Menyimak Gombalan Penyair Arab

Bagikan konten:

Sejak kita berada di bangku sekolah dasar, yang pertama kali dikenalkan kepada kita soal manusia adalah ia merupakan homo sapiens, makhluk arif yang memiliki akal budi. Sementara manusia sebagai homo faber, makhluk yang menciptakan dan menggunakan alat, tidak terlalu banyak disinggung. Bahkan penyematan homo ludens, makhluk yang bermain, sama sekali belum pernah kita dengar meski toga sudah dilemparkan ketika kita diwisuda.

Hal itu tidak terlalu mengherankan, pasalnya di Indonesia sendiri manusia sebagai homo ludens belum banyak dikaji secara mendalam. Padahal secara tradisi, kita memiliki banyak permainan daerah yang menjadi cerminan khas budaya kita. Antropologi kebudayaan akan lebih kaya jika mau memanfaatkan domain-domain seperti ini. Misalnya permainan yang diciptakan oleh Sunan Kalijogo sluku sluku bathok yang ternyata memiliki nuansa dakwah yang hebat. Juga jenis-jenis tembang daerah, misalnya, di Jawa ada lir ilir yang juga sarat akan ajakan untuk memeluk Islam melalui perantara simbolik.

Dalam bukunya Panorama Filsafat Modern, K. Bertens mengupas tipis saja soal homo ludens. Dalam hal ini, kita berhutang pada kajian mendalam Johan Huizinga dalam bukunya Homo Ludens: Proeve eener bepaling van het spel-element der cultuur (1938) yang memungkinkan kajian dengan sampel yang lebih kaya di bidang yang serupa bisa terwujud. Sejauh ini, buku itu adalah karangan terlengkap yang membahas homo ludens. Sang penulis melakukan penelitian pada banyak kebudayaan: Eropa, Tiongkok, Arab, Jepang, India, dll.

Yang menarik dibincangkan adalah: dari analisa Huizinga, puisi masuk dalam aras permainan. “Puisi lahir dalam cakrawala permainan… bahwa puisi paling jelas masih mempertahankan sifatnya sebagai permainan sampai sekarang.” Dalam konteks Melayu dan Indonesia, yang dimaksud oleh Huizinga mungkin pantun. Tetapi jangan buru-buru dicatat. Permainan tidak melulu soal main-main saja. Seperti yang ditunjukkan oleh Huizinga sendiri, permainan juga bisa berkonsekuensi serius tergantung konten yang dibicarakan. Pantun sendiri pada mulanya berisi ajakan-ajakan etis daripada sekedar sarana penunjang dalam suatu acara, misalnya seperti yang ada dalam budaya pernikahan Betawi.

Perkembangan puisi modern nyaris menghilangkan unsur permainan. Hal itu dilandasi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah: berbenturannya kesenian dengan masalah sosial yang menuntut untuk dibicarakan secara serius (dalam hal ini lahirlah puisi perlawanan Rendra dan Wiji Thukul—misalnya). Mungkin yang masih bertahan dari puisi sebagai permainan adalah unsur kata-katanya. Indonesia beruntung masih punya Joko Pinurbo yang memasukkan unsur humor dalam puisi-puisinya.

Tak kalah menarik untuk dibicarakan adalah soal puisi romantis. Unsur yang tak pernah absen dalam puisi romantis adalah rayuan. Perlu dicatat, tidak semua rayuan harus tertutur. Rayuan bisa hadir secara implisit dalam metafora dan majas. Dalam puisi Aku Ingin, kita tidak mendengar nada rayuan di sana; sang penyair hanya bertutur ingin mencintai dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan api kepada kayu yang menjadikannya abu. Puisi rayuan macam ini masih terasa sahajanya. Cukup memprihatinkan jika kita melihat perkembangan zaman saat ini. Puisi rayuan yang dulu punya daya magis sekarang beralih menjadi ‘guyonan’ yang menyelingi acara lawakan. Misalnya rayuan “bapak-kamu” yang selalu disusul “cie-cie” yang panjang di akhir kata. Oleh karenanya kata ‘rayuan’ sudah tidak mewakili maknanya. Digantilah ia dengan kata ‘gombalan’. Gombalan merupakan versi humor/guyon dari rayuan yang dianggap terlalu serius itu.

Ada perasaan dilematis yang muncul ketika di satu sisi kita ingin mempertahankan puisi-sebagai-permainan dengan masuknya gombalan pasaran yang merusak puisi itu sendiri. Lantas bagaimana sikap kita di hadapan dua kutub itu (kutub puisi rayuan yang terlalu serius dan kutub puisi gombalan yang terlalu pasaran)? Tentu jawaban yang kita inginkan adalah sintesis dari keduanya; moderat antara puisi rayuan (yang serius) dengan puisi gombalan (yang pasaran/urakan). Saya akan mengajak Anda menelusuri sintesis ini dari puisi penyair Arab/Mesir Sayyid Al-Adisi dalam bukunya Kayfa Haluki Jiddan.

Sayang sekali saya tidak bisa menghadirkan biografi penyair ini dengan sepatutnya karena ketika saya googling belum ada satu situs pun yang ‘sudi’ menyertakan keterangan tentang dirinya. Namanya juga belum mampir di wikipedia. Bahkan di kover belakang bukunya itu, hanya ditulis begini: “Penulis dan jurnalis Mesir … ia memiliki empat kumpulan puisi. Tulisannya banyak tersebar di majalah Mesir dan Arab.” Tapi saya rasa tidak terlalu penting mengetahui siapa penyair ini. Lebih baik kita langsung saja bertamasya di belantara puisinya.

Buku Kayfa Haluki Jiidan dibuka dengan dua buah persembahan yang berbentuk puisi. Judul bukunya diambil dari persembahan kedua yang berbunyi:

Seperti orang-orang pedalaman, aku tak bisa berkata “Aku mencintaimu.”

Dan ketika kupaksakan untuk mengucapkannya, keluarlah kalimat: “Bagaimana kabarmu?”

Maafkan aku, sayang, aku “Sangat bagaimana kabarmu?”

Saya akui bahwa menerjemah puisi yang satu ini sangatlah susah. Dalam artian, saya khawatir terjemahan saya tidak bisa mewakili (1) apa yang sebenarnya diinginkan oleh sang penyair dan (2) keindahan puisi dalam bahasa aslinya. Terutama pada kalimat kayfa haluki jiddan. Dalam kaidah bahasa Arab, susunan kalimat ini tidak dibenarkan. Jiddan (sangat/sungguh) hanya mungkin masuk ke dalam kalimat pernyataan bukan pertanyaan. Tetapi dalam puisi ini jiddan masuk dalam kalimat pertanyaan. Alasannya sungguh bisa diterima untuk kepentingan lisensi puitika.

Jika dijabarkan lebih luas, barangkali yang dimaksud oleh sang penyair adalah seperti ini: Orang-orang pedalaman tidak mengenal kata tertentu untuk mengungkapkan perasaan cinta. Mereka lebih cenderung menyampaikannya lewat lelaku daripada kata-kata. Kalaupun akhirnya dipaksa untuk mengucapkannya, yang keluar bukannya kata romantis yang mendayu-dayu tapi justru sebentuk perhatian yang diwakli oleh pertanyaan “bagaimana kabarmu?” Maka sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh sang penyair adalah “Aku sangat mencintaimu” bukannya “Aku sangat bagaimana kabarmu.” Menurut saya, puisi ini adalah puisi rayuan yang dingin sekaligus menggelitik. Di lembaran lain, kita juga akan menemukan puisi yang tak kalah menarik. Pada puisi berjudul Fi Washfil Hayat (Tentang Kehidupan) sang penyair berkata dengan nada prosaik:

Ketika perempuan itu

keluar bersama seorang temannya

ke sebuah sungai

ia bertanya kepadaku,

“Siapa di antara kami yang paling cantik?”

Aku pun terdiam

karena sesungguhnya

aku tak melihat ada dua perempuan di sana

Ada jeda beberapa detik untuk mencerna puisi ini tepat setelah kata terakhir menjadi fosfor di udara. Tak ada “cie-cie” panjang yang biasanya serempak diucapkan, karena puisi ini menjaga ketegangan antara menjadi pasaran dan menjadi serius. Salah satu ciri rayuan yang gamblang adalah adanya dekripsi tertentu yang menggambarkan keindahan objek yang dirayu. Misalnya dengan memuji kecantikannya, membandingkan rona wajahnya ketika tersenyum dengan warna bunga mawar yang sedang merekah. Kita tidak mendapati yang demikian dalam puisi Al-Adisy. Sang penyair lebih suka menceritakan daripada mendeskripsikan. Hal ini juga tergambar dari puisi yang berjudul Fi Washfil Hubbi (Tentang Cinta) berikut ini:

Aku bermimpi

jika kita hidup di dunia ini hanya berdua

kita akan semakin bahagia

Maka, aku berpikir keras

untuk membunuh semua orang

Kita menyimak adanya kebrutalan yang menggelitik. Sekali lagi, sang penyair hanya perlu bercerita untuk merayu dan tak mau terjebak pada sikap over. Mau tidak mau, puisi seperti di atas akan menuntun kita kepada kesimpulan tentang cinta yang teramat dalam dari sang penyair. Hanya saja kita tidak menemukan pemujaan yang eksplisit yang berpretensi merusak bangunan puisi itu. Sang penyair begitu lihai menjaga kesahajaan puisinya. Kebrutalan serupa misalnya juga terekam dari puisi lain berjudul Fi Washfil Ghiyab (Tentang Ketiadaan) yang berbunyi:

Aku sungguh kehilanganmu

dengan pengandaian yang  jika aku melihatmu

aku akan lekas melahapmu.

Puisi-puisi Al-Adisy mampu menjembatani dua tepi yang sama-sama terisolir. Yakni (1) puisi-gombalan-pasaran yang mereduksi keindahan puisi dengan (2) puisi-romantis-serius yang menghilangkan unsur permainan dalam puisi. Dan Al-Adisy juga menunjukkan bahwa puisi tidak hanya terbatas pada permainan kata-kata tapi juga permainan logika, alegori, dan ironi. Kita dibuat terguncang oleh Al-Adisy dengan cara yang ia mainkan sendiri, terlebih di lembar pertama bukunya kita sudah disuguhi kalimat seperti ini: Apakah alam semesta mampu bertahan jika kukatakan padamu “Aku mencintaimu dengan segenap gunung berapi yang ada di hatiku?” Saya rasa meskipun manusia homo ludens, ia tak patut menjadikan hal itu sebagai alasan untuk bermain-main dengan cinta. Kalau bermain dengan puisi, silakan saja.

Facebook Comments
Bagikan konten: