Persalinan Modern Menentang Kehendak Ilahi (?)

Bagikan konten:

Apakah perkembangan dunia persalinan modern bertentangan dengan kehendak Tuhan karena telah mengurangi rasa sakit alamiah wanita? Apakah kedokteran benar-benar mengurangi rasa sakit alamiah tersebut ataukah ia hanya menutupi rasa sakit dengan rasa sakit lain? Apakah persalinan modern mengurangi pahala perempuan melahirkan? Adakah pengaruh mistis ketika wanita melahirkan dengan persalinan modern seperti sesar misalnya?

Saya percaya bahwa ilmu kedokteran modern mampu mengurangi angka kematian bayi dan ibu melahirkan. Ini tidak bisa dibantah dan dipungkiri. Ini fakta dan fakta tidak bisa diabaikan hanya dengan mengatasnamakan kodrat wanita (termasuk balasan surga) atau kehendak Ilahi yang disalahartikan.

Ada sebuah kisah menarik mengenai dunia persalinan, kisahnya berasal dari Mesir, kisah seorang dokter yang kelak namanya diabadikan sebagai nama museum di Rumah Sakit Kasr Aini, seorang dokter yang dikenal sebagai bapak dokter kandungan dan persalinan Mesir.

Tahun 1903 adalah tahun yang mengubah cerita hidup dr. Naguib Mahfudz. Pada tahun tersebut, dia menyaksikan kejadian yang tidak akan bisa ia lupakan di Alexandria. Saat itu ia diajak dr. Syukri Bik (wakil kepala Rumah Sakit Pemerintah) untuk membantunya menangani pasien yang akan melewati proses persalinan. Naguib Basya Mahfudz, yang baru menyelesaikan studi kedokteran di tahun itu, tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia belum pernah melihat proses persalinan alamiah sebelumnya. Ia tidak mengira bahwa persalinan pertama yang dilihatnya ini akan mengubah jalan hidupnya untuk menekuni salah satu disiplin ilmu kedokteran yang berkaitan dengan wanita. Waktu itu, ada seorang pasien yang hendak melahirkan, dari kondisinya nampak jelas bahwa proses kelahiran tersebut akan sulit. Namun, sang pasien menampakkan kegembiraan di wajahnya ketika melihat dr. Syukri Bik.

“Saya tidak mengkhawatirkan apapun selama kamu yang menangani,” kata wanita yang hendak melahirkan tersebut.

Proses persalinan dimulai. Dua jam telah berlalu dan usaha mengeluarkan janin gagal. Lalu diputuskan untuk mengeluarkan kakinya terlebih dahulu, Syukri meminta Naguib untuk mengeluarkan kaki bayi, namun dia menolak karena tidak berpengalaman sama sekali. Lalu Syukri dan pembantunya berusaha mengeluarkan kaki bayi. Kaki mungil itu pun ditarik ke luar, usaha untuk mengeluarkan kaki ini butuh satu jam hingga bisa menarik keluar tubuh janin itu, akhirnya janin bisa dikeluarkan sampai leher, sementara kepalanya masih berada dalam rahim.

Pada waktu itu tidak ada satu pun dokter spesialis kandungan dan persalinan di kota Alexandria. Dan Naguib sama sekali tidak akrab dengan proses persalinan, keberadaannya di ruangan tersebut tidak membantu sama sekali.

Keesokan harinya, kabar wanita itu sampai ke telinga Naguib. Dia meninggal dunia dengan kepala bayi masih berada dalam rahimnya. Andai operasi sesar sudah dikenal kala itu, tentu kemungkinan ibu dan jabang bayi tersebut minggal sangat kecil.

Kabar duka ini membuat Naguib tidak memasukkan makanan sama sekali ke mulutnya, ia tidak bisa memejamkan mata semalam suntuk. Janin yang tertinggal dalam rahim wanita itu masih nampak jelas di matanya.

Setelah itu, 15 tahun Naguib menekuni persalinan dan kandungan, ia tekun dan bekerja keras di Rumah Sakit Kasr Aini, ia tidak ingin ada wanita meninggal dunia karena melahirkan, ia tidak ingin ada yang mengalami proses persalinan seperti wanita itu. Kerja keras Naguib membuahkan hasil, meski awal mulanya banyak aral melintang yang harus dia lompati. Ia kini dianggap sebagai bapak dokter kandungan dan persalinan Mesir. Meski begitu, sepertinya dia masih bersedih bila melihat angka kematian ibu melahirkan masih tinggi.

Selang seratus tahun dari usaha Naguib menekuni kandungan dan persalinan. Negara berkembang belum juga bisa mengentaskan atau meminimalisir jumlah kematian karena melahirkan. Memang tidak sebanyak jumlah seratus tahun yang lalu, tapi bila dibandingkan dengan negara-negara maju. Negara berkembang masih sangat jauh tertinggal. Pada 2005, sebanyak 536.000 perempuan meninggal dunia akibat masalah persalinan, lebih rendah dari jumlah kematian ibu tahun 1990 yang sebanyak 576.000. Menurut data WHO, sebanyak 99 persen kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran terjadi di negara-negara berkembang. Dan berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi, sebesar 356 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ini sebenarnya telah mengalami penurunan pada tahun 2007 yaitu sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa bisa meningkat kembali? Apakah ada hubungannya dengan kampanye persalinan alami atau lebih tepatnya menolak persalinan sesar?

Jumlah kematian karena melahirkan di Indonesia masih sangat besar, target untuk mengurangi dan menurunkan angka kematian semakin berat. Apalagi akhir-akhir ini banyak kampanye untuk menolak persalinan modern. Entah kampanye itu karena kebodohan atau karena memang kepercayaan telah mengalahkan apa saja. Saya kurang tahu. Usaha untuk membenturkan ilmu pengetahuan dengan agama atau adat kepercayaan kembali menyeruak ke permukaan. Sentimen keaslian atau kemurnian kerap dikemukakan untuk menolak yang lain, yang bukan dari “kita”, yang tidak mewakili tradisi nenek moyang.

Usaha-usaha seperti ini seolah mengabaikan keselamatan wanita dan janin. Ketakutan akan mati atau perjuangan mereka menahan rasa sakit saat melahirkan dipaksa agar ditutupi dengan pemahaman tawakal yang keliru. Tradisi telah memaksa mereka untuk menutup diri terhadap ilmu pengetahuan. telah membiarkan mereka percaya kepada segala yang mistis. Ilmu kandungan di negara berkembang tidak mendapatkan perhatian dan tidak disosialisasikan dengan benar, berapa banyak wanita yang meninggal dunia karena ketidaktahuan bahwa janin yang masih berada dalam rahim untuk sekian hari di bulan ke sembilan adalah tanda-tanda bahaya atau Rumah Sakit atau bidan yang membantu persalinannya tidak mampu mengeluarkan janinnya?

Berapa banyak wanita yang harus meninggal hanya karena pengetahuan tentang kandungan yang buruk atau hanya bergantung pada pengetahuan dari mulut ke mulut, dari pengalaman si anu dan si itu. Sedangkan lembaga kesehatan Pemerintah tidak berbuat apa-apa, sementara masih banyak orang-orang yang anti kedokteran modern dan tidak percaya kepada apa yang dikatakan para dokter.

Ya, itupun kalau kita mengabaikan keberadaan dokter yang tidak bisa dipercaya!

Lalu, apa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di awal artikel ini? Saya tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, karena jawaban dari pertanyaan di atas bisa dilihat dari beberapa perspektif dan bisa juga dijawab dengan kaidah-kaidah dasar fikih. Kalau pun harus menjawab, saya akan mengatakan:

“Pertanyaan-pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban sama sekali.”

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan