Posisi Qiyâs dalam Percaturan Ijtihad

Bagikan konten:

Setelah saya menganalisis sebuah teori—dalam hal ini qiyâs—yang mampu bertahan ratusan hingga ribuan tahun, sejenak teori ini membuat saya bertanya ulang: kira-kira di manakah posisi qiyâs dalam percaturan ijtihad? Secara spontan kita akan mengatakan posisinya setelah ijmak. Barangkali kita memang telah mengamininya.

Sampai di titik ini, di titik bahwa qiyâs berposisi jatuh setelah ijmak, saya mulai berapriori bahwa ia memiliki posisi penting yang tak bisa diabaikan. Ia berfungsi sebagai fondasi penggalian hukum melalui argumentasi pendapat (ra’y), sekaligus akar (manâth) ijtihad. Berangkat dari fungsi yang kedua ini, saya tidak jadi mengamini jawaban di atas. Kemudian saya mempertanyakan lagi posisi qiyâs dalam ijtihad. Pertanyaan ini lebih spesifik dari yang sebelumnya: apakah ijtihad secara otomatis menunjuk pada qiyâs, yang keduanya berarti sama dan berbanding lurus? Atau apakah posisi qiyâs berada di bawah naungan ijtihad?

Pertanyaan-pertanyaan di atas membuat saya melihat ulang apa yang ada di al-Risalah, sebagai master piece usul fikih teoritis-metodologis. Imam al-Syafii (w. 204 H), empu al-Risalah menuturkan:

“Apa arti qiyâs? Apakah ia berarti ijtihad? Atau keduanya berbeda? Lebih lanjut, Imam al-Syafii menjawab, keduanya bermakna sama. Setiap persoalan jika solusinya terdapat di dalam teks al-Quran dan Sunah, maka tinggal mengaplikasikannya. Namun jika tidak tercantum di sana, maka dengan cara ijtihad. Dan ijtihad itu (berupa) qiyâs.”

Dari pernyataan di atas, sudah tampak jelas bahwa Imam Syafii menyamakan qiyâs dengan ijtihad. Barangkali ini berdasar pada jawaban Sahabat Muadz bin Jabal ketika hendak diutus oleh Nabi Muhammad menjadi hakim di Yaman, “saya akan berijtihad dengan pendapat saya (menggunakan qiyâs)”. Akan tetapi, kita tentu tidak akan merasa puas dengan jawaban ini. Ada pertanyaan lanjutan jika hanya merasa cukup dengan jawaban tersebut: apabila ijtihad hanya berarti qiyâs, lantas bagaimana dengan model ijtihad yang lain semisal mashâlih mursalah dan istihsân? Belum sempat terjawab, ada konklusi lain sebagai antitesis dari corak jawaban Imam al-Syafii di atas. Salah satunya (atau barangkali menjadi satu-satunya) tertuang dalam karya Imam al-Ghazali (w. 505 H), al-Mustashfâ.

Qiyâs dan ijtihad dalam perspektif Imam al-Ghazali menemukan corak baru. Ijtihad tidak lagi tertuju secara otomatis pada qiyâs. Imam al-Ghazali memposisikan qiyâs di bawah ijtihad. Ibarat ijtihad adalah sebuah bangunan, maka qiyâs, (begitu pula mashâlih mursalah, istihsân, istishhâb, dan serangkaian model ijtihad yang senada dengan qiyâs) berada di bawah naungannya. Namun lagi-lagi, konklusi ini menyisakan pertanyaan: jika demikian, bukankah hal ini mencipta hierarki ijtihad?

Sebelum melangkah lebih jauh, menelisik ulang definisi ijtihad barangkali merupakan pilihan yang tepat. Secara definitif, ijtihad berarti mengerahkan upaya dalam rangka penggalian hukum. Di tangan Imam al-Syafii—sang kodifikator usul fikih pertama, ijtihad bergerak dalam ranah hukum yang tidak tercantum dalam teks al-Quran dan hadis. Kemudian di generasi setelahnya, sejak munculnya Tharîqah al-Mutakallimîn (awal abad kelima Hijriah), ruang lingkup ijtihad berubah. Ia tidak lagi bertugas saat hukum tidak ditemukan dalam teks wahyu, ia bergerak sebelum itu, yaitu ketika memahami al-Quran dan hadis. Dengan artian, di abad ini, ijtihad mengejawantah sebagai upaya memahami teks. Tentu saja kemudian berupaya dalam penggalian hukum.

Dari sini, kita bisa memetakan secara sederhana bagaimana dinamika qiyâs dan ijtihad di dalam al-Risalah dan al-Mustashfâ. Sebagaimana yang saya sebut di atas, bahwa ijtihad di masa Imam al-Syafii, itu digunakan ketika solusi hukum tidak ada dalam al-Quran dan hadis. Artinya, eksistensi ijtihad itu berlaku setelah al-Quran, kemudian hadis dan ijmak (konsensus)—sebagai tiga hierarki ijtihad dalam mazhab Syafii. Tak heran jika Imam al-Syafii meletakkan qiyâs sejajar dengan ijtihad. Karena pada saat itu, kebutuhan untuk menggunakan qiyâs selaras dengan kebutuhan ijtihad. Keduanya sama dan berbanding lurus. Lalu bagaimana dengan nasib model ijtihad yang lain?

Secara historis, dalam metodologi penggalian hukum, Imam Syafii hanya mencantumkan empat hierarki metodologi (al-Quran, hadis, ijmak dan qiyâs), tapi dalam praktiknya, ia juga menggunakan mashâlih mursalah dan istishhâb, tidak dengan istihsân. Karena yang menjadi perhatian Imam al-Syafii kala itu adalah menata ulang dalâlah al-alfâdz ke dalam sebuah konsep. Situasi yang semacam ini menuntunnya untuk mengedepankan tekstualitas. Sehingga istihsân barangkali belum menjadi sesuatu yang tepat untuk diperbincangkan. Akan tetapi, pandangan Imam al-Syafii ini sama sekali tidak mengindikasikan bahwa beliau adalah seorang yang statis-tekstualis.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, diskursus usul fikih memunculkan wajah-wajah baru. Para intelektual ilmu kalam memasukkan konsep teologi ke dalam usul fikih. Yang salah satunya adalah Imam al-Ghazali dengan al-Mustashfâ-nya. Di titik ini, ijtihad mengalami pergeseran makna. Dari yang semula eksis ketika solusi hukum tidak ada dalam teks wahyu, saat ini eksis melalui upaya memahami teks wahyu. Banyak faktor yang melatarbelakangi hal ini, yang paling bisa mewakili adalah nalar kebahasaan yang kian memudar. Dari faktor ini kemudian Imam al-Ghazali memetakan qiyâs di bawah naungan ijtihad. Yang berarti, ijtihad (sebagai upaya memahami teks wahyu) merupakan langkah awal dari teori qiyâs. Qiyâs tidak mungkin ada tanpa pemahaman terhadap teks wahyu. Begitu juga, ia menjadi upaya lanjutan dalam penggalian hukum. Lantas, bagaimana dengan kemunculan hierarki ijtihad?

Dari sekian banyak mujtahid yang muncul di awal abad ketiga Hijriah, hanya tersisa empat imam mujtahid yang bertahan dalam seleksi alam, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam al-Syafii dan Imam Ahmad. Kesuksesan empat imam ini, tidak lepas dari peran murid-muridnya. Selain meriwayatkan pendapat para guru mereka, para murid juga menyebarkan metodologi ijtihad. Tiap imam memiliki metodologi dan pendekatan ijtihad masing-masing. Metodologi ini sekaligus mengilustrasikan hierarki ijtihad. Mazhab Hanafi cenderung menggunakan istihsân, mazhab Maliki dengan amal ahl al-madînah, dan mazhab Syafii melalui qiyâs.

Dan di penghujung tulisan ini, saya akan mempertanyakan kembali dua pertanyaan di atas: apakah ijtihad secara otomatis menunjuk pada qiyâs, yang keduanya berarti sama dan berbanding lurus? Atau posisi qiyâs berada di bawah naungan ijtihad?

Saya rasa jawabannya sudah jelas.

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan