Orang-orang India dan Keriuhan Kecil yang Menyenangkan

Bagikan konten:

Barangkali yang paling saya tahu tentang India adalah Bollywood-nya. Selain, itu, saya tahu tentang Shahrukh Khan, Jhumpa Lahiri dan Rabindranath Tagore. Sebatas itu saja, tidak lebih. Hingga saya bertemu dengan kisah orang-orang India di masa dinasti Islam.

Saya akan bercerita tentang satu kisah di masa dinasti Abasiyah. Ketika itu Jafar bin Yahya al-Barmaki menyampaikan kepada Harun Al-Rasyid bahwa paman sang Khalifah, Ibrahim bin Shalih, sedang sakit. Jafar mengabarkan kalau keadaannya sudah diperiksa oleh Jibril bin Bakhtioua. Ia mengatakan kepada khalifah bahwa pamannya tidak punya harapan untuk sembuh dan akan mati sore nanti.

“Wahai Amirul Mukminin”, Jafar membuka suara, “Jibril adalah seorang tabib Romawi. Ada juga Shalih bin Bahla al-Hindi yang ahli dalam ilmu pengobatan khas India. Seperti halnya Jibril, selain ahli pengobatan, Shalih ahli dalam soal tulisan-tulisan khas orang-orang Romawi.” Seketika Khalifah memerintahkan untuk mendatangkan Shalih bin Bahla dan membawanya ke Ibrahim bin Shalih. Khalifah juga meminta Shalih untuk memberikan keterangan yang jelas mengenai kondisi pamannya.

Sholih bin Bahla al-Hindi pun segera melaksanakannya. Ia memeriksa paman Khalifah, kemudian memberikan keterangan tentang keadaan Ibrahim bin Sholih.

Ibrahim bin Sholih sembuh, ia tidak mati karena sakit yang dideritanya. Kenyataan itu jelas membantah prediksi Jibril sebelumnya. Kenyataan itu juga menjelaskan bahwa pemahaman medis Shalih bin Bahla lebih dalam daripada Jibril bin Bakhtioua.

Kisah-kisah semacam itu saya pikir patut dan menarik untuk dibaca lagi. Bisa jadi untuk perbandingan dalam pembacaan sejarah. Atau malah bertemu dengan catatan lain yang mungkin saja belum tersurat.

Misalnya, setelah membaca itu, saya menangkap dua gambaran besar. Pertama, tentang orang-orang yang ditaklukkan, dalam kisah itu orang-orang India, akan tetap berusaha memperlihatkan identitasnya, betapa pun mereka berupaya untuk disingkirkan. Gambaran lain ialah tentang keniscayaan pertukaran budaya -baik yang dianggap penting ataupun remeh- dan menegasikan adanya kemurnian budaya.

Dalam kisah itu, sebagai golongan yang telah ditaklukkan, orang-orang India akan memulai ulang kehidupan sosialnya. Dari yang semula hanya dengan sesama, lalu mereka hidup bersandingan dengan orang-orang dari dinasti Islam saat itu, sekelompok orang asing yang datang dan menguasai wilayah dan kehidupan mereka. Ketika itu, sesuatu yang telah ada sebelumnya kemudian runtuh, atau minimal terkikis secara lambat laun, dan digantikan dengan hal-hal yang baru. Karena sebagai yang lemah, mereka mengikuti jalan hidup dinasti Islam yang berkuasa saat itu. Jika menggunakan istilah Hegel, barangkali bisa saya mengatakan roh objektif orang-orang India saat itu runtuh. Lalu muncul atau terbentuk roh objektif yang lain dalam diri mereka.

Kebanyakan hasrat mereka hanya bertabrakan dengan kehadiran sesuatu yang baru dan malah sulit untuk terpenuhi. Misalnya, mereka akan terbentur pada hukum yang baru dan mungkin lahir kesusilaan yang juga baru, muncul suatu kebajikan yang baru.

Perkembangan dan kebajikan seperti itu yang saya tangkap dalam pembacaan terhadap kisah di atas. Dari orang-orang yang diremehkan, orang-orang India merekah menjadi orang-orang yang diperhitungkan dan dibutuhkan. Untuk mengetahui itu, saya akan menilik kisah yang tersaji di awal dengan lebih dekat.

Pertama, mari melihat sosok Jafar bin Yahya al-Barmaki. Ia seorang wazir di Persia pada masa Abbasiyah yang dipimpin Harun Al-Rasyid. Jafar bin Yahya bagian dari keluarga Barmakid, sebuah keluarga mantan pemimpin Budha di daerah Vihara Nava (sekarang Afghanistan) wilayah orang-orang India yang menyerah pada kekuatan besar Islam saat itu. Meski begitu, Jafar berkembang menjadi sosok yang mewakili orang-orang India dan menunjukkan kapasitasnya hingga bisa diangkat sebagai wazir. Bahkan, ia menjadi wazir di Persia, bukan hanya di daerah asalnya.

Dalam kisah, Jafar tidak berhenti di titik itu. Ia pun berusaha mengangkat golongannya. Shalih bin Bahla al-Tlindi berasal dari budaya dan wilayah yang sama dengan Jafar, India. Sebagai seorang tabib ia disarankan untuk mengobati penyakit yang diderita paman sang Khalifah.

Status Shalih sebagai tabib itu menampakkan contoh budaya pengobatan India yang masyhur, bahkan  wilayah yang berbeda, semisal dunia Arab dan kalangan Romawi. Tentang istimewanya pengobatan India, sebenarnya sudah terkenal dari masa-masa sebelumnya. “India telah terkenal dengan matematika, astronomi, dan rahasia-rahasia pengobatan,” tulis Jahid dalam Rasâil-nya. Sebagaimana Al-Ashfahani dalam Muhâdarât al-Udabâ` juga mengatakan hal yag sama.

Dari suratan kisah itu, saya melihat bahwa, kaum Muslim di masa itu menerima hidup dengam hati riang dan yakin. Mereka tak gentar untuk bertukar pengetahuan dengan bangsa-bangsa lain semisal India, lalu menyalin karya-karyanya. Dari semua itu, mereka menciptakan banyak hal, menemukan banyak segi dan menyingkap hal-hal yang sebelumnya masih terhijabi oleh kesukuan dan kefanatikan. Mereka seakan tengah menjalankan mandat yang diberikan Tuhan menjadi khalifah di atas bumi.

Melalui kisah itu pula, saya menemukan sebentuk hubungan dua arah yang saling mempengaruhi melalui kepastian akan adanya pertukaran budaya di antara keduanya. Kaum Islam-Arab menaklukkan India dan membuat sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam. Sedangkan India dengan ilmu dan pengetahuan, memasukkan budayanya di antara hidup umat Islam. Hingga dalam bidang pengobatan, muncul Abi Jafar Al-Manshur, kemudian seorang muslim india yang ahli dalam bidang astronomi Ibnu Al-A’rabi, ditambah lagi seorang ahli bahasa dan ahli hadis, Abu Ma’syar Al-Sindi.

Meskipun begitu, orang-orang India tak luput memberikan pengaruh terhadap sesuatu yang dianggap menyimpang. Misalnya tentang ajaran reinkarnasi. Ajaran itu masuk kepada beberapa orang yang kemudian membuat kelompoknya masing-masing hingga berujung pada usaha pemberontakan terhadap pemerintahan Islam-Arab saat itu.

Sampai di sini, saya mendapati satu bentuk lain tentang pola relasi yang berbeda antara umat masa lalu dan hari ini. Dulu, jalan memahami antara umat Islam dan non Islam adalah saling mengagumi satu dengan yang lain, India dan Islam-Arab misalnya. Akan tetapi, sekarang, yang seringkali terjadi dalam tubuh umat Islam adalah sebuah proses yang akibatnya didominasi oleh rasa benci dan curiga , yang pada akhirnya melahirkan fenomena takfir– mengafirkan.

Saya selalu menyukai kisah sampingan seperti di atas. Saya menyukai keriuhan kecil yang muncul di dalamnya serta berbagai karakter yang terlibat di dalamnya. Mereka begitu menyenangkan.

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan