Mengenang Amjad Nasser; Penyair Prosais Arab yang Mati Bersama Puisi

Bagikan konten:

Siapa sesungguhnya yang akan menanggung beban lainnya: nama atau tubuh? Kali ini aku mengetahui bahwa nama adalah tuan kekecewaan. Apa yang tinggal dari sebuah nama? Luka kelahiran, ratapan kematian, dan tak ada yang lain. Ada sebuah nama di bawah nama. Yang akan mengoreknya, lalu kau akan melihat ribuan kegagalan pada musim paceklik yang berlangsung lama di sini. Pertanyaanku itu sungguh lebih mudah tatkala nama masih berjalan di sampingku, layaknya seorang kawan, tanpa harus diminta. Siapa sebenarnya di antara kita yang menderita tumor, dan akan dikubur di bawah Misa? Tubuhku atau namaku?…”

Bersama sepenggal puisi di atas, yang ia pos melalui laman Facebook pribadinya pada Mei lalu, Amjad Nasser membawa berita bahwa hidup yang ia punya hanya tinggal beberapa minggu saja.

Setelah dokter memvonis bahwa tumor yang dideritanya tak lagi dapat dicegah, ia pun meninggal pada 11 Juni lalu di kota London.

Meskipun saya agak terlambat mengetahui berita ini, namun melalui kalimat-kalimat terakhir yang ia tulis, masih begitu terasa ratapan si penyair melalui pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan di masa-masa akhir hidupnya.

Amjad Nasser adalah nama pena dari Yahya al-Numeiri, lahir di al-Turra, Jordania pada tahun 1955. Ia besar di kota Zarqa, dan menetap di London sejak 2009 sebagai penulis dan jurnalis. Sekitar umur 22 tahun, Nasser tergabung dalam organisasi bawah tanah Palestina di Lebanon. Di sana ia bahkan sempat menjadi editor di majalah al-Hadaf pada bagian kebudayaan, yang dirintis sastrawan ternama Palestina, Ghassan Kanafani (Wikipedia).

Selain menunjukkan keberpihakannya pada bangsa Palestina, Nasser sendiri akrab dengan sastrawan-sastrawan Palestina. Dalam sebuah jurnal ia bahkan memperlihatkan kefanatikannya terhadap Mahmoud Darwish, yang dianggapnya sebagai pelopor prosais Arab. Namun karya-karya Darwish yang terkemuka, baik di Barat maupun di Arab sendiri, hanya sebatas puisi-puisinya yang murni. Padahal menurutya, Darwish cukup lihai memindahkan prosa ke dalam puisi, maupun sebaliknya. Dan tentunya Darwish menjadi kiblat tersendiri baginya.

Nasser memulai karirnya di dunia sastra bahkan sebelum genap berumur 24 tahun. Ini ditandai dari antologi puisinya yang pertama, Madih li Maqhaa Akhar (1979). Dari antologi ini, Nasser sudah terlihat membawa suatu gerakan yang cukup baru dalam dunia sastra Arab. Sebagaimana yang juga disampaikan Sa’adi Youssef, penyair besar Irak, yang menulis mukadimah dalam antologi Nasser itu, “Amjad adalah seorang penyair muda, namun tata bahasa dan ritme puisinya selalu bertalian satu sama lain. Seorang pemuda yang berusaha melakukan uji coba untuk melampaui pemahaman struktur puisi Arab yang ada.”

Jika kita menyimak satu puisi dari antologi debutnya itu, maka akan terlihat bagaimana upaya Nasser untuk memberontak pada kurungan wazan dan tafa’il (penggalan), dan membentuk satu struktur utuh yang menggabungkan pemahaman puisi dan prosa. Semisal pada puisinya yang berjudul al-Fatâ (Pemuda):

Seharusnya aku melihatnya seperti yang kuinginkan/Bising, bising yang menjelma /Puisi. Tapi raut mukanya,/Tidak demikian, tidak setampan prasangka kekasih Armenianya/Yang menyetrika baju di hadapan jendela pagi itu./ Seperti diakuinya melalui salah satu puisinya yang terbit di harian As-Sya’b Jordania sebelum gulung tikar, tubuhnya kurus dibandingkan pemuda berusia dua puluh tujuh tahun lainnya, dan mungkin mendekati buruk rupa, tidak banyak yang mengenalnya dan tidak ada satu pun yang mau membanggakannya kecuali prasasti keluarga besarnya yang telah remuk.

Meskipun upaya itu masih terasa begitu sederhana untuk menjadi satu struktur, yang memindahkan wazan-wazan yang saklek ke dalam permainan prosa, tapi lagi-lagi, di umur yang semuda itu, ia tetap mampu menyiratkan bahwa pemahaman puisinya sudah cukup matang. Dan semacam ini memang biasa terjadi di kalangan penyair Arab yang tidak sekedar menulis puisi berdasarkan ‘gerak naluriah’ saja.

Tapi jika kita sedikit beralih dari pembahasan bentuk, saya sendiri selalu kagum dengan substansi puisi-puisi Arab kontemporer. Selalu ada lonjakan-lonjakan imajinasi yang berusaha melampui perasaan penyair itu sendiri, atau justru berangkat dari metafora-metafora yang sederhana. Ini membuktikan bahwa meski kepuisian Arab, dimulai sejak puisi-puisi Jahiliyah, ‘terkurung’ dalam bentuk yang saklek, namun tetap ada permainan imajinasi di sana. Dan ini tentunya menjadi pekerjaan yang lebih sulit.

Pada paragraf akhir misalnya, bentuk yang ia ubah tidaklah sekadar coba-coba: “Seperti diakuinya melalui salah satu puisinya yang terbit di harian As-Sya’b Jordania sebelum gulung tikar” Narasi yang dibangunnya ini menyiratkan bagaimana keadaan si pemuda di negaranya yang malang itu. Melalui sudut pandang seorang pemuda yang barangkali adalah si penyair sendiri, kepedihan dan kemalangan yang ia bangun memiliki warna suram yang lebih pekat namun dibangun melalui hal-hal yang sederhana.

Terlepas dari bagaimana Nasser memulai karir berpuisinya, namun melalui antologi tersebut, ia kemudian cukup produktif dalam menulis puisi. Di tahun-tahun berikutnya ia banyak menelurkan antologi-antologi baru, Mundzu Jil’ad Kaana Yas’ad al-Jabal (1981), lalu di susul Ra’at al-Uzlah (1986), dan masih banyak lagi yang diterbitkan dalam jarak waktu yang berdekatan. Hingga di tahun 2004 kemudian, terbit Hayatun ka Sardin Mutaqatta’in yang didaku para kritikus sebagai puncak puisi prosaisnya. Bahkan di tahun ini, ia kembali menerbitkan buku puisi berjudul Mamlakatu Adam yang menjadi karya terakhirnya.

Jika kita menilik satu persatu antologi puisinya, maka akan terlihat bagaimana setiap buku menelurkan karya dengan capaian yang melampaui karya sebelumnya. Perihal ini, sebagaimana Nasser sendiri mendaku bahwa penyair, yang bekerja dalam konteks imajinasi, adalah seseorang yang terus menerus menulis sesuatu yang baru. Bahkan dalam satu wawancara dengan Arabic Literature and Translation yang dipublikasikan Arablit.org, ia mengakui bahwa di tiap karyanya ada perubahan-perubahan krusial, meskipun ia sendiri kesulitan mengungkapkan perubahan tersebut. Dan ia mendaku bahwa perubahan yang terjadi itu disebabkan karena ia tidak terkurung dalam pemahaan puisi yang baku.

Misalnya saja satu puisi yang cukup sederhana dalam antologi Hayâtun ka Sardin Mutaqatta’in (Kehidupan Hanyalah Narasi yang Terputus-Putus), yang berjudul Fatâtun fi Maqhâ Costa (Seorang Gadis di Kafe Costa):

Lebih dari sekali ia ingin mengatakan sesuatu dan tak jadi, dan lebih dari sekali aku ingin berbicara kepadanya, namun kuurungkan. Dengan blus biru lengan pendeknya itu, tampak perhiasan di pergelangan tangannya, dan dari kedua pundaknya melompat seekor macan kecil, sementara kakinya bergerak di bawah meja seperti kincir angin./Seketika Gadis itu laksana puisi./Seluruh tanda-tanda menunjukkan itu./Massa udara dan gerakannya saling mengubah di bawah meja./Aku menjatuhkan penaku, seperti tanpa sengaja, aku melihat apa yang terjadi
tatkala aku mengambilnya, lalu mengangkat kepalaku ke atas. Gadis itu menghilang. /Di dinding depanku hanya sebuah poster iklan yang besar, seorang gadis duduk sendirian./Ia merokok, menyeruput kopi, dan melirik ke arah yang berbeda dari dua matanya, di sebuah kafe./Seperti kafe ini
.”

Dari segi bentuk puisi, kita dapat melihat bagaimana Nasser benar-benar melepaskan diri, tidak hanya dari puisi pertamanya di atas, bahkan dari kurungan kaidah puisi pada umumnya. Setiap kata bersambung dan hampir tidak terputus. Barangkali puisi ini masih bisa dipadatkan, namun dengan menghadirkannya sebagai narasi utuh, penyair mampu menghanyutkan perasaan dengan lambat.

Selain itu, Nasser yang juga banyak menulis kritik sastra, menempatkan satu pemahaman puisinya pada puisi di atas: “Seketika Gadis itu laksana puisi./Seluruh tanda-tanda menunjukkan itu./Massa udara dan gerakannya saling mengubah di bawah meja. Baginya, puisi adalah objek yang hidup. Barangkali segala hal adalah puisi dengan masing-masing tandanya. Tanda tersebut, entah ia lahir dan menampakkan dirinya, atau justru si penyairlah yang harus peka terhadapnya.

Dengan memberi sedikit petunjuk, “Lebih dari sekali ia ingin mengatakan sesuatu dan tak jadi, dan lebih dari sekali aku ingin berbicara kepadanya, namun kuurungkan.”, ia seakan menyiratkan bahwa ia tengah dilanda rindu, entah pada seorang gadis yang dicintainya namun tak kunjung berani ia sapa, atau pada sebuah kafe yang di sana selalu ia temui gadis yang dicintainya itu, “…seorang gadis duduk sendirian. /Ia merokok, menyeruput kopi, dan melirik ke arah yang berbeda dari dua matanya, di sebuah kafe/Seperti kafe ini.”

Jika kita sedikit kembali pada pemahaman puisi prosais Arab, sebagaimana yang dikemukakan oleh Rif’at Salim dalam buku kecilnya, Maa al-Syi’ru, puisi prosais Arab (qâsidat al-nastr) lahir dari pemahaman puisi bebas (qâsidat al-hurra). Puisi bebas sendiri dimaknai dengan kebebasan seorang penyair untuk menulis prosa yang puitik atau menggabungkannya dengan puisi penggalan pada umumnya.

Menurutnya, puisi prosais Arab lahir sejak 1950-an, ditandai dengan terbitnya antologi Huznun fî Dhaui al-Qamar karya penyair Suriah, Muhammad al-Maghut (1934-2006). Kemudian disusul dengan antologi puisi berjudul Lan, dari seorang penyair Lebanon, Ounsi al-Hajji (1937-2014). Melalui Ounsi, pemahaman puisi prosais Arab tidak sebebas seperti pemahaman al-Maghut.

Pada mukadimah antologinya, Ounsi menjelaskan bahwa pemahaman puisi prosais tidak hanya sekedar puisi yang ditulis dengan prosa, atau prosa yang menggunakan unsur puitik. Unsur puisi prosais yang pertama, menurutnya, adalah ritme. Dan prosa puitis tidak membutuhkan hal tersebut.

Namun pemahaman di atas akan sangat bertolak belakang dengan apa yang sempat dijelaskan oleh Nasser dalam beberapa esai kecilnya. Menurutnya, meskipun para pelopor puisi prosais telah menempatkan kaidah tersendiri dalam pemahamannya, namun lagi-lagi kaidah ini tetap tidak baku. Misalnya persoalan ritme, di abad modern, banyak yang menjadikan ritme sebagai landasan dalam sebuah puisi –barangkali seperti ungkapan Sapardi bahwa puisi yang baik adalah puisi yang bisa dinyanyikan-, namun baginya, itu tidak serta merta menjadi sebuah rujukan, terutama apabila puisi prosais tersebut berangkat dari narasi seperti puisinya di atas.

Terlebih, beberapa kali ia menulis kritik sastra -termasuk pada mukadimah Hayâtun ka Sardin Mutaqatta’in– yang menjelaskan tentang persoalan puisi prosais dan puisi bebas. Menurut Nasser, puisi prosais sama sekali tidak berangkat dari puisi bebas sebagaimana yang kita kenal, bahkan baginya puisi prosais Arab juga berbeda dengan apa yang dikenal di Barat. Misalnya, dalam puisi prosais maupun puisi bebas, kepadatan bentuk tidak terlalu diperhatikan, namun persoalan yang menjadi landasan dari puisi prosais adalah ia tidak hanya bergelut dalam persoalan bentuk, tapi juga persoalan substansi (madhmun).

Puisi prosais, menurut Nasser, tidak berusaha untuk bermain dalam sudut pandang temporal, atau puisi tersebut tidak bergelut dalam beberapa waktu yang terpisah. Dengan demikian, puisi yang berangkat dari sebuah narasi pun, tidak serta merta menjadi puisi prosais.

Sederhananya, dapat kita lihat dari puisi Fatâtun fi Maqhâ Costa di atas, segala keadaaan yang berputar di sana, terjadi dalam satu kemewaktuan, tidak kembali kepada masa lalu atau tidak menuju masa depan. Bahkan perasaan rindu si penyair kepada seseorang, yang tentunya datang dari masa lalu, diceritakan tanpa menyentuh satu pun diksi atau petunjuk terhadap masa lalu. Kerinduan tersebut bahkan muncul melalui ‘pantulan’ imajinasinya.

Dari banyak pemahaman yang menjelaskan bahwa puisi prosais adalah puisi yang melepaskan diri dari segala kaidah bentuk, bukan berarti bahwa puisi prosa terbebas dari pemahaman kaidah. Bahkan, bahasa yang berada dalam poros bentuk, tetap memiliki kaidahnya sendiri. Maka bagi Nasser, apa yang diberikan al-Maghut misalnya, adalah pandangan tentang puisi bebas bukan puisi prosa.

Terlepas dari persoalan di atas, di Indonesia, nama Amjad Nasser memang belum sementereng panutannya, Mahmoud Darwish.  Namun di kalangan Sastra Arab maupun Barat, Nasser adalah seorang pujangga besar dari Jordania. Puisi-puisinya telah banyak diterjemahkan. Di tahun 2009, terbit kumpulan puisinya berjudul Shepherd of Solitude: Selected Poem, yang diterjemahkan oleh Khaleed Mattawa. Bahkan satu dari kumpulan puisinya tersebut, A song and Three Questions, terpilih sebagai 50 puisi cinta terbaik dalam 50 tahun terakhir yang diselenggarakan oleh Saison Poetry Library pada tahun 2014.

Berita tumor yang ia umumkan pada Mei lalu disusul dengan berita kematiannya, tentu saja memberi kesedihan tersendiri bagi dunia kesusastraan internasional. Barangkali itu juga memberi petunjuk kepada kita, bahwa ia telah sampai pada ujung pembaharuannya di dunia sastra yang mungkin ia rasa masih belum cukup.

Sebagai seorang penyair, prosais, dan jurnalis yang andilnya begitu besar dalam dunia kesusastraan, kau akan selalu dirindukan.

Facebook Comments
Bagikan konten: