Memahami Puisi dengan Semiotika Pragmatis ala C.S. Peirce

Bagikan konten:

Ada pelbagai cara yang dapat dilakukan oleh pembaca untuk memahami teks sastra yang sedang ia baca. ‘Memahami’ yang saya maksudkan di sini tentunya bukan memahami sesuatu dalam keadaan sekali baca. ‘Memahami’ yang saya maksud adalah ketika pembaca benar-benar telah melakukan usahanya untuk mengerti apa yang diinginkan oleh teks tersebut yang biasanya terjadi pada pembacaan kedua. Saya pernah menemukan satu pertanyaan menarik yang mungkin berkaitan erat dengan puisi: apakah kata-kata dalam puisi hanyalah sekumpulan kata-kata yang disisipkan di sana-sini? Atau sebenarnya ada sesuatu yang lain, yang lebih dari sekedar penyelipan kata-kata? Untuk menjawab pertanyaan ini, langkah pertama yang akan saya lakukan adalah memilih pisau analisa.

Manusia adalah homo signans, kata C.S. Peirce. Manusia adalah makhluk yang senantiasa mencari makna dalam kehidupannya. Dan proses pencarian makna inilah yang disebut dengan semiosis. Lebih jauh lagi, C.S. Peirce mengatakan bahwa semiosis adalah proses dari pencerapan sesuatu dengan indra kita yang kemudian diolah oleh kognisi kita. Jika dalam semiotika strukturalis, kita harus mengetahui beberapa dikotomi untuk proses pemaknaan, maka pada semiotika ala C.S. Peirce ini (atau yang disebut semiotika pragmatis) kita harus mengetahui trikotomi dalam proses pemaknaan. Tahap pertama adalah apa yang C.S. Peirce sebut dengan representament tanda.

Dalam bukunya yang berjudul Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya, Benny H. Hoed mencontohkan tahap pertama ini dengan anak kecil yang belum memahami makna ‘ibu’ secara konseptual, namun memahami ibu sebagai sosok yang selalu ‘membantunya’ dan berada di sisinya. Apa yang terjadi pada anak kecil ini adalah suatu proses pemaknaan suara dan sosok sebagai tanda. Representament tanda ini berkaitan dengan panca indera kita.

Tahap selanjutnya adalah pengolahan tanda dalam kognisi manusia yang sesuai dengan pengalaman dirinya. Proses ini disebut dengan representation, yakni ketika pencerapan tanda terjadi berulang-ulang dan kemudian menemukan makna yang lebih stabil. Pada tahap ini, sesuatu yang awalnya berupa representament berubah menjadi sesuatu yang disebut objek. Jika pada tahap awal si anak hanya dapat memaknai suara yang ia dengar dan sosok yang ia lihat sebagai ‘seseorang yang menolongnya’, maka pada tahap ini si anak sudah mulai dapat memaknai ‘ibu’ secara konstan sebagai sebuah tanda.

Tahap terakhir adalah apa yang C.S. Peirce sebut sebagai interpretant. Dalam tahap ini, tanda dimaknai melalui kaitan antara representament dan objek yang didasari oleh pemikiran bahwa objek tidak selalu sama dengan realitas yang diberikan representament. Pada tahap ini, si pemberi makna dapat menafsirkan suatu tanda sesuai dengan keinginan dan pengalamannya.

Setelah kita mengetahui pisau analisa yang akan kita gunakan untuk ‘memahami’ sebuah puisi, barulah kita perlahan dapat menjawab pertanyaan yang saya ajukan tadi. Saya ingin menjawabnya melalui sebuah contoh, yaitu puisi karangan Adrian Henri yang berjudul Puisi untuk Roger Mcgough:

Seorang biarawati di supermarket

Berbaris di antrian

Membayangkan bagaimana rasanya

Membeli bahan makanan untuk dua orang.

Puisi tersebut sederhana, walaupun saya tidak dapat benar-benar memahaminya ketika pertama kali membacanya. Imaji yang dibuat oleh Adrian sungguhlah sederhana dan kisah yang ada di dalamnya juga tidak kalah sederhana; seorang biarawati yang sedang mengantri di sebuah supermarket. Sudah. Hanya itu yang saya tangkap di awal. Dan pada tahap ini, saya sudah melangkah ke tahap pemaknaan pertama yang disebut dengan representament tanda.

Selanjutnya, saya membaca ulang lagi puisi Adrian Henri. Saya langsung teringat bahwa seorang biarawati tidak boleh menikah karena ia harus mengabdikan dirinya kepada gereja. Pada tahap ini, saya sedang menyatukan representament awal saya dengan pengalaman untuk menghasilkan sebuah objek. Sampai di sini, permasalahan biarawati setidaknya telah menemui titik terangnya.

Dengan cara yang sama, saya akan mencoba membedah kata ‘supermarket’ pada puisi Adrian Henri tersebut. Mudah untuk diketahui, bahwa supermarket adalah tempat belanja. Namun timbul sebuah pertanyaan di dalam kepala saya: kenapa Adrian tidak menggunakan diksi pasar saja di sini?  Setelah berpikir, saya menemukan titik tengah bahwa supermarket yang merupakan tempat belanja yang muncul di era modern, menunjukkan bahwa puisi ini ber-setting di era modern dengan segala pernak-pernik dan godaan materialistisnya.

Ada semacam makna ironi yang ingin disampaikan penyair dalam puisinya ini; seseorang yang tidak boleh menikah namun membayangkan membeli bahan makanan untuk dua orang. Saya menduga biarawati itu sedang membayangkan dirinya memasak untuk sosok lelaki yang akan ia ajak makan bersama.

Lantas, apakah kata-kata dalam puisi hanyalah sekumpulan kata-kata yang disisipkan di sana-sini? Pasti ada maksud lain yang diinginkan si penyair ketika memilih suatu diksi dalam puisinya sesuai dengan pengalaman puitik yang dialaminya.

Saya jadi teringat suatu waktu di mana saya mengajukan pertanyaan kepada Afrizal Malna tentang bagaimana cara memaknai puisi-puisinya. Afrizal memberi jawaban yang sangat sederhana namun bermakna dalam, “Tak usah repot-repot memaknai kalau tidak mengerti, tinggalkan saja puisi saya.” Menariknya, pada forum diskusi tersebut, hampir beberapa penonton menanyakan pertanyaan yang hampir serupa dengan pertanyaan yang saya ajukan.

Dari sana saya mengerti, bahwa sebenarnya puisi-puisi Afrizal Malna memiliki makna yang jelas, namun makna itu hanya dapat diuraikan oleh pengalaman Afrizal Malna sendiri.

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan