Mimpi-Mimpi Franz dalam The Tobacconist

Bagikan konten:

Sigmund Freud hidup sebagai tokoh fiksi dalam novel Der Trafikant yang terbit pada tahun 2016.  Robert Seethaler, sang pengarang, menjadikan bapak Psikoanalisis tersebut sebagai guru asmara untuk tokoh utama, seorang yang sedang menapaki masa remaja bernama Franz Huchel.

Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, novel berbahasa Jerman tersebut langsung diangkat ke layar lebar dengan judul The Tobacconist. Latar cerita diambil sekitar Perang Dunia II tatkala Austria mulai diduduki Nazi Jerman.

Cerita di mulai dari sebuah desa bernama Attersee, kota dengan danau yang diapit dua bukit. Di pinggir danau itu terdapat rumah kayu yang ditinggali Franz dan ibunya. Tatkala kekasih dari sang ibu tewas, Franz diminta untuk merantau ke ibu kota. Di Wina, Franz hidup dan bekerja dengan mantan kekasih ibunya yang lain, seorang penjual tembakau bernama Otto Trsnyek, pria dengan satu kaki. Di toko milik Otto-lah, Sigmund Freud menjadi pelanggan spesial, hanya padanya Otto menjual cerutu Havana yang dianggap cerutu dengan kualitas terbaik.

The Tobacconist cukup banyak diisi oleh mimpi-mimpi Franz yang menggambarkan gelora remajanya, juga keingintahuan terhadap dunia baru yang sedang ia tapaki. Franz adalah seorang yang berimajinasi tinggi namun sering memilih diam dan enggan mengambil resiko, seperti ketika ia membayangkan mencium Anezka, gadis yang ia taksir, atau ketika ia mengkhayalkan dirinya berkonfrontasi dengan tentara Nazi di tempat Otto ditahan, atau ketika ia mengharapkan keberaniannya muncul untuk memukul lelaki yang mengencani Anezka. Pada kesempatan-kesempatan itu, adegan heroik yang ia inginkan hanya berlangsung dalam kepalanya.

Sebagaimana Freud mengemukakan bahwa mimpi bisa berupa pelampiasan dari keinginan yang tak terungkap, begitulah yang terjadi pada Franz. Awalnya ia menolak berpisah dengan ibunya, namun satu tamparan dari sang ibu membuat Franz tak memiliki pilihan lain. Namun, selama di Wina mimpi-mimpi Franz hampir selalu berlatar danau yang terletak di depan rumahnya.

Seperti ketika Franz diam-diam mengambil majalah dewasa dari laci Otto suatu malam, setelahnya ia bermimpi jatuh ke danau rumahnya dalam keadaan telanjang dan akhirnya terseret dalam pusaran. Selama mimpi itu berlangsung terdengar juga suara ibunya memanggil diiringi suaru deru kereta.

Dalam bukunya Interpretation of Dream, Freud mengatakan bahwa mimpi mengambil bahan dari kesan yang dialami tak lama sebelumnya. Terkadang mimpi itu dimanipulasi hingga akhirnya makna yang terkandung harus ditafsirkan ulang. Dalam kasus Franz, ketika siang hari sebelum malamnya ia bermimpi, ia mengetahui bahwa diam-diam Otto menjual majalah dewasa kepada kalangan tertentu. Jiwa muda Franz menggebu ketika pertama kali melihat gambar-gambar tersebut.

Kesan itulah yang akhirnya tergambar dalam mimpi Franz, ia telanjang dan terseret arus. Namun kerinduan akan rumah atau akan ibunya mengambil porsi lain dalam mimpi tersebut. Bisa saja teori oedipuss complex milik Freud cocok dengan kejadian tersebut. Teori tersebut mengatakan bahwa seorang anak laki-laki selalu memiliki kesan sexual terhadap ibunya, bahkan ketika masa paling anak-anak (ketika menyusui atau ketika seorang anak buang air sembarang, Freud menganggap itu sebagai cara si anak mencari perhatian). Dalam hal ini, Anezka, gadis Bohemian yang disukai Franz adalah gadis yang dianggapnya mirip sang ibu.

Mimpi, menurut Freud terbagi menjadi dua bagian, manifest content dan latent content. Isi manifest dari mimpi adalah gambar-gambar yang terlihat jelas dalam mimpi, misal mimpi bertemu seseorang dan mimpi melihat sesuatu. Hal-hal yang gamblang dan biasa kita temui di kehidupan sadar adalah mimpi manifest. Sementara mimpi laten adalah keinginan dan pikiran tersembunyi yang tidak disadar, dan untuk menemukannya dibutuhkan penafsiran lebih lanjut. Misalnya mimpi bertemu seorang kawan lama bisa diartikan bahwa beberapa waktu sebelumnya si pemimpi diingatkan tentang memori lama yang begitu berkesan yang terjalin antara si pemimpi dan si kawan lama, meskipun si pemimpi tidak menyadarinya. Mimpi laten tersebut berisi konflik psikologi yang menjadi sebab munculnya mimpi tersebut.

Dalam The Tobacconist, ketika Franz gagal menanyakan nama dan alamat Anezka, ia memilih untuk meminum bir hingga mabuk, lalu mengacaukan teater boneka yang disediakan untuk anak-anak. Malamnya ia bermimpi berada di rumahnya di pinggir danau dan menyaksikan teater boneka berlangsung dari jendela rumahnya. Namun salah satu boneka membentuk rupa Anezka yang tertawa jahat, ia mencium lelaki yang lebih tua sambil berkata, ‘it’s nice compliment’. Franz merasakan kecemburuan dalam mimpinya, hingga muncul boneka hantu yang memakannya.

Dari sini, Freud menjelaskan bahwa kesan kuat dalam mimpi masih bisa diingat ketika kita terbangun, seperti Franz yang masih merasa gelisah hingga menemui tokoh Freud di kediamannya. Tokoh Freud mengerti, ketakutanlah yang menjadi kesan utama mimpi menyeramkan yang dialami Franz. Lalu Freud memberi satu pesan:

You know, women are like a cigars. If you pull at them to hard, they won’t give you any pleasure.

Pesan asmara itu akhirnya menenangkan Franz dan memberinya keberanian untuk mencari tempat tinggal si gadis Bohemia. Tak lama berselang, Franz mendapatkan alamat tempat Anezka bekerja. Ternyata ia bekerja sebagai penari telanjang di sebuah cafe.

Ketika Franz mendapati Anezka berjalan berangkulan dengan seorang pria, ia membayangkan dirinya berlari dan memukul si pria. Namun adegan itu hanya ada dalam kepalanya. Malamnya ia kembali bermimpi berada di danau dekat rumahnya dan mendapati Anezka tenggelam. Franz berusaha meraihnya meski akhirnya gagal.

Masa-masa tenang berakhir dengan kedatangan Nazi ke Wina. Otto, sebagai penjual yang terkenal loyal baik kepada orang Yahudi bahkan Komunis, sering kali mendapat perlakuan diskriminasi. Pernah tokonya dilempari jeroan ayam, pernah juga temboknya dicoreti ‘Yahudi membeli di sini’.

Beberapa waktu kemudian Franz memimpikan  seorang komunis, kawan Otto yang bunuh diri dengan lompat dari gedung sebagai upaya menolak invasi Jerman pada hari sebelumnya. Adegan bunuh diri yang dilihat Franz muncul dalam mimpinya, namun terjadi perubahan di mana orang komunis itu lompat dari menara gereja dekat rumahnya dan ia tidak jatuh, melainkan terbang. Lalu ia menapaki tanah dan bertemu dengan Otto yang memiliki kedua kaki utuh. Saat itu, Otto masih berada dalam penjara Nazi.

Jika mimpi-mimpi sebelumnya diisi oleh ketakutan, maka mimpi kali ini bisa diterjemahkan sebagai harapan. Selain berharap kesehatan Otto yang lebih baik, alam bawah sadar Franz menampakan sisi religiusnya lewat mimpi.

Pagi harinya, seorang tentara Nazi datang membawa kotak kardus. Setelah Franz membukanya, ia terkejut melihat barang-barang milik Otto, termasuk satu buah sepatunya. Otto meninggal di penjara Nazi.

Akhir film itu menggambarkan perubahan yang dialami oleh Franz. Pada suatu malam, Franz mengendap-endap ke markas militer Nazi untuk mengganti bendera yang dipasang paling tinggi dengan celana milik Otto yang khas; satu kaki celananya dijahit ke dalam. Franz pulang ke kampungnya, Attersee, setelah menutupi seluruh dinding luar toko milik Otto dengan kertas-kertas tulisan berisi curahan hatinya.

Franz tak tahu bahwa Anezka pada akhirnya membaca seluruh kisah yang ia tuliskan pada kertas-kertas itu.

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan