Rembulan yang Tersesat di Bumi

Bagikan konten:

Ketika tengah bercermin dan menepukkan bedak di wajah, tiba-tiba saya mendapat kesimpulan dari ide–ide acak yang beberapa hari ini sedang saya pikirkan.

Saya dapat memaklumi jika Eka Kurniawan dalam kolomnya yang berjudul Celestial Bodies, Jokha al-Harthi mengakui, bahwa ia merasa resah setelah mengkhatamkan novel karangan Jokha al-Harthi tersebut. Menurut saya, keresahan itu bukan hanya karena para tokoh dalam novel memiliki masalah yang terasa begitu berat. Lebih dari itu, keresahannya bermula karena ia adalah laki-laki. Sebagai pembaca perempuan yang juga sudah rampung membaca novel tersebut dalam versi bahasa Arabnya dengan judul Sayyidât al-Qamar, saya justru merasa optimis.

Saya tidak sedang berusaha menyinggung isu gender atau berlagak sebagai pejuang feminisme. Walaupun novel karangan novelis asal Oman itu berkisah tentang sekelumit kehidupan para wanita, tapi novel tersebut tidak menekankan tentang kisah perjuangan kaum perempuan yang menuntut kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki, apalagi berusaha untuk menumpas domain patriarki. Para tokoh wanita di novel ini terlalu ‘sabar dan lembut’ untuk melakukan hal semacam itu.

Di dalam novel tersebut, para tokoh wanita mengalami tekanan batin dan pergulatan emosi yang luar biasa hebat, namun pada akhirnya mereka mampu untuk mengatasi semua itu dengan caranya masing-masing dan keluar dari masalah sebagai seorang pemenang. Mayya tetap berhasil mempertahankan cintanya kepada lelaki yang didambanya walaupun ia menikah dengan lelaki lain. Asma dapat keluar dari kampung yang mengekangnya dengan mengambil keputusan menikah tanpa terlalu memikirkan siapa calon pendampingnya. Ia hanya ingin keluar dari kampung yang masih melihat perempuan dan pengetahuan sebagai hal tabu. Khaula akhirnya menggugat cerai lelaki impian yang begitu dicintainya namun telah mengkhianatinya, setelah mereka mempunyai lima orang anak. London berani memutuskan pacarnya yang seorang penyair gembel, dan Qamar yang memutuskan untuk menghilang dan meninggalkan kekasih gelapnya.

Sedangkan para tokoh pria dalam novel ini berakhir dalam keadaan menyedihkan dan kalah. Abdullah dirundung keraguan akan cinta istrinya dan bayangan buruk masa kecil yang terus menghantuinya. Ayah Abdullah yang merahasiakan sebab kematian istrinya dan berakhir meninggal di atas kasur rumah sakit dalam kesepian. Nashir yang merajuk ketika digugat cerai oleh sang istri, dan Ahmad yang memohon-mohon sembari bersimpuh meminta maaf ketika kekasihnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan pertunangan mereka.

Tak dapat disangkal, atmosfer yang diciptakan oleh pengarang dalam novel ini memang kental dengan kepedihan, kesuraman dan rahasia yang terpendam. Novel ini tak menawarkan kebahagiaan dan keceriaan jangka panjang. Sejak lembaran pertama, kita memasuki dunia yang tidak baik-baik saja, pergolakan jiwa yang mengantarkan pada kemurungan bahkan kegilaan. Tokoh-tokoh yang kita jumpai di dalamnya adalah sejenis makhluk manusia yang tak biasa. Pengarang berani menyelami sisi kejiwaan manusia dan keluar dari sana dengan membawa sejumlah keputusan yang sangat logis dan orisinal-namun-tidak-biasa dan karenanya, sikap yang diambil oleh setiap tokoh pun dirasa ganjil dan suram.

Mayya mencintai seorang lelaki bernama Ali yang melanjutkan studi di London. Tak ada yang tahu mengenai perasaannya itu. Di setiap malam, kita akan mendengar suaranya yang tengah bermunajat. Hanya saja, ketika di hadapan Tuhan, Mayya tak berani meminta lebih, ia hanya ingin melihat lelaki dambaannya. Tak hanya sekali Mayya bersumpah dalam doanya bahwa Mayya hanya ingin melihat wajah kekasihnya. Tidak lebih.

Namun kemudian datanglah Abdullah, anak seorang pembisnis kaya raya, yang jatuh hati kepada Mayya pada pandangan pertama. Abdullah tak dapat memberikan alasan mengapa ia mencintai Mayya. Ia hanya mencintai Mayya. Ia tahu bahwa Mayya tidak memiliki paras cantik, tidak tersenyum di hari pernikahan mereka dan hanya tertawa setiap kali Abdullah bertanya kepadanya, “Apakah kau mencintaiku?” Mayya tak memberontak ketika dinikahi oleh Abdullah, bahkan mereka memiliki tiga orang anak. Dan menariknya, Mayya tetap merawat cintanya kepada Ali; ia ingin dilahirkan di rumah sakit Kristen dan menamakan putri sulungnya dengan nama London karena dengan cara itulah ia merasa dekat dengan lelaki dambaannya yang belajar di negara Barat sana. Ia juga menjadi tertarik untuk belajar bahasa Inggris.

Namun diam-diam, Mayya membunuh seluruh keceriaan dalam dirinya; ia tak merasakan perasaan apa-apa ketika menjadi seorang ibu, ia berhenti menjahit yang merupakan hobinya, ia menjadi pendiam dan memilih banyak tidur. Baginya, tidur adalah kehidupan karena ia tak perlu berurusan dengan orang-orang hidup di sekelilingnya. Tak ada kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga mereka, namun mereka berdua tetap menjalaninya seakan semuanya baik-baik saja.

Saya ikut merasakan tekanan yang dialami oleh Mayya. Saya merasa kesal dan iba dalam waktu bersamaan. Entah kepada siapa, mungkin pada Mayya, mungkin pada Abdullah, mungkin pada Jokha. Saya tak bisa memastikan. Yang jelas, butuh keberanian besar untuk melakukan pemberontakan dalam diam semacam itu. Yang jelas, saya tertarik membaca Sayyidât al-Qamar setelah saya tahu bahwa novel tersebut berhasil memenangkan International Man Booker Prize 2019 setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Marilyn Booth dengan judul Celestial Bodies, dan menjadi novel Arab pertama yang mendapatkan penghargaan bergengsi itu.

Novel ini dibangun dengan banyak tokoh yang saling berpaut satu sama lain. Walaupun kisah ini menjadikan Abdullah sebagai salah satu narator inti, namun secara keseluruhan, kisah ini bercerita tentang sekelumit pergolakan batin perempuan. Eka mengistilahkannya dengan ensiklopedi berbagai karakter perempuan. Tidak hanya tokoh yang saling berpaut, Jokha menjadikan batasan antara yang baik dan buruk terlihat kabur. Kita jadi kesulitan untuk mengategorikan tokoh protagonis dan antagonis. Keduanya bercampur sebagai dua sisi yang ada dalam diri manusia; tak ada manusia yang murni protagonis sebagaimana tak ada manusia yang murni antagonis. Manusia bukan malaikat, sebagaimana manusia bukan iblis.

Novel bukanlah ruang pengadilan untuk menghakimi siapa yang salah dan siapa yang benar. Saya lupa dari mana saya mendapatkan kata-kata itu. Mungkin dari buku, mungkin dari dosen, mungkin dari keduanya. Yang jelas, saya meyakini kata-kata itu dan saya menjadikannya sebagai salah satu prinsip dalam menilai karya novel. Dan tampaknya, Jokha al-Harthi juga meyakini prinsip tersebut.

Sayyidat al-Qamar tidak menyediakan ruang penghakiman untuk para pembacanya. Tokoh-tokoh dalam cerita tersebut membuat kita merenungkan ulang, bukan hanya tentang perempuan, tapi tentang manusia dengan segala jenis kelaminnya; bahwa manusia tak mampu mengendalikan perasaannya; bahwa masa lalu selalu datang membayang dan mengendap dalam alam bawah sadarnya, dan bahwa mimpi-mimpi tak selalu dapat diwujudkannya.

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan