauh beda dengan puisi pertama, puisi berikut ini benar-benar tak pantas dihasilkan dari tangan seorang penyair besar. Puisi itu bertajuk “Kalau Kita Nanti”:

kalau kita nanti sudah sangat tua

aku di sini dan kau di sana

yakinkah kau bahwa di seberang samudra

ada yang masih merawat bianglala

Kesederhanaan dalam puisi ini bukanlah kesederhanaan yang sublim seperti dalam puisi Aku Ingin. Puisi ini sederhana dalam arti biasa-biasa saja. Tak ada makna yang hendak disembunyikan di sana. Pikiran kita tak tersentuh untuk mendalami isi dari puisi ini. Dan bahkan perasaan kita tak benar-benar terenyuh karena makna yang hadir dari puisi ini sungguh sangat biasa dan klise. Penggunaan samudra untuk berbicara jarak sangatlah umum digunakan bahkan oleh penyair yang baru terjun di dunia sastra. Apalagi diksi bianglala yang bermakna keindahan, anak kelas enam SD pun membayangkan hal yang serupa. Merawat bianglala bermakna merawat yang indah, bisa berupa kenangan. Apakah tak ada lagi diksi yang bisa mewakili keindahan selain bianglala, pelangi? Ataukah sang penyair sudah tenggelam oleh usia untuk memikirkan hal-hal yang terlalu mendalam.

Saya tidak tahu apakah puisi ini ada dalam buku novel Pingkan Melipat Jarak yang baru terbit atau tidak. Jika memang ada, apakah kita bisa melepaskan keutuhan puisi ini dengan keutuhan novel itu sendiri? Apakah lima puisi yang dimuat si situs yang saya rujuk tadi, dengan begitu, mendapatkan pembelaan dari novelnya? Saya rasa jawabannya negatif. Meskipun puisi ini mau tidak mau harus kita kaitkan dengan novelnya, toh bukankah novelnya adalah perpanjangan tangan dari puisi, yang mana dalam hal ini novel Hujan Bulan Juni dari puisi yang judulnya sama dan novel Pingkan Melipat Jarak dari puisi Melipat Jarak? Berarti di sana ada dua kali kerja alih wahana: dari puisi ke novel, dari novel ke puisi. Kita tahu, alih wahana adalah kegiatan kesenian yang memiliki tiga konsekuensi: (1) adakalanya karya yang dialih-wahanakan lebih bagus dari wahana sasaran, (2) adakalanya kedua-duanya sama bagusnya, (3) adakalanya hasil alih wahananya malah lebih buruk. Dan saya rasa untuk karya Sapardi yang ini masuk di kategori nomor tiga.

Dalam pada itu, puisi-puisi di situs yang saya sebutkan tadi dikhususkan buat Pingkan, tokoh dalam novel Hujan Bulan Juni dan Pingkan Melipat Jarak. Pingkan di Hujan Bulan Juni (yang sudah saya baca) digambarkan punya hubungan dengan Sarwono, tokoh lelaki melankolis yang suka menulis puisi. Novel itu dibangun oleh konflik yang sederhana tapi dalam. Saya membacanya satu kali duduk, tetapi memikirkan kisahnya sampai seminggu. Dengan hadirnya puisi “Kalau Kita Nanti” untuk menambah efek tertentu dalam kisah Hujan Bulan Juni (dan atau Pingkan Melipat Jarak), justru sangat disayangkan. Saya tidak peduli bagaimana ending kisah antara Pingkan dengan Sarwono. Yang saya pedulikan adalah: bila kisah itu berakhir sedih, puisi untuk menduplikat kesedihan Sarwono (yang diwakili oleh “Kalau Kita Nanti”) sangatlah pasaran, tipikal penyair galau yang menulis puisi karena patah hati. Dan akibatnya kita pun bertanya-tanya: Apakah Sapardi tipikal penyair seperti itu?

Puisi terakhir yang akan saya bahas berjudul “Ada yang Tak”. Begini bunyinya:

ada yang tak hendak susut

saat seutas cahaya menegang

menjelma garis tipis

yang menyekat kita

 

ternyata kita masih juga ada

dalam denting-denting hening

tetes demi tetes luruh

tak hendak jenuh

 

seutas garis tipis, tipis saja

memisahkan kita

agar masih berdebar mendengar

agar masih saling mendengarkan

Ada dua jalan masuk untuk menilai ucapan, apa pun itu, yaitu logika dan estetika. Logika memperkarakan kebenaran, dan estetika berpautan dengan keindahan. Keduanya punya ranahnya masing-masing. Meskipun sastra bertaut-erat dengan keindahan, tapi itu tidak berarti bahwa karya sastra harus sama sekali tidak mengindahkan logika. Karya sastra adalah bagian dari ucapan, bagian dari kata-kata, dan oleh sebab itu, logika bisa digunakan untuk menilai kelayakannya. Puisi di atas ketika pertama kali saya dekati dengan estetika, memang ada keindahan di sana. Kata-kata yang dimainkan Sapardi begitu memesona. Namun saya pun segera beranjak ke logika. Dan di sinilah masalah muncul dan puisi itu harus mempertaruhkan nyawanya.

Kalimat yang pertama kali mengganggu adalah seutas cahaya menegang. Memang, saya bisa membayangkan bagaimana seutas cahaya bisa menegang. Ya, itu ranah imajinasi. Tetapi apakah benar seutas cahaya bisa menegang? Di sini kita berhadapan dengan sains, yaitu fisika. Cahaya adalah energi berbentuk gelombang elektromagnetik. Nah, sifat cahaya adalah ia tak pernah bisa melengkung tanpa medium apa-apa seperti cermin. Cahaya senantiasa merambat lurus. Diksi seutas cahaya menegang mengandung makna kontradiktif bahwa cahaya bisa saja melembek atau melengkung (sebagai lawan dari kata menegang). Apalagi di situ ada kata seutas, yang ketika cahaya itu muncul, misalnya dari laser, justru akan semakin tampak kelurusan atau ketegangannya. Berarti, cahaya tidak akan pernah tidak menegang (jika diksi ini bisa mewakili “kelurusan” bidang cahaya).

Selain itu, diksi garis tipis yang menyekat juga bermasalah. Memang, itu sebuah bentuk hiperbolik, yakni, cahaya yang menjelma garis tipis, yang seharusnya tak berarti apa-apa bagi “kita” justru malah menjadi pemisah. Tapi itu hanya terjadi dalam angan, tidak dalam kenyataan. Yang lebih problematis lagi adalah bait terakhir. Seutas garis tipis yang dari cahaya malah dihubungkan dengan indra pendengaran bukan indra penglihatan. Padahal, cahaya tidak pernah bisa memisahkan antara suara dengan suara. Cahaya tidak berhubungan dengan bebunyian, tapi hubungannya dengan penampakan. Jadi, usaha memisahkan antara “aku” dan “kau”, dengan seutas garis tipis dari cahaya atau bahkan dengan garis super-tebal pun, tak akan mungkin menghalangi “kita” agar masih berdebar mendengar/ agar masih saling mendengarkan. Jika diukur dari logika bahasa, puisi ini sangatlah kacau.

Di bait kedua, kita temui juga beberapa kejanggalan. Dua baris terakhir, yakni tetes demi tetes luruh/ tak hendak jenuh berhubungan secara langsung dengan dua baris di atasnya. Tapi dua baris di atasnya ternyata justru membuat dua baris terakhir menjadi tidak relevan. Frasa denting-denting hening adalah sebentuk hiperbola. Hening digambarkan punya suara yang justru sangat keras. Kata denting lebih keras daripada kata, misalnya, ricik. Dan di situ sang penyair agaknya ingin memadukan antara sengau “ing” pada denting dengan “ing” pada hening yang justru menegaskan permainan katanya yang seolah dipaksakan.

Dua baris terakhir menjadi tidak relevan karena di dua baris sebelumnya sang penyair tidak memberi tanda apa pun bahwa denting-denting itu mengarah pada peminjaman sifat-sifat air. Oleh karenanya kata tetes demi tetes di situ menjadi bermasalah. Jika sang penyair menggunakan ricik hening, mungkin itu bisa dimaklumi. Baris terakhir juga sangat memaksakan. Kata jenuh ingin mengejar rima di baris sebelumnya yaitu luruh. Padahal jika kita renungi, apa kaitan (baik simbolik maupun estetik) antara luruh dengan jenuh? Lagi-lagi, ini sekaligus menandakan bahwa sang penyair masih terlalu peduli dengan permainan kata-kata. Ide yang diangkat belum menjadi rahim bagi puisi.

Tulisan ini akan saya tutup dengan pengandaian yang sudah lama mengendap di pikiran saya. Chairil Anwar beruntung karena ia meninggal di puncak karyanya. Meskipun menurut Nirwan Dewanto sangatlah mungkin puisi-puisinya bisa lebih berkembang lagi jika saja ia berumur sepuluh tahun lebih panjang. Chairil sudah menjadi apa yang ia inginkan: hidup seribu tahun lagi. Napasnya pungkas, tapi karyanya masih memberi udara bagi kita. Mati muda adalah suatu keberuntungan seperti kata Soe Hok Gie. Dan Chairil memang beruntung, sebab andai kata ia berumur sangat panjang, boleh jadi ia juga akan menyumbangkan sampah bagi sastra Indonesia. Bagaimana dengan Sapardi? Meskipun ia masih hidup, lebih baik kita menganggapnya sudah tiada agar kita semata-mata belajar dari karya yang kualitasnya benar-benar abadi. Ya, Sapardi telah mati, kita yang membunuhnya.

 

Daftar Bacaan:

Damono, Sapardi Djoko, 2015, Hujan Bulan Juni, Jakarta: Gramedia.

Dewanto, Nirwan, 2012, Situasi Chairil Anwar (dalam Aku Ini Binatang Jalang, Chairil Anwar), Jakarta: Gramedia.

Pradopo, Rahmat Djoko, 2014, Pengkajian Puisi, Yogyakarta, Gajah Mada University Press.

Mu’adda, Al-Husaini, 2012, dalam Diwan Al-Mutanabbi, Kairo: Dar El-Khulud.

Ibn Khaldun, 2008, Muqaddimah, jilid 3, Kairo: Maktaban Usrah.

Ushfur, Jabir, Al-Shurah Al-Fanniyyah, 1992, cet. 3, Beirut: Al-Markaz Al-Tsaqafi Al-‘Arabi.

Dewanto, Nirwan, esai Hujan Logam, Mayat Oleander .

Sapardi Djoko Damono, Sajak untuk Pingkan

Facebook Comments
Bagikan konten: