Nilai Keislaman dalam Tubuh Feminisme

Bagikan konten:

Telaah kesetaraan gender yang di dalamnya banyak membahas isu perempuan memang sedang anget diperbincangkan. Penyebabnya tidak lain karena maraknya kasus kekerasan dan diskriminasi yang terjadi pada perempuan. Perlindungan terhadap hak-hak perempuan menjadi permasalahan yang sangat serius.

Sedangkan upaya dalam menuntut hak kaum wanita yang tertuang dalam ide feminisme sering kali disalahpahami sebagai upaya menjauhkan wanita dari kodrat dan esensinya di mata Tuhan. Alih-alih mendukung, kelompok ini justru seringkali menyerang dan tak segan untuk menyebutnya sesat.

Padahal dalam perkembangannya, feminisme sangat menjunjung tinggi keadilan perempuan di ruang privat maupun publik. Mari melihat kembali gerakan feminisme awal di mulai dari Inggris (abad ke-16 sampai awal abad ke-18), yang terinisiasi demi melawan pandangan patriarkis mengenai posisi subordinat perempuan. Pendangan ini beranggapan bahwa perempuan merupakan makhluk yang lebih lemah, lebih emosional dan tidak rasional. Pergerakan ini terejawantah dalam bentuk upaya peninjauan ulang dan merevisi esensi subordinasi perempuan dalam ajaran gereja serta menentang buku panduan bersikap yang cenderung mengekang dan membatasi perempuan.

Pada era selanjutnya, feminisme diwarnai dengan perjuangan hak pendidikan pada perempuan dan hak legal perempuan dalam pernikahan dan perceraian. Maraknya perempuan yang mulai mendapat pendidikan dan mulai bekerja, mereka mulai menggaungkan perluasan kesempatan bekerja sebagai hak untuk mendapatkan lapangan pekerjaan. Selain itu, peningkatan intelektualitas perempuan juga menghasilkan tututan akan hak bersuara di ruang publik dan hak memilih. Pada akhirnya tuntutan tersebut tercapai pada tahun 1918.

Kemudian, di masa terjadinya penindasan terhadap tubuh wanita sebagai objek, feminisme mengusung perjuangan hak-hak berkaitan dengan fisiologis perempuan yang berbeda dari laki-laki serta penghapusan diskriminasi berdasarkan gender.

Perlu dipahami bahwasannya feminisme memang berakar pada isu yang bermacam-macam sehingga memiliki tujuan dan perkembangan yang majemuk. Perubahan tujuan-tujuan feminisme merupakan bukti bahwa feminisme dapat beradaptasi dengan kebutuhan perempuan sesuai tututan zaman yang dihadapi.

Ide-ide di atas merupakan ide yang selaras dengan ajaran agama Islam. Agama Islam memerintahkan untuk membela yang lemah, hal ini terwujud dalam ide besar feminisme yang bertujuan untuk mengangkat martabat dan kehormatan perempuan. Tujuan tersebut terejawantah dalam gerakan-gerakan yang sudah saya sebutkan di atas.

Al-Quran sebagai landasan berpikir dan bertindak dalam agama Islam menyebutkan eksistensi perempuan. Perempuan diberi porsi hak, kewajiban, serta hukum yang sama dengan laki-laki. Selain itu, al-Quran juga menjelaskan kesetaraan laki-laki dan perempuan di mata Tuhan.

Coba kita tilik dari konsep kebutuhan primer dalam maqâsid syarîah, dapat dikatakan bahwa ide-ide yang terkandung dalam feminisme merupakan manifestasi maqâsid syarîah itu sendiri. Karena dalam konsep tersebut mengandung pola penjagaan akal (­hifdz al-‘aql) yang terwujud dalan gerakan penuntutan pendidikan perempuan. Tututan akan penghapusan diskriminasi gender juga selaras dengan konsep penjagaan jiwa (hifdz al-nafs). Dalam konsep penjagaan keturunan (hifdz al-nasl) juga terwujud dalam tuntutan hak perempuan dalam pernikahan. Hak akan lapangan pekerjaan juga bisa menjadi manifestasi terhadap konsep penjagaan harta (hifdz al-mâl). Pada akhirnya dengan terealisasinya upaya-upaya tersebut akan manjadikan perempuan merasa lebih aman dalam menjalani kehidupan individu dan sosial. Sehingga ia dapat menjalankan tuntutan agamanya sebagai bentuk kesadaran akan kehidupan akhirat (hifdz al-dîn).

Islam juga memberikan ruang gerak wanita dalam berpartisipasi di ruang publik. Perempuan diberi kebebasan untuk berkecimpung dalam bidang yang diminati. Maklum adanya bahwa istri Nabi saw., Aisyah r.a merupakan seorang perawi hadis yang terkenal. Ia mendapatkan ruang publik dalam bidang pendidikan. Begitu pula dalam bidang ekonomi, misalnya, perempuan juga mendapatkan kebebasan untuk menjalankan serta mengatur perdagangan di ruang publik. Hal inilah yang dilakukan oleh Khadijah r.a pada masanya demi kelanjutan perekonomian masyarakat Arab.

Adanya penolakan terhadap feminisme bisa jadi dikarenakan pembacaan dangkal terhadap nas-nas agama yang berkaitan dengan perempuan. Bahkan, diskriminasi perempuan sering kali terbentuk oleh tafsir agama yang cenderung maskulin. Seperti penegasan hadis-hadis Nabi terkait ancaman dosa dan laknat terhadap perempuan yang membuat suaminya murka, misalnya ketika si perempuan menolak untuk diajak ‘bercinta’ kemudian sang suami kesal.

Kalis Mardiasih, seorang pegiat kesetaraan gender dalam bukunya Muslimah yang Diperdebatkan, berpesan agar meneladan Aisyah r.a mestinya dibarengi dengan perenungan bahwa Aisyah adalah seorang yang sangat peka terhadap situasi sosiologis masyarakat Arab dan keadilan nasib perempuan yang kerap kali ia adukan kepada Nabi Muhammad saw.. Begitu pula dalam meneladan Khadijah r.a, mestinya dibarengi dengan perenungan lebih mendalam bahwa Khadijah adalah perempuan yang paling melek terhadap keadaan sosialnya dan menjadi simpul sosial dalam persoalan ekonomi masyarakatnya.

Gerakan-gerakan feminisme sebagai upaya perwujudan lingkungan yang layak ditinggali perempuan menjadi bentuk pengamalan akan nilai-nilai keislaman. Feminisme berupaya untuk memposisikan perempuan sebagai manusia, bukan lainnya. Karena feminisme dalam pergerakannya menyimpan napas keadilan, sejalan dengan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Islam.

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan